Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Sakiti Aku Saja


__ADS_3

Riyan di sambut senyum hangat saat masuk ke dalam kamar yang mereka tempati selama liburan. Melan menepuk sisi kasur di sebelahnya yang masih cukup luas. Tangannya masih di genggam erat oleh Ranu yang saat ini sudah terlelap.


Riyan mencium gemas pipi Melani, tentu saja Melan menggeleng, takut pergerakan mereka membuat Ranu terbangun. Pelan sekali, Riyan mencoba melepaskan tangan Melan dari genggaman Ranu yang terlihat sudah cukup pulas dengan alam tidur nya.


“Sekarang ikut aku sayang.” Bisik Riyan setelah berhasil melepaskan tangan istrinya. Melan turun perlahan, menyisakan Ranu yang terlihat sangat nyaman.



“Mau kemana Yan?” Riyan tidak menjawab. “Ihhhhhh.....jangan sok romantis ya Yan, aku kan gak suka. Aku sukanya yang jelas-jelas saja Yan.” Riyan selalu gemas saat Melan banyak bicara.


“Tunggu sebentar, aku ijin dengan yang lain dulu.” Riyan meninggalkan Melan yang berdiri dengan rasa penasaran, senang sekali dirinya merasa semakin mencintai Riyan dengan sikapnya yang selalu manis, baik hati, perhatian dan lembut pada dirinya.


“Kak Al, Abang tidur di kamar ku sendirian. Aku dan Melan mau keluar sebentar.” Malik sebenarnya tidak mau memberikan ijin, tapi wajah Ayuna memohon agar adik nya di berikan ruang berduaan saja.


“Kemana?” Tanya Malik dengan nada berat.


“Hanya jalan-jala saja.” Ucap Riyan malu-malu, Malik tahu mereka tengah menikmati momen bulan madu yang seharusnya di isi berdua saja. Mereka memilih tinggal bersama karena Mahesa akan pergi dalam waktu yang cukup lama.


“Nyalakan GPS di ponsel mu.” Riyan menurut, segera menyalakan dan membagikan lokasinya selama beberapa jam kedepan. “Dek, hanya dua jam. Jangan sampai Kakak mu ini datang dan menyeret kalian pulang yah.” Riyan mengangguk paham.



Bukan perkara mudah keluar dengan Melani, dia wanita yang punya popularitas cukup besar di dunia entertaiment. Dia punya banyak penggemar dan juga haters, persaingan dunia yang memang isinya penuh dengan oorang-orang yang mencari popularitas.


“Mereka lucu ya Kak. Aku sangat ingat bagaimana dulu aku tidak bisa bergerak dengan normal setelah ketahuan istri seorang konglomerat muda.” Ayu tersenyum tapi tidak dengan matanya.


“Masih membekas ya Mom?” Ayu menggeleng, hatinya tidak mau dipenuhi kenangan buruk. Dia mau melupakan semua peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi. “Semua karena Daddy Mom, tapi Daddy berjanji akan selalu menjagamu sayang. Jangan lagi khawatir ya Mom.” Ayu mendusel, nyaman sekali saat dirinya di peluk Malik seperti ini.


Mahes sedang di bawa Adam dan Sarah untuk membeli beberapa pakaian hangat. Baby di bawa Anna bersama Hanum dan Sandra ke kamar mereka. Ayu jadi punya waktu banyak sekali untuk bersantai. Beruntung punya mereka semua yang selalu mau direpotkan menjaga anak-anaknya.


“Aku siapkan minuman ya Kak, anak-anak kalau malam suka cari-cari cemilan. Aku mau siapkan mereka jus.” Malik mengangguk, dirinya juga harus mengecek emailnya, mengurus beberapa pekerjaan yang masih belum selesai.


Ayu sedang menatap paviliun yang berada di sebrang dapur, lampunya terlihat terang. Putra nya tengah istirahat di sana, dia menjaga Aunty kesayangannya takut di jahati suaminya. Ayu tersenyum sendiri melihat bagaimana Putra nya tumbuh menjadi laki-laki yang sangat baik dan penyayang.


Duarrrrr.......

__ADS_1


Prakkkkkkk......


