Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Cinta Berbalas


__ADS_3

Matahari sudah sembunyi dengan cantik digantikan sinar rembulan yang sayup-sayup naik menerangi seisi bumi dengan indah. Malik sedang menemani kedua Putra nya dan Hanum yang tengah bermain ular tangga di teras rumah.


Ketiganya bermain ditemani Om Riyan dan juga Melani yang masih bertingkah seperti anak kecil meladeni anak-anak Malik dengan sabar. Malik hanya memperhatikan dari tempatnya duduk. Hatinya penuh bahagia mendengar suara tawa mereka yang menggelegar.



Menikmati setiap momen yang begitu indah meski jalannya beriringan dengan banyak sekali masalah yang tidak juga pergi dari rumahnya. Malik tetap berdiri tegak selama mereka semua baik-baik saja dalam pengawasanya.


Adam yang saat ini Malik sangat khawatirkan, dia begitu terlihat lesu tidak bersemangat. Padahal biasanya tawa Adam yang paling renyah di antara semua keluarganya.


Suasana hatinya kelabu, masih belum bisa sepenuhnya selesai dengan masa lalu yang menyakitkan. Masa lalu yang membuatnya lemah tidak berdaya.


Malik menghela nafas beratnya, tiba-tiba tubuhnya di kejutkan oleh tangan yang melingar di lehernya. Malik menarik pinggang Ayuna dan mendudukanya di pangkuan Malik dengan hati-hati.


“Kenapa bangun sayang? Mau menginap atau ikut pulang dengan yang lain?” Tanya Malik yang melihat Ayu begitu nyaman berada di rumah Anna yang memang design nya sangat asri dan sejuk.


“Pulang Dad, anak-anak ku siapa yang urusi makannya kalau aku tetap di sini.” Jawabnya masih sedikit serak.


“Perutmu sudah besar Mom. Daddy ngeri sekali kalau lihat Mommy gerak kesana kemari Mom. Takut dia keluar sendiri.” Ayu tersenyum, kepalanya masih bersandar dengan nyaman di ceruk leher Malik yang jenjang.


“Dia kalau bisa keluar sendiri Mommy akan sangat senang Dad, dia masih nyaman di perut Mommy nya.” Seolah tahu, ada tendangan kecil dari perut Ayu yang besar. Ayu terjingkat merasa terkejut karena tendangannya tiba-tiba tanpa gerakan sebelumnya.


“Pelan-pelan sayang mainnya. Mommy nya sampai kaget loh Nak.” Malik membelai lembut perut Ayuna. Anaknya aktif sekali tidak bisa diam.


“Ok Daddy, sebentar lagi kita berjumpa Dad. I love you Daddy.” Suara Ayu yang menirukan bayi membuat Malik tersenyum begitu lebar.


Jantungnya berdetak begitu cepat setiap mengingat momen melahirkan yang semakin dekat. Malik sangat khawatir Ayuna nya kesakitan, meski berulang kali Ayu meyakinkan jika sakitnya akan hilang saat melihat Bayi mungil nan cantik nya nanti tersenyum.


Ya, anak kedua Malik dan Ayu berjenis kelamin Perempuan. Seperti harapan Malik yang ingin punya anak perempuan meski apa saja yang Tuhan berikan sudah sangat Malik syukuri.


Jantungnya semakin riuh berpacu kencang, Malik akan punya kekasih hati yang pasti akan dirinya jaga dengan baik setelah istrinya dan Ranu, Mahesa dan juga juga Hanum. Malik berjanji cintanya akan sama, dirinya akan berusaha menjadi Daddy yang adil dan tidak membedakan meski anak nya yang satu ini perempuan.



Anak- anak memperhatikan dengan serius. Mereka sangat bahagia melihat Mommy nya terlihat nyaman di pelukkan Daddy nya. Riyan tidak kalah bahagia setiap melihat momen membahagiakan seperti saat ini. Dirinya juga harus bahagia agar kesayangannya tenang.


“Ayo anak-anak, sekarang kemasi barang-barang kalian. Om Aldo sudah sampai di tempatnya.” Ketiganya masih memperhatikan Malik dan Ayu yang bermesraan di depan mereka.


Cuppppp.....

