
"Kak Mahes sedikit banyak sudah dengar, tanpa itu semua Mommy tetap kesayanganku. Dia curahkan semua sayangnya ke kita semua. Dia bahkan tidak perhatikan ingin nya sendiri." Mahes pamer kebaikan Mommy nya. Tapi juga sedih dengan apa yang sudah Mom nya korbankan.
Ayu selalu memperhatikan kebahagiaan dan kesenangan orang-orang di sekitarnya, dirinya sering lupa apa yang dia mau dan sukai. Apapun yang membuat orang lain senang dan bahagia akan membuat dirinya mengorbankan apapun untuk bahagia itu.
Mahes mendudukkan dirinya di ruangan Mamih nya. Menatapi setiap sudut yang dipenuhi banyak kenangan. Mereka sibuk sekali sampai punya banyak benda berharga di ruangan kerjanya. Foto-foto mereka membuat Mahes tersenyum. Indah sekali perjalanan hidup kedua orang tuanya.
“Kenapa melamun sayang? Sakitkah? Atau ada yang Kakak pikirkan?” Mahes meraih tubuh Sarah. Mahes memeluk Mamihnya dengan nyaman.
“Kakak baru saja marahi Ranu, dia keterlaluan sekali diami Mom ku. Sakit sekali hatiku Mih.” Sarah paham, Mahesa paling tidak bisa memarahi adiknya. Pasti galau Putranya ini. “Kaka harap Abang paham dan tidak berkeras hati. Mommy bisa terpuruk.”
“Mamih serahkan tugas membujuk anak kecil ku pada Kakak dan Papih, Mamih menyerah. Tidak akan bisa Mamih membujuknya. Matanya mematikan.” Sarah tidak mau ikut campur, dirinya lemah sekali jika menyangkut anak-anaknya. Tidak jauh berbeda dengan Ayu.
“Bisa saja berkilah, Mamih memang tidak pandai membujuk. Tidak akan mempan.” Ledeknya gemas.
“Kakak ini mengejek Mamih kah? Mamih tau loh Kak.” Anaknya hanya senyum-senyum gemas.
“Mih, aku lapar. Tolong buatkan makanan apapun Mih.” Mahes baru merasakan keroncongan sekali perutnya.
“Mamih sudah pesankan makanan, tunggu ya Nak. Mamih kupaskan apel dulu untuk ganjal perut.”
“Mamih the best. Kakak baru bilang, makanan sudah meluncur ke sini.” Sarah merona, anaknya paling bisa membuatnya tersipu malu.
"Kak, ayo buka mulut mu." Pinta Sarah menyodorkan potongan apel yang sudah dia kupas bersih. Mahes membuka mulutnya. Menikmati setiap potongan buah yang segar di setiap gigitan. Mahes mencium tangan Mamih yang sangat dirinya sayangi, jarang sekali punya banyak waktu berdua seperti ini. “Awas jatuh cinta pada Mamih Nak.”
“Sudah Mih, aku sudah jatuh cinta banyak sekali pada Mamih.” Sarah benar-benar dibuat ke ge er an oleh anaknya sendiri. “Cantik nya tidak ada duaya.”
“Kak, sejak kapan suka sekali menggombal, ihhh.....” Kesalnya yang tidak bisa menyembunyikan wajah cantiknya yang merona.
"Apa Hanum sudah baik-baik saja Mih?" Tanya nya penasaran, setelah keluarganya datang. Mahes diminta keluar oleh Hanum dan tidak memperbolehkannya datang lagi.
Karen dalam keadaan sakit, Mehes mengikuti saja agar Hanum tidak punya banyak beban dan lekas pulih. Pasti berat sekali menjadi Hanum, entah masalah apa yang dia hadapi seorang diri. Mahes sangat ingin membebaskan Hanum.
"Ba.....ik Kak, keluarganya sudah membawanya pulang." Mahes beringsut turun dari kursinya.
