Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Tidak Ada Ampun


__ADS_3


Mobil Aldo dan Oji melaju dengan kecepatan tinggi, mengikuti beberapa mobil yang keluar dari hutan. Oji meminta anak buahnya menyebar. Mengepung mobil mereka ditengah deras nya hujan. Oji membawa begitu banyak pasukan, dia ingin menghabisi laki-laki yang berani menyentuh wanita yang sudah dirinya relakan bahagia bersama pilihannya.


Mobil Baskoro tidak bisa bergerak, di apit kanan, kiri, depan dan belakang oleh mobil orang-orang Oji yang setia mengikuti perintahnya. Baskoro gemetar melihat wajah laki-laki yang sangat dirinya takuti yang saat ini membuka lebar pintu mobilnya.


Oji turun dari mobil membawa kayu besar di tangannya. Baskoro yang ketakutan meminta supir nya menjalankan mobil yang mustahil dia lakukan. Baskoro gemetar melihat wajah Oji yang diselimuti amarah.


"Buka! Jangan membuat tanganku bekerja lebih keras dari ini!” Oji memukul dengan brutal kaca mobil yang kini pecah berserakan. “Jangan melawan dan cepat selesaikan!" Ucap Oji dengan geram. Baskoro di seret keluar dengan kasar.


Oji melakukannya karena dapat bocoran luka-luka yang Ayu alami ada bekas seretan panjang yang membekas di sekujur tubuhnya bagian kiri. Oji menatap tajam Baskoro yang meminta pengampunannya.


Jofan hanya menunggu, dirinya dilarang oleh Oji untuk ikut serta, keselamatannya bisa terancam dan itu akan menyakiti Ayuna. Oji laki-laki lain selain Malik yang begitu tulus menyayangi Ayu meski perasaannya tidak terbalaskan.


"Ampun.....Ampun........Biarkan kami pergi! Aku tidak ada urusan dengan kalian! Lepaskan kami!" Baskoro seharusnya sudah paham kenapa Pasukan Oji mengepungnya.


"Masih ada muka kau meminta ampun setelah melukai wanita yang aku sudah peringtkan jangan menyentuhnya.” Oji menarik dagu Baskoro dengan kasar.


Bug....bug....bug....


Pukulan dari tangan kekar Oji mendarat dengan mulus di wajah Baskoro. Tubuhnya terhuyung, Baskoro tidak bisa melawan. Nama Oji sudah terkenal dikalangan mereka sebagai pemimpin besar yang keberadannya cukup di segani orang-orang seperti Baskoro. Berhadapan dengannya sama saja dengan bunuh diri.


Jelas sekali peringatan Oji sebelumnya saat dirinya menyakiti anak-anak saat menyelamatkan Hanum. Baskoro tidak jera dan kembali melakukan hal bodoh. Dia tergiur dengan harta yang Malik miliki, Malik pasti akan rela melepaskan semuanya demi wanita yang begitu dicintainya. Baskoro menghancurkan dirinya sendiri.


"Ampun." Baskoro bersujud di kaki Oji yang sedang mengangkat kayu besar di tangannya. Baskoro meringkuk ketakutan.


"Ampun!" Oji tertawa penuh kekesalan. "Kau berani menyentuh wanita yang aku lindungi. Berani sekali tangan kotor mu ini melukainya!" Oji kesal saat salah satu anak buah Malik mengirimi foto wajah Ayu yang terluka pada Jofan.


Foto-foto yang tidak pernah dirinya bayangkan akan di alami lagi oleh Ayuna. Dirinya dulu hancur sampai terjun ke dunia gelap yang menyeretnya begitu dalam. Oji memilih jalan gelap demi melindungi Ayu dari orang-orang yang ingin memanfaatkan kehadiran dirinya karena persaingan bisnis suaminya.


Oji melindungi dengan cara yang salah, dia hanya ingin mengendalian orang-orang yang tidak pandang bulu demi mencapai tujuan mereka. Ayuna marah, dia meminta Oji berhenti dan kembali menjadi laki-laki baik seperti yang dirinya kenal.


Semua memandang rendah pada dirinya, dengan pekerjaan yang dirinya geluti. Hanya Ayuna yang selalu memberinya ruang untuk berubah dan kembali. Hanya Ayuna yang percaya dirinya orang baik. Hanya Ayu yang selalu membuat ruang istimewa di hatinya.


"Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku janji. Tolong lepaskan. Kumohon berikan kesempatan padaku sekali lagi." Rengek Baskoro seperti bocah kecil yang sedang ketakutan karena berbut onar.


"Kau tanpa belas kasihan menyakiti wanita yang tengah hamil, lemah. Kau tidak malu! Tidak kau bayangkan bagaimana perasannya!” Baskoro ditendang cukup keras dengan sepatu Oji. “Bawa dia. Tidak ada ampunan." Oji meminta anak buahnya menghabisi Baskoro.

__ADS_1



Suara teriakannya tertutup derasnya suara hujan yang turun. Air hujan yang bersih kini tercampur darah Baskoro dan beberapa anak buahnya. Oji tidak bisa lagi memberikan kebebasan.


Karena pertimbangan yang cukup besar, Oji hanya memberikan perhitungan dan setelahnya menyerahkan Baskoro dan anak buahnya pada pihak berwajib yang sudah bekerja sama dengan keluarga Malik cukup lama.


Oji tidak mau tindakannya diketahui Ayu dan berakhir Ayu menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Baskoro yang sudah menyakitinya. Ayuna wanita yang begitu lembut, dia pasti tidak akan membiarkan Baskoro mati hanya karena sudah berbuat jahat pada dirinya. Sebaik itu Ayuna, sampai Oji yang begitu keras saja cintanya habis pada Ayuna.


Jofan hanya menelan ludahnya susah payah menyaksikan dunia gelap yang sudah Oji perlahan tinggalkan, dirinya terpaksa melakukan semua ini demi memberikan pelajaran pada orang yang tega menyakiti wanita yang dirinya lindungi dengan begitu tulus.


"Terimakasih Ji." Oji tidak menanggapi. "Maaf karena sikap ku masih belum bisa seperti yang lain." Ucap Jofan lagi yang merasa Oji sudah benar-benar berubah. Oji hanya menggelengkan kepalanya merasa pembahasan nya tidak penting.



"Lupakan. Bagaimana kondisi Ayuna?" Jofan memperlihatkan chat nya dengan Kak Rey. "Apa lukanya berbahaya?" Jofan mengedikkan bahunya sedih.


"Semoga tidak berbahaya, dia hanya sedang tidur sekarang. Dokter Adam bilang, Adek sepetinya kelelahan dan hanya butuh tidur." Oji sedikit lega. Meski ingin melihat sendiri bagaimana kondisi Ayu saat ini.


“Seharusnya aku membunuh Baskoro.” Jofan menepuk punggung tangan Oji yang terkepal. Oji memejamkan matanya, emosinya sedang tidak stabil saat ini.


Jofan memeriksa isi pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Aldo memberikan kabar baik. "Tenang saja Ji, mereka baru saja sampai di rumah sakit. Ayu sudah aman." Oji mengangguk paham.


“Mereka aman, Ranu sedikit lecet karena melindungi Mommy dan Kakak nya.” Oji sedikit tersenyum. Ranu menepati janjinya untuk selalu menjaga Ayuna.


"Lain kali jaga dia dengan baik. Kalian menjaga Ayu saja tidak becus." Mengomel kesal dan kembali memejamkan matanya. Setidaknya Oji bisa bernafas lega, Ayuna sudah ditangani dengan baik.


"Kau seperti Ayuna saat sedang kesal. Bicara yang tidak penting. Hehehehe." Jofan bahagia Adik nya di kelilingi orang-orang baik.


"Ayo pak, kita ke rumah sakit. Aku masih belum percaya pada mereka." Supir Oji segera menancap gas, menuju rumah sakit yang Oji maksud. Jofan dibuat tertawa dengan tingkah Oji yang sedang kesal.


Beberapa tahun silam hubungan Oji dan keluarga Jofan tidak baik. Dia membawa adik perempuannya dalam dunia kelam, mereka terjebak di sana. Arumi sampai harus kehilangan nyawanya meninggalkan semua orang yang begitu mencintai dirinya. Semua orang menyalahkan Oji yang membawa Arumi ke sana, ke dunia yang tidak seharusnya Arumi datangi terutama Jofan.