Kilatan yang Ayuna lihat sendiri dari paviliun di depannya berbarengan degan suara mirip dengan tembakan yang cukup keras. Gelas yang di genggamnya terbanting cukup keras, pecahanya tidak di hiraukan saat dirinya berlari dengan cepat menuju paviliun yang jelas-jelas ada Putranya di sana.


“Mom......Mommy. Stopppp........!!!!!” Malik yang juga terkejut berlari ke arah Ayuna lari, meghentikan lagkahnya karena pasti di luar sana berbahaya.


“Tunggu di sini.” Ayu melotot, Malik tahu istrinya tengah ketakutan. “Please tunggu di sini, Daddy yang periksa.” Ayu menolak, dia tetap meronta ingin segera keluar dan memastikan keadaan Ranu dengan mata kepalanya sendiri.


“Anak ku Dad, Abang di sana. Aku mau lihat!.” Tangannya sudah gemetar.


Mawar yang selalu sigap sudah ada di dalam ruangan dimana Malik dan Ayu tengah berdebat. “Mawar, jangan sampai Ayu keluar. Mengerti!” Mawar mengangguk. Semua orang berhambur keluar dari kamar.


“Kak.....aku mau lihat anakku.....Kak....Ahhhhhhhhh......” Ayu menangis, suaranya yang meneriaki Malik membuat hati suaminya juga sangat perih. Malik hanya ingin menjaga, dia tidak mau ada yang bisa menjangkau keluarganya.


Malik sudah meminta semua orang untuk tetap di dalam villa, tidak ada yang di ijinkan keluar dari villa yang mereka tempati. Meminta Adam yang masih ada di luar untuk tidak kembali dulu sampai keadaan dipastikan aman. Riyan dan Melan juga Malik hubungi agar tidak kembali dan mencari penginapan lain.


Ranu sedang di pelukan Biru saat Malik masuk, beruntung peluru yang di arahkan ke Putra nya meleset. Peluru yang di gunakan berasal dari senjata yang bisa menembak dari jarak cukup jauh.


“Dad....” Malik memeluknya dengan erat. Jelas sekali anak nya ketakutan. Malik tidak bisa berkata-kata. Ada saja orang jahat yang mau mencelakai keluarganya. “Abang takut Dad.” Suaranya hampir tidak terdengar.


Malik membawa Ranu duduk di sofa, memeluknya erat agar Ranu merasa aman. “Kenapa mereka jahat Dad? Abang tidak salah kan?” Malik menatap wajah Putranya yang saat ini tengah menangis. Bagaimanapun dia tetap anak-anak.


“Mereka akan Daddy bereskan. Tenang ya Nak.” Malik membawa Ranu kepelukkannya. Menciumi puncak kepala Ranu dengan dada yang bergemuruh hebat.


“Abang.....!!! Sayang....” Ranu menghambur ke pelukkan Mommy nya. “Tenang Nak, tenang sayang.” Malik menatap tubuh Ayu dari bawah sampai atas. Dia bahkan tidak mengenakan sendalnya.


“Maaf Pak, Nonna tidak....” Mawar menunduk, pasti tidak tega melihat Ayu menangis meronta ingin melihat anaknya baik-baik saja.


“Mommy di sini sayang.” Malik memeluk keduanya, tubuh Ayuna dingin sekali yang Malik rasakan. “Abang tidak terluka kan sayang?” Ranu menggeleng. Dirinya hanya ketakutan karena hampir saja terluka, tapi semuanya baik-baik saja.


“Sekarang kembali ke villa ya Mom. Abang harus tenang dulu ya Nak.” Malik melihat tatapan Ayuna yang sudah tidak biasa. Dia bahkan tidak mau menatap dirinya yang tengah bicara, fokusnya hanya pada Putra nya.


“Ayo sayang, Mommy jaga in Abang. Jangan takut sayang.” Malik yakin sekali Ayuna hanya tengah berpura-pura di depan Ranu. Dia sendiri sedang menahan gejolak rasa takut yang begitu besar.


Ayu berjalan sambil memeluk Ranu, tidak mau melepaskan sebentar saja pelukkan erat nya. Rey dan Jofan yang menjaga yang lain di dalam villa mendekat, memeluk Ranu dan Ayu yang baru sajal masuk. Lega Ranu dalam keadaan baik-baik saja.

