Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Menyesal


__ADS_3

Rey : Aku ingin membawa anak-anak termasuk Hanum istirahat di villa kita di Bogor. Kalian ijinkan?


Adam : Kalau anak-anak nya mau aku tidak keberatan, mereka pasti senang.


Jofan : Apa Adik ku tidak keberatan? Kalau tidak silahkan saja. Tapi tidak jika adik ku tidak memberikan ijin.


Rey : Aku butuh mereka membujuk Anna agar bisa menerima Hanum. Anna masih penuh keraguan.


Malik : Bawalah, bilang kalo anak-anak ingin liburan.


Adam : Kau sudah enakan Al?


Malik : Sudah, istriku sedang mondar mandir seperti setrika.


Jofan : Dia tidak boleh banyak bergerak, peluk Kak. Jangan biarkan dia melangkah kan kakinya lagi.


Rey : Kalian juga butuh waktu berdua Al, sepertinya tepat sekali membawa anak-anak liburan.


Adam : Benar yang Rey bilang, kau harus tuntaskan semua rasa sesak di hati Ayuna. Jangan tinggalkan barang sejengkal.


Jofan : kata-kata yang bijaksan sekali Dokter Adam.


Malik : kalau begitu pergilah, aku akan bicara pada Ayuna. Aku juga sudah sangat lama tidak punya waktu berdua dengannya. Anak-anak selalu nempel.


Rey : Good, adik ku butuh kepercayaan nya kembali. Aku percaya padamu Al.


Jofan : Kau harus ingat Kak, dia separuh nafasku. Aku sudah sepenuhnya percaya Kak Malik bahagia Ayuna ku.


Malik : Kalian tidak akan menyesal percaya padaku.


Adam : Aku juga percaya padamu Al.


Malik : Riyan, apa kau tidak ingin mengucapkan apapun pada Kakak mu ini.


Riyan: Terimakasih Kak.


Malik menyindir Riyan yang selalu setia menyimak, adiknya ini tidak banyak menuntut. Jangankan menuntut, protes atas sikapnya saja tidak pernah. Lembut sekali hatinya seperti Ayuna.


Malik menyunggingkan senyumnya. Riyan memang laki-laki yang sangat lembut, sifatnya tidak begitu jauh dari istrinya. Dia bahkan tidak banyak bicara, Riyan jarang sekali mengutarakan isi hatinya. Malik menilai jika Melan memang cocok untuk Riyan. Mereka akan saling mengisi dengan keunikan sifatnya.


"Daddy, coba lihat Abang. Sepetinya Abang kurang sehat." Malik turun dari ranjangnya. Terkejut sekali karena dirinya tidak menyadari jika Ranu tidak sehat. Pantas istrinya gelisah.


"Kelihatan baik kok Mom." Malik merasa Ranu baik-baik saja tadi. Tapi kakinya tetap melangkah menuruti permintaan Ayuna.

__ADS_1


"No, aku tahu sekali anakku sedang menahan sakit. Cepat lihat Dad, kasih obat Dad." Malik yang sudah melangkah berbalik. Menatap Ayuna. Memeluk erat sekali karena hati istrinya begitu besar. Dia selalu menerima.


“Maaf Mom, tentang ini juga.” Malik bersalah mengikuti kemauan anaknya yang tidak ingin Mommy nya khawatir.


“It’s ok, aku mencoba mengerti inginnya kalian semua.” Tersenyum meski menerima tidak semudah mengucapkan.


“Kamu terbaik Mom. Aku sangat bodoh bertindak begitu gegabah Mom. Maafkan aku ya Mom, aku akan mencoba terbuka.” Malik menatap mata kesayanganya yang sedang menahan air matanya.


"Aku kan sudah tahu lukanya juga Dad, jadi jangan di bahas lagi yah, dan anggap saja aku tidak tahu seperti maunya Abang. Abang sepetinya takut aku khawatir, sama seperti kalian semua." Malik merengkuh Ayuna dalam dekapannya. Erat sekali, menyesal kenapa semua harus Ayuna tahu dengan cara yang menyakitkan. Pantas kalau dia kecewanya sebesar ini.


