Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Terluka


__ADS_3

Brughhhh....


Ranu terjatuh, benturan yang cukup keras membuat keningnya yang membentur lantai sedikit berdarah. Dirinya kehilangan fokus saat sedang latihan.


"Mahes.....adik mu luka. Dia jatuh saat latihan basket." Teriak seorang teman yang melihat Ranu terjatuh saat latihan.


Mahes yang ada di kantin sedang makan bekal makan siangnya bersama Hanum segera lari menemui Ranu yang di bawa ke ruang UKS.


Adiknya sedang di rawat dengan baik oleh dokter sekolah yang sudah mengabdi cukup lama di sekolah milik Daddy nya. Kehikatannya tidak begitu serius, tapi tetap saja membuat Mahes ketakutan.


"Apa lukanya serius Dok?" Tanya Mahesa yang dada nya sedang bergemuruh hebat. Keduanya menengok mencari sumber suara.


"Laki-laki tidak papa luka sedikit Kak. Cuma goresan kecil saja. Tidak berbahaya." Mahes lega mendengarnya. Mereka sudah biasa jika bolak balik UKS untuk luka kecil mereka saat latihan.


"Kakak langsung lari ke sini kah?" Ledek Ranu yang melihat wajah tegang Mahes. Merasa lucu Mahes tetap saja memperlakukan dirinya seperti anak kecil meski kini sudah SMA.


"Menurutmu!" Mahes duduk di sisi Ranu. "Bisa-bisanya terluka saat latihan. Apa ada yang mengganggu pikiranmu Dek?" Pertanyaan yang membuat Ranu hilang fokus. Tapi dirinya tidak boleh menutupi apapun yang sekiranya memang berbahaya.


Matanya jelas sekali sedang menyembunyikan sesuatu dari Kakak nya. Mahes yang paham mendekat, meraih tangan Ranu yang saat ini terkepal dengan kuat.


"Kak Hanum aman kan? Sepertinya memang Kakak harus tahu." Ranu menegakkan duduknya. Akhirnya yakin jika dirinya tidak lagi harus diam.


Menatap tajam bola mata hitam pekat milik Kakak laki-laki nya. "Kak Hanum aman Dek, tadi makan dengan Kakak di kantin."


Helaan nafasnya terdengar berat. "Aku sempat lihat laki-laki yang mengeroyok kita dulu." Mahes terkejut sekali.


"Adek yakin tidak salah orang?" Ranu mengangguk.


"Aku ingat wajahnya karena dia yang memukul punggung ku saat itu." Mahes membelai punggung Ranu dengan lembut.


"Dimana? Dia masih berani muncul?!" Mahes mengepalkan tangannya, kesal jika tujuannya datang untuk membuat keluarganya kacau. Luka yang adik nya terima saja masih membekas di ingatannya.


"Sudah satu Minggu ini aku tidak melihatnya lagi. Sebelum ini aku sempat melihatnya dua kali sedang mengawasi sekolah kita dari luar." Mahes mendekatnya wajahnya.


"Sedang apa adek? Pasti menyendiri di tempat favoritmu kan!" Ranu hanya tersenyum.


"Tempat yang cukup nyaman untuk tidak bertemu banyak orang." Ranu sering menghabiskan waktunya di atap sekolah, risih karena suka di ganggu gadis-gadis genit yang berusaha mencuri perhatiannya.


"Jangan Dek, kan Kakak sudah bilang supaya datang ke kelas Kak Mahes kalau bosan." Adik nya lebih suka menyendiri.


"Aku bukan anak kecil ya Kak." Ranu malas membahasnya. Ingin punya ruang untuk dirinya sendiri.


"Apa lukanya sakit? Ceroboh sekali bisa sampai terbentur gara-gara bola basket." Mahes memeluk Adik kesayangannya.



Ranu sedang tidak bisa di ajak diskusi panjang lebar. Emosinya sedang tidak stabil. Mahes memutuskan untuk membuat adik nya nyaman, tidak mau memaksa kan kehendaknya.


"Sepertinya kita harus bicara dengan Daddy Kak. Kak Hanum harus baik-baik saja. Aku takut dia menyakiti Kak Hanum." Mahes mengangguk.


"Kita akan bicara pulang sekolah nanti. Daddy pasti akan memusnahkan mereka semua dari muka bumi ini." Ranu tertawa, membayangkan Daddy nya seperti tokoh pahlawan di film yang sering dirinya tonton.


