
Hari yang melelahkan, kini Malik sedang memandangi wajah istrinya yang sejak tadi tidak bersahabat. Kegelisahan apa lagi entah yang sedang menyesakkan dadanya. Tidak ada senyum sedikitpun membuat Ayu terlihat begitu terpuruk di mata Malik.
Ayu wanita yang sangat lembut, ceria dan penuh dengan kasih sayang. Jika suasana hatinya sedang tidak nyaman, dia akan susah menyembunyikannya. Tatapan matanya menyiratkan kegelisahan dalam dirinya yang tidak bisa di tuangkan dalam kata-kata. Lidah nya kesulitan menyampaikan isi perasannya yang menyesakkan dada.
Malik mendekat, mengenggam pergelanga tangan semestanya yang sekarang terasa sedikit berisi. Malik mencium telapak tangan dan punggung tangan Ayuna bolak balik. Aroma tubuh Ayu paling Malik senangi. Alami dan wanginya membuat Malik merasa nyaman.
Sikap yang seperti ini membuat Ayu sangat senang, pundak nya akan selalu siap menjadi sandaran. Tanganya selalu setia mengenggam erat agar kesayangannya tidak goyah. Tidak bertanya sampai dirinya membuka diri untuk mengutarakan kegundahannya.
Tentu saja Ayu sadar Suaminya memperhatikan dirinya dengan tatapan cukup serius. Malik tersenyum, kesadaran Ayu sudah kembali. Ada balasan genggaman tangan yang begitu hangat.
Ayu mengecup tangan suaminya, memeluk dengan erat membalas perlakuan manis Malik yang selalu hangat pada dirinya. Nyaman sekali membuat Ayu ingin memejamkan matanya yang saat ini menolak untuk di pejamkan.
Malik mengusap rambut hitam panjang yang tergerai dengan indah. Malik menciumi aroma harum khas dari shampo yang Ayuna kenakan, wanginya tidak menyengat. Nyaman sekali di penciumannya.
"Bobo Dad. Besok kan harus pergi pagi-pagi." Malik punya pekerjaan di luar kota yang mengharuskan dirinya pergi. Tidak membalas, Malik malah mengeratkan pelukkannya. “Jangan Bobo terlalu lama Dad, kan tadi capek meeting seharian.”
"Aku bisa minta Aldo Mom. Tidak bisa Daddy pergi, pasti isi nya cuma Mommy di otak Daddy." Malik merebahkan tubuhnya yang lelah di sisi Ayuna.
Tatapannya masih belum berubah, matanya sayu karena kelelahan. Malik mendekat, meraih tubuh wanita kesayanganya yang kini ikut membaringkan tubuhnya di kasur. Memeluk erat pinggul Ayu sambil tangan kanannya memberikan perhatian pada buah cinta mereka.
"Kasihan Kak Aldo." Ayu menatap dengan penuh sayang.
"Makanya gaji dia besar Mom, pekrjanya tidak main-main." Bos sedang pamer kekuasaan.
"Jangan begitu Kak, aku akan baik-baik saja. Toh Iin akan di sini seharian. Jadi Daddy bisa pergi dengan nyaman." Mencoba meyakinkan suami nya.
"Tapi Mom." Ragu nya masih sangat besar.
“Tidak ada yah pikiran tidak nyaman dengan sahabatku, dia baik. Aku merasa Iin juga berusaha keras merubah pandangannya tentang diriku di masa lalu dan saat ini. Jangan patahkan kerja kerasnya Kak.” Ayu meminta Malik mengerti.
“Apa Mommy seyakin itu kalau sahabat mu itu benar-benar sudah berubah? Kadang Daddy masih punya rasa khawatir Mom.” Malik menatap wajah Ayu dengan penuh cinta.
“Iya, dan aku minta Daddy bantu aku menumbuhkan percaya diri Iin. Kalau Daddy besok pergi, itu membuktikan jika kita sudah sepenuhnya percaya. Beri aku dan Iin waktu untuk punya banyak kenangan indah bersama ya Dad.” Manis sekali bicaranya.
Malik menghela nafasnya panjang, ada benarnya apa yang Ayu katakan. Jika terus ragu, sahabatnya pasti akan merasakan apa yang Malik pikirkan. Mereka pasti tidak nyaman dan bisa membuat luka mereka semakin dalam.
