
Jofan sedang dalam perjalanan menuju kantor Malik bersama anak-anak. Semangat sekali karena dirinya diminta menjemput Ayu dan Sandra karena Malik punya segudang pekerjaan yang harus dirinya selesaikan entah sampai jam berapa. Malik meeting sampai malam hari ini, belum lagi berkas-berkas yang perlu tanda tangan dirinya yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya .
Dia terpaksa meminta Jofan memboyong Ayu dan anak-anak nya ke rumah Jofan karena tidak mungkin meninggalkan mereka di rumah tanpa pengawasan. Kebetulan pekerjaan Jofan selesai dengan cepat jadi bisa menjemput anak-anak di sekolah kemudian mampir ke Kantor Malik untuk menjemput Adik nya.
Jofan, Mahes dan Ranu berjalan beriringan memasuki lobby kantor megah milik Malik, mata mereka selalu kagum dengan apa yang Daddy nya raih sebesar ini. Anak-anak sangat antusias mengunjungi kantor Daddy nya karena sudah sangat lama tidak mampir, mereka sudah membayangkan jika kelak mereka akan berseliweran di sana membantu Malik menjalankan perusahaan yang begitu besar.
Langkah mereka grusa grusu seperti sedang mencari rahasia terpendam di balik pintu besar yang menjulang tinggi di depan mereka. Ruang meeting yang begitu besar berkapasitas lebih dari seratus orang.
Malik membuatnya nyaman karena sering kali membawa Ayuna ke dalam ruang meeting. Banyak hal yang membuat Malik ingin menjadikan tempat kerjanya nyaman untuk istrinya datangi. Malik ingin Ayu selalu betah saat ada di kantor menemaninya bekerja.
"Jangan berisik Nak, Daddy mu meeting." Suara Jofan memperingatkan mereka yang mencoba membuka pintu ruang meeting.
"Hanya ingin lihat Daddy ku saat bekerja Om, aku suka Om." Pinta Ranu yang sudah ada di ambang pintu. Mata Mahes merayu lewat tatapan hangatnya. Kedua anak yang sangat mengagumi pribadi Daddy nya yang begitu bersahaja.
Jofan mengangguk memperbolehkan keduanya mampir mengunjungi Malik yang sedang memimpin meeting. Tentu saja anak-anak sangat antusias, pelan-pelan membuka pintu yang terasa keras saat Ranu mencoba mendorongnya.
"Ok, pelan-pelan sayang. Jangan ganggu konsentrasi Daddy." Keduanya masuk dengan antusias. Jofan mengawasi dari belakang.
Mahesa dan Ranu saling menatap, kagum sekali menyaksikan Daddy yang suka jail begitu bersahaja dengan tutur katanya. Wajahnya nampak serius tapi nada suaranya terdengar begitu lugas di telinga mereka.
Ini yang membuat mereka selalu ingin menyaksikan sendiri dengan mata kepala mereka kalau Malik Saputra adalah orang tuanya. Pengusaha sukses dengan segudang prestasi dan pencapaian di usianya yang masih begitu muda.
Malik terlihat sangat berwibawa, kedua Putra nya terpesona melihat laki-laki yang merupakan orang tuanya sedang bicara dengan lantang, penuh percaya diri dan tegas. Mereka tersenyum dari kejauhan mengagumi.
Malik yang menyadari kedatangan kedua Putranya berhenti sebentar. Tersenyum dengan hangat pada dua kesayangannya yang tidak berhenti menatap kagum padanya.
"Come here boy's." Semua mata tertuju pada dua bocah yang saat ini berdiri malu-malu di ambang pintu.
Keduanya maju perlahan dengan langkah penuh percaya diri, Mahes menggenggam erat pergelangan tangan adik nya yang berjalan malu-malu. Malik menyambut dengan pelukkan hangat pada kedua Putranya.
"Hay Dad." Suara Ranu terdengar samar. Suaranya bahkan tidak keluar karena malu. Pipinya merona membuat guratan jelas akan suasana hatinya saat ini.
