Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Sepi


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Jofan tidak bicara apapun. Dia hanya tersenyum begitu lembut pada wanita kesayangannya. Sandra yang merasa bersalah pun ikut diam tidak berani meminta maaf pada Jofan yang terlihat begitu sakit melihat dirinya terluka.


Diam, sunyi, mereka berdua suka berbagi cerita dan tidak pernah setenang ini. Membuat orang yang ada di sekitar mereka tahu, tidak lah baik keadaan mereka saat ini.


Riyan mencoba fokus menyetir, tidak mau bicara dan membuat suasana semakin tegang, ikut merasakan kecanggungan. Mereka biasanya suka berisik dan saling menjahili satu sama lain, melihat merek diam membuat Riyan tidak berani bertanya bagaimana keadaan Sandra yang terlihat baik saat ini.


Sesampainya di rumah, Sandra di bawa Jofan ke ruang tamu. Memintanya duduk di sana karena Jofan ingin berdiskusi dengan yang lain tentang saran Dokter Sarah yang memintanya untuk merubah kamar tidurnya sementara waktu di lantai bawah.


Kejadian ini seperti alarm untuk lebih memperhatikan kondisi Sandra. Memudahkan Sandra untuk keluar masuk kamarnya tanpa harus naik turun tangga yang bisa saja membuatnya celaka seperti hari ini.


Sudah ada Kak Anna dan Kak Rey yang menunggu mereka di sana. Tenang sekali mereka, senyumnya selalu hangat tidak berubah.


"Hay sayang, bagaimana? Apa lukanya berbahaya?" Tanya Anna yang saat ini tengah memeluk Sandra dengan hangat. Sandra menggeleng, kecerobohannya membuat semua orang khawatir.



"Duduk sayang, biarkan Sandra istirahat. Kaki nya pasti sakit." Ucap Kak Rey yang begitu lembut padanya. Anna menuntun Sandra duduk, di sisinya. Tangannya masih mengenggam erat tangan Sandra.


Sandra makin merutuki kecerobohannya yang membuat mereka semua begitu khawatir. Bagaimana dirinya berpikir jika Jofan tidak menyayanginya. Bagaimana dia punya perasaan curiga seperti itu, melihatnya menangis membuat dada Sandra sesak.


"Hmmmm....maaf." Sandra meremas jemarinya yang cukup berkeringat. Diskusi terhenti mendengar ungkapan maaf dari Sandra. "Maaf kan aku. Maaf membuat kalian semua khawatir." Sandra berkaca-kaca, tidak bisa lagi membendung rasa bersalahnya.


"Its ok Baby.....its ok." Anna memeluknya dengan hangat, mengusap deraian air mata yang membasahi pipi mulusnya. "Jangan menangis sayang. Kita semua ada di sini." Tangan Anna membelai lembut surai Sandra.


"Jangan meminta maaf, semua hanya kecelakaan sayang. Ini peringatan agar tidak lagi ceroboh." Ucapan Rey membuat Sandra mengeratkan pelukkan nya pada Kak Anna.


Setelah Sandra cukup tenang, mereka melanjutkan diskusi untuk perubahan kamar tidur Jofan yang sementara waktu akan menempati kamar tamu yang ada di lantai satu. Awalnya ingin bertukar kamar dengan Riyan, tapi Sandra tidak keberatan jika menempati kamar tamu sementara waktu.


Sandra tidak keberatan, semua yang mereka sepakati untuk kenyamanan dirinya. Untuk keamanan yang selalu mereka utamakan di dalam rumahnya.


"Ayo istirahat sayang." Ajak Jofan yang melihat Sandra kelelahan, dia banyak menangis hari ini. Sandra menautkan tangannya pada tangan Jofan yang terulur.


Jofan menemani Sandra yang kesulitan memejamkan matanya sampai berhasil tidur. Memberikan pijatan-pijatan kecil pada kaki nya yang kelelahan karena seharian ini bergerak cukup banyak.


Jofan masih merasakan sesak, dia masih tidak habis pikir dengan apa yang dirinya lakukan dengan sadar.


Kini Jofan tengah duduk merenungi sikapnya yang suka di luar kontrol. Sering mengikuti amarah tanpa memikirkan perasaan Sandra yang hanya ingin bermanja pada dirinya.

__ADS_1



Apa salahnya! Perempuan memang makhluk yang suka di perlakuan dengan manis, dimanjakan dengan berbagai hal yang bisa membuat mereka bahagia di perlakuan istimewa oleh orang yang di sayanginya. Jadi apa salahnya?


Sudah satu jam lebih dan adiknya tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya saat ini. Rey tidak tega, dia menghampiri Jofan yang sejak tadi tidak banyak bicara. Matanya jelas sekali memancarkan kesedihan.



"Hey..." Jofan mendongak mencari sumber suara, tersenyum melihat Rey yang kini berdiri di hadapannya. "Akhhhhnh.......sudah lama sekali aku tidak melihatmu seperti ini." Rey duduk di sebelahnya, menepuk punggung Jofan lembut. "Ada yang ingin dibicarakan?" Jofan memijat pelipisnya.


"Aku sudah keterlaluan. Lagi-lagi aku melakukan kebodohan yang aku sesali." Rey menatap Jofan mencari jawaban pasti. Pasti ada hubungannya dengan Sandra.


"Apa Sandra....." Jofan mengangguk. Rey hanya bisa mencoba mendengarkan, tidak mau menghakimi adik nya.


"Aku membuatnya ketakutan, dia lari dariku dan menabrak guci." Jofan menunduk.


"Apa ada masalah dengan pekerjaan mu?" Jofan menggeleng. Masalah sepele yang sudah sering dirinya hadapi. Seharusnya dia tidak meluapkan amarah nya pada Sandra. "Ini tentang emosiku Kak."