Malik ingin menjalin hubungan baik dengan semua orang, menjaga agar Ayu tetap aman dengan orang-orang yang tulus dengannya.
"Lihat besok saja Mom. Sekarang bobo, Mommy pasti kelelahan menunggu Daddy seharian." Tidak mau melanjutkan argumen nya, Malik paling tidak bisa di paksa untuk mengikuti apa yang tidak sesuai dengan hati kecilnya.
Malik tidak butuh waktu lama sudah terlelap dengan nyaman. Lelah sekali wajah yang saat ini ada di sisi Ayu.
__ADS_1
Lamat-lamat Ayu menatap wajah laki-laki yang sudah membuatnya menjadi wanita yang begitu beruntung dengan apa yang saat ini dirinya miliki.
Ayu sudah cukup banyak tidur, kini matanya sulit sekali terpejam. Suasana hati nya sedang tidak baik sejak pertemuan nya dengan sahabat Anna yang membuat Ayu tidak nyaman.
Tatapan matanya membuat Ayu risih dan kembali waspada, luka yang sudah perlahan membaik kini terasa begitu menyesakkan dada nya.
Ayu menggeser tangan besar suaminya yang memeluknya erat. Turun perlahan dari ranjangnya menuju dapur, perutnya keroncongan. Tangannya membuka kulkas mencoba mencari apa yang bisa perutnya terima.
"Mom...."
Brukkkk....
"Ya Allah...." Ayu menepuk dada nya yang berdetak cepat, terkejut dengan suara Mahes yang tiba-tiba. Langkah kakinya bahkan tidak terdengar sedikitpun.
"Hey....sorry.....sorry...."Mahes memeluk Mommy nya menenangkan. Wajahnya sampai merah, Mommy nya benar-benar ketakutan. "Sorry Mom, Sorry sayang." Mahes membawanya duduk di kursi dapur. Mengenggam erat tangan nya agar cepet pergi rasa terkejutnya.
“Mommy sesak Kak.” Ayu memegang tangan Mahes dengan kuat. Masih seburuk itu ketakutan yang menguasai dirinya. Tangan Ayu sampai gemetar.
"Minum Mom." Menyodorkan air mineral yan segera Ayu teguk sampai habis. Mahes menyenderkan tubuh Ayu di dada nya. "Masih belum hilang Mom? Kakak minta maaf Love, sungguh Kakak sangat menyesal." Rentetan ucapan Putra nya membuat Ayu tidak tega. Menarik nafas panjang dan berusaha menghilangkan sesak di dada nya.
Ayu sudah tersenyum sekarang, mengumpulkan kekuatan agar Putra nya tidak merasa bersalah. Bisa-bisanya hanya suara Mahes membuat dirinya ketakutan begitu besar.
Mahesa memapah Ayu yang turun dari kursinya. Keringat membasahi keningnya sekarang, tanganya juga dingin.
"Kakak panggil Daddy ya Mom. Sebentar." Ayu menjegal tangan Mahes.
"No Nak, Mommy cuma butuh pelukan. Daddy baru tidur, kasihan kalau di bangunkan." Mahes membawa Mommy nya ke ruang keluarga.
Dengan hati-hati mendudukan Mommy nya di sofa besar yang nyaman. Memeluknya dengar erat agar perasaan ribut di dada Momy nya cepat hilang.
Mahesa memeluk erat tubuh Mommy nya yang sedikit bergetar. Tidak bisa sembunyikan ketakutanya karena jelas sekali dari reaksi tubuhnya yang begitu terlihat jelas jika saat ini dirinya begitu ketakutan.
"Maaf Mom, Kakak sungguh tidak tahu Mommy tidak dengar langkah ku tadi Mom." Ayu menegakkan duduknya.
Tatapan sedih Putra tampan nya yang juga ikut terkejut melihat Mommy nya saat ini yang ketakutan.
"Bawaaan Baby kali ya Kak, Mommy jadi penakut. Apa jangan-jangan Baby perempuan ya Nak?" Bercanda agar Putra nya tidak ketakutan dan rasa bersalahnya hilang.
"Jangan melucu sekarang, Kakak sedang tidak mood bercanda sayang." Mahes menatap Ayu dengan tajam.
