
Ayuna sedang duduk di teras rumah Mas nya menikmati gemerlap bintang malam yang begitu cantik bertebaran di hamparan langit yang luas menemani Bulan yang begitu sempurna malam ini.
Beberapa kali menghembuskan nafasnya yang sedikit berat karena perutnya terasa tidak nyaman setelah selesai makan malam tadi.
Ayu sering mengalami kram perut jika makan sesuatu yang seperti nya Baby tidak menyukainya. Ayuna mulai memilih milih makanan yang bisa dirinya nikmati tanpa harus muntah setelah memakannya.
Ayu bahkan sudah sangat lama tidak jajan sembarangan karena Baby nya yang satu ini sangat sensitif. Padahal suka sekali jajan di pinggir jalan di depan sekolah SD yang suka dirinya lewati jika keluar rumah. Tentu saja diam-diam tanpa sepengetahuan orang-orang yang selalu protektif pada dirinya.
Tapi kali ini dirinya tergoda melihat Mbak Siti yang bekerja di rumah Jofan memakan bakso yang terlihat sangat lezat. Ayu meminta di belikan bakso yang sama dengan yang Mbak makan, level pedas yang sama dengan yang Mbak makan. Membayangkannya saja Ayu sampai menelan ludah nya beberapa kali.
Mbak menolak memberikan pedas yang sama dengan dirinya, Nonna nya tidak akan kuat. Akhirnya Ayu memakan bakso yang pedasnya sedikit di tambahkan untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya, dia begitu menikmatinya di suapan pertama sampai suapan ketiga. Setelahnya perutnya malah bergejolak hebat dan semua makanan yang sudah dirinya makan ikut keluar lagi.
Untung saja tidak ada anak-anak dan Malik saat dirinya mual tadi. Mereka sedang ada di supermarket membeli bahan makanan yang sudah habis. Jofan dan Riyan sedang di ruang kerja karena ada email penting tentang proyek pameran bulan depan.
Sandra, Anna dan Hanum sedang berolahraga di ruang olahraga. Hanya ada Mbak siti yang menemani Ayu di ruang keluarga menonton Drakor.
Ayu mencoba terlihat baik-baik saja agar Mbak siti tidak lagi merasa bersalah. Dirinya kini duduk dengan tenang mencoba menghilangkan kram di perutnya yang sungguh sangat menyiksa.
Ayu merasa bersalah karena mengikuti nafsunya tanpa berpikir panjang akan akibatnya. Tangannya tidak berhenti membelai lembut perut buncitnya yang terasa begitu keras. Ayunya sedang kepayahan.
“Kenapa pintu di buka....loh sayang.” Jofan berjongkok di depan Ayu yang sedang memejamkan matanya. “Kenapa sayang?” Jofan membelai lembut wajah sayu adik kesayangannya. “Sakit perutnya sayang?” Ayu mengangguk.
“Tapi jangan bilang pada Kak Malik, Baby cuma ke carian Daddy nya sepertinya.” Jofan melihat gelagat Mbak Siti yang gugup.
Matanya semakin menatap tajam wajah Mbak Siti yang kini menunduk enggan menatap dirinya.
“Aku tidak akan bilang.” Jofan mengecup kening adik nya.
“Bintangnya cantik ya Mas. Aku suka sekali melihat mereka bersinar begitu terang dan indah.” Jofan ikut menatap bintang yang adiknya tunjuk.
Jofan tahu Adik nya sedang merindu pada kedua orang tuanya. Jofan meraih tangan adik nya. Mengecupnya lembut.
“Rindu Ibu dan Bapak ya Dek?” Ayu tersenyum getir. “Mereka pasti saat ini sedang melihat mu dengan penuh bahagia sayang.” Ayu mengangguk setuju.
Cukup lama Ayu berdiam di tempatnya, Jofan yang merasa tangan Adik nya mulai dingin segera berdiri. Tidak boleh lebih lama lagi, adik nya bisa sakit karena angin malam tidak sehat untuk tubuh Ayuna yang sedang berbadan dua.
__ADS_1
“Sekarang masuk sayang, dingin di luar.” Ayu menolak. Dirinya sedang mencari nyaman agar kram nya cepat hilang. “Mau di sini?” Ayu mengangguk dengan binar matanya yang memelas.
