
Oji berdiri di bawah para penjahat yang sudah melukai Melani. Menggantung mereka secara terbalik kepala di bawah. Ide gila yang Oji dapat dari pengalaman dulu saat di didik menjadi mafia.
keluarganya memang turun temurun menggeluti dunia hitam perdagangan senjata ilegal, obat-obatan terlarang dan masih banyak lagi pekerjaan kotor lainnya. Oji memilih berhenti, dirinya kelelahan karena harus belajar menjadi manusia yang tidak memiliki rasa belas kasihan sedikit pun.
Awalnya karena ingin menjadi baik di mata Ayuna, tapi lambat laun dirinya merasa aman dan nyaman hidup tanpa di hantui rasa bersalah dan ketakutan.
Oji memilih jalannya sendiri dan orang tuanya mendukung, dirinya sekarang bisa berbangga diri karena perusahaan yang didirikan nya berkembang pesat. Oji melatih para petugas keamanan yang berada di naungan perusahanya untuk di saluran ke tempat-tempat yang membutuhkan perlindungan keamanan.
Kembali pada para penjahat yang bergantung dengan posisi kepala di bawah.
Pusing, tentu saja. Tapi apa yang mereka dapatkan belum setimpal dengan apa yang mereka lakukan dengan kejahatannya mereka. Menyakiti sahabat dari wanita yang sangat dirinya sayangi.
Berjalan mengelilingi mereka yang sedang menahan diri agar tidak bersuara. Tangan kirinya menyentuh satu persatu para anak buah lawannya agar tali mereka bergoyang.
"Katakan siapa saja yang sudah menyentuh Melani." Tidak ada yang bersuara. "Mengajukan diri untuk bicara jujur atau aku akan lakukan lebih dari yang kalian perbuat padanya."
Masih hening, tidak ada satupun yang membuka mulut mereka. Semua membisu.
"Kalian apa tidak bisa di ajak bicara baik-baik?!" Oji memukulkan tongkat kayu yang ada di tangan kanannya.
"Saya menamparnya."
Plakkkkk....
Keras sekali sampai ujung bibir nya mengeluarkan darah.
"Apa lagi yang kau lakukan?" Tanya Oji dengan mata menyorotkan amarah. Suaranya pelan tapi penuh penekanan, gertakan giginya bahkan terdengar begitu menyeramkan.
"Tidak ada Tuan, saya bersumpah." Oji menghempas sampai ikatanya bergoyang. Semua ikut bergoyang karena tali satu sama lain saling terhubung.
"Selain dia, siapa lagi yang menyakiti Melani!" Teriak Oji dengan keras.
"Tidak ada Tuan. Bos yang melakukanya." Oji menyeringai, anak buahnya bahkan menghianatinya. Dia tidak punya kekuatan saat ini untuk melawan.
Plakkkkkk......plakkkkk......plakkkkk
Awww.....
"Itu untuk lebam di wajah nya." Oji ingin dia mendapatkan yang setimpal dengan apa yang sudah di perbuat.
Buggghhh.....
Hantaman kayu di siku tangannya sampai berdarah.
Ahhhhh.......
Teriakan nya begitu keras, Oji yang mendegar begitu kesal. Membayangkan seperti itu suara Melan saat mendapat perlakuan kasar dari mereka.
"Itu untuk siku nya yang berdarah." Oji menarik kepala Bos mereka melihat ke arah luar. "Kau lihat itu." Kini tubuhnya bergetar.
__ADS_1
Awalnya dia tidak bergeming. Merasa hebat dan tidak goyah dengan pukulan yang dia rasakan. Oji sampai kesal melihat keras kepalanya.
"Ingin tahu rasanya aku tarik tubuh mu dengan itu!" Matanya membulat, ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya yang sudah merasa panas dengan posisi terbalik. "Isi perutmu bisa berceceran brengsek."
"Ampun....Tuan ku mohon ampuni aku. Aku tidak akan berurusan lagi dengan kalian. Ampun Tuan." Oji memukul keras dadanya.
Buggghhhhh.....
"Jangan sekali kali kalian berani menyentuh mereka. Atau kalian akan berhadapan dengan ku!."
Oji memberikan peringatan keras agar tidak ada lagi yang berani menyakiti siapapun lagi.