"Perkenalkan, ini anak-anak ku yang kelak akan duduk bersama kita di sini." Mengapit di kedua sisinya berdiri. Ranu dan Mahes menunduk memberikan salam hormat pada semua orang yang ada di dalam ruangan.
__ADS_1
“Sekolah yang rajin anak-anak. Nanti kalian akan kami andalkan di masa depan.” Seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Opah mereka menyapa dengan ramah. Mahes dan Ranu hanya mengangguk.
"Sudah Dad, kita mau jemput Mommy." Bisik Mahes yang merasa di kerjai. Pasalnya Malik tidak juga melepaskan tangan mereka dari genggamannya. Sudah tidak nyaman jadi pusat perhatian.
Malik mengeratkan pegangan tangannya. “Seperti ini saat Daddy dulu kecil diminta berdiri di depan mereka semua.” Bisik Malik dengan suara tertahan.
“Belum saat nya Daddy, Abang ingin pipis.” Ranu membuat Malik ingin terbahak. Melepaskan tangan kedua Putra nya yang terlihat lega.
"Pergilah, Mommy sepertinya tidur. Tadi perutnya terasa keras Mommy nya." Sering terjadi di kehamilan kedua ini. Malik sudah lebih tenang dan tidak membesarkan khawatirkan nya. Selama Ayuna merasa baik-baik saja dan bisa mengatasinya.
"Kasihan sekali cintaku. Andai saja bisa aku pindahkan segala kesulitannya di pundak ku." Ucap Mahes lirih yang mendapat tatapan haru dari Malik dan Ranu.
"Abang saja. Pundak Abang lebih besar dari pundak Kakak." Ucapnya mencoba menyombongkan diri.
"Pundak Daddy lebih lebar, bisa menanggung beban kalian semua. Cepat jemput Mommy, temani sampai Daddy jemput malam nanti ya Bang, Kak." Keduanya mengangguk keluar dari ruangan. Malik melambai pada Jofan yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Mahes dan Ranu berjalan meninggalkan ruangan meeting, menggandengan tangan Om kesayangan mereka yang selalu sabar menghadapi kelakukan Mahes dan Ranu. Jofan seperti sedang merawat anak-anaknya sendiri, tidak pernah protes atau mengeluh.
"Mommy sedikit kram sepetinya Om." Jofan hanya tersenyum mendengar nya. Ranu pasti panik sampai tata bahasanya tidak selugas biasanya.
Mahes juga terlihat sekali tatapan matanya sedang khawatir. Mereka lebih over jika berkaitan dengan kesehatan Mommy kesayangan mereka. Jofan sudah biasa dengan situasi seperti ini. Meski dirinya juga khawatir, Jofan harus jadi kuat demi mereka tetap berpikir positif dan jernih.
"Benarkah? Aku tidak akan sanggup jika harus melihatnya. Mommy harus membagi bebannya dengan kita." Jofan hanya tersenyum mendengar Mahes begitu serius. Mereka nampak nya tidak paham dengan apa yang Jofan maksud.
“Sudah-sudah, kita bisa semakin lama jika terus berdebat seperti ini. Come on, kita jemput malaikat cantik kita.” Ajak Jofan yang tidak mau keduanya semakin penasaran dengan apa yang dirinya bicarakan.
“Om sangat mencurigakan. Apa yang sebenarnya Om ingin bicarakan?” Tanya Ranu yang sangat penasaran dengan maksud dari ucapan Om nya.
“Mommy suka sekali makan pedas akhir-akhir ini, mau tidak kita mampir makan seafood kuah kesukaan Mommy?” Jofan mencoba mengalihkan fokus mereka.
“Paman ketahuan sedang menutupi maksud Om dari kami.” Mahes gemas melihat Om nya sedang gugup. Jofan berjalan cukup cepat, dirinya tertangkap basah menyembunyikan maksudnya.
Mahes, Ranu dan Jofan mendekat. Menyingkap selimut yang menutup sekujur tubuh Ayuna yang meringkuk nyaman sekali wajahnya.
"Keringatan sekali Om. Mommy pasti benar-benar sakit." Mahes menyeka keringat yang membasahi kening Mommy nya. Lembut sekali, Ayuna bahkan tidak tergaggu dengan sentuhan tangan Putranya.