“Sebentar saja Mas, aku suka sekali dengan angin malam yang sejuk ini. Bintangnya juga cantik sekali Mas, aku suka melihat mereka.” Ayu memejamkan matanya.
“Mbak tolong ambilkan selimut yah.” Mbak siti bergegas masuk. “Apa tidak mau cek kenapa bisa sakit sayang?” Ayu tidak menanggapi. Dia masih memejamkan matanya. Perutnya sudah mulai mereda, kram nya perlahan sudah hilang.
“Tidak Mas.” Senyum Ayu meneduhkan hati Jofan yang sedang khawatir. “Baby suka sekali protes jika aku makan terlalu pedas.”
“Makan apa sayang?” Ayu mendekatkan wajah nya ke telinga Jofan yang kembali berjongkok di depannya karena Ayu menolak masuk. Jofan spontan memiringkan kepalanya karena tahu Ayu akan membisikan sesuatu.
“Bakso Mas, jangan marahi Mbak Siti Mas. Aku yang memaksanya membelikan ku bakso tadi.” Tidak lama Mbak Siti keluar dengan selimut tebal. Wajahnya masih sangat tegang mengingat dirinya tidak meminta ijin pada Jofan saat Ayu meminta bakso tadi.
“Makasih Mbak, Mbak Siti kenapa menunduk terus? Habis melakukan kesalahan yah?” Goda Jofan iseng.
“Eh....enggak Pak.” Mbak Siti menatap Ayu dengan wajah sedihnya.
“Mas, jangan di dengarkan Mbak.” Ayu melotot pada Jofan yang sangat iseng, Mbak Siti terlihat sangat ketakutan.
“Maaf Pak.” Ucap Mbak Siti lirih.
“Kenapa minta maaf Mbak. Salah apa coba? Bisa katakan?” Mbak Siti yang ketakutan mencoba melihat wajah Jofan, matanya menatap Siti dengan tajam, Siti kembali menunduk.
“Non..na tadi makan bak....so Pak, maaf Pak.” Ucap Mbak Siti terbata-bata.
Tamatlah riwayat ku, muka Pak Jofan sampai menakutkan seperti itu pasti marah besar ini. Jangan sampai di pecat ya Allah, anak-anak ku makan apa nanti kalau aku tidak kerja dengan orang-orang baik ini.
“Lain kali ijin saya ya Mbak, jangan kasih adik saya makanan yang beli sembarangan ya Mbak.” Mbak Siti mengangguk. Lega sekali, dirinya hanya diberi peringatan. Padahal dirinya sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal.
“Mbak boleh pulang yah, sudah malam. Hati-hati di jalan Mbak.” Siti bergegas masuk membenahi rumah sebelum ditinggal pulang. Berulang kali membungkuk berterimakasih karena dirinya tidak disalahkan sepenuhnya. Mereka memang sangat baik, tidak mungkin dirinya di pecat begitu saja.
“Ayo masuk, Kak Malik bisa mengamuk jika aku duduk di teras malam-malam begini.” Jofan menggandeng tangan adiknya, berjalan pelan mengikuti langkah Ayu yang sedikit sulit dengan perut besarnya.
Tidak lama suara Malik dan anak-anak terdengar memenuhi ruangan. Ayu masih duduk di ruang tengah malas bergerak, kaki nya pegal. Dirinya sengaja membuka jendela agar udara sejuk memenuhi ruangan.
Bunga mawar yang muncul di depan wajahnya tiba-tiba cukup mengagetkan. Ayuna menatap bola mata Putra kesayangannya yang berdiri di depannya dengan wajah malu-malu. “Untuk Mommy.” Ayu meraihnya, menciumnya beberapa kali. Ranu mencium Mommy nya sebelum beranjak ke kamarnya yang ada di lantai dua.
“Mommy kenapa belum istirahat sayang?” Ucap Malik dari dapur.
__ADS_1
Malik menghampiri Ayu setelah meletakkan belanjaan di dapur dan mencuci tangannya yang pasti banyak kuman.