***

__ADS_1


"Mawar, jaga istriku yah. Aku meeting sebentar di ruang kerja. Jangan banyak bergerak Mom." Ayu mengacungkan ibu jarinya. Pesannya selalu saja isinya keamanan untuk dirinya.


Baru juga melangkah Malik sudah berbalik. Mencium pipi dan kening Istrinya sebelum memasuki ruangan kerjanya untuk meeting. "I Love you Mommy."


"Love you to Daddy, Love nya banyak sejagad raya." Malik tersenyum tersipu malu.


Malik masuk ke ruangan dengan hati berbunga-bunga, senang sekali istrinya dalam keadaan bahagia.


"Manis banget ya Yu suami kamu. Jadi iri sedikit, hehehehe...." Ayu menepuk punggung tangan Iin yang ada di ruangan keluarga.


Malik meminta Karang membahas proyek yang sedang mereka garap bersama di apartemen Malik. Istrinya rindu teman masa kecilnya yang belum lama ini dia temui. Ingin berusaha menjalin hubungan baik dengannya, sahabatnya masih punya rasa dendam yang belum juga hilang sampai saat ini, Ayu ingin memulihkan nya.


Ayu membuka galeri foto di ponselnya, dirinya pernah menyimpan foto tempat mereka bermain bersama semasa kecil.


"Ingat tidak In, dulu kita naik sepeda main ke tempat ini." Menunjukkan foto wisata yang kini semakin maju. Iin mengangguk, ada senyum terukir di bibirnya.


"Jauh yah, tapi kaki kita sampai meski tubuh kita dulu sangat kecil." Ayu melihat ketulusan di wajah sahabatnya. Ayu mengangguk antusias.


"Indahnya, aku senang dulu suka berpetualang dengan sepeda butut kita In." Kenangan yang cukup manis di ingatannya.


"Aku ingin masak kerang rebus." Ayu menatap tidak percaya dengan sikap sahabatnya yang sepertinya sudah baik-baik saja.


"Tiba-tiba saja?" Iin tersenyum. Ingat dulu mereka makan kerang rebus hasil tangkapan mereka menyusuri pantai.


"Aku jadi ingat kita sampai berkeringat mencarinya." Mawar yang di tatap mendekat. Tahu betul arti tatapan Ayuna.


"Ingin saya pesankan pada Tuan Rey?" Ayu menggeleng. Rasanya akan berbeda jika di masak orang lain.


Iin kagum karena mereka sungguh cepat tanggap, Mawar juga terlihat sangat tulus dengan pekerjaannya. Iin merasa keberuntungan selalu saja berpihak pada Ayuna.


Mudah sekali hidupnya, hanya dengan tatapan memelas bahkan bodyguard nya paham. Ayu tidak menyadari ada senyum yang begitu penuh kebencian di wajah wanita yang dirinya sebut sahabat.


"Mau kan in, kita masak saja yah. Pasti rasanya lebih enak." Ayu membayangkan kenikmatan bumbu rahasia mereka. Sederhana tapi sangat nikmat.


"Tentu saja, aku juga sudah lama tidak masak kerang." Mereka ke dapur, menyiapkan bahan-bahan dan bumbu-bumbu lain yang di perlukan.


"Karang, aku keluar sebentar." Malik yang melihat cctv dan istrinya ada di dapur sedikit gusar.



Ayu terlihat begitu bahagia, bercanda tawa dengan Iin yang juga terlihat sangat baik pada Istrinya. Sepertinya Malik kali ini bisa percaya pada Iin. Sepertinya mereka sedang berusaha menjalin kembali hubungan baik yang sempat renggang.


"Mommy masak? Bukannya tadi sudah pesan makanan?"Malik berdiri di depan keduanya.


"Hanya merebus kerang, aku ingin makan kerang rebus." Malik mengernyit kan dahinya.


"Jangan makan terlalu banyak ya Mom, dan ingat hati-hati sayang." Malik yang ingin melarang Istrinya mengurungkan nya. Melihat senyum bahagia Ayuna membuatnya luluh. Biarkan saja mereka melakukan apapun yang mereka inginkan selagi aman.



Biru sudah sampai dengan tentengan besar di tangannya. Bingung dengan jenis kerang yang bermacam-macam, Biru membelinya beberapa jenis. Ayu tersenyum melihatnya.


