
Suasana mencekam, Malik histeris meneriakan nama wanita kesayangan yang seharusnya saat ini sudah ada di sisinya. Malik meronta meminta Adam, Rey dan Riyan melepaskannya dari kungkungan mereka yang menahan Malik. Mana mungkin dilepaskan, sudah pasti Malik akan menerjang kobaran api yang begitu dahsyat di depan mata mereka.
“Tenang Al, jangan gegabah Al.” Pinta Rey yang tangannya sudah sekuat tenaga menahan tubuh Malik.
“Lepaskan, aku harus menyelamatkan Ayu. Tolong lepaskan!!!!” Teriak Malik semakin histeris.
“Daddy....” Adam membulat kan matanya, menajamkan pendengarannya yang sedang kacau. Bagaimana ada suara Putra nya di sini, ditengah kekacauan yang sedang terjadi. “Daddy help. Dad....”
“Suara Mahesa kan! Aku yakin tidak salah dengar.” Ucap Riyan membuat Malik yang meronta berhenti.
“Daddy.....Help me....Mommy in here Dad.....please help....” Malik dan yang lain mencoba mencari sumber suara.
“Kak....Mahesa....dimana Nak.....?!” Rey mencoba berteriak agar Mahesa tahu keberadanya sudah di ketahui.
“Pah....Kakak di belakang bangunan.” Teriak Mahes yang suaranya masih terdengar begitu jauh.
Setelah memutar dan mencari dengan bertukar suara, akhirnya Malik menemukan Mahesa yang tengan memeluk Mommy nya. Mahes terlihat sangat kesulitan menahan tubuh Mommy nya yang tidak sadarkan diri di pelukkanya.
“Ya Tuhan....Kakak, bagaimana bisa? Mommy tidak apa?” Tanya Malik yang bahagisa sekali melihat Ayu dalam dekapan Putra nya. Memeluk mereka denga erat.
“Abang....tolong Abang.” Mahes menunjuk Ranu yang tergeletak di sampingnya. “Periksa denyut nadinya.” Malik menuruti permintaan Putra nya. Malik juga sedang tidak bisa berpikir dengan jernih.
Tiba-tiba saja hujan deras mengguyur hutan yang begitu lebat. Anak buah Malik yang berhasil menyisir bangunan yang masih berdiri kokoh tidak jauh dari tempat penyekapan meminta semua orang untuk berteduh di sana. Setelah pertimbangan yang cukup berat, mereka memutuskan istirahat sejenak sambil menunggu Ayuna dan Ranu siuman.
Mereka masih belum sadarkan diri setelah di temukan, Adam terus memeriksa denyut nadi keduanya. Memastikan jika mereka masih bernafas dengan benar seperti seharusnya.
Malik seperti manusia tak bernyawa, tatapan matanya begitu tajam namun penuh kehampaan. Rey mengawasi tanpa mengalihkan sedikit pun perhatiannya, dia takut Malik melakukan hal bodoh yang tidak seharusnya.
“Bos...minum.” Malik menenggak air mineral yang Aldo sodorkan, tidak ada protes. “Makan ya Bos.” Malik juga mengangguk. Aldo pernah melihat Malik seperti ini saat Ayu mengalami kecelakaan dulu, kejadiannya hampir sama seperti saat ini.
“Apa helikopter masih belum bisa datang?” Tanya nya lagi yang sudah beberapa kali menanyakan hal yang sama. “Apa masih lebat hujannya?”
“Al....jika kita nekat menerjang hujan resikonya besar. Kita bertahan sebentar lagi, tunggu setidaknya sampai hujan sedikit reda. Aku rasa Ayuna hanya sedang tidur. Bukan sakit Al.” Adam menepuk pundak sahabatnya. Malik menggenggam erat tangan Ayu yang terus dikecupnya dengan lembut.
__ADS_1
“Dia bertahan dengan hebat, adik ku memang wanita luar biasa.” Rey tersenyum melihat keberanian Ayuna melawan para penculik yang menahan nya cukup lama.
