Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Gerakan Lincah


__ADS_3

Malik menunggu Ayuna kesayangannya yang masih tertidur pulas saat dirinya pulang. Anak-anak memintanya untuk tidak membangunkan Mommy nya karena kelelahan menunggu Daddy sampai tertidur.


Malik pergi menyelesaikan masalah Melan dan Riyan saat Ayuna tidur siang. Saat dirinya pulang kini, istri kesayangannya juga sudah istirahat karena waktu sudah cukup malam. Ayu banyak tidur karena tubuhnya mudah sekali lelah dengan kehamilan besarnya.


Malik dan anak-anak bergantian menemani Ayu agar tidak sendirian. Mereka sepakat tidak membiarkan Mommy nya seorang diri karena bisa saja Mommy nya yang ceroboh melakukan kesalahan. Beruntung anak-anak meluangkan banyak waktu mereka dan mengurangi kegiatan diluar sekolah.


Mereka ekstra hati-hati karena Mommy nya selalu saja tidak mau diam. Meski hamil besar, Ayu tidak mau diam saja. Tubuhnya lebih banyak bergerak karena Ayu ingin mengalihkan fokusnya pada hal lain. Jika diam saja, Ayu merasa tubuhnya semakin mudah lelah dan merasakan sakit di sana sini.


Damai sekali wajah cantiknya yang tenggelam di bawah selimut, hanya menampakkan sedikit wajahnya. Perasaan bersalah menyeruak, semakin hari Malik semakin sibuk dengan banyak hal. Waktunya sedikit sekali menemani Ayuna akhir-akhir ini.


Malik membelai perut buncit Ayu yang menggemaskan. Tangannya merasakan tendangan kecil yang sungguh mendebar kan jantungnya. Aktif sekali Baby malam ini, Malik menganggap nya protes karena dirinya terlalu sibuk.


“Pelan Nak, Mommy nya bobo sayang.” Seolah mengerti, bayi di dalam perut Ayu berhenti bergerak. Dia lincah sekali seperti Mommy nya.


“Kak....” Ayu mengucek matanya.


“Sorry sayang, Daddy ganggu yah.” Malik menidurkan dirinya di sisi Ayu. “Bobo sayang, sudah malam. Maaf seharian ini Daddy sangat sibuk.” Malik mengecupi kening Ayu yang masih enggan membuka matanya.


Mereka saling memeluk, menikmati aroma wangi dari tubuh Ayu yang selalu berhasil memberikan ketenangan.


“Aku sudah baca.” Ada senyum cantik di bibir istri kecil nya. “Melan keren sekali Kak.” Ucapnya lagi yang kini sudah membuka matanya.


“Kau senang?” Ayu mengangguk. “Mereka berdua sudah berkomitmen. Aku sudah minta Aldo selesaikan semua nya.” Ayu tahu yang Malik maksud adalah pekerjaan Melan yang pasti tidak akan mudah dengan berita menggemparkan ini.


“Apa akan ada kerugian?” Malik mengeratkan pelukkannya.


“Tidak ada. Aku melihat mereka bahagia, tidak ada ruginya sayang. Sudah cukup jika kalian semua bahagia dan merasa nyaman.” Ayu membalas pelukkan hangat suaminya.


Mereka diam di posisi yang sama cukup lama. Malik menikmati waktunya yang sudah banyak tersita hari ini.


“Kak Malik baca pesan ku tidak?” Malik merogoh ponselnya. Batre nya habis. “Mati yah?” Ada semburat kecewa.


Malik buru-buru turun dari kasur mencari charger ponselnya. Ketemu dan dengan buru-buru menyambungkanya ke listrik. Setelah satu menit berlalu, akhirnya ponselnya bisa kembali di aktifkan.


“Kirim pesan apa sayang?” Ayu menggeleng. Pesannya sudah di tarik kembali alias di hapus. Malik melemparkan ponselnya di atas sofa. “Minta apa sayang ku, cintaku.”


“Besok saja, sekarang sudah tengah malam.” Ayu menarik selimutnya. Malik mengusak rambutnya kesal.


Lagi-lagi dirinya tidak menepati janjinya untuk selalu memperhatikan batre ponselnya. Ayu ingin bisa selalu mematikan keadaan suaminya dengan baik, peringatan nya sudah berkali-kali dan dirinya berkali-kali pula melanggar nya.


“Akan Daddy cari kalau masih bisa sayang, katakan, Baby mau apa? Atau Mommy nya yang ingin sesuatu?” Ayu malah menarik lebih dalam selimutnya.