Lukanya masih membekas begitu dalam. Baginya Oji hanyalah mimpi buruk dalam keluarganya. Dia tidak di inginkan oleh semua orang dalam keluarganya, hadirnya Oji hanya menorehkan luka.


Buruk sekali hubungan mereka, tidak ada harapan untuk memperbaiki keadaan yang sudah Oji ciptakan sampai terukir luka yang begitu dalam.


Namun semua kembali terulang, dia mencintai wanita yang wajahnya mirip dengan Arumi. Dia semakin jatuh cinta karen sikap dan sifat Ayuna yang polos, lemah lembut dan penuh cinta.

__ADS_1


Oji memperjuangkannya, mencoba menjadikan Ayu miliknya karena dirinya juga sungguh tidak menginginkan kesialan yang menimpa Arumi, wanita yang mencintainya dengan tulus. Arumi masa lalunya, Oji begitu kembali jatuh hati pada gadis polos yang begitu mencuri perhatiannya. Semua menolak Oji dengan alasan yang sama.


Tidak mau Oji kembali merusak gadis baik hati seperti Ayuna. Ayuna berhasil mereka selamatkan dari jerat Oji, ketakutan mereka semakin bertambah saat tahu Ayu adalah anak dari Ayah kandung Jofan karena kesalahan di masa lalu.


Jofan dan keluarga besarnya begitu bahagia menerima Ayuna dalam hidup mereka.


Ayu membuat keluarga Jofan yang tercerai berai kembali bersatu.


Kembali menjadi utuh meski bekas lukanya tidak bisa hilang.


Jofan kini menatap wajah Oji yang tengah terpejam. Dia bertekad tidak lagi jatuh cinta, bertekad melindungi wanita yang kini bahagia bukan dengan dirinya. Jofan menghela nafas panjang merasa lega. Perjalanan cukup jauh membuat dirinya ikut memejamkan mata menikmati perjalanan yang menyenangkan setelah menyelesaikan pekerjaan yang cukup sulit baginya.


***


"Dam, apa tidak apa-apa Ayuna tidur selama ini? Apa dia baik-baik saja Dam?" Tanya Malik yang terjaga sepanjang malam. Masih tidak tenang meski Adam sudah meyakinkan dirinya berulang kali jika Ayuna hanya tertidur.


"Terserah mu lah Al, aku sudah jelaskan sampai mulutku berbusa." Lirih Adam yang mendapat tatapan tajam dari istrinya yang juga ada di sana.


"Istri mu tidur saja cantik ya Al." Sarah membelai pipi Ayu yang sedikit bengkak.


"Cantik ya Sar, kasihan tapi, dia pasti kesakitan." Mata Malik berkaca-kaca.


"Jahat memang mereka, aku akan memukul nya sampai babak belur. Jadi bawa aku saat kalian menemukan mereka." Ucap Sarah kesal.


"Me to Mih." Imbuh Mahes yang memeluk adiknya yang terlelap di sisinya.


"No, anak-anak tidak seharusnya melakukan pekerjaan orang dewasa. Buat Mamih jantungan saja kalian ini." Sarah kesal sekali dengan dua anak nya yang melanggar aturan.


"Sorry." Mahes memilih memejamkan matanya.


"Sayang, kalian pulang yah, bawa anak-anak juga. Please, jangan menolak. Kalian harus tetap baik jika ingin membantu Daddy." Mahes pura-pura tidur.


"Jahat dia ya Al, kalau mengantuk, suruh suami ku gantian menjaga Ayuna." Malik mengangguk. Dirinya tidak merasakan apapun selain khawatir.


"Rey sedang menggendong Ranu yang memang tidak mudah dibangunkan jika sudah kelelahan seperti saat ini. Sarah berjalan di belakang mereka menggandeng tangan Mahes yang sedang di diami karena ulahnya membahayakan dirinya dan adik nya.


"Berat ya Kak?" Tanya Sarah yang melihat Rey kesulitan.

__ADS_1


"Bilang pada adik mu untuk tidak lagi membesarkan otot-otot nya. Papah tidak kuat jika menggendongnya terlalu jauh." Sarah dan Mahes tersenyum, Ranu memang terobsesi punya tubuh bagus, dia rajin olahraga.


__ADS_2