“Jangan biarkan mereka lolos, aku akan membalas apa yang sudah mereka lakukan padanya.” Malik menyentuh pelan luka di sudut bibir Ayuna yang pucat. Bibirnya kering tidak seperti biasanya saat sedang berada di sisinya.
“Aku juga ingin memukulnya sampai rahangnya bergeser.” Ucap Riyan menambahkan.
Kesal sekali melihat Kakak perempuan kesayangannya terluka.
Ayuna wanita yang sangat baik dan lembut, hanya orang tidak waras yang punya jiwa pengecut yang bisa menyakitinya seperti ini.
“Dad....” Suara parau Ranu yang baru saja siuman. Malik tersenyum melihat Putra nya sudah siuman. Malik berdiri di sisi Putranya, perlahan tangannya membelai surai hitam milik Putranya dan memeluknya dengan hangat.
“Mommy ok Dad?” Ranu bergetar, dia ketakutan Mommy nya terluka. “Mommy ku ok kan Dad?” Malik mengangguk.
“Mommy it’s good, she is strong.” Malik merasa sedikit lega melihat Putra nya siuman. “Apa yang Abang rasakan? Apa ada yang sakit?” Ranu menggeleng.
“Abang takut sekali tidak bisa menyelamatkan Mommy.” Malik memeluk Putra nya yang menangis. Kasihan sekali semua ini menimpanya, Malik menyesal sekali mereka melewati semua ini. “Kak Mahes....dimana Kakak Dad.”
“Disini Dek.” Mahes yang berdiri di sisi Riyan tersenyum. Ranu lega melihat Kakak nya baik-baik saja.
“Lain kali jangan mengorbankan diri mu ya Dek, Kakak akan marah jika hal seperti ini terjadi lagi.” Ranu mengangguk. “Kita berjuangn bersama, jangan menjadi pahlawan sendirian. Kakak tidak ijinkan.” Ranu terkekeh kali ini.
“Apa kau sedang mengancamku?” Mahes tertawa. “Kau seharusnya berterimakasih bukannya mengomel.” Mahes mengeratkan pelukkannya.
“Jangan kalian kira bisa lolos dari hukuman yah. Daddy tunggu penjelasan kalian dengan semua ini.” Malik melipat kedua tangannya. Kedua Putranya tidak menuruti perintahnya dan berakhir di tempat yang tidak seharusnya.
Meski Malik bersyukur mereka berhasil menyelamatkan Mommy nya, Malik tetap tidak rela mereka melakukan hal yang berbahaya seperti ini. Malik bersyukur mereka semua berhasil selamat. Apa jadinya kalau mereka bertiga mengalami celaka, Malik pasti akan benar-benar hancur.
Keduaya memeluk Malik dengan erat. Tahu sekali ketakutan seperti apa yang membuat Malik tidak pernah mengijinkan mereka mengikuti langkah Malik yang berbahaya. Keselamatan mereka selalu di jaga, hidup mereka selalu terjamin tidak pernah sekalipun kekurangan. Apa jadinya jika yang selalu Daddy nya perjuangkan mengalami sakit, mereka tahu Daddy nya akan sangat sakit melebihi yang mereka rasakan.
Semua orang sangat bahagia, sudah kembali berkumpul meski kondisi Ayu masih belum bisa di pastikan karena sampai saat ini belum juga siuman.
Aldo yang bertugas mengawasi cuaca hujan ikut tersenyum, hujan lebat sudah berganti dengan gerimis. Sudah bisa dirinya meminta petugas helikopter untuk datang ke lokasi mereka berada saat ini.
Malik dengan perlahan membawa tubuh Ayu yang lemas dalam gendongannya. Sakit sekali hatinya melihat Ayu harus mengalami hal buruk berulang kali tidak berhenti. Malik mengeratkan pelukkannya karena gerimis masih cukup besar. Tapi dirinya tidak mau lagi menunggu lebih lama, ingin segera memeriksakan kondisi Ayu dengan alat-alat kedokteran yang canggih yang rumah sakitnya miliki.