"Sorry Mom, Daddy sungguh menyesali semua yang Daddy anggap terbaik Mom. Daddy salah besar."


"Tidak apa Dad, aku tahu kalian hanya ingin menjaga ku. Sekarang cepat periksa anaknya. Minta Abang minum obatnya." Malik segera masuk ke kamar Ranu setelah keluar dari kamarnya.


“Abang....” Malik menempelkan tangannya di kening Ranu yang sedang terbaring di kasurnya. Dirinya juga masih sedikit demam, jadi samar. Malik tidak tahu pasti suhu tubuh Ranu demam atau tidak.


Mencoba mencari termometer yang biasanya ada di laci nakas. Malik tidak menemukannya, Malik lari ke dalam kamarnya mencari keberadaan termometer. Ada di atas nakas bekas dirinya.


Ayu yang melihat suaminya lari pontang panting tersenyum, dirinya juga belum lama melakukannya. Mereka mirip dalam berbagai hal.


"Pelan Dad, nanti anaknya ikut panik." Ayu menyeka keringat di kening Malik. Senyum terukir di wajah Malik yang sedang panik.


"Ok Mom." Malik mengecup pipi Ayu sebelum kembali ke kamar Ranu.


Ranu menyerahkan termometer setelah berbunyi. Malik sedikit lega, anaknya terlihat sayu sekali matanya. Jelas sekali dia sedang sakit, bagaimana mungkin dirinya tidak menyadarinya. Apa jadinya jika tidak ada Ayuna dalam hidupnya, semua pasti berantakan.


“Abang, minum obat Nak.” Malik menuangkan air yang ada di atas nakas ke dalam gelas untuk memudahkan Putranya minum.


“Aku sudah minum tadi Dad, aku siang tadi melupakan obatku.” Ranu menyesal karena akibatnya tubuhnya demam.


"Mommy nya khawatir Nak, tidak terlalu tinggi panasnya, tapi tetap saja Abang Demam." Ranu menyandarkan tubuhnya. Sudah lama tidak melihat Daddy nya sekhawatir ini pada dirinya. Ranu juga menolak di perhatikan berlebihan, kecuali Mommy dan wanita kesayangan yang lainnya.


“Mommy dimana? Jangan sampai Mommy tahu ya Dad.” Malik mendekatkan duduknya. Meraih tangan Ranu yang ada di bawah selimut.


“Abang.....sebenarnya Mommy sudah tahu kalau Abang terluka.” Mata Ranu membola, terkejut sekali. Mommy nya bahkan tidak bicara apapun padanya.


“Serius Dad. Mommy tahu aku operasi dad? Bagaimana Mommy bisa tahu Dad?” Tangannya terkepal, Putra nya ketakutan menyakiti perasaan wanita kesayanganya.


“Daddy juga setakut itu jika menyakiti Mommy mu. Ada yang lebih menyakitkan Bang, Mommy merasa kita tidak nyaman dengannya.” Ranu menggeleng, mana mungkin.


“Abang harus bicara pada Mommy. Abang akan katakan kenapa Abang tidak ceritakan luka Abang.” Malik menahan Putranya.


“Abang...hey...lihat Dadddy.” Ranu menghela nafas beratnya. “Daddy juga menyesal, kita melakukan kesalahan yang sama dengan alasan untuk nyamannya Mommy. Padahal Mommy terluka.”

__ADS_1


“Abang menyesal. Sungguh tidak akan Abang ulangi lagi kesalahan bodoh ini.” Ranu meremas tanganya sendiri cukup kuat. Matanya merah menahan tangis. Malik kembali menahan tubuh Ranu yang berusaha lepas dari kungkungannya.


“Dengarkan Daddy dulu.” Ranu sudah berkaca-kaca, tidak kuat menahan sesak di dadanya. “Ini alasan kenapa Mommy melepaskan marahnya kemarin. Semua yang terjadi pada kita sudah Mommy tahu, Mommy kecewa dengan sikap kita Nak.” Ranu memeluk Daddy erat, tubuhnya butuh penopang.


“Abang menyakitinya Dad, Abang menyesal.” Malik mendekap erat Putranya yang hari ini sama seperti dirinya, menyesal.


