Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Kekuatan Tuhan


__ADS_3

Adam lega sekali, hasil pemeriksaan yang dirinya baca melegakan. Hanum tidak dalam kondisi mengkhawatirkan. Hanya cukup istirahat dengan baik agar tubuhnya lekas pulih dari sakitnya. Adam beberapa kali memeluk kertas yang dirinya sedang pandangi penuh rasa haru.


Tidak mudah apa yang Hanum lewati, tubuh kecilnya babak belur di hantam oleh tangan-tangan manusia tidak berperikemanusiaan. Beruntung Hanum bertahan dengan kuat, bagaimana nasib Putra nya jika tahu wanita yang mengisi hatinya saat ini kesakitan. Adam saja tidak akan kuat menanggungnya.


"Tidak perlu khawatir. Hanum sehat, hasil tes urine dan HIV nya juga bagus." Malik dan Adam saling melempar senyum.


Mereka melakukan hal yang tepat, Hanum bukan gadis nakal seperti yang mereka takutkan. Dia gadis baik yang kasihan sekali harus berhubungan dengan orang jahat seperti Baskoro. Malik yakin, langkahnya menyelamatkan Hanum tidaklah salah.


"Sarah memberikan nomor ini padaku." Malik menyodorkan kertas usang. Adam meraihnya, mengernyitkan dahi tidak begitu familiar dengan nomor yang Malik berikan.


"Sudah kau hubungi?" Malik mengangguk, dia mengetik nama yang membuat Adam tercengang. "Really!"


"Nomor nya masih sama, aku tidak mungkin berurusan dengan dia Dam. Bagaiman Ayuna memandang masalah ini. Aku akan di anggap apa oleh semua orang." Malik mendengus kesal.


"Aku juga sama, tapi apa mereka akan baik-baik saja kalau kita tidak menolong Hanum. Mahesa menyukainya, dan aku rasa dia gadis yang baik. Niki juga sebenarnya tidak punya masalah dengan kita, dia hanya kenangan kita di masa lalu." Malik mengangguk setuju.


Memang mereka dulu hanya iseng, dan sepertinya putri Niki akan bisa diterima meski mereka akan memandang sinis pada Malik.


"Apa tidak sebaiknya kita cari tahu dulu apa yang terjadi?" Adam ingin mencoba mencari tahu kenapa Hanum bisa ada di tangan Baskoro.


"Sudah.....dia sakit Kanker dan hanya tinggal menunggu beberapa bulan berdasarkan diagnosa dokter yang merawatnya." Menghembuskan nafasnya kasar. "Dia tidak punya banyak waktu Dam." Malik sungguh hanya ingin menolong Hanum, tidak punya niat dan tujuan lain sealin menyelamatkan bahagia Putranya.


"Al.....kalau begitu Hanum akan sendiri. Apa mungkin ini alasan Nikita melakukan semua ini?" Malik menatapnya membenarkan. "Tapi langkah Niki malah menempatkan Hanum dalam bahaya." Keduanya merasa bingung harus bagaimana.


"Apa ini yang suka Ayu bilang kekuatan Tuhan, bagiamana mungkin dia berakhir di tangan kita." Malik menyeringai, tidak habis pikir.


Padahal jauh sekali Hanum tinggal bersama Baskoro di lingkungan yang dirinya pasti tidak akan pernah datangi jika bukan karena terpaksa, bagaimana gadis ini saat ini ada di tangan Malik yang dengan tulus ingin menyelamatkannya.


Adam sibuk menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Dia juga merasa heran tapi semua terjadi seolah menuntun mereka untuk memiliki Hanum. Untuk merawat Hanum yang mungkin akan sebatang kara jika Nikita benar-benar pergi.

__ADS_1


Dahulu mereka memang saling mengenal dengan persahabatan yang baik. Tidak punya masalah satu sama lain dan saling mendukung. Nikita gadis yang cukup baik. Cantik dan jadi primadona yang di gandrungi banyak laki-laki tampan di masanya.


Hanya saja Nikita datang lagi pada Malik saat dirinya sudah menikah dengan Ayuna, saat hatinya sudah seutuhnya Malik serahkan pada Ayuna dan tidak lagi memiliki ruang untuk wanita lain. Ketidaktahuan Nikita menyebabkan semua orang tidak suka padanya. Padahal bukan salah Nikita, Malik yang tidak memutuskan hubungan main-main mereka yang Nikita anggap serius.


Dahulu Malik dan Adam masih muda dan main-main dengan perasaan Nikita. Malik tidak sepenuhnya suka dengan Niki, dia hanya kagum tapi tidak memiliki perasaan spesial untuk Nikita di hatinya. Malik menyesali kenakalannya dulu.


"Jadi saat dia datang Nikita sudah hamil." Malik mengganggukan kepalanya, tersenyum kecut. "Ya Tuhan, dan kita menghakiminya karena kita semua takut Nikita merebut mu dari Ayuna." Adam memegangi dadanya yang tidak habis pikir.


“Niki tidak seperti itu Dam, kau tahu dia gadis baik sejak dulu. Dia mungkin hanya kebingungan saat tahu dirinya hamil.”


“Maksud mu bagaimana Al.” Adam memijat pelipisnya yang mulai sedikit pusing menebak apa yang terjadi pada Nikita.