“Sini bobo Dad, aku tidak minta apapun. Aku ingin di peluk Dad.” Malik dengan senang hati memenuhi permintaan kesayangannya.


"Benarkah permintaanya ingin di peluk?" Ayu mengangguk, padahal dirinya ingin sesuatu yang akan membuat Malik pusing.


Tidak lama Malik terlelap, sedikit dengkuran halus menandakan suaminya sangat kelelahan menjalani hari nya. Ayu mengecup kening Malik, matanya sulit terpejam dan perutnya sedikit lapar.


Ayu menuruni tangga dengan hati-hati, masih ada suara tawa kedua Putra nya yang masih terjaga. Mereka suka bergadang jika weekend.

__ADS_1


“Mom....” Ranu lari ke arah tangga. Meraih tangan Mommy nya dan menuntunya. Ayu seperti wanita jompo. “Kenapa turun lagi? Nanti kaki nya semakin bengkak Mom.”


Siang tadi Ranu dan Mahes bergantian mengompres kaki Mommy nya yang sedikit bengkak. Kehamilan besar nya yang membuat kaki Ayu tiba-tiba bengkak. Sepertinya terlalu banyak bergerak dirinya hari ini.


“Sudah sedikit membaik Bang. Kalian kenapa belum tidur? Pasti jawabannya karena besok libur.” Keduanya tertawa. “Mommy mau buat pancake ada yang mau kah?”


“Mau......” Keduanya berseru dengan serempak.


“Siap bos. Mommy buatkan yah.” Ayu mengaduk adonan dengan penuh semangat. Baby di perutnya seolah sedang bermain, bergerak lincah sekali membuat Ayu sesekali memegangi perutnya yang keras.


“Mommy ok?” Tanya Mahes yang matanya mengawasi.


“Baby nya gerak-gerak Kak. Perut Mommy sampai keras.” Jawabya dengan senyum bahagia.


“Sakit kah Mom?” Tanya Mahes semakin serius. “Mom....” Melihat Ayu meringis langkah lari nya semakin cepat. Ranu hanya memperhatikan dari tempat nya duduk, tidak mau menambah kegaduhan.


“Coba pegang. Abang saja kapok tidak mau pegang lagi.” Dengan takut-taku Mahesa mengulurkan tangannya. Membelai lembut sekali dengan jantungnya berdebar cukup cepat.


“Aww....” Mahes membelainya lebih lembut. “Tidak sakit Mom?” Ayu menggeleng. Jika dirinya mengaku sedikit sakit, anak-anaknya akan heboh.


"Dia lincah sekali sayang. Mau main ya Nak?"


“Baby.....Hey....sayang, jangan terlalu keras tendang-tendang perut Mommy Dek, kasihan Mommy nya sayang. Tenang ya Baby, Pelan sayang.” Mahes membelai dengan memutarkan tangannya. “Anak baik, anteng ya sayang.” Seperti hipnotis. Sentuhan Mahesa mampu meredam gerakan Baby menjadi lebih lembut.


“Adek nya Kak Mahes ini mah, sama Abang dia malah semakin keras Kak.” Mahes tersenyum kesenangan. Ranu juga ikut tersenyum.


“Abang nanti belajar.” Mahes mengacungkan jempolnya.



“Kita sudah SMA Mom.” Ada tawa di sudut bibir Ranu.


“Kakak suka, ini yang membedakan dengan pancake lain. Mommy punya Kakak paling suka.” Ayuna tersipu malu.


“Tenang Bang, kalau di luar Mommy akan buat yang normal.” Ranu tidak lagi protses. Kakak nya sangat protektif, Mommy nya tidak boleh di cela atau di komplain sedikitpun. Semua nya sempurna di mata Kakak Mahesa.


Bel rumah berbunyi di tengah malam. Karena anak-anak ingat pesan Daddy nya tidak membukakan pintu untuk sembarang orang, mereka akhirnya membangunkan Malik untuk memastikan siapa yang datang.



Malik turun denga wajah sayunya


“Malam-malam begini kok kalian makan bukannya istirahat. Ya Tuhan Love.” Hanya di jawab senyuman di bibir Ayuna. Mulutnya sedang sibuk mengunyah makanan.


“Cepat cek Dad. Siapa yang datang malam-malam.” Malik segera membuka pintu.


Matanya terkejut melihat Sandra berderai air mata berdiri di depan pintu apartemen nya. “Kenapa tidak langsung masuk San.” Malik menuntun Sandra masuk.