Setelahnya Oji menyerahkan mereka untuk di bawa ke kantor polisi pada anak buahnya. Dirinya harus mengurus kepulangan Melani. Tidak ada yang lebih penting saat ini.
Malik secara pribadi meminta dirinya menjaga Melani, tentu saja dengan senang hati Oji melakukannya.
Tugasnya meski tidak begitu berarti, Oji ingin melakukannya dengan sepenuh hati. Ingin punya arti sedikit saja bagi Ayuna.
Meski tidak bisa jadi bagian dari bahagia wanita kesayanganya, Oji ingin menjaga yang jadi bahagianya. Begitu cara Oji mencintai Ayuna selama ini.
***
"Apa kabar mereka ya Fan." Jofan tersenyum. Sandra sangat cantik di matanya malam ini. Entah apa yang berbeda, tapi Jofan sedang kasmaran pada wanita yang selama ini dirinya cintai.
"Jangan macam-macam, kita ini orang Indonesia. Mana boleh bertingkah seperti mereka Fan. Tidak boleh cium aku di tempat terbuka ah, aku ngeri membayangkannya." Jofan mengecup bibir Sandra yang terus mengomel.
Mata Sandra semakin membola dengan kelakuan suaminya yang benar-benar menyebalkan.
"Ihhhhh.....gak boleh Fan." Mengusap bibirnya. "Lakukan nanti di hotel." Sandra memilih sedikit menjauh duduknya, Jofan sedang tidak waras. Senyumnya sedari tadi sangat manis.
"Kenapa cantik sekali sayang. Aku benar-benar hanya ingin tinggal di hotel, kenapa kita berkeliaran seperti ini Sayang!." Sandra kesal sekali mendengarnya. Merengek seperti Ranu.
"Bisakah jangan menatap ku begitu! Dan bertingkahseperti bayi tidak lucu ya Fan." Bisiknya dengan penuh penekanan. "Malu Fan." Tapi menurut Jofan menggemaskan sekali Sandra saat ini.
"Aku tidak perduli sayang, I Love you Sandra." Sandra senang tapi malu. Wajahnya kesal tapi tidak bisa berhenti merona, Jofan sangat manis. "Awwww...." Mengelus perutnya yang mendapat cubitan.
"Jangan macam-macam makanya." Sandra menarik Jofan duduk di sebelahnya lebih dekat. Sedang ada pertunjukan di depan mereka.
Sandra tidak perduli pada suaminya yang saat ini masih menatapnya tanpa berkedip. Sudah habis tenaga nya meminta Jofan menjadi normal, suaminya sedang tidak waras.
Tangan kekarnya melingkar di pinggang ramping Sandra. Jantung Sandra berdebar tidak karuan. Mencoba terlihat biasa saja karena dirinya masih belum terbiasa dengan sentuhan-sentuhan tangan Jofan yang begitu hangat. Apalagi Jofan melakukannya di tempat umum.
"Aku bisa dengar detak jantung mu Yang." Sandra tidak perduli, Jofan tersenyum gemas melihatnya. "I Love you so much Sandra." Mata mereka bertemu, Sandra ingin sekali membalasnya. Tapi suaminya bisa semakin gila.
"Mau makan tidak? Biar aku pesankan." Mencoba mengalihkan perhatian Jofan yang membuat dirinya yang menjadi gila.
__ADS_1
"Aku tidak lapar, I want you San." Sandra geleng-geleng kepala tidak tahan.
"Aku harus ke toilet." Sandra sungguh ingin menenangkan dirinya sebentar saja. Tingkah Jofan membuat jantungnya bekerja terlalu keras malam ini. Rasanya Sandra harus menenangkannya.
"Aku temani sayang, di sini sangat ramai." Sandra tidak bisa menolak. Jofan mengantarnya sampai di depan pintu toilet. "Biasakan dirimu Love." Sangat tersipu malu, berjalan cepat memasuki toilet. Banyak pasang mata menatap mereka berdua.
Tidak lama Sandra keluar dengan wajah yang lebih segar, sedikit memoles riasannya yang berantakan. Jantungnya sedikit normal namun belum stabil.
"Aku masih ingin jalan-jalan Fan, boleh kah?" Jofan mengeratkan pegangan tangannya. Suara Sandra tidak terdengar karena riuh suara para pengunjung yang begitu ramai.
Fokus nya pada jalanan yang begitu padat membuat Jofan tidak mendengar apa yang Sandra ucapkan. Jofan hanya sibuk menggandeng wanita kesayanganya agar berjalan dengan aman dan nyaman dengan dirinya.
