Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Merelakan


__ADS_3

Malik menahan Hanum yang berjala penuh semangat, hatinya sudah hancur membayangkan rona memudar dari wajah gadis yang sudah mencuri hatinya jika tahu wanita yang sangat dirinya sayangi sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Hanum tersenyum hangat pada Malik, pijar matanya menyorotkan kebahagiaan dan ketulusan. Manis sekali gadis yang Nikita besarkan dengan penuh cinta.


“Hanum ok....” Malik tersentak mendengarnya. “Kami sudah berjanji.” Malik masih belum paham apa yang Hanum bicarakan.


“Daddy akan selalu ada di sisi Hanum.” Hanum mengangguk sebelum benar-benar melangkah masuk.


Kaki Hanum bergetar, sekujur tubuhnya menegang meski sudah meyakinkan diri jika semua yang terjadi adalah yang terbaik bagi sang Mommy.


“Nak...jika belum siap Hanum bisa kembali lagi nanti.” Hanum masih mencoba tersenyum, wajahnya tersenyum penuh kesakitan. Hanum menggeleng.


“Kasihan Mommy, sudah tunggu Hanum lama. setelah ini Mommy harus istirahat di tempat yang nyaman.” Malik ingin sekali menarik Hanum ke pelukkanya, bagaimana bisa Hanum setegar ini.


Rey, Adam dan Jofan hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Mereka sakit dan tidak bisa sedekat Malik berada di sisi Hanum yang masih menolak kehadiran mereka yang terasa asing di hidup Hanum.


“Hey..Mom, you look beautiful. Mommy Happy....hmmmm....” Suara Hanum tercekat, sakit sekali tenggorokannya. Hanum mengatur nafasnya.


Malik menopang pundak Hanum agar kembali berdiri kokoh, Hanum merasakan lemas di kakinya. Meski begitu, Hanum masih bisa tersenyum menatap wajah Nikita yang sudah pucat pasi tidak bernyawa.


“Hanum akan ok Mom, Hanum berjanji akan ba...ik...baik saja Mo..m.” Isak tangisnya sudah tidak bisa lagi Hanum bendung. Sakit sekali kehilangan permata hatinya, wanita yang membuatnya bahagia.


Malik memeluk Hanum yang sudah susah payah menopang tubuhnya yang terasa sudah tidak bertenaga, merasakan gelap yang Hanum takuti di tunjukkanya saat kepergian Mommy nya. Hanum memejamkan matanya, mencoba sekuat tenaga agar tidak kehilangan kesadarannya.


“Nik...Hay....Putri mu ada di tanganku. Kenapa kalian tidak datang lebih cepat, kenapa harus dengan jalan seperti ini Hanum datang pada keluargaku. Kau senang, kau bisa percayakan Hanum pada kami semua. Kau bisa pergi dengan tenang Nik, sahabat ku.” Hanum membola mendengar kalimat Malik yang terakhir.


“Hanum akan dampingi Mommy sampai ke tempat istirahat Mommy. Hanum baik-baik saja Mom.” Hanum duduk, mengumpulkan keberaniannya mengurus pemakaman sang Mommy. “Paman semua yang ada di sini akan bantu Hanum, mereka baik Mom. Aku sungguh bisa Mommy lepaskan.” Entah kekuatan dari mana datangnya, wajah Nikita tersenyum.


“Anak mu membuat ku ingat dirimu dulu Nik, dia baik hati. Aku akan merawatnya dengan baik.” Ucapnya yang membuat Hanum kembali tersenyum.


“Paman, aku sudah siap antar Mommy ke tempat istirahatnya.” Malik memeluk Hanum penuh haru, dia dewasa sekali menyikapi kehilangannya.


Dia sudah sangat siap dengan semua kondisi yang terjadi saat ini. Entah apa yang sudah Nikita pesankan pada Putrinya, dia begitu tergar.


***


Sandra dan Melani datang membawa banyak makanan kesukaan Ayuna. Malik meminta mereka datang untuk menghibur kesayangannya. Malik terpukul meninggalkan Ayuna yang masih belum melunak, tapi keadaan memaksanya.


"Mana Mommy Nak...” Tanya Sandra setelah menurunkan barang bawaannya di atas meja makan. Ranu menunjukkan arah dengan tangannya. “Mommy sad yah?” Ranu mengangguk, wajahnya tidak kalah sendu.

