Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Jauh Di Mata Dekat Di Hati


__ADS_3

"Abang." Ranu menengok pada Kakak nya yang sejak pagi tadi berbaring saja di atas kasur. "Boleh ambilkan Kakak air putih tidak?" Ranu berjalan mendekat.


"Kau sakit?" Ranu menempelkan punggung tangannya di kening Mahesa. "Demam Kak, aku panggil Momm...." Mahes mencekal tangan Ranu. "Jangan macam-macam Kak." Ucap Ranu yang melihat Kakak nya menggeleng. "Mommy akan sedih kalau tidak beri tahu dia Kak." Mahes memeluk adiknya.


"Kakak sudah buat Mommy menangis banyak kemaren Dek, jangan lagi buat Mommy menangis karena ku. Ku mohon." Ranu duduk di tepi ranjang, menatap wajah Kakak nya yang sedikit pucat.


"Bilang apa kalau Mommy tanya?" Mahes mengubah posisinya menjadi duduk. Tangan Ranu menyisir merapihkan rambut Mahes yang berantakan.


"Antar Kakak pulang ya Dek, Papih sepertinya masih ada di apart." Ranu meraih tangan Kakak nya. "Kakak akan minta Papih cek Demam ku." Ranu mengangguk, tangannya terulur membantu Mahesa turun dari ranjang.


"Mommy aku yakin akan lebih sedih kalau anaknya sakit tapi tidak beri tahu dia Kak." Mahes tersenyum, adik nya benar, tapi dirinya akan lebih lemah jika harus melihat Mommy nya menangis lagi karena dirinya.


"Bisakah jangan bicara pada Mommy kalau aku sakit?" Menatap Mahesa penuh ragu, Ranu mengangguk. "Good Boy, Kakak akan traktir makanan enak sebelum pergi." Ranu dan Mahes saling memeluk. Mereka akan berpisah dalam waktu yang cukup lama.


"Jangan hanya bicara ya Kak, ingat traktir aku makanan enak." Mahes mengacak-acak rambut Ranu gemas.


"Kamu bisa datang atau Kakak yang akan pulang jika Mommy atau Abang rindu." Ranu tersenyum mengejek.


"Jangan kegeeran ya Kak, kau pergi lama juga aku tidak akan rindu." Ucapnya sambil tersenyum, Mahes tahu adiknya sedang berbohong.


"Iya Kakak akui kau hebat, kalau begitu hanya Kakak yang akan rindu kalian." Ranu berjalan saja tidak mau menanggapi. Dia akan menangis kalau terus mendengarkan Kakaknya bicara.


Sakitnya tidak bisa bersama orang yan kita sayangi tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Terasa sesak dada dibuatnya, air mata pun sepertinya tidak bisa menggambarkan lagi perasaanya saat ini.


Ranu dan Mahesa masuk, Ranu segera membaringkan tubuh Kakak nya di atas kasur miliknya, di kamar yang jarang sekali Mahesa tempati.


Tokkkk.....tokkkkk....tokkkk....


"Pih...Papih, masih di rumah atau sudah pergi?" Ranu ingin mematikan Papih nya ada di rumah, tidak mau membuatkan Kakak nya yang sedang tidak sehat sendirian di apartemen milik orang tuanya.


Terdengar sayup-sayup suara sahutan dari dalam, tidak lama knop pintu bergerak. Pintu terbuka menampakkan tubuh seksi Papih nya yang hanya terbalut handuk berwarna biru muda.


"Abang, sayang kok di sini? Sama siapa Nak?" Tanya Adam yang terkejut dengan kedatangan Ranu. Biasanya dirinya yang akan mampir untuk menemui anak-anak. Ini tumben sekali mereka datang pagi-pagi buta.


"Kakak Demam, tapi tidak mau Mommy tahu kalau dia sakit. Kakak di kamar Pih." Adam memeluk tubuh Ranu dengan hangat. Dia terlihat sangat khawatir denga Kakak nya.


"Papih akan kasih obat, kalau ini rahasia, sebaiknya Abang cepat pulang, nanti Mommy malah curiga." Ranu mengangguk. Dia segera pergi dari apartemen milik Papih nya.


Selesai mengantar Mahesa, Ranu kembali masuk ke dalam Apartemen yang masih cukup sunyi. Mommy dan Daddy nya masih berada di dalam kamar mereka.