"Sorry Kak Biru, Ayu lupa info kerang apa yang aku mau." Biru mengangguk paham. Senyum nya sama tulusnya dengan Mawar, mereka sangat baik pada Ayuna.

__ADS_1


"Kau beruntung, mereka sangat tulus meski hubungan kalian hanya sebatas pekerjaan."


Ayu hanya tersenyum mendengarnya, sepertinya Iin ikut bahagia karena dirinya di kelilingi orang-orang baik. Begitu menurut pemikiran Ayuna.


Aroma wangi rebusan seafood menyeruak ke seluruh ruangan. Ayu menambahkan potongan udang dan cumi segar yang sangat dirinya gemari diantara seafood-seafood lainnya.


"Yu, tolong pegang dulu Yu." Iin menyodorkan pisau karena tangannya kerepotan.


"Biar saya bantu Nonna." Mawar mengambil alih pisau dari tangan Iin. Mawar tidak nyaman dengan posisi pisau yang mengarah pada Nonna kesayangannya.


"Oh iya, terima kasih banyak." Iin terlihat sungkan tapi menyerahkan pisau pada Mawar. Mengambil kembali pisau dari tangan Mawar setelah selesai mengingat rambutnya yang berantakan.


Padahal bisa dirinya letakkan di atas meja.


"Mawar baik kok In, dia teman memasak yang handal." Senyum terukir memperlihatkan wajah cantik Mawar di balik wajah kaku nya.


Melihat Nonna nya begitu tulus pada Iin, Mawar berusaha menepis pikiran buruknya tentang siapa teman Nonna nya. Tugasnya mengawasi tanpa rasa yang bisa membuat sahabat Ayu merasa tidak nyaman.


"Aku harus membiaskan diri." Iin mengangkat panci rebusan denga susah payah karena berat.


"Awwww...." Tangan Ayu terkena panci panas yang sedang Iin bawa.


"Maaf Yu, aku gak sengaja." Mawar tidak bisa menilai sengaja atau tidak, tapi ceroboh sekali.


"Nonna, tangan Nonna merah. Aku ambil salep pereda luka sebentar." Mawar melihat wajah Iin yang penuh sesal tapi dirinya menaruh sedikit curiga.


"Gak papa In, jangan merasa bersalah gitu In. Namanya juga tidak sengaja." Ayu mencoba menghibur Iin yang sedang begitu cemas.


"Maaf Yu, aduh tangan mu jadi luka Yu." Iin mengipas tangan Ayu dengan wajah panik.


Mawar mengoleskan salep di tangan Ayu yang saat ini sudah memerah. Wajah Mawar tidak kalah tegang dari Iin.


"Kalian ini kaya lihat orang terluka parah. Ini cuma kena tempel panci panas, gak papa loh aku ini." Ayu senang punya orang-orang yang sangat tulus pada dirinya.


"Tetap saja luka Nonna. Aku berarti tidak bekerja dengan baik." Ucapan Mawar berhasil mengalihkan fokus mereka.


"Berlebihan Mawar ini. Ini hanya karena aku ceroboh, Kak Malik pasti mengerti. Dia tidak akan menyalahkan siapapun, aku yang ceroboh." Mawar sudah tahu maksudnya.


Malik duduk di meja makan dengan Aldo dan Karang. Ayu dan Iin sudah ada di sana lebih dulu. Seperti biasa Ayu sangat sibuk menyiapkan makanan di dalam piring semua orang.


Malik menarik tangan Ayu yang mendapat perhatian matanya.



"Ini apa? Kenapa? Mommy luka?" Pertanyaan nya berantakan.


"Tadi Mommy tidak sengaja senggol panci rebusan kerang Dad." Malik lemas.


"Apa masih sakit? Daddy telpon Adam sebentar." Ayu menarik Malik agar kembali duduk.


"Cuma sedikit Dad lukanya. Mommy tidak harus merepotkan Dokter Adam. Please." Malik merengkuh istrinya. Dirinya sibuk dan istrinya mencari kesibukan sampai terluka.


"Ok, kita makan sekarang." Malik tentu saja tetap meminta Mawar menghubungi Adam diam-diam. Dirinya saat ini sedang berpura-pura menikmati makanan tanpa beban apapun. Istrinya sedang butuh kepercayaan.

__ADS_1


__ADS_2