Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Mangga Muda


__ADS_3

“Gemes ya Kak lihat Adek sama Melan. Aku suka bayangkan Melan dan Adek hidup penuh cinta. Punya anak-anak yang lucu-lucu seperti Kakak dan Abang.” Malik masih fokus menyisir rambut Ayuna yang masih sedikit basah.


“Wangi Mom.” Malik menciumi rambut yang ada di genggaman tangannya. “Mommy bilang apa? Daddy tidak dengar.” Ayu memanyunkan bibirnya. Suaminya suka tidak mendegar jika dirinya sedang bercerita.


“Tidak ada siaran ulang. Daddy kebiasaan ihhhh....sebel.” Kesal sekali padahal dirinya sudah sangat semangat. Malik suka sekali menggoda Ayuna. Dia memang akhir-akhir ini sedang mudah marah. Lebih sensitif dari kehamilannya yang pertama.


“Sorry...mom....sorry...Daddy janji akan dengarkan jika Mulut Mommy bicara. Janji.” Ingin mengecup bibir istrinya yang menggoda tapi di tutup rapat oleh tangan mungilnya. “Loh....Daddy tidak boleh cium punya Daddy. Mom....jangan bercanda.” Ayu bangun dari duduknya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Masih kesal.


“Jangan coba-coba menicum ku ya Dad. Tidak mau.” Membuang mukanya kesal. Malik ingin melanjutkan isengnya tapi tidak tega.


“Harus apa supaya hilang kesal di hati Mommy. Katakan, apapun akan Daddy lakukan.” Malik mengangkat dagu Ayu agar menatapnya. “Tell me Mom. Love.....cinta....” Ayu akhirnya tersenyum. Mudah sekali menghilangkan kesalnya.


“Daddy tolong carikan Mommy mangga muda, tadi pagi keliling di di pesisir pantai gak ada Dad.” Malik ingin sekali terbahak. “Adanya amang-amang jualan gorengan dan nasi.” Ayu tidak berselera makan apapun.


“Mana ada tukang buah pagi-pagi Mom. Gak laku Mom.” Jawab Malik sekenanya, dia semakin membuat Ayuna nya jengkel. Senyumnya terlihat sekali kalau Malik sedang menertawakannya. Mata Ayu sedikit melotot.


“Siapa tahu saja kan ada ibu-ibu hamil sepertiku yang pengen. Daddy sama saja dengan mamang-mamang jualan yang gak tau waktu.” Malik mendekat, menarik tubuh kecil istrinya memeluknya dengan hangat.


Suaranya pelan sekali meski dia sedang sangat kesal. Malik suka saat mendengarnya bicara sedikit keras, tapi tetap saja. Dia akan menahan amarahnya dan bicara dengan nada lembut meski dirinya sedang kesal.


“Ayo kita cari, menjelang siang begini mereka pasti ada di sekitar sana.” Malik merayu dengan lembut. “Baby mau rujak yak Nak, ayo Daddy temani beli rujak.” Ayu mengernyit.


“Bukan rujak Dad, mangga muda Dad.” Beda sekali yang masuk ke dalam pikiran suaminya. Tidak sesuai keinginnaya.


“Iya sayang....iya. ayo.” Ayu berdiri. Malik mengambil hijab instan yang ada di sandaran kursi meja rias. Memakaikannya dengan lembut seperti biasa.


Malik berkeliling di tepi pantai namun tidak menemukan satupun pedagang buah ataupun rujak disana. Mereka menjual berbagai makanan yang terbuat dari olahan ikan segar hasil tangkapan para nelayan setempat. Wajah Istrinya tentu saja sedang kecewa saat ini, dia ingin sekali makan mangga muda.


“Mau coba cari ke pasar? Mungkin di dekat sini ada pasar.” Rayunya yang tidak mau melihat Ayuna kecewa. Mengangguk tidak bersemangat.


Malik mengendarai mobil berkeliling mencari keberadaan pasar tradisional modern sesuai petunjuk GPS. Mencoba peruntukannya siapa tahu saja dirinya bisa menemukan mangga muda keinginan istrinya.


Tidak berapa lama mereka sampai, Malik menggandeng Ayu memasuki pasar. Cukup bersih meski ada di wilayah yang cukup jauh dari kota. Malik berkeliling lagi, mecari deretan pedagang buah. Pasar tertata dengan sangat apik.