Ranu duduk di ruang tamu, mencoba menyibukan diri dengan menonton TV. Tidak ada yang menarik, dirinya merasa kesepian. Ranu menghela nafasnya, dia harus terbiasa tanpa Kakak nya mulai sekarang.


"Sayang. ...Abang kok sendirian?" Tanya Ayu yang keluar menggendong Baby di tangannya. Ayu duduk di sebelah Putranya, wajahnya sedikit mendung. "Kakak di mana sayang?" Ranu menatap wajah Mommy nya.

__ADS_1



Pantas saja dia menangis, dia tahu bagaiman sepinya rumah yang mereka tempati jika Kakak Mahesa pergi. Pantas saja sedihnya sampai membuatnya lemas tidak berdaya.


Bukannya menjawab Ranu malah meraih tangan Mommy nya, mengecupnya lembut. "I love you Mommy." Ayu beranjak, menidurkan Baby di dalam Box yang ada di ruang keluarga.


"Mommy juga sayang Abang. Kenapa sayang? Coba bicara dengan Mommy Nak. Mommy dengarkan." Ranu menggeleng. Dia hanya butuh pelukkan hangat dari tangan wanita yang selalu tau apa maunya.


"I love you Mom." Terharu sekali mendengarnya.


"Kenapa sih, Abang tumben sedih begini. Kakak nya dimana?" Ranu kemudian tersenyum, mana bisa wajahnya di tekuk lama-lama padahal Mommy nya selalu manis pada dirinya.


"Kakak sedang jumpa Papih, makan siang nanti dia balik ke sini lagi Mom." Ayu membulatkan mulutnya, mengerti dengan apa yang Putra nya maksud.


"Kakak baik kan Bang? Tumben gak pamit Mommy dulu perginya?" Tidak biasanya Mahes pergi begitu saja.


"Takut Mommy masih bobo. Abang juga punya pendapat yang sama." Ayu tidak punya kecurigaan sama sekali. Anak-anaknya selalu jujur selama ini.


"Ayo sarapan, semalam katanya mau makan sereal." Ranu mengikuti Mommy nya yang berjalan menuju meja makan. "Abang mau susu apa sayang?"


"Sini Abang yang buat. Mommy duduk saja Love." Mahes menarik lembut tangan Mommy nya. Ayu menurut, duduk dengan manis di kursinya.


Mata cantik nya memperhatikan gerakan tangan Ranu yang semakin mahir membuat sereal. Mereka benar-benar sudah bisa hidup mandiri. Akan ada masa nya anak-anaknya pergi. Akan menyisakan sepi jika mereka pergi nanti.


Ayu mencoba tersenyum dengan hangat, Ayu tidak mau terus-terusan di hantui ketakutan. Akan terbiasa meski butuh waktu yang sangat lama untuk nya membaiskan diri.


"Sarapan apa sayang?" Tanya Malik pada Ranu yang terlihat sangat sibuk.



Mengecup pipi Ranu dan Ayuna bergantian. "Makan sereal saja ya Dad." Jawab Ayu yang diangguki suaminya.


Selesai sarapan Malik masuk ke ruang kerjanya. Entah kenapa Ayu merasa jika Mahesa sedang tidak baik, di benaknya terus memikirkan Putra Sulung nya yang pulang tanpa pamit.


Ayuna nekad turun sendirian ke apartemen milik Adam yang ada di bawah unit nya. Hatinya benar-benar tidak tenang. Niat hati hanya melihat Mahesa sebentar saja, tidak akan memakan waktu lama.


Adam membuka pintu yang bel nya berbunyi. Menampakkan adik perempuannya yang mengendong Baby ada di depan sana.



"Apa anak ku di dalam Dok?" Adam mengangguk. "Belum sarapan loh Dok, aku baru bangun tadi." Adam agak ragu, dia sampai turun ke bawah sendirian semu lihat Aruma.


"Masuk sayang, kamu turun sendirian apa sudah bilang Malik?" Ayu tersenyum, tentu saja Adam sudah sangat paham. "Nanti aku antar ke atas. Mau minum apa cantik?" Ayu duduk di ruang tamu. Baby tertidur dengan pulas di tangan Mommy nya.

__ADS_1


"Mahesa dimana Dok? Aku ingin lihat dia, sudah lama tidak lihat kamarnya juga." Mencoba tidak terlihat khawatir.


"Dia sepertinya sedang istirahat. Bobo dia Yu." Mata Adam tidak bisa berbohong.


