Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Ada Apa Sebenarnya


__ADS_3

Malik sedang duduk di depan Anna yang masuk ke ruangannya setelah dirinya selesai makan siang bersama. Ayu masih bersama Iin di ruang tengah, menghabiskan waktu bersama dengan santai sambil menikmati secangkir teh hangat buatan Anna.


Aldo bicara menjelaskan isi laporan dengan canggung, melihat Anna yang duduk memperhatikan mereka dari tempatnya membuat Aldo merasa kikuk.


Malik menarik ujung jas Aldo agar tetap fokus dan tidak memperdulikan Anna yang menatap mereka berdua dengan tajam. Tangannya bersedekap dan matanya penuh tanda tanya. Malik sampai menelan salivan nya merasa terintimidasi.


Wanita kalau sudah ada maunya akan di kejar sampai dapat, begitulah yang saat ini sedang Anna lakukan karena perasaan dengan apa yang terjadi di antara sahabatnya dengan Malik dan Adam.


Setelah cukup lama akhirnya Malik tidak tahan, kepalanya pening menahan diri untuk tidak menanyakan kemauan wanita yang selalu dirinya jaga dengan baik meski tanpa sepengetahuannya.


“Apa sayang? Mau tanya apa? Jangan begitu lihatnya. Lihat Aldo sampai keringat dingin ketakutan.” Ledek Malik, padahal dirinya juga merasakan hal yang sama.


"Jangan hiraukan, lanjutkan saja." Malik menghela nafasnya frustasi.


"Aku dan Aldo masih banyak pekerjaan cantik. Katakan saja apa mau mu An?" Anna menggeleng, menyandarkan kepalanya di sofa seolah dirinya nyaman di sana.


“Nanti saja, tunggu pekerjaan mu dengan Aldo selesai.” Entengnya membuat Aldo menutup lembaran map dan melangkah menjauh dari meja Malik.


“Saya sudah selesai Kak, silahkan di lanjutkan.” Malik mengepalkan tangannya kesal.


Bisa-bisanya Aldo membiarkan dirinya kesulitan sendirian. Menyesal bertanya pada Anna yang memberikan kesempatan pada Aldo untuk kabur dari situasi menegangkan.


Malik tersenyum manis, dirinya pasrah dengan apa yang akan Anna lakukan. Anna wanita yang bijaksana, dia akan punya pandangan sendiri tentang masalah yang saat ini mereka hadapi.


Malik saja masih kabur, tidak jelas tentang ada hubungan apa dengan Alana dari masa lalu sampai Adam begitu terpuruk.


“Mau cerita dari mana sayang? Jangan memaksakan diri, aku saja belum sepenuhnya ingat siapa Alana.” Malik duduk di depan Anna.


“Yang Kak Malik ingat saja." Tapi Anna terlihat ketakutan. Sepertinya ada yang dirinya cemaskan dengan kebenaran soal siapa Alana sebenarnya.


"Apa kau nyaman dengan Alana?" Anna mengangguk, kini mata cantik nya berkaca-kaca.


"Dia satu-satunya sahabat yang aku miliki. Sudah lama sekali dia hilang dan baru sekarang dia memutuskan untuk kembali. Aku takut kehilangan Alana. Aku bisa berbagi apapun dengannya.” Malik mendekatkan duduknya.

__ADS_1


Rupanya mereka berdua benar-benar sahabat, Anna tidak bisa dengan mudah dekat dengan sembarang orang.


“Bagaimana kalian bisa bertemu An?” Anna mendunduk. Ada kesedihan di wajahnya. “Jangan katakan apapun yang menyakiti hatimu.” Malik mengusap punggung tangan Alana dengan lembut.


"Aku dan Alana dulu sekali pernah bertemu di sekolah yang sama. Aku dan Alana dekat karena kami sama-sama tidak punya orang tua seperti yang lain." Ada tarikan nafas yang cukup panjang.


"Minum dulu sayang." Anna menolak air yang Malik sodorkan.


"Tiba-tiba tidak lama dia menghilang. Aku tidak tahu ada masalah apa. Tapi itu terjadi sebelum kelulusan sekolah." Malik masih menyimak.


"Pelan-pelan sayang." Anna sedikit tersenyum. Air matanya masih menetes tidak mau berhenti sepanjang dirinya bercerita.


"Dia kembali muncul setelah aku coba mengundang nya ke pernikahan ku tapi hanya kado nya yang muncul. Tapi aku lega, itu tanda nya Alana masih hidup." Malik sedikit penasaran.


"Apa setelah itu kalian berhubungan baik?" Anna menggeleng kan kepalanya.


"Aku butuh waktu bertahun-tahun meyakinkan dirinya agar berdamai dengan masa lalu nya. Baru beberapa tahun belakangan ini kami sering komunikasi dan menjalin persahabatan kami yang semakin baik." Anna terlihat senang sekali membicarakan hubungan baik mereka.


"Aku akan selesaikan benang kausut nya."


Dia sungguh-sungguh dengan perasannya. Malik tidak tahu harus bicara apa saat ini. Sungguh dirinya tidak ingat betul siapa Alana, kenapa dia begitu menyakiti Adam tapi begitu berarti untuk Anna. Harus bagaimana dirinya bersikap saat ini.