__ADS_1
Malik merasakan pelukkan tangan Ayu semakin erat di pinggulnya. Malik tersenyum karena istrinya sudah menunjukan respon bagus ditengah kekhawatirannya. Malik menciumi wajah Ayu yang berada tepat di dadanya. Memeluk hangat dengan wajah nyamannya.
“Don’t leave me Dad.” Ucapnya lirih yang masih bisa Malik dengar. “Jangan tinggalkan aku, aku takut Kak.” Rintihnya yang masih memejamkan mata.
“Tentu sayang, aku janji ini yang terahir kali. Tidak akan lagi hal mengerikan seperti ini sayang. Maaf kan aku.” Malik menciumi Ayu dengan lembut. Wajah pucatnya masih begitu jelas di mata Malik.
Tapi Malik lega karena sudah mendengar suara yang dua hari ini sangat dirinya rindukan. Mencintai wanita yang begitu baik saja penuh kesakitan, dirinya harus banyak berjuang demi bisa selalu menjaganya dari orang-orang jahat yang terus berusaha melukainya lewat Ayuna.
Flassh Back
Saat semua orang sudah keluar dari mobil yang dibiarkan terbuka untuk melakukan penyergapan, Mahesa dan Ranu keluar dari mobil. Mereka merangkak cukup jauh dari bangunan untuk mengawasi keadaan.
Keberadaan mereka tidak boleh diketahui atau akan membuat suasana yang sudah sangat mencekam mejadi semakin mengerikan.
Mereka berhenti di bangunan yang sepertinya terhubung dengan bangunan utama yang saat ini tengah di kepung oleh Daddy dan para petugas yang sudah Daddy nya siapkan. Ada beberapa petugas kepolisan yang menyamar dengan pakaian biasa untuk meminimalisir kecurigaan para penjahat yang saat ini tengah di hadapi.
“Mereka sepertinya tidak tahu kita ada di sini.” Mahes dan Ranu tengah bersembunyi.
“Mau mulai darimana kita? Aku bingung.” Tanya Ranu yang tengah melihat kondisi yang sangat ramai yang tidak mungkin mereka terobos.
“Kakak berpikir dulu sebentar.” Mahes terkejut saat tangan besar adiknya mencengkeram tangannya. Ranu menaruh telunjuknya di bibir tebalnya. Mahes mengkuti Ranu yang sepertinya tengah mendengar sesuatu.
Trekkkk....trekkkk....trekkkk.....
Mahes meminta adik nya berdiri di belakangnya. Mahes membuka pintu besi yang ternyata tidak terkunci. Kini ada pintu kayu yang sudah cukup usang yang sedang terdengar suara seseorang yang mencoba membukanya.
Awwww........
Suara Mommy yang sepertinya tengah ketakutan. Mahes dan Ranu spontan mendekat ke pintu. “Mom....Momm...” Ayu yang mendengar suara anak-anaknya begitu terkejut.
“Kakak....Abang....tolong Mommy Nak.” Mahes dan Ranu mencoba sekuat tenaga membuka pintu yang begitu kokoh meski terlihat usang.
“Mundur Mom.” Mahes berhasil membuka pintu setelah memukulnya kuat dengan batu besar.
“Keluar....cepat keluar.” Mahes dan Ranu yang ingin memeluk Mommy nya tertegun sampai keheranan, wajahnya sangat panik. “Bangunan ini akan meledak cepat keluar!” Mahesa menuntun Mommy nya keluar perlahan.
Saat ledakan terjadi, mereka sudah berada di luar bangunan. Mahes berhasil menahan tubuh Mommy nya tidak sampai terjatuh berkat tubuh Ranu yang berdiri di belakang mereka sampai tubuhnya yang terpental.
__ADS_1