Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Kepergian Nikita


__ADS_3

Ponsel Mawar yang ada di tangan Ayuna terus berdering. Mawar masih belum paham apa yang terjadi dan bingung harus berbuat apa dengan keadaan Nonna nya saat ini.


“Mampir sebentar di cafe ya....aku ingin minum coklat hangat.” Mawar memasuki cafe langganan Ayuna. Lihai sekali Mawar mengendarai mobil.


“Non......” Mawar bingung Ayu menyerahkan ponselnya kembali.


“Katakan pada Kak Malik kalau kita hanya berkeliling. Aku bosan terus di rumah.” Ayu memintanya untuk tidak mengatakan kedatangannya ke restarant tadi.


“Tapi Non.....” Ayu tidak mau Mawar mengajukan pertanyaan yang akan membuat kepalanya pusing.


“Bicara saja seperti itu....supaya Kak Malik tidak khawatir, aku pesan minuman dulu yah. Mawar mau Ice coklat juga kan.”


Mawar mengatur nafasnya dan menyiapkan mental sebelum menghubungi Malik.


"Darimana ....kenapa panggilanku tidak di jawab. Dimana kalian!!!!"


"Cafe coklat Bos." Mawar bahkan tidak diberi jeda untuk bicara.


"Jangan kemana-mana dan tunggu di sana." Malik segera meluncur ke cafe yang tidak jauh dari restoran dan tempat tinggalnya. Ada di tengah-tengah.


"Apa Ayuna baik-baik saja?" Tanya Jofan yang juga panik mendengar Ayu tidak ada di apartemen.


"Aku akan kesana memastikan." Malik segera pergi.


"Kid....Mommy sedang minum coklat hangat, kalian jangan khawatir yah. Lanjutkan pekerjaan kalian, Daddy akan bawa Mommy pulang."


"Abang bisa jemput kalau Daddy ijinkan."


"No....di rumah saja, Daddy yang bawa Mommy pulang." Malik menyudahi panggilannya.


Malik tersenyum melihat Ayu duduk menikmati coklat hangat nya. Ayu juga tersenyum melihat suaminya datang. Memang seperti ini Tuhan menempatkan orang-orang yang sangat mencintainya di hidupnya. Sangat indah, sebentar saja Malik sudah muncul di depan matanya.


"Kenapa datang? Sudah selesai pekerjannya?" Mawar menjauh karena sudah ada Malik yang menjaga Ayu.


"Kenapa tidak bilang Daddy kalau ingin minum coklat. Hmmmmm....." Malik memeluk Ayu dengan erat, tidak perduli dengan orang-orang sekitar yang memperhatikannya. "Anak-anak juga khawatir Mom." Ayu hanya tersenyum.


"Kak Malik mau? Biar Ayu pesankan." Ayu bicara tanpa menatap mata Malik, dan ini ciri-ciri kesayangannya sedang marah.


"Apa aku melakukan kesalahan?" Ayu menggeleng.


"Hehehehe....tidak ada, aku cuma bosan saja. Kesalahan apa yang kalian lakukan di belakang ku." Malik menundukkan kepalanya, menatap mata Ayu dengan tajam.


"Jang......" Suara ponsel menjeda ucapan nya. "Sebentar sayang....aku angkat sebentar." Nomor Nikita yang menghubunginya.


"Maaf apa saya bicara dengan Nona Hanum...." Malik masih diam.


"Nona....cepat datang ke rumah sakit, Ibu Nikita sedang dalam keadaan kritis." Malik menelan salivan nya.

__ADS_1


"Apa kondisinya memburuk? Aku akan segera datang bersama Hanum." Jawab Malik yang segera menutup panggilan telponnya.


Malik mengatur nafasnya sebelum kembali ke meja yang Ayuna tempati.


"Kita pulang ya sayang, jangan keluar sendiri seperti ini." Ayu menepis tangan Malik.


"Aku masih ingin di sini, Kak Malik pergilah, aku bisa pulang dengan Mawar nanti." Malik mengepalkan tangannya. Kenapa situasinya seperti ini.


“Tidak...tidak boleh di luar tanpa aku atau yang lain. Bahaya.” Malik mengulurkan tangannya. “Ayuna....cepat dan jangan membuatku kasar.” Malik sedang menahan emosinya menghadapi kekanakannya Ayuna.


“Aku masih mau di sini. Tinggalkan saja, aku nanti akan pulang.” Masih tidak mau beranjak dari duduknya.


