
"Al.....!!!!!!" Sarah berlari dan berhasil membuat mata Malik melotot.
"Pelan Sarah....!!!! kau bisa terluka." Yang di marahi hanya senyum-senyun mendekat ke arah dirinya.
"Aku....." Nafasnya tersenggal. Menatap Ayu, wajahnya tampak ragu mengutarakan kegundahan hatinya. "Ah....kalian..."
"Kenapa Dokter cantik, apa yang mengganggu mu." Sarah menggeleng.
"Hahahaha....aku lupa. Apa yang tadi mau aku tanyakan yah." Pura-pura mengalihkan pandangannya. Malik mendengus, tapi dirinya hanya berpura-pura. Dia tahu Sarah tidak mau membuat kesayangannya cemas.
Mereka sedang ber akting.
“Ahhhh....benar. Cantik ku harus kontrol lagi satu minggu ke depan. Jangan lupa ya sayang.” Sarah pura-pura saja dari pada Ayu curiga dan mencari tahu lebih jauh apa yang ingin dirinya tanyakan.
"Sekarang kemasi barang-barang mu dan ikut aku pulang." Sarah langsung menggeleng dan berjalan menjauh. Malik tidak akan mengejejarnya karena tanganya sedang menjaga Ayuna tetap nyaman di gendonganya.
"Aku ada operasi satu jam lagi." Melambaikan tangannya berjalan mundur.
“Nanti malam aku mampir bawakan martabak.” Semakin jauh keberadaan Sarah.
"Dasar....suka sekali dia bekerja. Jangan kelelahan, atau aku akan memecatmu." Kalimat terakhir Malik mengucapkannya dengan berteriak.
Para suster yang melihatnya tersenyum. Mereka saling memberikan perhatian dengan cara yang unik, tapi mereka sangat nyaman karena tidak ada kepura puraan. Tulusnya melebihi saudara kandung.
“Abang.....apa kata dokter tadi?” Ucap Malik yang membuat Ranu meletakkan ponselnya dengan wajah manisnya.
“Ok Dad.....Abang ingat kok, cuma periksa sebentar saja pesan yang masuk.” Kini tubuhnya memeluk bantal yang ada di sisinya.
“Setelah ini jangan lagi bertindak gegabah ya Nak, bahaya sekali sayang. Kalian bisa terluka.” Malik mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
“Kami hanya mau membantu Dad....kami tidak tahu kalau mereka komplotan orang-orag jahat. Tapi Kak Hanum bukan.” Ayu jadi teringat sosok Hanum saat mendengar namanya. Menatap Malik yang saat ini sedang fokus menyetir.
“Hmmmm.....” Malik sontak menoleh pada Ayuna yang nampak ragu-ragu, memberikan senyum hangat nya agar Ayu tidak ragu-ragu mengungkapkan isi hatinya.
“Kenapa sayang? Ada yang sakit?” Ayu menggeleng. “Katakan, jangan ragu dan katakan saja apa yang mengganggu pikiranmu Mom.” Ayu menatap spion depan melihat wajah Ranu yang juga sedang menyimak.
“Bagaimana keadaan Hanum? Apa Kak Mahes sudah bisa menemui Hanum?” Jelas sekali Ayuna sedang khawatir.
__ADS_1
“Jangan pikirkan hal lain Mom, Daddy sudah peringatkan berulang kali. Anak-anakmu sudah besar dan bisa mengurus masalah hati mereka dengan benar.” Jawabannya mengesalkan, membuat Ayu bungkam dan malas mencari tahu lebih lanjut.
“Ok.” Tidak sopan juga jika tidak menanggapi. Tapi Malik tahu kala istrinya sedang kesal. Jelas sekali dari sorot matanya.
“Mau makan ice cream dulu tidak? Daddy tiba-tiba ingin ice cream.” Ayu yang semula malas, mengangguk penuh semangat. Mudah sekali meluluhkan hati kesayangannya.
“Abang boleh juga yah.” Malik mengacungkan jempolnya. Mereka akan menaikmati waktu bersama yang jarang sekali mereka miliki.
***
“Daddy meeting dulu sebentar di cafe bawah, jaga Mommy ya Nak.” Keduanya mengangguk menangapi permintaan Daddy.
“Padahal ke kantor juga gak papa Dad, Mommy bisa jaga diri kok Dad.” Ayu merasa kasihan suaminya harus menyesuaikan banyak kesibukannya demi bisa menjaga dirinya.
“No Mom, Daddy yang atur. Mommy jangan banyak meminta.” Balasnya dingin seperti biasa, suamimu memang sedingin ini asal kau ingat Ayuna.
“Ok Dad, jangan lupa makan juga. Mommy akan habiskan makanan Mommy dengan nikmat.” Ucapnya yang memang sedang menikmati gado-gado buatan Malik yang dirinya minta.
Ngidam ingin makan gado-gado buatan suaminya.
Otaknya suka tidak waras jika sudah menyangkut kesayangannya. Apapun akan Malik lakukan selama permintaan Ayuna tidak membahayakan dan bisa dirinya penuhi.
Malik sering merubah jadwal karena permintaan Ayuna yang suka sekali tiba-tiba, Malik tidak mau Ayu merasa di nomor duakan. Dia harus tetap bisa memenuhi semua keinginan Ayu.
Ayu memerhatikan kedua Putranya yang terlihat berbeda beberapa hari ini. Wajah mereka tidak semanis biasanya, seperti ada yang sedang mereka pikirkan.