__ADS_1


“I Love you Mommy.” Kecupqn sayang Mahes si paling dingin tapi paling romantis pada Mommy nya.


Ranu bergelayut di sisi pundak Malik yang kosong. Tangan satunya memegangi perut besar Mommy nya. “Abang sayang kalian semua.” Berjongkok. Mencium perut Ayuan sebelum masuk ke dalam.


Malik merentangkan tangan pada Hanum yang masih duduk di tempatnya, senyumnya manis sekali. “Sini sayang, peluk Daddy Mommy nya.” Hanum bangun dari duduknya. Menyambut tangan Daddy nya dan memeluknya dengan hangat.


“Hanum beruntung sekali punya Daddy, Mommy dan semua nya. Hanum tidak kurang apapun Dad.” Malik mengangguk. Ayu senyum-senyum membayangkan Malik akan seposesif ini pada Putri nya nanti.


“Mommy juga beruntung punya anak secantik ini.” Ayu membelai lembut pipi Hanum. “Nanti ada temennya Han.” Hanum mengerutkan keningnya tidak paham. “Aku akan jadi teman mu Kakak Hanum.” Hanum memeluk haru mendengarnya.


"She is girl?" Ayu mengangguk. Hanum senang sekali mendengarnya.


"Sama dengan mu sayang." Malik mencubit gemas ujung hidung mancung Hanum.


“Hanum masuk ya Dad, Mom. I love you.” Hanum mengecup pipi Mommy nya.


“Daddy love banyak sayang.” Hanum beranjak sebelum pipi nya semakin merah mendengar Daddy nya merapalkan cintanya yang begitu besar.


“Adek...kalian pulang atau tetap di sini?” Tanya Ayu yang melihat adiknya tidak bergerak dari duduknya. Riyan menatap Melan yang masih menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.


“Aku menginap, Riyan pulang karena ada pekerjaan besok pagi.” Jawab Melan mewakili keduanya.


“Bisakah aku mengundurkan diri dan jadi pengangguran? Aku ingin di sini menemani Melani dan Kak Sandra.” Jawab nya yang malas sekali beranjak.


Sudah sangat sulit meminta Melan datang tapi dirinya malah harus mengurusi pekerjaanya yang menumpuk di kantor. Mas Jofan meminta waktu untuk dirinya memperhatikan Sandra yang sedang sulit dikendalikan. Meminta Riyan mengurus job pekerjaan nya sementara waktu.


“Jangan macan-macam ya Yan, aku kan mau menumpang hidup dengan mu. Kau harus jadi orang kaya karena aku banyak makan.” Melan tidak mau Riyan menyalah gunakan kekuasaan Mas nya di kantor.


“Kenapa Mel? Apa tidak bisa kita berdua saja jadi pengangguran? Kita keliling rumah-rumah Kakak kita untuk mencari makan.” Menggoda Melan yang saat ini melotot tidak terima.


“Tidak mau, aku suka jajan dan belanja. Kau harus banyak uang.” Jawabnya kesal, meski tahu Riyan hanya menggodanya.


“Dasar bucin, adek sampai rela tidak bekerja demi menemani mu Mel. Mbak gak di temani nih Dek.” Ayu ikut bahagia Riyan kecilnya sudah mulai sangat dekat dengan kekasihnya.


“Jangan begitu Mbak, kan Adek selalu sempatkan mampir Mbak.” Ayu tertawa menutup mulutnya yang iseng sekali menggoda adiknya.


“Ayo kita siap-siap sayang, Adek siap-siap juga kalau memang ikut pulang.” Malik membawa Ayu masuk ke dalam.


Riyan meraih tangan Melan, mendekatkan duduknya menatap wajah malu-malu Melan yang mendunduk. Menepuk pelan punggung tangan Melan yang putih bersih.

__ADS_1


“Jangan sakit, jangan kesulitan, jangan menangis sendirian sayang.” Melan tersenyum mendengarnya. “Aku sudah bisa menjadi teman mu untuk berbagi suka dan duka Melani.” Melan mengangguk.


“Terimakasih Yan.” Matanya berkaca-kaca.


“Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri seperti kemarin dan memblokir nomor ku. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih saat kekuatanku menghilang.” Melan mengangguk. “Aku mencintai mu Mel, aku tulus. Aku harap kau merasakannya.”