“Tidak ada yang salah sayang, tenang kan dirimu. Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Malik mengangkat dagu Anna agar mau menatap dirinya. “Berjanjilah untuk tidak terlalu dekat selagi aku mencari tahu kebenaran siapa dirinya.” Anna mengangguk, dia menganal baik Alana dan sekarang berantakan.


Jika Malik dan yang lain menemukan keburukan Alana, tentu saja dirinya tidak akan di ijinkan untuk dekat dengannya. Alana akan terhapus dari daftar nama sahabat yang dirinya miliki seperti yang sudah-sudah.


“Mau istirahat dulu? Kak Malik antarkan ke kamar mu love.” Anna menggeleng. Masih sesak dadanya, isi kepalanya hanya tentang Alana dan kemalangan hidupnya.


“Aku ke restoran saja. Sepertinya kak Rey sudah menunggu ku.” Malik menggandeng tangan Anna keluar dari ruangannya.


Ternyata suasana rumah sudah ramai. Anak-anak sudah pulang dan sedang menemani Mommy nya di ruang keluarga. Sudah tidak ada Iin di sana, sepertinya sudah pulang karena Karang juga membatalkan perjalanan bisnisnya.


Ranu yang girang segera berlari ke arah Anna yang baru saja keluar dari ruangan Daddy nya. Wajah hangat nya berubah melihat mata Mamah kesayangannya sembab.

__ADS_1



“Mah....Mamah menangis?” Anna menggeleng dengan canggung. Peka sekali Ranu ini, dia menyadari wajah sembab Mommy nya yang tidak biasa.


"Mamah ok Nak." Tapi suaranya gemetar.


“Everything ok Dad? Kenapa cantik ku menangis?” Bertubi-tubi pertanyaan Ranu seolah tidak terima ada kesedihan di hati wanita yang sangat dirinya sayangi.


Wajah Anna sedikit berekspresi canggung, meski di tutupi dengn senyuman yang begitu tulus. Anak-anaknya bisa merasakan jika saat ini ada kesedihan di hati Mamah mereka. Anna hanya memeluk Ranu, dada nya masih sangat sesak untuk bicara sekarang.


Mahesa yang memperhatikan dari tempatnya duduk menggenggam tangan Mommy nya yang juga terlihat begitu sedih melihat keadaan Anna saat ini. Tentu saja wajah pura-pura baik-baik saja mereka selalu terulas meski keadaan hati nya berbanding terbalik.


Ada anak-anak mereka yang seharusnya hari mereka detik demi detik nya di ukir dengan kenangan penuh kebahagiaan.


“Mommy ok?” Bisik Mahes yang tidak ingin membuat keadaan bertambah buruk. Ayu mengangguk. Mahes mencium pipi Mommy nya, bibirnya mengulas senyum yang begitu menenangkan. “I love you Mommy.”


Anna masih memeluk Ranu yang akhirnya membuat dirinya tidak bisa menahan tangisnya. Anna di peluk erat Ranu kecil nya yang sekarang sudah sedewasa ini, bisa menjaga Mamah nya yang sedang tidak baik hari nya.


“Mau istirahat di kamar Abang?” Anna menganguk. Malik tersenyum melihat Putra nya yang begitu manis. “Ayo.” Malik mengangguk memberikan ijin untuk Ranu membawa Anna ke kamar nya.


Anna juga tidak mau menampakkan kesedihanya di depan Rey, dirinya memilih tinggal lebih lama untuk menenangkan diri. Anak-anak obat paling mujarab untuk segera pulih.


“Apa semua baik-baik saja Daddy?” Tanya Mahes yang sebenarnya juga ingin Ayu tanya kan tapi mengganjal di tenggorokannya. Tidak bisa keluar, suaminya sudah terlihat begitu pusing. “Daddy ok?”


“Kenapa kalian cepat sekali besar sih Kak?” Malik menjatuhkan dirinya di sisi Mahes dan bergelayut manja. “Daddy kok merasa tua ya Kak?” Mahes tertawa.


Tumben sekali orang tua yang suka sekali bawel bertingkah seperti anak kecil. Dari sini Mahes cukup tahu jika masalah yang sedang mereka hadapi cukup rumit.



Mahes mendorong tubuh Daddy nya dan kini dirinya yang bersandar pada Malik. “Aku masih bayi Daddy.” Mahes memeluk erat tangan Daddy kesayangannya.


“Bayi Daddy yang sudah besar.....tidak terasa kalian sudah sebesar ini ya. Daddy harus apa supaya kalian jangan cepat besar ya Nak?” Mulai bicara tidak jelas.

__ADS_1


Ayu masih tersenyum memperhatikan keduanya meski hatinya benar-benar tidak tenang memikirkan keadaan Anna.


Malik menegakkan duduknya. Merengkuh tubuh kecil istrinya yang duduk tidak juah dari tempatnya. Ya....Malik duduk menyempil di antara Ayu dan Mahesa. Seperti yang suka anak-anaknya lakukan.


__ADS_2