
Ayu yang menangis semalaman baru saja bangun, tubuhnya lelah sekali karena tenaganya terkuras habis untuk menangisi anak pertamanya yang kuliah di luar negeri. Keputusan yang luar biasa sulit untuk dirinya terima, tapi harus bagaimana lagi. Sudah menjadi tugas orang tua membawa anak-anak ke tempat yang mereka maui.
Ada Mawar yang menyambutnya dengan hangat, senyumnya semakin hari semakin lentur. Tidak sekaku dulu saat baru bekerja dengannya. Mawar berjalan ke sisi Ayuna, memudahkan dirinya berbicara dengan Nonna nya. Wanita yang selalu memperlakukannya seperti sahabat dan keluarga.
"Sepi sekali Teh, kemana semuanya?" Mawar mendekat, menyodorkan air putih sesuai dengan kebiasaan yang sudah menjadi tugasnya. “Biasanya mereka pagi-pagi sudah bising loh, ini kok tumben.” Ayu meneguk air mineral yang Mawar sodorkan.
"Pak Malik sedang olahraga Non. Abang sedang ajak Baby berendam." Ayu membola, terkejut sekali mendengarnya, untung saja sudah selesai minum. "Ditemani Ibu Anna Nonna." Mawar tersenyum, Ayu ikut tersenyum, hampir saja. Jantungnya sudah riuh tidak berirama.
“Baby lucu sekali di ajak berendam. Pasti ide nya Abang ya Teh?” Mawar mengangguk, dia sangat penasaran ingin melihat reaksi Baby di bawa berendam, dia akhirnya memabwa Baby ke bak mandi setelah mendapat ijin Daddy nya.
“Nonna ada yang mau di minta tolong ke saya?” Ayu menggeleng. Dirinya cukup lelah untuk melakukan apapun, mandi sepertinya akan membuat dirinya lebih segar.
"Aku mau mandi ya Teh, teteh boleh istirahat. Aku sudah enakan." Mawar keluar dari kamar setelah memastikan Ayu aman di dalam kamar mandi. Ayu saat ini berada di rumah Mas nya. Di sana mereka bisa bermain dengan leluasa di halaman rumah yang cukup besar.
Selesai mandi Ayu meraih ponselnya. Tersenyum saat mengintip suaminya dari balik jendela.
Dia terlihat menikmati olahraga nya pagi ini. Kakinya berjalan keluar dari kamar, duduk di sofa ruang tengah. Ada Mas nya yang sedang memejamkan matanya di sana. Dia juga terlihat sangat kelelahan.
Ayu duduk dekat Mas nya yang masih terlelap. Menghubungi Ranu karena mereka tidak kunjung turun dari lantai atas. "Abang ....masih berendam Nak?" Ranu mengusak air yang membasahi ponselnya. Tersenyum memperlihatkan wajahnya yang cukup basah.
"Baby tidak mau udahan Mom, dia senang sekali bermain air." Ayu tertawa melihat Putri kecilnya di bak mandi. Dia sudah bisa di ajak berendam. “Lucu kan Mom, Abang rasanya ingin gigit pahanya.” Ayu tertawa, lucu sekali anak-anaknya.
"Dingin Bang, udahan yah. Sini bawa Baby ke Mommy Nak. Abang juga bisa flu kalau terlalu lama sayang." Ranu tersenyum. Dirinya mengangguk tidak mau membantah.
"Tolong buatkan Abang susu hangat ya Mom." Ayu mengangguk, Ranu sedih melihat wajah Mommy nya masih lesu. Mata sembabnya begitu melukai perasannya, Ranu sangat merasa bersalah.
"Mommy buatkan, mau coklat atau putih Nak?" Ranu memperlihatkan wajah adik nya yang tertawa senang bermain air, tidak me jawab pertanyaan Mommy nya karena dadanya terasa sesak. Menyembunyikan wajah sedihnya dari Ayuna. "Ya Tuhan, senang sekali ketawanya Nak. Mommy tidak bisa naik sayang, kaki Mommy lemas sayang." Ayu gemas melihat Putrinya.
"Abang turun yah, Mommy tunggu di sana. Mamah sedang ambil baju Baby." Ayu mengangguk. Dirinya masih merasa lemas sekali.