__ADS_1



"Banyak sekali makanan nya Tan....?" Tanya Ranu dengan wajah lesunya. Tentu saja. Ranu tidak bisa melihat Mommy nya sedih, dengan alasan apapun.


"Biar Mommy seneng bisa makan sama-sama. Hehehe ......" Tawa Melan renyah sekali ingin mengobati luka mereka. Melan yang baru saja masuk memeluk Ranu dengan hangat.


“Apa ada masalah serius? Kenapa semua orang terlihat sangat menakutkan. Abang takut terjadi sesuatu.” Ranu punya firasat yang tajam sekali pikir Sandra.


“Abang....Daddy bilang semua ok?” Ranu mengangguk. “Kalau Daddy say that, everything gonna be okay. Percaya Daddy.” Sandra memeluk kesayanganya dengan hangat. “Kenapa sih Abang cepet sekali besar, Aunty Sandra masih tidak rela.” Ranu tersipu malu. Dia yang paling sering di peluk-peluk oleh semua orang.


“Tolong bujuk Mommy makan yah, tadi hanya minum susu dan semuanya keluar. Perutnya tidak enak kata Mommy.” Sandra beranjak dari duduknya, Melan masih sibuk menyiapkan makanan.


"Mom....ayo Love, makan dulu sedikit saja." Ayu masih takut melihat wajah anak-anaknya. Hatinya lemah, takut menangis di depan mereka. “Mom....Kakak perlu menyanyikah.” Rayunya, padahal dirinya tidak bisa menyanyi.


“Ihhh...jangan, suara Kakak kurang enak.” Ledek Ayu yang akhirnya tidak tahan mendengar rengekan Mahesa.


“Hmmmmm.....muachhhh....” Mahes mencium wajah Mommy nya yang sedari tadi tertutup selimut. Sedikit pucat, Mahesa menempelkan tangannya di kening Mommy nya. “Tidak panas, wajah Mommy pucat Mom. Harus makan Mom.”


"Mom gak laper Kak. Nanti aja ya Kak." Balasnya memasukan wajahnya dalam selimut dan kembali memunggungi Mahesa.


"Kakak tunggui sampai Mommy punya selera untuk makan." Mahes merebahkan tubuhnya di belakang Ayuna. Melingkarkan tangannya di perut Mommy nya.


Ranu memilih pergi tidak sanggup lihat mata sedih Mommy nya. Memberikan tanggung jawab penuh pada Kakak nya yang paling bisa merayu Mommy nya saat seperti ini.


“Kak....” Mahes masih menutup mata. “Kakak suka sekali ya dengan Hanum?”


Tahu dari mana tentang Hanum. Mahes menatap penuh rasa bersalah, bagaimana pertanyaannya sudah se intim itu padahal dirinya belum memperkenalkan Hanum dengan benar.


Mahesa duduk, matanya menakutkan sekali membuat Ayu menyesal membuka mulutnya bicara tentang Hanum. “Mom...lihat Kakak. Mom.....”


“Hay....sayang-sayang ku.” Ayu mengelus dadanya, beringsut segera turun dari kasurnya. Ayu segera menggandeng Sandra keluar kamar. “Aku bawa banyak makanan, ayo cepat makan Kak.” Mahes mengusak rambutnya kesal.


Ya Tuhan, apa yang terjadi. Darimana cintaku tahu tentang Hanum, apa yang dia pikirkan. Kenapa harus Mommy yang bicara tentang Hanum seperti ini, ya Tuhan.....Mommy. Maaf kan Kakak Mom.


“Ayo Kak, Mommy juga jadi lapar.” Ayu berjalan cukup cepat membuat Sandra bingung. “Kakak....cepat.” Beruntung sekali Sandra datang, jika tidak Putra nya akan banyak melontarkan pertanyaan yang memusingkan.


“Kenapa?” Bisik Sandra yang mengikuti Ayu berjalan cukup cepat. “Pelan-pelan ah, nanti kesandung.” Pinta Sandra yang suka melihat Ayu tersandung kakinya sendiri saat berjalan.


Suasana makan cukup ramai, gelak tawa memenuhi ruangan karena ulah Melani yang tidak pernah kehabisan ide untuk membuat lelucon yang menghibur.

__ADS_1


Ayu lagi-lagi merasa perutnya bergejolak, Baby di dalam perutnya entah kenapa menolak semua makanan yang dirinya makan. Berjalan perlahan sambil mengatur nafasnya, berharap tidak memuntahkan makanan yang sudah susah payah dirinya makan.