“Ibu mangganya tidak ada yang muda? Yang belum matang Bu.” Ibu penjual tertawa. Muda tentu saja belum matang pikirnya.


“Tidak ada mas ganteng. Mana laku kalau jual yang muda.” Jawabnya ramah. “Ini saja, manis ini mangganya.” Ayu menarik tangan Malik. Dia menolak dengan halus.


“Terimakasih Ibu.” Malik menuntun Ayu menjauh, berjalan perlahan mencari lagi pedagang buah lain.

__ADS_1


“Ayu menyusahkan ya Kak? Maaf ya Kak.” Wajahnya sedih sekali.


“Jangan pernah sungkan untuk menyusahkan suami mu Love. Tenang saja, ayo kita cari lagi pelan-pelan.” Ayu senang mendengarnya, suaminya memang terbaik.


Sampai di ujung tempat penjual buah, Malik dan Ayu tidak menemukan mangga muda. Semua mangga sudah matang dan manis. Mereka tahu yang mencari pasti sedang ngidam, ada beberapa di antara Ibu-Ibu yang meledek Malik. Ada juga yang bangga karena Malik mau bersusah payah mencari mangga muda untuk istrinya. Ada juga seorang ibu yang curhat tentang suaminya yang tidak mau tahu saat istrinya ngidam, mengatakan kalau Ayu beruntung punya suami sebaik Malik.


Tentu saja Ibu-Ibu pedagang pasar memang ramah, meski tidak saling mengenal, mereka memperlakukan para pendatang yang belum tentu membeli barang dagangan mereka dengan ramah. Penuh senyum dan penuh kehangatan. Malik baru kali ini melihat keharmonisan dunia luar.


“Bagaimana? Mommy masih mau mencari?” Ingin mengangguk tapi kasihan melihat suaminya sudah berpeluh keringat.


Andai saja Aldo di sini. Dia pasti bisa dengan mudah menemukan keberadaan mangga muda yang langka. Dia harus menggantikan Malik yang sedang berlibur mengurus perusahaan. Aldo sudah kembali lebih dulu bersama Adam dan Sarah.


“Nak....” Sapa seorang Ibu paruh baya yang berdiri di belakang Malik. “Mau tidak ambil mangga muda di halaman belakang rumah ibu? Kalau cari-cari di pasar begini gak ketemu sampai kaki berbatu juga Nak.” Malik ingin menolak tapi melihat wajah Ayuna yang semula lesu berbinar.


Matanya cantik sekali membuat Malik akhirnya mengangguk. Bagaimana bisa dirinya menerima tawaran seorang Ibu yang dirinya tidak kenal, tapi Malik ingin memenuhi ngidam istrinya.


Malik berjalan mengikuti langkah kaki Ibu yang membawanya ke rumahnya yang tidak jauh dari pasar. Mobilnya tidak bisa masuk sampai ke kebun yang ada di halaman belakang rumahnya. Karena tidak bisa meninggalkan Ayu sendirian, Malik berjalan perlahan menuju pohon mangga muda.


“Nah.....ini pohonnya.” Malik menelisik dari bawah pohon, hanya ada rimbun dedaunan yang nampak di matanya.



“Lihat....lihat....Tuh lihat.....” Malik mendongak mengikuti jari telunjuk sang Ibu yang mengarah ke berbagai arah. “Banyak di atas.” Malik menemukan ada sekitar tiga buah mangga yang tersembunyi di antara dedaunan. Menatap Sang Ibu yang menganggukan kepalanya. “Tunggu apalagi, naiklah.” Terbelalak mata Malik.


“Naik Bu....ke pohon ini Bu?” Ayu tidak tega tapi tidak ada cara lain mengambilnya. Malik seumur-umur tidak pernah memanjat pohon. “Demi kamu Love.” Ayu memeluk suaminya memberikan semangat.


“Maaf Daddy.” Menirukan suara bayi.


Setelah bersusah payah sampai baju Malik yang tersangkut ranting robek, Malik berhasil mendapatkan satu buah mangga yang cukup mengobati ngidam istrinya. Mereka kembali berjalan menuju mobil ditemani Ibu pemilik mangga.


“Bu e....dari mana?” Sapa seorang tetangga yang melihat pemilik pohon mangga.


“Metik mangga muda So. Ngidam istrinya.” Jawabnya dengan suara renyah.