Jofan terbangun, menatap Ayuna dengan senyum termanisnya. Jofan mendekat pada Ayu, menempelkan punggung tangannya memastikan suhu tubuh Ayu yang terlihat masih pucat. Mengecup keningnya singkat.
"Aku tidak sakit Mas." Jofan mengangguk. "Aku mau buat susu untuk Abang." Jofan menggeleng. Mencium kembali kening Ayuna lebih lama.
__ADS_1
"Disitu saja, aku yang buatkan. Adek mau sarapan apa sayang?" Tawar Jofan yang masih berjongkok di depan Ayuna. Padahal dia kelihatan sangat lelah, tapi memaksakan diri untuk melayaninya.
"Apa saja, masakan Mas semuanya enak." Ayu selalu suka makanan buatan Jofan. “Aku bisa masak kalau Mas capek Ma.” Jofan menggeleng.
“Aku tidak capek, Sandra yang kasihan semalaman tidak bisa tidur. Perutnya terus mual sampai dia menangis semalam merasa bersalah dengan Baby di perutnya.” Ayu juga pernah merasakanya.
“Sekarang bagaimana kondisinya Mas?” Jofan tersenyum.
"Jangan khawatir, tidurnya lelap sekali setelah aku buatkan jus mangga semalam.” Jofan berjalan menuju dapurnya. “Sandra ingin di buatkan sup jagung, Adek mau juga?" Ayu mengangguk, perutnya akan nyaman makan sup jagung saat sarapan.
"Terimakasih Mas ganteng ku." Jofan tersenyum, senang sekali saat di puji Adik kesayangannya. “Semangat ya Mas, Sandra butuh pundak suaminya yang perkasa.” Jofan mengangguk, dirinya memang bertekad selalu ada untuk Sandra.
Jofan segera membuat sup jagung seperti yang Sandra inginkan. Berusaha memenuhi semua keinginan Sandra.
Ayu iseng dan penasaran dengan keadaan Riyan dan Melan, mereka akhirnya liburan alias bulan madu betulan. Hanya berdua, tentu saja Malik menempatkan beberapa orang untuk mengawasi mereka di sana.
"Adek ......sibuk sekali sampai tidak ingat Mbak nya." Riyan di sebrang sana tersenyum menerima pesan dari Ayu. Mereka berangkat cukup buru-buru, Malik ingin menempatkan mereka di tempat yng jauh sementara waktu, sampai keadaan aman. Malik tidak mau adiknya terluka. Mereka harus tetap aman.
"Masih sedih, Kakak juga pasti sedih. Tapi capek sekali aku menangis semalaman. Hehehehe .....kalian sedang apa?" Riyan mengirim foto Melan yang sedang melihat bunga-bunga indah di toko bunga.
"Cantik nya sahabat ku, jaga in ya Dek. Jangan membuat nya sedih, dia sudah tidak punya siapa-siapa selain kita." Sedih sekali mengingat kisah Melan yang harus berjuang sendirian setelah kepergian Ibunya.
“Semesta ku sudah catik. Bagaimana perasaan mu saat ini sayang?” Malik duduk di samping Ayu, tangannya sibuk membelai lembut surai cantik milik kesayangannya.
“Maaf Dad. Mommy membuat kalian semua khawatir yah? Mommy benar-benar sakit ditinggal anak ku Dad.” Malik mengangguk. “Berapa lama aku akan terbiasa Dad?” Malik merengkuhnya, kasihan sekali.
“Daddy selalu ada di sini, Mommy boleh sedih. Tapi jangan lama-lama ya sayang, kasihan nanti kamu sakit Mom.” Ayu mengangguk, dirinya harus waras. Pondasi rumahnya akan goyah kalau porosnya lemah, dirinya bisa menjadi kelemahan rumah yang selama ini Malik jaga.
Rey juga masuk setelah selesai dengan olahraganya. Mereka menikmati libur panjang yang Malik minta pada semua anggota keluarganya. Mereka akan sulit bertemu seperti ini kalau sudah bekerja. Anak-anak juga Malik mintakan libur beberapa hari agar bisa mengobati sedih di hati Mommy nya.
“Mana Hanum ku, dia masih takut bilang ke aku ya Dad?” Malik tersenyum. “Kasihan Hanum, gara-gara melihat ku begitu sedih dia sampai tidak berani mengutarakan inginya kuliah di luar kota.” Malik juga tidak bisa melepaskan Hanum.