"Loh ....lukanya belum pulih Mih." Gemetar tangan Mahes, menyesal sekali menuruti inginnya Hanum.
__ADS_1
"Mamih sudah peringatkan, alasan mereka tidak punya banyak dana. Mamih sudah coba tawarkan bantuan tapi di tolak Nak." Mahes meremas rambutnya kesal.
"Kok tidak bilang Kakak Mih. Ya Tuhan.!" Mahes meremas rambutnya frustasi. Wajah kesakitan Hanum masih jelas di pelupuk matanya.
"Sudah tadi, tapi tidak didengarkan. Kak Mahes nya tidak fokus tadi." Sarah memberikan pelukannya. Menenangkan dirinya sendiri juga yang sedikit panik. Mahes terlihat kesal sekali.
Sarah menaruh curiga pada keluarga yang datang menjemput Hanum, mereka tidak mirip. Bahkan perlakuannya sedikit kasar pada gadis sebaik Hanum. Tapi Sarah tidak mau cerita, takut sekali anaknya nekat mencari tahu.
Sarah bahkan melihat sorot mata Hanum yang seolah meminta pertolongan. Gadis kecil yang tidak berdaya, tapi Sarah tidak ingin berurusan dengan orang-orang berandalan seperti mereka. Takut sekali.
"Alamat rumahnya ada kah Mih, pasien bukannya punya alamat rumah Mih."
Benarkan, baru juga ada di pikiran Sarah, dia sudah bereaksi seperti ini. Takut sekali anaknya nekat dan tindakannya bisa melukai dirinya sendiri.
"Tidak jelas alamatnya, Mamih mohon jangan cari tau lebih jauh." Sarah takut berurusan dengan orang jahat lagi. Tangannya sudah gemetar sekali. Mahes meraih tangan Mamih nya yang gemetar. Mengcupnya penuh sayang.
"Ok Mih, Kaka paham. Tenang Mih. Sorry Mamih, jangan pikirkan Mih. Calm down cinta."
Beruntung sekali Putra nya peka. Mahes tahu dengan benar yang selama ini Mamih nya hindari. Kejadian beberapa tahun lalu membuat dua semestanya trauma dan bisa hancur kapan saja jika berurusan dengan orang-orang seperti mereka lagi. Mahes berusaha menjaga perasanya nya dengan apik agar tidak menimbulkan keributan.
Sudah cukup keributan yang mereka ciptakan kemarin. Kini semua kesayangannya harus tenang.
"Sayang, Mas mu pulang dulu yah. Aku ingin beri tahu kabar bahagia ini ke Kak Rey." Senyum nya pudar, ada satu hati lagi yang mungkin patah mendengar kabar kehamilannya.
"It's ok Mom." Malik paling peka perasaan istri nya.
"Kak Anna mungkin sedikit sedih, tapi bukan berati tidak bahagia Dek, percaya Mas mu. Mereka juga mencintai mu sebesar aku." Ayu hanya mencoba menerima semua perasaan yang hadir.
Ini bukan inginnya, dirinya harus berbesar hati menerima segala perasaan yang hadir saat ini. Mereka pasti akan kuat untuk bahagianya, seperti yang selama ini dirinya juga perjuangkan. Bahagia semua orang-orang yang sangat dia sayangi.
"Tolong pelan-pelan ya Mas, kalau di lihat belum siap, biar aku yang bicara Mas." Suara nya saja sudah gemetar, dia mana bisa bicara yang bisa menyakiti perasaan wanita kesayangannya.
Jofan memeluk erat adik kecilnya. Mengusap punggung nya dengan lembut menenangkan. Mencoba menyalurkan cintanya agar Ayu percaya semua orang mencintainya dengan tulus.
"Mas mu ini bisa di percaya sayang, bisa di andalkan. Serahkan semuanya pada Jofan. Sekarang relaks dan jangan pikirkan hal-hal buruk. Istirahat, wajahmu pucat Mom." Malik sudah mulai cerewet.