“Oalah....kenapa gak bilang. Cuma satu toh dapetnya.” Tersenyum meremehkan. Malik menyunggingkan senyum ramah pada seorang Bapak yang bertanya dengan logat Jawa yang cukup kental. “Sini...sini...” Malik menurut saja mengikuti.



“Nah....bisa buat kapan-kapan lagi kalau masih ngidam. Satu begitu mana cukup.” Malik menggaruk kepalanya.


Kenapa tidak berjumpa tadi sebelum dirinya nekad menaiki pohon mangga yang cukup tinggi, banyak semut pula.

__ADS_1


“Terimakasih banyak Pak.” Pemilik mangga tersenyum malu-malu pada Ayu yang bicara begitu lembut.


Malik menyodorkan beberapa uang kertas merah untuk Ibu dan Bapak yang sudah berbaik hati membantunya. Mereka menolak tapi Malik memaksa karena mereka sudah dengan tulus membantu memenuhi keinginan Bayinya.


Ayu memakan mangga keinginannya di perjalanan menuju hotel. Mangga sudah dibantu dibersihkan oleh Ibu tadi supaya bisa segera Ayu nikmati, sang Ibu juga dengan senang hati membuatkan sedikit bumbu rujak yang tidak terlalu pedas.


***


“Mau kenama Mel?” Tanya Riyan yang melihat Melan berjalan mengendap-endap. Melan menutup mulut Riyan agar yang lain tidak mendegar suaranya. “Ada apa?” Tanya Riyan, dengan nada lirih sekarang.


Memperlihatkan isi pesan Kak Rey.


“Mel....bantu Kak Riyan mendekor kursi untuk makan siang romantis bersama Kak Anna. Ada di belakang hotel ya Mel. Di jalanan yang di penuhi pepohonan besar di belakang hotel. Jangan bilang siapa-siapa ya Mel. Kejutan.” Riyan sedikit curiga.


Riyan mencoba menghubungi ponsel Kak Rey tapi tidak ada jawaban, pesannya juga tidak di baca.


“Pasti Kak Rey menunggu ku Yan. Ayo kita kesana, Kak Rey butuh bantuan kita Yan.” Melan kesal sekali Riyan masih menahan dirinya. “Kalau tidak mau ikut biar aku saja.” Riyan menahan langkah Melan.


“Ok.....kita jalan ke sana.” Melan tersenyum senang.



“Dimana ya Kak Rey.” Melan penasaran karena hanya ada pepohonan rimbun dan tidak menemukan Kak Rey dimanapun. Jalanan juga sangat sepi.


“Kita kembali saja.” Melan menahan tangan Riyan, melihat seorang laki-laki mengenakan pakaian serba hitam tidak jauh dari tempatnya berdiri. Berdiri memunggungi arahnya.


“Itu Yan...itu Kak Rey.”


Deru suara mobil yang begitu kencang membuat fokus Melan dan Riyan melihat ke arah datangnya. Turun dari dalam mobil segerombolan laki-laki mengenakan penutup kepala mendekati mereka. Riyan menarik Melan ke belakang dirinya. Mencoba melindunginya.


Riyan meskipun jago bela diri kalah jumlah. Riyan tersungkur tanpa bisa membantu Melani yang dibawa paksa oleh mereka semua. Riyan tidak sadarkan diri.


Saat sadar, Riyan sudah ada di kamarnya. Ada Malik, Rey dan yang lainnya di sana. Malik terlihat gusar mondar mandir bicara dengan orang di seberang telepon.


“Melan Kak...mereka membawa Melan. Cepat kita harus menyelamatkan Melan Kak.” Racau Riyan berderai air mata. Rey memeluk Riyan dengan erat, dia pasti merasa kesakitan harus melihat Melan di culik.


“Tenang Yan. Kita sedang mencari Melan. Tenang Dek.” Riyan menarik kerah baju Rey dengan kasar.


“Kak Rey....ini semua karena pesan Kak Rey meminta Melan membantunya. Melan dengan penuh tawa berjalan ketempat Kak Rey memintanya.” Ucap Riyan penuh kemarahan.


“Ponsel ku hilang, bagaimana aku yang meminta Melan ke sana.” Rey bicara keras agar Riyan sadar. Malik hanya menatap kedua laki-laki yang saat ini sedang berdebat hebat.

__ADS_1


__ADS_2