Ranu berjongkok menyamakan tingginya dengan sofa. Menatap wajah damai wanita yang saat ini tengan megandung bayi calon adiknya di dalam perut kecilnya yang mulai terlihat membuncit lucu.
__ADS_1
"Kalian sudah datang?" Suara Sandra membuat ketiganya berbalik.
Sandra masuk membawa air hangat dalam tumbler. Rupanya Sandra membantu meredakan nyeri dengan meletakkan botol air hangat di perut Ayu. Dan berhasil, kini Ayu terlihat begitu nyenyak.
Anak-anak memeluk Sandra dengan hangat. Rindu meski mereka lebih sering bertemu sekarang. Sandra punya banyak waktu dengan Jofan mengunjungi keluarga dari sahabat sekaligus adiknya kini. Jofan memeluk Sandra erat. Sudah tidak malu-malu lagi dan Sandra juga tidak marah seperti biasaya saat Jofan begitu manis di depan umum.
"Kasihan sekali." Ranu memeluk Sandra yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi Ayu.
"Mommy hebat aunt, dia bisa tenang sekali padahal kita kelabakan melihatnya." Sandra tertawa, anak-anak nya selalu saja over protektif.
"Kamu juga pulang Love, Malik sudah ijinkan." Sandra meraih tas nya yang memang ada di ruangan Malik.
“Iya, hari ini aku hanya bermain-main di kantor. Aku bahkan tidak di berikan satu lembar pun pekerjaan.” Ketus Sandra yang mulai diperlakukan seperti Ayuna.
Jofan ingin tertawa tapi di tahan. Bisa mengamuk kalau suasana hatinya sedang tidak baik dan dirinya malah menertawakan.
“Ingin apa supaya hilang kesalnya Love?” Sandra menggeleng, hatinya masih kesal saat Malik memintanya duduk saja hari ini dan jangan banyak bergerak.
Alasannya begitu konyol, Malik ingin Sandra cepat punya anak. Dirinya tidak boleh kelelahan dan tidak boleh banyak berfikir keras.
Duduk saja, nikmati waktumu dan rasakan kenikmatan dari kesuksesan Adik Iparmu.
Sandra ingin memaki dengan keras, tapi tidak berani karena bagaimanapun Malik adalah laki-laki yang selalu mengayominya seperti seorang Kakak. Sandra tidak sampai hati membalas lelucon yang Malik tujukan padanya. Meski hasilnya dirinya makan gaji buta seharian hanya duduk, nonton dan makan dengan Ayu.
“Pulang saja Fan, aku bawa anak-anak jajan dulu di bawah yah. Ayo anak-anak, kita beli banyak makanan di kantin.” Ranu dan Mahes senang jika belanja makanan bersama Sandra, mereka bebas memilih makanan kesukaan mereka.
Jofan mengangkat tubuh Ayu dalam gendongannya. Tidak tega
membangunkannya karena Sandra bilang dia baru saja bisa tidur. Perutnya tidak nyaman sejak siang tadi.
Sedikit lagi sampai di depan mobil. Malik, Jofan dan Rey akan menggendong Ayu jika Ayu yang ditemui mereka dalam keadaan tidur. Mereka tidak akan sampai hati membangunkannya. Sebesar itu sayang mereka pada Ayuna yang tetap kecil di mata mereka padahal anaknya sudah SMA.
Dugggg....
"Awww...." Ayu mengusap kepala nya yang tidak sengaja terpentok pintu mobil. Pelan, tapi cukup mengejutkan dirinya yang tengah bermimpi.
"Sorry sayang, Mas kehilangan seimbang karena batu." Jofan tersandung batu. Jofan mengecup kening adik nya yang bangun karena terkejut.
"Gak sakit Mas, aku cuma kaget." Jofan menurunkan Ayu dengan nyaman. Anak-anak dan Sandra sedang mampir ke kantin.
__ADS_1
Untung saja mereka tidak melihat kekonyolan Jofan, jika tidak, mereka pasti sudah mendumal kesal karena dirinya tidak hati-hati. Bisa-bisanya kepala Mommy nya yang berhara terpentok pintu mobil.