__ADS_1
"Kak Malik benar, semua biarkan berjalan dengan alami. Kalian akan diterima dengan banyak cinta sayangku." Mas nya memang paling bisa bicara semanis itu.
“Sekali lagi kalian membuatku menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Bahagia sekali aku punya kalian semua.”
“Tentu saja, kamu kebahagiaan kami semua. Tenang ya sayang, Mas akan selesaikan semuanya. Bahagia saja saat ini, bahagia mu cukup membuat Mas bertahan dengan percaya diri.” Jofan mencium kening Ayu sebelum beranjak.
Kalau bukan karena keadaan, aku tidak akan biarkan Jofan menciumi istriku seenaknya. Kesal sekali hari ini melihat semua orang seakan sedang mencari perhatian istriku. Batinnya yang kesal tapi di tahan, cemburu berat.
Paman, bawa aku ke rumah Paman. Abang tidak mau bertemu Mom dulu please. Jangan bicara ke Daddy, sudah pasti tidak di ijinkan. Abang mohon dengan sangat. Tolong Abang.
Wajah Jofan mengkerut membaca pesan yang baru saja dirinya terima, Ayu dan Malik menatap penuh tanda tanya. Wajahnya menyiratkan banyak pertanyaan.
"Fan, everything ok?" Jofan tersadar, sepetinya tidak apa jika melakukan pemberontakan sedikit. Toh Malik akan fokus pada kesehatan Ayu dan akan memberikan dirinya percaya nya menjaga Ranu.
Keponakannya sedang butuh bantuannya, hatinya mungkin belum siap menerima, tapi tidak mau menyakiti Mommy nya.
"Aku pergi yah, nanti aku datang lagi." Jofan segera menuju ruang perawatan Ranu, keponakannya sudah berganti pakaian dan siap pergi. Adam juga ada di sana selesai membantu Ranu.
"Sudah siap Bang?" Ranu menggeret jaket nya yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Aku sudah pastikan luka Abang ok Fan, jika tiba-tiba Abang demam, aku sudah siapkan obat nya. Semua ada petunjuk nya ya Fan." Muka Adam sedikit masam.
"Dokter ok kan? Jangan terlibat kalau Dokter merasa bersalah."
"Aku hanya takut karena Ranu belum pulih betul Fan. Tapi anaknya rewel sekali minta pulang. Jaga anak ku ini Fan, cek suhu tubuhnya setiap 2 jam sekali."
"Ok, nanti aku kabari jika ada keadaan darurat. Aku juga akan kirim pesan ke Kak Malik kalau sudah sampai."
"Tidak usah, nanti aku saja yang berbisik di telinganya. Hehehehe...."
“Dokter bisa kena pukulan tangannya yang besar.” Ledek Jofan yang sering melihat tingkah kekanakan mereka.
“Sudah biasa Fan, sekarang tugas mu jaga anak ku ya Fan. Jangan lupa pesan ku.”
“Siap Dok, aku bawa anak nya yah. Dia masih butuh banyak istirahat juga. Wajahnya saja masih pucat.” Adam memeluk Ranu hangat sebelum memerikannya ijin untuk pulang.
__ADS_1
Agak lain memang obrolan orang tua, tapi Ranu bersyukur bisa berlindung pada mereka saat Daddy nya benar-benar tidak tau inginnya. Mereka akan melindungi nya sampai Daddy nya memberi ijin. Meski berat sekali langkahnya, apalagi tindakannya pasti akan membuat Mommy nya sedih.
Dirinya akan hilang arah jika mereka tidak sebesar ini mencintainya. Semua mencoba memahami dirinya, termasuk Mommy nya yang tidak mengiriminya pesan atau menelponnya saat ini. Dia pengertian sekali sampai paham tidak sekarang. Belum tepat jika keduanya bicara, takut menyakiti satu sama lain dan akan menyesal.