"Hanum ada karena kesalahan, Nikita diperkosa Dam." Mata Adam membelalak, ucapan Malik seolah merobek kepalanya dan membuat dirinya sejenak tidak bisa berpikir dengan waras. Apa yang sebenarnya Malik ucapkan. Adam membeku.


"WHAT.....!!!!!!" Malik terkejut dengan ucapan Adam yang tiba-tiba setelah beberapa detik membeku. Adam kembali terhenyak. Bagaimana Nikita melalui semua ini. Adam menelan salivannya yang memenuhi kerongkongan.


"Dia sepertinya datang pada kita saat itu untuk meminta perlindungan. Baskoro mengejarnya, tapi hanya untuk uang. Dia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan bejad nya pada Niki." Adam masih menatap nanar mata Malik, sangat mengerikan membayangkan bagaimana Nikita bertahan.


"Dia sempat tinggal di dekat kita, Hanum pernah sekolah di sekolah SD yang sama dengan Mahes dan Ranu. Hanya sebentar, berpindah-pindah. Menghindari kejaran Baskoro." Lanjut Malik yang membuat Adam geram.


"Baskoro tahu Hanum putri biologisnya?"Malik mengedikkan bahunya. " Mengejar Niki lama, seharusnya Baskoro tahu."


"Dia hanya berusaha membutakan matanya. Baskoro tidak mau punya kelemahan. Dia menolak apapun yang akan membuatnya berubah jadi orang baik." Malik sangat yakin, orang-orang seperti Baskoro enggan mengambil resiko hidup yang menyusahkan.


Helaan nafas berat Adam terdengar berulang kali. Bagaimanapun dahulu mereka bersahabat tapi Nikita tidak bisa jujur tentang keadaannya pada mereka. Nikita pasti berusaha sangat keras bangkit dari keterpurukannya. Hanum gadis yang baik dan lembut, sama seperti Niki muda.


“Aku harus bagaimana Dam, tidak mungkin membiarkan Hanum hidup sendirian. Mahesa sepertinya punya cinta yang besar untuk Hanum. Putraku bisa sakit Dam.”


“Kita pikirkan sama-sama jalan keluar terbaik Al, kita mungkin akan jadi orang tua bagi Hanum.” Malik percaya mereka akan dapat dukungan, meski masih ragu karena Nikita dulu mantan pacar Malik. Bingung sekali harus melangkah kemana, dan bagaimana saat ini. Ada hati yang sangat berharga yang harus dirinya jaga.

__ADS_1


"Sekarang aku harus bawa Ayuna pulang, dia sudah merengek tidak betah." Adam mengangguk mengikuti Malik keluar.


Mereka sibuk sekali sampai menunda beberapa saat kepulangan Ayu agar tetap aman saat mereka harus merawat Hanum di rumah sakit. Langkah mereka harus di sembunyikan dulu sesaat.


"Ingat Al, dia tidak boleh terlalu banyak bergerak. Kondisinya rentan, tapi dia juga tidak aku kasih tahu banyak. Kamu yang harus pastikan Ayuna istirahat cukup." Raut wajah Malik begitu sedih.


"Apa aku akan kuat menjalani semua ini Dam?" Adam menepuk pundak Malik. “Berat Dam, aku .....”


"Jangan lemah di depan Ayuna, kau harus terlihat percaya diri menjaganya. Jangan ada keraguan, Ayuna wanita yang sangat peka." Malik setuju.


“Ya sudah, tolong jaga Hanum ya Dam. Nanti aku akan mampir, masih ada yang harus kita selesaikan dengan Hanum saat dia benar-benar sudah pulih Dam.”


Malik menetralkan perasaannya sebelum masuk menemui semestanya, tidak mau ada lagi perasaan sedih karena dirinya harus bahagia demi semua orang.


"Lama sekali Dad. Aku dan Mommy sudah siap." Kesal Ranu yang menunggu Daddy nya tak kunjung datang.


Malik menelusupkan wajahnya di ceruk leher Ayuna. Menyambar hijab instan yang tersangkut di kursi dan memakaikannya dengan lembut. Malik mengangkat Ayu ke gendongannya. Wajah Ayuna bersemu merah.


"Aku jalan aja Kak.....bisa kok " rengeknya merasa malu.


"Bagaiman tubuh mu seringan ini Love. Uang ku banyak, habiskan. Makan apapun yang Mommy mau." Ayuna akhirnya mengalungkan kedua tangannya di leher Malik. Dia tahu suaminya sedang banyak pikiran.


"Aku akan sangat gendut sampai kau tidak bisa mengangkat ku seperti ini." Malik tersenyu mendengar Ayuna yang sudah bisa melontarkan candaan.


"Cinta ku tidak akan berubah meski kau berubah jadi karung beras." Ranu yang berjalan di belakang mereka hanya menggeleng-geleng. Senang melihat mereka bucin.


"Hahahaha......" Ayu hanya memukul punggung suaminya merasa lucu.


Tubuhnya tidak pernah bertambah berat meski porsi makannya berlipat ganda, entah kemana perginya semua makanan yang dirinya makan.

__ADS_1


Pemandangan seperti itu sudah biasa para suster dan dokter lihat, Malik memang dikenal bucin akut. Dia akan memperlakukan Ayu begitu istimewa membuat semua orang yang melihatnya merasa iri.


__ADS_2