__ADS_1


Mereka terbiasa tidak membahas apapun yang terjadi di depan para wanita, tidak mau mereka terbebani dan merasa khawatir. Malik membawa Ayu dan Ranu ke dalam kamarnya, membiarkan Ayu memeluk Ranu sepuasanya. Anaknya juga sepertinya butuh Mommy nya saat ini.


“Pak....” Suara Biru menghentikan langkah Malik. “Kami sudah tahu siapa dan dimana dia berada.” Malik segera keluar. Isi kepanya yang penuh dengan amarah sudah naik sampai ke ubun-ubun.


“Rey...Fan. tolong jaga mereka semua sampai aku kembali. Aku sudah minta orang-orangku menambah personilnya. Kalian aman.” Rey dan Jofan mengangguk. “Sorry An, tolong jaga Baby untuk ku ya sayang.” Anna mengangguk, wajahnya mencoba terlihat setenang mungkin agar Malik tidak bertambah berat untuk melangkah. “Kau juga sayang, Daddy akan segera kembali.” Malik mecium pipi Baby dan Hanum sebelum melangkah.



“Aku ke kamar adik ku ya Kak, biar Kak Rey yang jaga Baby, Kak Anna dan Hanum. Jaga Sandra juga ya Kak, dia pasti kelelahan sampai tidak terbangun mendengar suara tadi.” Anna mendekat pada keduanya. Hanum mengikuti dari belakang. Dia kebingungan karena dirinya baru saja ingin memejamkan mata saat suara tembakan terdengar menggelegar begitu keras.


“Jangan sampai Ayu merasa sendirian ya Fan, Kak Anna takut dia bisa kambuh Fan.”


Jofan mengangguk paham, itu juga yang saat ini sangat dirinya takutkan.


Jofan masuk ke dalam kamar besar bernuansa putih.



Ayu tengah memeluk Putra nya yang saat ini terlelap di pelukkanya, tangannya masih menepuk-nepuk punggung Ranu perlahan. Air matanya berderai membasahi wajah cantiknya sampai terlihat sayu.


Jofan mendekatkan duduknya, menepuk pundak Ayu yang memang bergetar masih ketakutan. “Kamu aman sayang, Mas di sini.” Ayu menatap dengan mata sembabnya. “Iya sayang, Mas di sini. Tetang sayang.”


“Aku tidak mau kehilangan anak ku Mas, aku saja. Jangan sakiti anak-anak ku, tolong bilang pada mereka Mas.” Racau Ayuna yang sudah berantakan isi kepalanya. Ketakutannya begitu besar.


Tanga Ranu terkepal, dia hanya berpura-pura tidur. Dia menyadari Mommy nya tidak baik-baik saja, Ranu mencoba tidur agar Mommy menganggapnya sudah tidak lagi ketakutan. Ingin Mommy nya tenang.


“Tidak akan ada yang bisa menyakiti kalian, Mas akan jaga kalian. Tenang ya sayang.” Ayu mengangguk, mencoba menetralkan ketakutannya yang membuat kepalanya pening.


Jofan lega Ayuna sudah tidak lagi gemetar, dia sudah tenang memeluk Ranu yang saat ini benar-benar sudah terlelap. “Mau minum?” Ayu mengangguk, tenggorokannya memang sedikit kering. Jofan bermaksud merapihkan selimut agar tubuh kedaunya tetap hangat.


Matanya menangkap warna lain di balik selimut yang menutupi kaki Ayuna. Dengan cepat Jofan membuka selimut cukup lebar, menunduk memastikan noda apa yang mengotori seprai putihnya menjadi merah.



“Kaki mu terluka sayang.” Ayu meringis saat Jofan menyentuh kakinya. “Sakit Dek?” Ayu mengangguk. “Mas ambil kotak obat sebentar.” Jofan segera keluar dari kamar, menuju kamarnya yang tidak jauh dari sana.

__ADS_1


Dengan cepat Jofan membersihkan luka di kaki Ayuna, menarik pecahan kaca yang cukup panjang menancap di tumit kaki Ayuna. “Kau kenapa tidak kesakitan sayang, ini dalem loh Dek.” Dia sendiri tidak sadar kaki nya terluka.


__ADS_2