“Jofan jahat. Aku tidak mau pu..lang..” Ucapnya tersenggal-senggal. Mendengar nama Sandra, Ayu segera mendekat. Ayu memeluk Sandra yang menangis begitu sedih.

__ADS_1


“Mas ku ngapain kamu San? Kok sampe sedih begini. Tenang ya sayang....” Ayu membelainya lembut.


“Aku tidak mau pulang titik.” Ranu dan Mahes saling menatap.


Sandra memang agak lain satu minggu ini mereka perhatikan, mudah sekali marah dan tersinggung. Ranu saja sampai tidak berani banyak bicara seperti baisanya karena Aunty nya sedang sangat sensitif.


“Mau tidur dengan Abang?” Tawar Ranu takut-taku, Sandra mengangguk. “Ayo Abang antar ke kamar.” Ranu membawa Sandra masuk ke dalam kamarnya. Di kamar Ranu memang ada dua ranjang yang biasa dirinya gunakan dengan Mahesa.


Sandra paling suka jika Ranu ada di sisinya saat hari-hari nya buruk. Ranu paling bisa memberikan Aunty nya sandaran yang cukup nyaman.


“Tante Melan sedikit aneh Mom. Kemarin saja marah karena Kakak mengigit roti pangganya.” Ayu tertawa. Sahabatnya yang satu itu memang sedikit unik.


“Tante nya sedang tidak enak hati mungkin Kak.” Mahes mengangguk membenarkan, Om Jofan juga bicara demikian.


Malik : Mencari Istri mu tidak?


Jofan : Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban. Kemana dia Kak? Tolong.....!!!!”


Malik : Ada di sini. Cepat kemari.


Dengan langkah secepat kilat Jofan meraih kunci motornya. Mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata karena jalanan di tengah malam cukup sepi.



Tidak lama karena jarak tempat tinggalnya memang tidak jauh dari apartemen Malik, Jofan sudah sampai. Menenteng helm nya dengan langkah terburu-buru. Jofan takut setengah mati saat tidak mendapati Sandra di kamarnya. Padahal dirinya hanya ke toilet sebentar dan Sandra sudah hilang secepat kilat.


“Dimana Sandra nya Kak?” Tanya Jofan di sambut Malik yang berdiri di depan pintu masuk.


“Ada apa? Kenapa sampai kabur?” Jofan mengedikkan bahunya, dirinya juga bingung dengan apa yang sudah dirinya lakukan sampai membuat Sandra begitu marah.


“Salah apa aku ini. Dimana sekarang Sandra nya Kak?” Malik menggelengkan kepalanya heran.


Jofan lupa menyembunyikan helm nya. Ayu paling tidak suka melihat Jofan mengendarai motor terlebih di tengah malam, bahaya. Mas nya pernah jatuh dan sampai di rawat di rumah sakit selama tiga pekan akibat luka yang cukup serius di bahunya.


“Sorry Love, Mas mu buru-buru tadi.” Ayu hanya mengangguk. Kesal hatinya.


“Mampus kau Fan. Mereka semua marah.” Malik senang sekali Jofan sedang di rundung duka. Sekali-sekali Malik suka melihat Jofan kesusahan. Hiburan.


Jofan mendekati Ayu yang duduk bersandar pada Mahesa yang juga menatap nya tajam. Memeluknya dengan hangat menyadari kesalahannya.


“Setelah ini aku akan jual semua motor ku. Aku janji.” Ayu tidak mau menatapya. “Aku janji sayang.” Ayu mengulurkan jari kelingkingnya. “Jangan marah.” Ayu tersenyum, berhasil juga membuat Mas nya jera dengan motornya.


Jofan mengecup kening Ayuna sebelum masuk ke kamar Ranu. Membuka pintu kamar perlahan dan mendapati istrinya sudah tertidur pulas bersandar di bahu Ranu.


“Thank’s Abang.” Jofan menggendong Sandra untuk tidur dengan benar di kasur. Tubuhnya bisa sakit jika semalaman di biarkan tidur di atas sofa.


"Abang di ruang tengah kalau Aunty kecarian ya Om." Jofan mengangguk.


Kini fokusnya tertuju pada wanita kesayangan yang akhir-akhir ini membuatnya pusing. Jofan tidak bisa bicara sembarangan seperti biasanya, dia mudah sekali tersinggung.

__ADS_1


Jofan memeluknya dengan hangat. Sandra sudah menjadi tujuan akhir hidupnya. Tidak ada yang lain, Jofan mau seperti itu sampai selesai kisahnya. Hanya Sandra orangnya.


__ADS_2