"Sayang....aku mohon jangan seperti anak kecil.....ayo cepat kita pulang!." Ucapan Malik menyakiti perasan Ayu secara tidak langsung.


"Aku apa tidak boleh punya waktu sebentar saja sendiri!" Suara nya gemetar. "Aku hanya......"


"Maaf sayang....maaf.....aku minta jangan di luar sendirian seperti ini. Aku harus pergi ke suatu tempat, ayo kita pulang." Malik menarik paksa Ayuna agar mau pulang. Meski kesal, Ayu mencoba mengikuti kemauan Malik.


Ayu tidak bisa tidak menangis, tangannya mengusap kasar air mata yang lolos. Suaminya pasti juga sekarang sedang kebingungan, tapi dirinya kesal karena selalu tidak di ikut sertakan dalam semua masalah yang mereka hadapi.


“Hey...look at me. Please jangan menangis, Ayuna sedang tidak dalam kondisi sehat untuk ikut keluar sayang. Aku janji tidak akan lama, akan aku jelaskan jika semua sudah aku selesaikan.” Malik membujuk Ayuna yang membuang pandangannya ke jalanan sejak masuk mobil tadi.


Dadanya pasti sakit menahan tangisnya seperti ini, Malik lebih tidak tega saat melihat Ayu menahan diri seperti ini.


“Mom.....aku mohon kali ini percaya pada ku yah....jangan punya pikiran jelek. Mommy akan selalu jadi wanita nomor satu di hati Daddy, tidak ada yang lain.”


Pintu lift sudah tertutup saat Malik sampai di depannya. Malik tersenyum, pasti Ayu sengaja membuat dirinya tidak bisa mengejar langkahnya. Malik segera memencet lift dan menunggu beberapa waktu.


“Kenapa Dad....kenapa wajah Mommy ku sad? Why?” Ranu kesal sekali saat melihat Mommy nya masuk dengan senyum dan air matanya.


“Daddy juga tidak paham, Mommy mana sekarang?” Ranu menunjuk kamar Malik. “Tunggu di sini.” Ada mahesa ternyata yang berdiri di depan pintu.


Mahes tidak kalah menakutkan dari Ranu, matanya tajam sekali sampai Malik merasa terintimidasi.


“Daddy berulah apalagi sih Dad....kenapa Mommy menangis? Daddy kasar yah....” Malik sendiri bingung kenapa Ayu semarah itu padanya.


“Mommy menangis Kak?” Biasanya Ayu tidak pernah menunjukkan air matanya di depan anak-anaknya saat mereka berselisih. Malik merasa ada yang tidak beres.


Tok...tok...tok...


Tidak ada jawaban. Mahesa masih setia menunggu pintu terbuka. “Sepertinya Daddy harus masuk dengan paksa.” Mahes menggeleng.


“Kasih Mommy waktu, sepertinya Mommy memang sedang tidak mau di ganggu.” Malik tidak mungkin pergi jika Ayuna masih seperti ini.


“Tapi Daddy ada pekerjaan yang harus Daddy selesaikan. Mommy tidak mungkin Daddy tinggalkan begini, Daddy harus selesaikan dulu.” Malik meraih kunci cadangan di di atas lemari.


“Please Dad....tindakan Daddy akan membut Mommy semakin terluka, beri waktu. Sebentar saja, Daddy bisa percaya pada ku untuk jaga Mommy. Please Dad.....” Malik juga setuju dengan Mahesa, mungkin Ayuna nya butuh waktu.

__ADS_1


“Tapi Kak....” Ragu sekali kakinya melangkah.


Ponsel Malik kembali berdering, nomor Nikita lagi. Malik segera menerima panggilannya.


“Tuan....maaf...kami ingin menyampaikan kabar duka. Ibu Nikita sudah meninggal dunia.” Malik jatuh terduduk lemas membuat Mahesa ketakutan.


“Dad...kenapa!!!! Dad...bicara Dad.....” Ranu yang mendengar teriakan Mahesa segera mendekat, Ranu membantu Daddy nya berdiri. Mereka berdua sangat ketakutan, Daddy tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya.


“Nak...Daddy mohon jaga Mommy. Daddy harus pergi ke suatu tempat. Tolong jangan sampai Mommy keluar sendirian, buka pintunya kalau sudah terlalu lama Mommy di dalam. Mengerti!” Keduanya mengangagguk.


