
Flash back
Malik terpaksa menunda pemeriksaan karena anak-anaknya tengah mengalami kesulitan. Malik tidak mungkin membiarkan mereka berlama-lama menunggu dirinya, terpaksa sekali Malik meminta Ayuna nya menunggu di restoran Kak Rey. Karena memang saat telpon nya berdering Malik sedang mampir untuk makan siang di sana.
“Jangan banyak bicara pada Mommy ya Nak, biarkan Mommy tenang ya Nak.” Pinta Malik pada anak-anaknya.
“Mommy pasti akan minta kita bicara Dad, kan kita tahu bagaimana Mommy kita Dad.” Malik setuju dengan Mahes. “Bagaimana sembunyikan luka Kakak Dad?” Malik masih di dalam mobil, enggan turun karena wajah anak-anaknya babak belur.
“Aku butuh peluk Mommy ku tapi Dad, Mommy marah juga pasti hanya sebentar.” Enteng sekali Ranu bicara, membuat Malik dan Mahesa menatap dirinya dengan tajam.
“Jangan begitu Adek, Mommy kasihan. Pasti Mommy menangis lihat wajah kita seperti ini.” Yakin sekali Mahes Mommy nya akan histeris.
“Tidak, Mommy pasti tahu anak-anak seusia kita bisa saja mengalami perkelahian seperti ini.” Masih yakin Mommy nya akan baik-baik saja, padahal dada nya sedang berdegub cukup kencang. Tapi butuh pelukan Mommy nya.
“Jangan terlalu percaya diri kalian, Mommy kemaren menyebut kalian akan tetap menjadi bayi nya sampai kapan pun.” Mahes dan Ranu tersenyum.
“Kalau begitu kita hadapi saja. Terlalu lama kita di sini Dad.” Mobil Anna yang baru sampai terlihat sudah parkir.
Tok...tok..tok...
Malik membuka kaca mobilnya. “Kenapa tidak keluar?” Tidak ada jawaban, mereka hanya terlihat sangat kasihan. “Takut kah?” Ketiganya mengangguk dengan kompak. “Mamah sudah ceritakan kalian terlibat perkelahian. Sekarang masuk dan lihat sendiri Mommy kalian.”
“Mamah...kenapa cerita duluan. Kenap tidak tunggu Daddy yang bicara pada istriku Mah?” Anna tersenyum, mengerjai mereka sangat menghibur dirinya. Anna berjalan masuk ke dalam restoran menggandeng tangan Hanum yang juga tersenyum manis.
Mahes dan Ranu berjalan di belakang Daddy nya, bergandengan karena mereka takut melihat kesedihan di wajah Mommy mereka. Berjalan memasuki restoran yang saat ini tidak terlalu ramai.
Tringg...trinnng....tringggg....
Suara gemerincing lonceng angin yang menempel di pintu membuat perhatian semua orang yang ada di sana tertuju pada pintu masuk. Mommy mereka sedang duduk ditemani Kak Rey dan Melan, wajahnya tentu saja tidak tenang.
Ayu merentangkan kedua tangannya, tersenyum begitu lembut pada anak-anaknya yang menunduk tidak berani menatap dirinya.
“Sorry Mom. Sorry Kakak tidak bisa jaga Adek.” Ucap Mahes yang sejak masuk tadi wajahanya begitu murung.
“Abang juga minta maaf buat Mommy sad. Abang janji tidak akan ulangi lagi Mom.” Ayu tidak menjawab apapun.
“Mommy obati lukanya. Duduk kalian berdua,” Keduanya duduk dengan tenang di depan Mommy nya. Menunduk tidak berani menatap wajah Mommy nya yang diam saja.
Biasanya Mommy nya akan bereaksi seperti anak kecil, ikut menangis dan bicara tanpa henti saat mereka berdua membuat ulah. Diam nya malah membuat Mahes dan Ranu kebingungan.
__ADS_1
Ayu dengan lembut mengobati luka di wajah anak-anaknya. Lebam-lebam tapi tidak terlalu berbahaya. Ayu tidak bicara sedikit pun. Hanya menyentuh anak-anak dengan lembut penuh kasih sayang.
“Mom....” Ayu masih sibuk mengolesakan salep pereda nyeri di wajah Ranu. “Tell me want you now Mom, jangan diam saja.” Ayu masih tidak bisa bicara.