"Mommy nya gak di ajak diskusi nih, sedang ada masalah apa sih anak-anak Mommy?." Ucapnya tanpa menoleh pada kedua Putranya yang sontak saling menatap.
Kentara sekali pasti sikap mereka yang sungguh dingin pada Mommy nya yang sangat peka. Tidak mau Mommy nya tahu tapi malah bersikap dingin membuat Ayu merasa mereka sedang banyak beban pikiran.
"Mommy sudah selesai makan?"Tanya Ranu mengalihkan pembicaraan karena tidak mau Mommy nya terlalu banyak beban pikiran.
"Sudah Nak." Ayu beranjak dari duduknya yang kemudian segera di cekal oleh Mahes.
"Duduk saja Mom, dokter melarang Mommy terlalu banyak bergerak." Mengambil alih piring dari tangan Mommy nya menuju dapur.
Mata mereka tidak bisa berbohong, jelas sekali ada yang mereka sembunyikan. Ayu tidak berani bertanya lebih jauh, mereka pasti akan menutupnya rapat-rapat. Apalagi jika masalahnya bisa membuat luka untuk dirinya.
__ADS_1
"Mommy seperti orang lain, Daddy dan anak-anak nya sekarang main rahasia-rahasiaan. Gak asik." Ucapnya sambil tersenyum kecut.
"Gak ada rahasia Mom. Abang sedang banyak tugas sekolah." Kilah Ranu. Meraih tangan Mommy, menciumnya berulang kali.
"Betul kata Abang, Kakak juga banyak sekali tugas dan pelajaran semakin sulit." Ayu mengeryitkan dahi nya. Tumben sekali Mahesa kesulitan, otaknya jenius seingat Ayu.
Mereka tidak pernah lulus saat berbohong, kaku dan tidak keren. Ayu dengan mudah bisa menebak kalau mereka sedang gundah gulana. Tapi sepertinya untuk saat ini dirinya tidak di perkenankan untuk ikut campur.
"Mommy berarti yang salah. Ya sudah, semoga yang kalian ucapkan benar yah. Mommy sedih saja kalau kalian ada masalah dan Mommy jadi orang paling terakhir yang tahu." Mahes kembali membungkam mulutnya yang baru saja ingin berkilah terpotong kembali ucapan Mommy nya. "Dengan alasan tidak mau Mommy khawatir." Ayu beranjak ke kamar nya. Perasaanya sedang mudah kesal dan marah belakangan ini.
Dirinya harus memejamkan mata dan mencoba tidak meluapkan emosinya yang menggebu. Tidak mau mencampuri urusan yang jelas-jelas mereka tidak membaginya, mungkin akan dirinya tahu tapi tidak saat ini.
"Apa kita perlu kasih tau Mommy kalau kita sedang mencari keberadaan Hanum?" Mahes menggeleng. Jelas jawabannya tidak. Mommy nya bisa khawatir dan bisa menganggu kesehatannya. Mahes tidak akan ijinkan Mommy nya punya perasaan yang menyakiti hatinya.
"Mommy hanya emosi saja, nanti juga hilang." Ranu juga setuju. “Tenang Dek, kita tetap harus ada di jalur kita.” Mahes meyakinakan Ranu agar tidak ragu.
"Tapi Abang takut Mommy malah sakit dada nya kalau kita tidak terbuka." Ayu suka sesak nafas jika menahan emosinya, Ranu takut hal itu terulang.
"Ini masalah serius Dek, tidak semudah itu. Kita bahkan mempelajari latar belakang mereka dan hasilnya sangat mengerikan." Mahes sampai tidak habis pikir dengan apa yang dirinya dapatkan tentang siapa Baskoro dan komplotannya.
"Kenapa kita tidak minta bantuan Daddy saja, Abang yakin Daddy akan bantu temukan Kak Hanum." Lagi-lagi Mehes menggeleng. Adiknya terlalu terburu-buru, berbahaya.
"Daddy tidak akan segan lenyapkan Hanum kalau dia benar-benar tidak baik seperti apa yang mereka takutkan." Ranu menelan salivanya. “Sedangkan kita tahu kalau Hanum tidak nakal, dia anak baik-baik seperti yang kita kenal selama ini Dek.” Ranu paham, terkadang orang tua mereka tidak punya pikiran yang sama dengan anak-anaknya.
"Tapi bagaimana jika langkah kita yang lembat malah membahayakan Hanum!" Mahes menatap tajam wajah Ranu. Ucapan nya sangat masuk akal dan ada benarnya.
"Bagaimana cara bicara dengan Daddy, mereka sangat berbahaya." Mahes merasa Daddy nya tidak akan mau membahayakan nyawa anak-anaknya demi Hanum.
“Bagaimana dengan kita meceritakan dulu bagaimana Hanum yang kita kenal, tidak seperti yang Mamih Sarah takutkan. Hanum tidak sejahat yang ada di pikiran mereka.” Mahes menyandarkan kepanya yang berdenyut, Hanum nya dalam bahaya.
***
“Ini milik Dokter?” Adam mengangguk.
“Iya, itu kotak makan yang di siapkan oleh kesayanganku. Hanum juga boleh mencicipinya kalau mau.” Mata Hanum berkaca-kaca. Adam segera menghampiri Hanum mencoba menenangkan.
“It’s ok Han, menangis Han. Jangan tahan dan biarkan semuanya keluar agar lega Han. Paman akan ada di sisi Hanum. Tenang sayang.....” Hanum terisak mengingat koyak makan yang dirinya terima dari Mahesa.
__ADS_1