__ADS_1
"Kakak seperti Daddy. Mommy baik Kak, bawaan Baby sayang." Masih mencoba menenangkan Putra nya.
"Jangan berikan alasan apapun Mom, sekarang tarik nafas dalam-dalam dan duduk dengan nyaman." Mahes tidak memperbolehkan Mommy nya bercanda, wajahnya saja masih terlihat pucat.
"Kakak ihhhhh.....Mommy lapar Kak." Mahes membelai surai Mommy nya yang tergerai. "Masakin Mommy mie boleh tidak?" Mengelus perutnya sendiri.
"Kakak bisa di maki Daddy Mom. Tidak sehat lagian, Mommy bisa keracunan. Yang lain saja." Sama persis dengan suaminya. Mie adalah musuh terbesar mereka di dapur. Padahal Ayu sangat suka.
"Tidak ingin yang lain. Mommy ngidam Nak, serius. Mommy tidak sedang becanda." Mengedipkan matanya berkali-kali.
"Jangan rayu Kakak, tidak mempan Love. Yang lain, Kakak akan ijinkan kalau makanannya sehat." Ayu menghela nafasnya kasar.
Padahal makan mie instan tidak akan membuat dirinya keracunan. Orang-Orang banyak makan mie instan dan hidupnya baik-baik saja. Ayu menelan salivanya yang memenuhi mulut.
"Tidak kah boleh Mommy icip sedikit saja Kak? Mommy sungguh-sungguh ingin makan Mie Kak." Masih berusaha mencari simpati Putra nya.
"Tidak ada kah pilihan lainnya?" Ayu menggeleng, menatap Putra nya memelas. Mahes kini menarik Ayu dalam pelukkannya.
"Bukan melarang Mommy makan sayang, tapi coba pikirkan makanan lain yang sama enaknya dengan mie. Pasti ada, coba Mommy bayangkan." Ayu masih memikirkan, kepalanya penuh dengan hidangan berbagai macam mie instan dengan toping bermacam-macam.
"Gak ketemu Kak, Mommh janji hanya makan 3 sendok saja. Sisanya Kakak yang makan." Mahes merasa kasihan.
Cukup lama Mahes terlihat berpikir, dan akhirnya dirinya berdiri. Mencium kening Mommy nya sebelum beranjak.
"Hanya tiga sendok tidak lebih." Ayu membentuk hati dengan kedua tangannya. Usahanya merayu membuahkan hasil.
Mahes membuat mie dengan bumbu yang di kurangi porsi nya. Menambahkan bahan-bahan lain yang sehat seperti yang sudah Daddy nya ajarkan agar tetap ada nutrisi yang masuk dalam tubuh meski dengan mengkonsumsi mie instan.
Tidak lama mie siap di hidangkan.
Sesuai janji, Ayuna hanya menyeruput mie tiga kali suapan yang cukup besar. Karena tidak tega, Mahes memberikan bonus dua sendok untuk Mommy nya nikmati, Mommy nya sampai memeluknya kegirangan. Seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah.
Setelah makan mie, Ayuna terlelap di sofa, mendengar kan Mahes membacakan dongeng kisah jaman penjajahan membuat Ayu terlelap dengan cepat. Aneh-aneh saja memang kelakuan Mommy nya. Dia minta di bacakan cerita sejarah masa kelam bangsa Indonesia sebelum merdeka.
Mahes ikut merebahkan tubuhnya di sofa yang sudah dirinya atur menjadi kasur, nyaman meski tidak seluas kasur miliknya. Mereka terlelap bergenggaman tangan, Mahes tidak melepaskan takut Mommy nya kabur.
Malik terbangun. Tubuhnya menuntun dirinya ke luar kamar karena tidak mendapati Ayu di sisinya. Malik turun mendapati istrinya tidur di temani Mahesa di ruang keluarga.
Manis sekali melihat mereka berdua saling bergenggaman tangan. Saling menjaga dengan penuh kasih sayang yang tulus.
Malik menepuk tangan Mahes pelan, membangunkannya agar kembali ke kamarnya dan tidur dengan benar. Mahes yang setengah mengantuk berjalan sempoyongan.
__ADS_1
Setelah mengawasi Mahes sampai ke kamarnya, Malik kembali pada Istrinya. Mengangkat tubuh Ayu perlahan agar tidak mengusik tidurnya yang begitu nyaman.