Entah kenapa dirinya tidak bisa mengatakan apapun di depan anak-anak nya yang saat ini tengah terluka. Ayu menggeleng, bingung mau bicara apa.
“Kenapa tidak marah? Mommy boleh marah kalau anak-anak nya salah loh Mom, jangan diami kita Mom. Please.” Rengek Mahes yang membuat Mommy nya menunduk.
Dirinya sedang tidak ingin marah, hanya bingung karena melihat wajah tampan anak-anaknya menjadi babak belur. Pasti sakit sekali rasanya, Ayu hanya bisa membuat anak-ankanya tidak merasa bersalah karena berulah seperti ini.
“Ihhhh.....Mommy gak mau marah. Anak-anak Mommy loh luka, masa Mommy marah-marah sih.” Wajah Mommy nya terlihat sangat lucu. “Sakit ya Bang? Berdarah loh Bang.” Tanya Ayu yang akhirnya bisa menguasai emosinya setelah mendengar anak-anaknya bicara dan mereka baik-baik saja.
“Mommy marah juga gak papa, kita nakal. Buat Mommy sad begini Abang merasa sangat menyesal.” Ayu memeluk anak kecilnya yang sudah remaja.
“Kakak tidak mau peluk Mommy?” Mahes tersenyum dan akhirnya mereka sadar. Tidak ada kemaran pada orang tua mereka, yang di rasakan mereka sebagai orang tua adalah khawatir. Anak-anak akan selalu menjadi kekuatan dan kelemahan, orang tua selalu ada di posisi itu selama menemani mereka bertumbuh.
Malik membawa anak-anaknya pulang dengan tenang, melihat istrinya baik-baik saja Malik sangat bersyukur. Ayuna ternyata sebaik itu pada anak-anaknya, dirinya bahkan sempat marah dan curiga pada anak-anaknya yang membuat onar.
Ayu sedikitpun tidak menaruh curiga pada anak-anaknya, dia percaya anak-anaknya tidak akan melakukan hal buruk meski sedang tidak dalam pengawasan orang tuanya. Pantas jika anak-anak selau percaya pada Mommy nya begitu besar, pantas cinta mereka untuk Mommy nya tidak tergantikan. Pantas saja mereka punya ikatan cinta yang tidak bisa di gantikan oleh siapapun di dunia ini.
Malik baru sadar bagaimana seorang Ayuna berperan begitu besar membentuk karakter anak-anaknya menjadi semanis dan sebaik ini. Malik menatap Ayu yang sedang duduk di sisinya begitu hangat. Malam mereka di tutup dengan indah.
Malam begitu tenang setelah kejadian siang tadi yang cukup membuat Malik jantungan. Terlebih istrinya tengah hamil tua dan tidak boleh banyak pikiran, dia harus menjaga kesehatan mental dan fisiknya agar proses melahirkan bisa lebih lancar.
"Dad..." Suara parau Ayuna berhasil menyadarkan Malik dari lamunannya yang cukup panjang. "Kenapa tidak tidur?" Malik meletakkan laptop nya di atas nakas.
Membelai lembut surai wanita kesayangannya. "Kenapa bangun sayang?" Ayu mencoba untuk duduk, Malik menopang tubuh nya agar Ayu lebih mudah bergerak. "Kak Malik buat kamu bangun sayang?" Ayu menggeleng.
"Perutku gak enak Kak, sakit." Malik melihat bibir Ayu yang kering.
"Kak Malik ambilkan minum sebentar." Ayu menggeleng. Tidak mau di tinggalkan. "Sebentar saja sayang, air minum di kamar sudah habis dan aku harus ambil ke dapur." Lagi-lagi Ayu menggeleng.
"Tidak mau minum, tidak usah. Di sini saja." Malik beringsut dari kasur. Duduk di sisi Istrinya memberikan pijatan-pijatan kecil di tangannya.
"Kita ke rumah sakit ya sayang, kalau sudah merasa tidak nyaman kita tunggu saja di sana." Ayu mengangguk, perutnya sudah tidak enak sekali rasanya.
Ayu berjalan pelan dengan Malik yang menggandengnya ke luar kamar.
"Duduk dulu sayang, aku ambil perlengkapan kita dulu yah." Tangan Ayu yang menggenggam erat lengan Malik sedikit menekan pegangan tangannya. Malik terhenti, menatap wajah Ayuna yang semakin sayu.