"Dia turun tanpa ijin aku loh Dok, sakit kah anak ku?" Adam tersenyum, perasaan seorang Ibu memang tidak pernah bisa di bohongi. "Aku cuma mau lihat saja boleh Dok?" Adam akhirnya tidak tega.


"Anaknya sedih karena dia merasa sudah membuat mu kesusahan sayang. Dia tidak mau membuatmu sedih lagi karena dia sakit. Tidak mau kamu kepikiran cantik." Ayu mencoba menahan emosinya. Tidak mau terpancing.


"Boleh aku masuk sebentar saja? Cuma mau lihat saja Dok." Adam melihat semburat kesedihan di wajah Ayu. Dia paling tidak bisa menahan emosinya jika berhubungan dengan anak-anak nya.


"Masuk sayang, sini kan Baby. Aku jaga sebentar." Ayu menyerahkan Baby pada Adam. Anaknya tenang sekali seolah memberikan waktu untuk dirinya bersama Kakak nya.


Ayu memutar kenop pintu perlahan, putra nya tengah tertidur pulas dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.



Ayu berdiri di sisi Mahesa, tangan nya membelai lembut pipi Mahes yang sedikit merona karena suhu tubuhnya cukup tinggi.


"Sakit saja sudah tidak cari-cari Mommy nya, Kakak sudah tidak ingin kan Mommy kah?" Ucapnya lirih. Biasanya dia akan menempel dan minta di temani seharian sampai panasnya turun.


Ayu memundurkan langkahnya, kakinya berat sekali beranjak dari sana. Tapi Putra nya tidak mau dirinya tahu kalau sedang sakit.


Terkejut sekali saat tiba-tiba tangannya di cekal oleh tangan Mahesa. Putranya mengigau, tangannya di genggam erat sekali seolah tidak mau dirinya pergi.


"Please sebentar saja Mom, Kakak ingin di peluk Mommy." Tidak tidur ternyata, dia hanya memejamkan mata karena kepalanya cukup pening.


"Kakak bukannya tidak mau kasih tahu Mommy kalau sedang sakit?" Merajuk karena Putra nya sudah bersikap sembrono.


"Maaf Mom, Kakak tidak siap lihat Mommy menangis. Sakit lihat Mommy ku sad." Ayu mendudukkan dirinya di sisi Mahesa, menjatuhkan kepala nya di pundak Mahes yang masih terbaring.


"Mommy pasti akan rindu sekali kalau Kakak jauh nanti. Kalau sakit bagaimana Kak, Mommy khawatir." Lega Mahes mendengar nya, Mommy nya tidak lagi berpura-pura tidak tahu soal sekolahnya.


"Kakak tidak cerita tapi Mommy bisa tahu dengan cepat." Ayu memukul pelan dada Mahesa, kesal Putra nya tidak jujur karena takut menyakitinya.


"Kakak akan luangkan waktu untuk hubungi kalian, terutama Mommy. Kakak tidak akan berubah meski kita jauh Love." Ayu mengangguk.


"Kau harus absen setiap hari ya Kak. Mommy tidak mau tahu." Mahes membelai lembut Pucak kepala Mommy nya.


"Kakak takut tidak bisa bertahan jauh dari mu Mom." Mahes merasakan sesak.


"Kenapa pergi kalau begitu? Apa Kakak bis jaga diri di sana? Apa tidak sebaiknya di sini saja Kak? Apa sudah bulat keputusannya?" Mahes tersenyum, lucu sekali Mommy nya ini.


"Ini yang akan Kakak rindukan, Kakak sangat yakin Mom. Bolehkan Kakak minta dukungan dari Mommy." Ayu tidak merespon, berat sekali melepaskannya. "Apa Kakak dapat restu dari Mommy?"

__ADS_1


"Berikan Mommy kabar setiap saat. Dua atau tiga hari sekali paling tidak, jangan pura-pura baik-baik saja kalau sedang tidak baik, libatkan Mommy dalam perjalanan mu ya Nak." Mahes mengangguk.


"Thanks Mom. Kakak tahu langkah Kakak akan di penuhi do'a-do'a dari Mommy. Kau akan selalu di hatiku meski kita jauh Mom. Jauh di mata dekat di hatiku Mom." Ayu mengeratkan pelukannya. Dirinya tidak boleh egois menahan Mahesa tetap di sisinya. Bagaimanapun dia punya cita-cita yang harus dia selesaikan dan capai.


__ADS_2