“Kalau yang ini memang Daddy juga tidak setuju. Dia anak perempuan, Daddy tidak setuju dia jauh dari rumah. Kuliah di sini saja, nanti Daddy cari tempat yang bagus.” Rey yang baru saja duduk ikut tersenyum.
__ADS_1
“Aku juga setuju, aku nanti yang antar jemput dia ke kampus. Aku akan luangkan banyak waktu.” Ayuna ngeri mendengarnya.
“Anaknya sudah setuju Dad? Kak? Jangan kalian ambil keputusan sendiri, Hanum juga berhak menentukan mau dimana dia belajar loh sayang-sayangku.” Ayu bicara selembut mungkin agar tidak ada perdebatan sengit.
“Daddy yang putuskan. Hanum tinggal ikuti saja maunya kita, dia diam-diam dengan Anna mencari kampus. Padahal Anna hanya bilang mau liburan saja berdua Hanum. Dia pikir aku tidak tahu.” Malik sempat kesal, padahal Anna tidak tahu karena hanya ingin menemani Hanum saja.
“Ya Tuhan, Baby juga akan begitu kalian perlakukan Dad?” Malik dan Rey saling menatap. Bertukar tatapan menakutkan yang membuat Ayu bergidik.
“Anak perempuan itu berbeda Mom, dia harus lebih ketat kita awasi. Tidak boleh ada laki-laki tidak bertanggung jawab yang mendekatinya.” Malik begitu tulus mengutarakan isi hatinya. “Apa Daddy berlebihan?” Ayu mengangguk.
“Sungguh....sungguh berlebihan sekali kalian pada Hanum kecil ku. Dia pasti sedih tidak bisa pergi ke tempat yang dia mau Dad, Kak. Tidak bisakan dipikirkan untuk permintaanya ini?” Malik dan Rey menggeleng tanpa rasa ragu, mereka sudah bertekad menjaga Hanum agar tetap dekat dengan rumahnya.
Yang cibicarakan datang, dia membawa beberapa tangkai bunga mawar yang begitu cantik.
“Sini sayang.” Ayu merentangkan tangannya. Hanum mendekat, senyumnya manis sekali membuat Daddy dan Papahnya terpesona.
“Cantiknya Daddy sudah mandi Nak?” Hanum menggeleng, dia malas mandi kalau sedang liburan.
“Hanum tidak mandi saja cantik, Papah saja sampai terpesona Nak.” Ucap Rey membuat Hanum tersenyum lebih lebar. “Sinikan bunganya, Papah taruh di vas bunga.” Hanum menyerahkanya dengan hati-hati.
“Kenap itu tangannya sayang?” Tanya Rey yang melihat goresan cukup panjang di jemari Hanum. Hanum menarik tangannya, keduanya pasti akan heboh. “Terluka yah? Kenapa? Duri? Kena duri Han?” Hanum tertawa getir, perkara luka kecil saja membuat mereka sangat khawatir.
“Aku yang ambil obat untuk lukanya, kau letakkan bunganya di vas saja Rey.” Rey berjalan menuju ruang penyimpanan, malik mengambil kotak obat.
“Bagaimana kau jauh sayang. Mungkin buka Mommy lagi yang menangis, tapi dua laki-laki ini yang akan menangis sayang.” Bisik Ayu membuat Hanum tertawa menutup mulutnya.
“Membicarakan kami yah?” Malik duduk di depan Ayu dan Hanum, menarik pelan tangan Hanum. Membersihkan lukanya sembelum Malik memberikan obat di lukanya. “Ada lagi yang terluka Han?” Hanum menggeleng.
“Tidak sakit kok Dad, nanti juga sembuh sendiri.” Malik menatap tajam pada Putri nya. Hanum suka saat diperhatikan seperti ini.
“Kau harus merengek dan menangis kalau terluka sayang. Minta Daddy atau Papah mu mengobatinya. Jangan dianggap enteng meskipun hanya goresan, mengerti Han?” Hanum mengangguk, mereka memang selalu bersikap begitu keras soal keselamatan semua keluarganya.
Hanum memeluk Daddy nya, Malik dengan lembut mencium puncak kepala Hanum, dia sudah menjadi tanggung jawabnya saat ini. Malik berjanji akan selalu melindunginya.
__ADS_1