"Tenang Fan, kau juga pasti tidak ingin menyakitinya. Jangan terlalu berlebihan menyalahkan diri sendiri."


"Aku kesal pada diriku sendiri Kak. Aku bodoh, hampir saja ......." Rey menepuk punggung tangan Jofan dengan lembut.


"Hanya permintaan kecil yang seharusnya bisa aku turuti." Rey menghela nafasnya panjang. "Aku yang membuat semuanya kacau seperti ini."


"Sekarang tidak ada yang bisa kita lakukan untuk merubah kejadian yang sudah terjadi. Perbaiki semuanya dan jangan mengulangi kesalahan fatal yang sama." Rey merangkul pundak Jofan, memberikannya ketenangan agar rasa bersalahnya paling tidak sedikit berkurang.


Sudah dua hari sejak kejadian itu, Sandra menjadi pendiam. Jarang membuat keributan dan meminta hal-hal aneh yang sering dia lakukan semenjak hamil. Membuat seisi rumah takut, dia tidak pernah setenang ini sebelumnya.



"San, kamu baik-baik saja?" Tanya Jofan yang menatap Sandra duduk di sofa kamarnya dengan tatapan kosong. Sandra tersenyum padanya. "Kalau ada yang tidak enak katakan sayang."


Jofan lebih takut saat istrinya yang cerewet menjadi pendiam. Jofan mendekat, duduk di bawah Sandra menggenggam tangannya erat. Wajahnya semakin bulat karena nafsu makannya meningkat pesat.


"Fan..." Melihat mata Jofan, Sandra jadi ingat kejadian dua hari lalu. Akhirnya dia menggeleng, mengurungkan niatnya meminta sesuatu pada Jofan. Hatinya masih belum bisa melupakan kejadian itu.


"Kenapa ragu? Apa permintaan nya sulit?" Sandra hanya tersenyum getir.

__ADS_1


"Tidak penting Fan." Sandra menghindari tatapan mata Jofan.


Jofan meraih dagu Sandra agar bicara dengan percaya diri. "Katakan sayang, mau apa? Aku pasti usahakan memenuhinya." Bicara selembut mungkin karena Jofan tahu saat ini Sandra tengah terluka.


"Tidak Fan, nanti saja. Aku juga masih bisa menahan nya." Jofan berdiri, merengkuh tubuh Sandra dalam pelukannya.


"San, aku tahu kamu menahan nya sejak kemarin. Jangan takut padaku dan minta apa saja yang sedang kamu inginkan sayang. Jangan ragu dan takut dengan ku. Please sayang." Mata Sandra sedikit panas menahan air mata.


"Maaf kan aku Fan, aku takut sekali kehilangan kalian. Aku takut kamu membenciku dan meninggalkan ku Fan." Dada Jofan seketika seolah di hantam benda tajam.


Ketakutannya masih sebesar ini, membekas. Dia tidak bisa melupakan kejadian dimana dirinya dengan egois dan penuh amarah meninggalkannya. Dia takut karena Jofan pernah membuatnya terluka begitu dalam.


"Aku takut Fan." Sandra terisak. "Aku tidak mau kehilangan lagi Fan, tidak mau." Suaranya sudah terbata-bata. Tangisnya semakin menjadi di pelukkan Jofan.


Tangan Jofan sedikit gemetar, dia menyesal melukai Sandra. Wanita yang selalu mencintainya melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Wanita yang selalu menjadi ganrda terdepan saat dirinya butuh perlindungan.


"Hey....dengar baik-baik. Aku ini Sumi mu, aku mengambil mu dengan sepenuh hati dari kedua orang tua mu. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu Sandra." Mendengarnya Sandra semakin tidak bisa menahan emosinya. Terisak penuh kesakitan yang akhirnya bisa dirinya lampiaskan sampai habis tidak tersisa.


Anna hanya memperhatikan keduanya dari balik pintu. Dirinya mendengar tangisan saat hendak mengantarkan kue buatannya untuk Sandra yang suka sekali makan.


Langkahnya terhenti, mereka butuh waktu menyelesaikan hati mereka yang masih penuh dengan rasa bersalah.


"Kenapa sayang? Kau menangis?" Tanya Rey yang melihat Anna mengusap sudut matanya.


"Mereka sudah baikan. Aku lega." Rey memeluk Anna yang menangis bahagia. Dia khawatir dengan keadaan rumah yang sangat sepi, menandakan sedang tidak baik-baik saja penghuni di dalamnya.


"Ayo antar kue ke tempat Adek sebelum ke restoran. Aku kangen Baby." Rey mengandeng tangan istrinya untuk bersiap.


Mereka menikmati menjalankan peran menjadi orang tua meski tidak di karuniai anugerah yang sangat mereka harapkan. Peran mereka tidak kalah penting menjaga keseimbangan rumah dengan penuh kehangatan.


Anna tengah menggendong Baby yang sudah cantik dan wangi pagi-pagi buta.


Bagaimana tidak, Malik melepas Pampers dan membiarkannya di box bayi tanpa popok pengaman nya.


Ayu terkejut saat mendapati putri kecilnya bermandikan air seni dan kotoran yang dia keluarkan di pagi hari. Mengotori sekujur tubuhnya.


Rumah menjadi ramai karena Ayuna sedikit berteriak kesal. Ranu dn Mahesa yang tidak bersalah pun ikut di hukum membantu Mommy nya membersihkan box bayi yang kotor dan bau bersama Malik.

__ADS_1


Keduanya protes namun tidak di indahkan. Ayu meminta mereka bertiga membersihkannya sampai wangi seperti semula.


__ADS_2