Sandra hafal jalanan yang mereka lewati menuju tempat parkir. Wajah nya yang semula diselimuti bahagia sirna, kesal karen Jofan tidak menuruti kemauannya. Padahal bulan madu, tapi Sandra tetap saja kesal Jofan lebih suka berdiam di hotel. Sandra suka sekali berkeliling.
"Tadi kamu bilang apa Love?" Tanya Jofan yang kini sudah duduk di dalam mobil, Sandra membuang pandangannya ke arah luar masih merasa kesal.
"Enggak, yudah cepat pulang. Aku ngantuk." Bicara tidak menatap Jofan yang masih mematung memperhatikan dari tempatnya duduk. Suaranya berubah, Jofan hafal saat ini Sandra sedang merajuk.
"Sayang, ingin apa? Katakan, maaf aku tidak dengar tadi. Coba ulangi." Sandra yang kesal tidak menjawab. "Benar tidak mau bicara?" Jofan meraih tangan Sandra dan menciumnya.
"Pulang saja." Lirihnya yang tidak mau merusak suasana bulan madu. Tidak mau merusak nya hanya karena keegoisan dirinya. Sandra sedang menahan diri untuk tidak marah.
"Serius Love? Kemana saja aku akan antar, cepat bilang ingin kemana love?" Jofan menyisir rambut Sandra dengan jari-jarinya, lembut.
"Enggak, pulang saja." Mood nya sudah tidak seperti tadi, sedikit malas dan ingin cepat kembali ke hotel. Sandra kini tersenyum tulus, suaminya sudah begitu baik.
"Baiklah, maaf ya love, sungguh aku tadi hanya fokus pada jalanan karena terlalu ramai. Aku tidak mau kamu terluka Yang." Sandra merasa marahnya tidak tepat. Suaminya sedang menjaga dirinya agar tidak terluka.
"Iya Fan, aku mengerti. Aku mau pulang saja." Jofan mengangguk, memeluk Sandra yang dirinya tahu sedang kesal.
Selesai bersih-bersih Sandra berdiri di balkon kamar hotelnya. Pemandangan indah memanjakan sepanjang mata memandang. Tidak menyangka dirinya berada di kota yang begitu indah dan cantik setelah resmi menjadi seorang istri.
Tangan kekar melingkar di pinggangnya. Memeluk hangat merapatkan tubuhnya membuat Sandra bergidik. Dirinya belum terbiasa, Jofan begitu lembut padanya. Sentuhan tangannya saja membuat Sandra mabuk kepayang.
Jofan membubuhkan beberapa ciuman di kepala Sandra, sedang suka sekali mencium Sandra di mana saja. Jofan sedang jatuh cinta pada wanita yang kini resmi menjadi istrinya. Pendamping hidupnya.
"Indah ya Fan, rasanya sejuk sekali." Pandangan mata suaminya tidak berubah arah. Hanya menatap wajahnya. "kenapa sih liatnya begitu banget?" Tanya Sandra penasaran. Padahal sudah tahu jawabannya.
"Kau tau San? Saat ini rasanya aku sedang menjadi laki-laki paling bahagia di muka bumi ini." Sandra berbinar mendengarnya. "Maaf karena meminta mu menjadi pendampingku San, aku tahu tidak pantas aku untuk mu. Tapi akan aku usahakan apapun yang menjadi ingin mu sayang." Sandra memeluk suaminya yang romantis sekali sepanjang malam ini.
"Aku yang beruntung, punya suami yang sabar nya tidak terhingga." Giliran Jofan yang tersipu mendegar ucapan Sandra.
Mereka memang saling mencintai begitu dalam, tidak mudah untuk mereka memutuskan bersama. Waktunya begitu lama mempertimbangkan dan mempertanyakan keyakinan hati mereka.
"Ku mohon bertahan denganku selamanya ya San. Jangan goyah apapun yang terjadi. Aku akan memastikan bahagiamu mulai detik ini San. Jangan ragu bicarakan apapun yang ada di hatimu ya San."
__ADS_1
"Kenapa bawel sekali malam ini Fan. Aku tidak bisa bernafas kalau kau terus bicara manis seperti ini. Aku sudah hampir gila Fan." Berbisik dengan sensual di telinga Jofan.