“Enek ya Yu?” Tanya Sandra. Ayu mengangguk, tangannya menutup mulutnya rapat-rapat. ayu menutup pintu menuntaskan semua keinginan Baby nya. “Mau di bantu gak Yu?” Tidak ada sahutan, hanya suara Ayu yang sedang sangat tersiksa mengeluarkan isi perutnya di dalam toilet.


“Tante San, biar Abang saja yang jaga Mommy.” Ranu mengetuk pintu dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Memijat tengkuk Mommy nya mencoba meringankan meski tidak membantu pikirnya.


“Masih sakit? Hmmmm....masih mau muntah Mom?” Ayu membasuh wajahnya, tenaga nya terkuras seharian ini muntah berkali-kali setiap dirinya makan. Ranu menggendong tubuh kecil Mommy nya, membawanya ke ruang tamu.


“Apa minum jus bisa membantu? Aku buatkan jus yah.” Tawar Melan merasa khawatir. Ayu menggeleng, anak-anaknya sudah membuatkannya jus tapi juga di muntahkan.


“Kakak sudah buatkan tadi, tapi Baby sepertinya sedang mogok makan.” Suaranya sangat dingin. Ayuna melirik dan segera berpaling, mata Mahesa saat ini membuatnya takut.


Yang dilihat Mommy nya.



“Mommy mau coba makan sesuatu? Katakan Mommy ingin apa?” Ayu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ranu. Menghirup aroma tubuh Putra nya yang membuatnya sedikit tenang.


Ranu memeluk Mommy nya erat, tangan satunya yang menganggur memencet bolak balik remote TV mencari acara menarik yang belum ditemukannya.


“Abang stop! Kembali ke yang tadi.” Ranu segera memencet tombol kembali ke siaran sebelumnya. Ayu terduduk, terkejut sekali melihat nama wanita yang dulu pernah mengisi hati suaminya diberitakan meninggal dunia.


Nikita merupakan model terkenal pada jamannya, kematiannya karena sakit yang dideritanya di beritakan di berbagai stasiun TV. Ayu kini bahkan melihat siaran televisi yang menyiarkan secara langsung pemakaman Nikita.


Penyiar televisi bahkan berhasil menampilkan foto yang mereka ambil tentang beberapa tamu penting yang turut hadir di pemakaman Nikita. Ada foto suaminya dan Kak Rey, Mas Jofan dan Adam juga ada disana. Mereka menjadi sorotan karena terkenal sebagai pengusaha kaya raya. Ayu mengatur nafasnya yang berat sekali.




Bukan tidak rela melihat suami dan Kakak nya ada di sana, Ayu lebih terkejut karena baru kemarin mereka membahas tentang pengasuhan Hanum. Kini dirinya melihat Nikita benar-benar pergi untuk selamanya. Ayu memegangi perutnya yang terasa keras, nafasnya tersenggal dan Ayu merasa seperti di hantam batu besar di kepalanya.


“Mommmmm!!!!!!....Mommy...... Mom.” Teriak Ranu yang berhasil membuat Mahesa, Sandra dan Melani yang tengah membuat kue coklat berlari ke ruang tengah.


“Mommy kenapa Dek....” Ranu terlihat sangat syok. “Ayo bawa Mommy ke rumah sakit, cepat.” Mahesa menggendong Ayuna, membawanya segera ke klinik yang ada di lobby apartemen sebagai fasilitas apartemen.


Mahesa merutuki segala kebodohannya, Mahesa menyalahkan dirinya karena Ayuna begitu terluka. Ini semua karena dirinya yang ketahuan punya wanita pujaan bernama Hanum pastinya. Mahes kesal pada dirinya sendiri, Mahes menagis sepanjang perjalanan menuruni lantai apartemen menggunakan lift.


“Mom.....sorry Mom. Kakak akan lupakan Hanum kalau Mommy sesakit ini. Maafkan Kaka Mom.” Ucapnya dengan lirih yang tidak bisa di dengar siapa pun.

__ADS_1


Mereka semua mencoba menghubungi Malik, Rey, Jofan dan Adam. Tidak ada jawaban, Melani mengirim pesan karena panggilannya tidak kujung ada jawaban.


“Ayuna pungsan. Cepat kalion segera pulaing.” Pesan Melan banyak Typo, tangannya gemetar melihat Ayuna tidak sadarkan diri.


__ADS_2