“Daddy hati-hati.” Melihat Malik goyah, Ranu dan Mahesa paham sekali masalah yang Daddy nya hadapi tidak mudah. “Jangan menyetir sendiri Dad.” Ucap Ranu khawatir.


“Daddy pergi dengan Om Jofan. Om Jofan sudah ada di bawah menunggu Daddy.” Sebelumnya memang Malik mengirim pesan pada Jofan untuk mengantrakannya ke rumah sakit tempat Nikita di rawat. Dia pasti sudah sampai.


“Kaka akan jaga Mommy dan Adek, Daddy tenang saja. Pergi dengan perasan tenang ya Dad, Kakak akan selalu ada untuk Daddy.” Malik memeluk keduanya bergantian, mereka manis sekali. Kekuatan Malik setelah semestanya.


“Mom....Maaf kalau Daddy menyakiti perasaan Mommy, Daddy akan segera pulang sayang. Jangan lupa makan sayang, ingat ada Baby di perut Mommy, makan ya sayang, tunggu aku pulang Ayuna.”


Keduan Putranya menahan air mata melihat Daddy nya yang selalu kuat terlihat goyah, tatapan matanya penuh kesedihan membuat kedua Putra nya berdiri kokoh meyakinkan Malik semua akan baik-baik saja.


“Tenang Nak, Daddy dan kita semua pasti bisa melewati ini semua.” Menepuk Pundak Mahesa yang memang Malik andalkan menjaga Mommy dan adiknya saat dirinya tidak ada di sisi mereka. “Kakak tolong gantikan peran Daddy sebentar.” Mahes mengangguk.


“Cepat selesaikan urusan Daddy dan kembali pada Mommy. Jangan terlalu lama Dad.” Balas Mahes dengan suara dinginnya.


Malik di jemput Aldo dan Rey, mereka sudah menunggu Malik yang melarang mereka untuk naik ke atas. Akan panjang urusannya jika mereka tau Ayuna merajuk mengurung diri di dalam kamar.


"Bagaimana keadaan Hanum?" Tanya Malik saat memasuki mobil.


"Adam bilang Hanum hanya mau pergi dengan mu Al, jadi kita ke rumah sakit dulu jemput Hanum." Mata mereka saling menatap. "Kita hadapi bersama Al. Percaya kalau semua ini memang takdir Tuhan." Malik sekarang yakin dengan langkahnya.


"Aku tinggal meyakinkan Ayuna kalau aku hanya ingin menyelamatkan kebagian Mahesa. Dan Hanum tentu saja, mereka anak-anak yang harus tumbuh dengan bahagia."


"Maaf kalau aku sempat Ragu Kak, aku akan membantumu meyakinkan Adik ku." Imbuh Jofan yang kini percaya Malik hanya berusaha menyelamatkan kebahagiaan keluarganya.


"Hanum...." Malik mendekat pada Hanum yang sudah berpakaian rapih, senyumnya manis sekali karena Adam memang mengatakan akan mengantar Hanum pada Mommy nya. "Sudah siap Nak?" Hanum mengangguk.


"Aku pakai baju panjang agar Mommy tidak lihat luka di tanganku." Ucapnya sambil menunjukkan lengannya yang tertutup rapat.


"Iya sayang, ayo kita berangkat." Malik menggandeng Hanum yang memang hanya percaya pada dirinya saat ini.


Malik mencengkeram tangannya sendiri menahan emosi, bagaimana kondisi Hanum setelah tahu Nikita sudah pergi. Akan sehancur apa Putri nya ini. Ya Tuhan, kenapa kau timpakan beban yang sungguh berat di pundak nya yang kecil ini Tuhan.


Senuyum Hanum yang begitu tulus membuat hati Malik sakit.


Dirinya ingat betul bagaimana Ayuna nya dulu berjuang hidup dan mati melawan keras nya takdir. Memperjuangkan masa depannya yang memang pantas jika saat ini begitu banyak orang yang mencintainya, Ayuna kecilnya dulu.


Wanita yang kini selalu ada dalam hidup Malik bagaimanapun keadaannya. Wanita yang mencintai Malik dan membuat dirinya ingin terus menjadi lebih baik, wanita tulus yang memberikan hidup sempurna bersama anak-anaknya.

__ADS_1


Malik sungguh tidak bisa melepaskan Hanum, dirinya ingin merawat dan menjaga Hanum yang Tuhan antarkan sendiri pada tangannya. Malik menatapnya penuh kepiluan, Hanum pasti akan butuh banyak cinta melewati semua ini.


__ADS_2