“Belum ngantuk Dad.” Jofan masih menatap Ayu dengan tajam, sedari tadi pandangan matanya tidak lepas dari adik nya. “Mas, sebaiknya lihat Sandra sedang apa sekarang. Mas kelamaan di sini.” Malik duduk di sisi Ayuna, membelai perut besarnya. “Mas.”
“Iya, jagain Kak. Dia nakal sekali makan bakso pedas tadi.” Malik membolakan matanya. Ayu hanya tertawa, dirinya selalu dikhianati.
Padahal Mas nya jelas-jelas sudah berjanji tidak akan bilang pada Malik dengan ulahnya.
Ayu tahu jika Malik dan yang lainnya tidak marah, mereka hanya ingin menjaga Ayu agar tetap baik-baik saja dan tidak makan sembarangan karena Ayu sangat suka jajan. Mereka membatasi karena kondisi tubuh Ayu yang mudah sakit jika makan makanan yang tidak higienis.
Malam panjangnya di tutup dengan nasehat yang cukup membuat Ayu sadar jika dirinya harus menjaga kondisinya agar seisi rumahnya tetap tenang. Berisik sekali jika dirinya berulah dan melakukan hal teledor tanpa ijin dari mereka.
Sedangkan di kamar lain.
“Sayang...jangan tidur seperti ini, nanti badan mu sakit sayang.” Sandra menolak ajakan Jofan yang memintanya tidur di kasur.
“Ehhhh.....aku begini sebentar saja Fan.” Masih memejamkan matanya dengan nyaman. “Enak sekali pinggang ku tidak sakit Fan.” Lagi-lagi ada keluhan sakit dari wanita kesayangannya.
“Besok kita ke rumah sakit ya sayang, sepertinya kita harus temui Dokter Adam. Aku khawatir sekali kalau kau tidak sehat sayang.” Sandra masih memejamkan mata, jari-jari tangan Jofan membelai surai indah Sandra, merapihkan rambut yang menutup wajah cantik Sandra.
“Pulang kerja ya Fan, aku masih ada kerjaan penting besok.” Malas sekali suaranya.
“Ok, aku jemput pulang kerja ya sayang. Aku buat janji dengan dokter Adam jam lima sore sayang.” Sandra mengangguk dengan malas.
Jofan hanya bisa memandangi Sandra dari tempatnya duduk, Sandra mengeluh sakit pinggang beberapa kali dan merasa mual karena masuk angin. Jofan takut jika dibiarkan Sandra bisa semakin sakit dan menderita.
Kali ini Sandra menuruti mau suaminya, dirinya juga merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Sebelumnya tidak pernah dirinya rasakan yang seperti ini. Sandra merasa aneh dengan tubuhnya yang mudah sekali lelah dan sakit.
Tidak lama Sandra duduk dengan lemas, matanya terbuka perlahan merasa silau oleh pendar cahaya lampu yang begitu terang. Jofan mendekat, meraih tangan Sandra membawanya dalam pelukkan hangatnya.
“Apa kepalamu pusing?” Sandra menggeleng. “Wajah mu sangat pucat sayang.” Sandra menyandarkan kepalanya di perut Jofan yang saat ini memeluknya. Nyaman sekali pelukan suaminya.
“Sepertinya kelelahan saja karena tadi ikut olahraga dengan kaka Anna dan Hanum.” Jofan melotot.
“Kan sakit sayang, kenapa olahraga?” Sandra mengendurkan pelukkannya. “Kenapa olahraga San, kan aku sudah bilang jangan terlalu banyak bergerak.” Mata Sandra berkaca-kaca.
“Kan cuma sebentar, aku cuma merasa harus banyak bergerak supaya mual dan sakit pinggangku hilang Fan.” Ucapnya dengan sedih.
__ADS_1
“Aku tidak marah sayang, jangan menangis. Sorry sayang. Aku hanya khawatir saja sayang.” Jofan membelai lembut wajah Sandra yang terlihat sangat sedih.
Ucapannya lagi-lagi mampu membuat Sandra merasa sedih, Jofan harus memelankan nada bicaranya agar Sandra tidak merasa sedang di marahi oleh dirinya. Jofan merasa lucu, seolah sedang melihat Sandra kecil dengan segala tingkah menggemaskannya.