“Aku juga, aku tidak akan ragu lagi dengan cinta kita Yan. Aku akan melangkah dengan percaya diri ke tempat kita seharusnya berada.” Melan menyesali aksinya karena memblokir nomor Riyan. Dia menyalahkan dirinya karena Riyan terseret dalam masalahnya dengan perusahaan.


Meski pun Malik sudah membereskan semuanya, Melan tetap harus menunjukan dirinya yang tidak main-main dengan pilihannya.


“Pecayalah padaku, aku bisa menghadapi semua masalah kita dan menjaga mu dengan segenap jiwa raga ku Mel. Aku bisa menjadi apa yang kau mau Mel.” Riyan mengecup punggung tangan Melan. “Kita harus yakin ya sayang, aku akan menjaga mu denga baik. Aku janji.” Melan turun dari tempat duduknya mendekap tubuh Riyan dengan erat.


Bahagia sekali dirinya dicintai Riyan begitu besar, tidak boleh lagi ada ragu dalam cintanya. Melan sudah yakin jika langkahnya berjalan dengan Riyan bukanlah kesalahan.



Teras indah nan asri menjadi saksi jalinan cinta kasih yang Riyan sematkan dalam jiwanya hanya untuk Melani. Wanita yang berhasil membelenggu cintanya sampai habis tidak tersisa. Riyan berhasil meraih cinta bertepuk sebelah tangannya yang kini terbalaskan.


Jofan sedang menunggui Sandra yang banyak sekali tidur akhi-akhir ini. Jofan berulang kali mengecek suhu tubuh Sandra yang baik-baik saja. Dirinya hanya khawatir karena istri kesayangannya sedikit aneh ditemani Adam.



“Sudah berapa lama Sandra jadi begitu Fan?” Jofan mencoba mengingat. “Gejala yang kau katakan padaku seperti.....” Adam tidak melanjutkan ucapannya, takut memberikan harapan yang bisa menimbulkan kecewa.


“Seperti apa Dok?” Adam menggeleng. “Dia sudah seperti ini dua minggu terakhir ini. Aku takut Sandra sedang merasa tidak baik tapi tidak bicara padaku Dok.” Jofan terlihat lesu memikirkannya.


“Kau harus pastikan Sandra makan dengan teratur. Jika masih tidak berubah bawa Sandra ke rumah sakit Fan, aku akan pastikan kondisinya.” Jofan mengangguk.


“Kalian sudah mau jalan?” Adam bangkit dari duduknya yang nyaman sekali bersandar pada Jofan. “Hati-hati ya Dok, lekas lah membaik Dokter.” Adam tersenyum hangat sebelum keluar dari kamar yang ditempati Jofan dan Sandra.


“Ayo kita jalan, Sandra masih tidur dengan nyaman. Aku sedikit sedang berharap sesuatu.” Adam tersenyum penuh arti, membuat semua orang bertanya-tanya. “Berdoa saja, semoga kabar baik segera kita dengar.” Tambahnya lagi yang membuat Ayu berbinar mendengarnya.


Malik terdiam di tempatnya, dirinya masih meyakinkan diri memahami dengan jelas apa yang Adam maksud dengan ucapannya barusan. Ayu yang melihat suaminya masih kebingungan berbisik. Malik memeluk Ayu erat mendengar apa yang Ayuna sampaikan dengan hati-hati.


Bahagia sekali saat ini yang dirinya dan keluarganya rasakan, Malik ingin sekali semuanya berjalan dengan baik tanpa ada masalah dan beban lain yang menyulitkan langkahnya membahagiakan semua orang yang dirinya sayangi.


Sepanjang perjalanan semua hening, Ayu sibuk merapalkan do’a untuk keselamatan perjalanan mereka dan do’a untuk Mas dan Sandra yang semoga saja apa yang Adam harapkan menjadi kenyataan.


Malik tidak melepas genggaman tangan hangatnya dari Ayuna, dirinya selalu memastikan kesayangannya merasa nyaman dalam dekapannya. Sempurna yang Malik rasakan, meski masih banyak yang harus dirinya selesaikan dengan Adam, pelan-pelan pasti akan terkuak apa yang membuat Adam begitu kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2