“Kita melakukan kesalahan yang fatal, Mommy ingin kita selalu pulang padanya saat terluka. Tidak hanya dalam keadaan senang kita Nak. Mau Mommy, dilibatkan dalam segala situasi yang kita hadapi.” Mereka saling menatap, itu artinya mereka akan lebih sering melihat Mommy nya terluka.


“Apa bisa, aku tidak sanggup menyakitinya Dad.” Tangisnya pecah sekali lagi, Ranu benar-benar merutuki kegagalannya menjaga bahagia Mommy nya.


Tangis Ranu sudah reda setelah cukup lama dan membuat kemeja Daddy nya sedikit basah, Ayu tidak menghampiri mereka meski mendengar tangisan Ranu dari dalam kamar, memendam rasa penasarannya takut anaknya tidak nyaman. Takut Ranu semakin jauh darinya.


“Sudah bisa bicara baik-baik dengan Mommy? Kita harus terlihat baik-baik saja sayang.” Ranu mengangguk menyiapkan dirinya yang ingin sekali memeluk Mommy nya erat-erat dan menyampaikan rasa bersalahnya.



Ayuna menghampiri keduanya yang kini duduk di ruang tamu. Senyum nya seakan menusuk membuat Ranu menundukkan kepalanya enggan menatap mata kesayangganya yang selalu memancarkan cintanya.



“Coba Bang, Mommy baru saja buat pagi tadi.” Ayuna menyodorkan roti buatannya tanpa tau perasaan Putra nya sedang berkecamuk hebat di dalam dadanya.


Ranu yang menunduk mengangkat kepalanya. Ranu menarik tubuh Mommy nya, memelunya erat. Ranu kembali menangis, tidak bisa lagi diam saja saat tahu dirinya melakukan kesalahan yang begitu besar.


Suaminya tersenyum, Ayu masih belum paham tapi mencoba membiarkan Ranu menangis di pelukkannya. Kasihan sekali, tangisnya begitu pilu membuatnya sesenggukan.


“Sorry Mom.” Kata yang Putra nya ucapkan setelah tagisnya reda.


“Untuk apa?” Ayu hanya menatapnya penuh rasa penasaran, sungguh dirinya tidak paham kenapa? Apa yang mereka bicarakan sampai begitu besar kesedihannya.


“Sorry Abang tidak bicara jujur tentang diri Abang. Sorry buat Mommy kecewa, Sorry buat Mommy merasa tidak nyaman dan sedih karena sikap Abang.” Ayu menangkup wajah Putranya yang basah air mata, menyekanya dengan lembut.


“Kenapa kalian sangat mirip sih.” Ayu mengecup pipi Putra nya. “Semua sudah berlalu, Mommy tahu kalian hanya ingin jaga Mommy agar tetap bahagia. Bukan salah kalian, Mommy yang harusnya berterimaksih karena cinta kalian yang begitu besar.”


“Sudah seharusnya Mom, akan Daddy berikan seisi dunia ini jika Mommy mau.” Ayu merona mendengarnya.


“Cukup kalian ada di sisi Mommy saja. Mommy tidak butuh isi dunia ini Dad.” Ranu memeluk kesayanganya.


“Terimaksih Tuhan, sudah hadirkan Ranu dari wanita sebaik Mommy. Aku sangat bersyukur.”


“Ada apa ini? Kenapa kalian semua terlihat sedih? Mommy ok?” Mahesa berjongkok di kaki Momy nya penuh selidik. Menempelkan punggung tangannya di kening Ayuna. “Mommy sakit? Hmmmmm?”


Ayu menarik tangan Mahes menempelkanya pada kening Ranu dan Malik bergantian. Mahes menyipitkan matanya, kening keduanya sama-sama panas. Mahesa menatap Mommy nya yang tersenyum merasa lucu.

__ADS_1


“Mereka yang demam Kak. Kompak sekali kan, bahkan Hanum dan Mas Jofan juga sakit. Kalian ini sakitnya kompak sekali.” Mahesa lega melihat Mommy nya baik-baik saja.


__ADS_2