"Kak..." Ayu terlihat menunduk dan memperhatikan kaki nya. Ada air bening mengalir di kaki putih istrinya sampai ke lantai. "Awww....." Ayu memegangi perut bawahnya.Malik mencoba tetap tenang.
__ADS_1
"Kak Malik ambil kunci mobil sebentar. Duduk di sini sayang." Ayu menurut, perutnya terasa begitu sakit yang tidak bisa di gambarkan.
Jam masih menunjukkan tengah malam, dirinya tidak mungkin membangunkan anak-anak dan akhirnya berangkat tanpa ijin pada mereka.
Untung saja ada Oji dan Hans di rumah, mereka langsung meluncur ke kediaman Malik saat tahu anak-anak di keroyok, mereka menginap menghabiskan waktu bersama anak-anak.
"Tenang sayang, sabar yah....kita sebentar lagi sampai." Ayu mencoba tersenyum tapi malah menangis. Tidak tahan dengan rasa sakit yang dirinya rasakan saat ini.
"Ahhh...maaf Kak, aku tidak tahan." Malik memegangi tangan Ayu yang gemetar.
Mencoba tetap tenang karena dirinya harus terlihat baik-baik saja agar Ayu bisa mengeluh sesukanya.
"Iya sayang, sabar sayang, baca doa yang sudah Mommy hafal. Minta pertolongan Allah sayang. Sabar yah." Ucapan Malik membuat Ayu menjadi sedikit sendu. Dia hebat selalu mengingatkan Ayu agar tetap bertawakal dan meminta pertolongan Allah.
"Tapi sakit Kak....aku tidak tahan Kak." Kesakitannya membuat Ayu tidak bisa mengontrol emosinya.
Tangisnya pecah membuat hati Malik teriris perih. Sakitnya tidak bisa di gantikan siapapun dan tidak bisa di berikan obat penawar. Malik mencoba tetap tenang, tersenyum pada Ayu yang saat ini membutuhkan dirinya.
Tidak lama Malik sampai di rumah sakit, segera Sarah dan Adam membawa Ayuna ke ruang perawatan khusus untuk dirinya yang memang Malik siapkan di rumah sakit miliknya, semua sudah siap melakukan tugasnya membantu Ayu melahirkan.
Sarah memeriksa keadaan Ayu, memastikan Ibunya dalam kondisi sehat untuk melahirkan secara normal.
Ayu masih menangis dalam diam, Sarah mengatakan jika pembukaannya belum lengkap. Entah, Malik tidak paham. Yang jelas istrinya masih di suruh menunggu padahal wajahnya sudah sangat ketakutan.
"Menunggu apa Sar? Kenapa tidak cepat keluarkan anak ku. Kasihan Mommy nya." Sarah menatap mata Malik dengan kesal.
"Jangan jadi menyebalkan yah, ini anak ke dua mu. Ingat proses yang pertama dulu." Jawab Sarah masih dengan nada lembut.
"Lupa, sudah sangat lama." Sarah menggelengkan kepalanya, Malik akan menyebalkan sepanjang hari jika Ayu dalam keadaan seperti ini. Dirinya sudah terlatih, meski terkadang emosinya suka terpancing.
"Sedang sedih wajahnya. Kepikiran Mommy nya kesakitan." Malik menerima foto dari Jofan yang sudah datang ke apartemen nya menemani anak-anak.
"Abang dimana? Sad juga kah dia?" Tanya Malik penasaran, kalau Mahes yang sekuat itu saja sedih, Putra kecilnya yang lemah lembut pasti tengah menggerung menangisi Mommy nya.
"Menangis, tapi melihat ku memotret diam-diam dia protes. Dia mau Mommy nya lihat dia baik-baik saja katanya." Matanya bengkak begitu.
"Jaga mereka ya Fan, aku titip sebentar." Lega anak-anak baik-baik saja.
Untung saja Malik bisa meminta semua orang membantunya merawat keluarganya selama dirinya fokus pada semestanya.
__ADS_1
Entah apa jadinya Malik tanpa mereka semua, melihat foto anak-anaknya sedikit mengobati kegundahan hati Malik yang tengah menunggui istrinya yang tengah merasakan sakit yang luar biasa. Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain memeluknya dan menemaninya agar merasa tidak sendirian, meski Malik tahu hadirnya tidak sedikitpun mengurangi rasa sakit yang tengah menderanya.