
Setelah drama panjang, siang ini dua sahabatnya datang menjemput. Tentu saja dengan dandanan ala-ala anak remaja supaya tidak memalukan.
Penuh semangat, langkah mereka di iringi canda tawa bahagia. Mereka tidak hanya bertiga, Mawar ikut meramaikan suasana. Dia tidak memakai seragamnya kali ini, Ayu akan menolak keras karena bisa menjadi pusat perhatian.
Heboh…….tentu saja. Mereka bertiga tidak pernah berubah. Gaduh jika dalam kegembiraan yang berlebihan, Meraka akan lupa dengan usia mereka saat ini. Masih menganggap diri mereka muda dan tidak kalah dengan gadis-gadis remaja jaman sekarang yang modis dan penuh gaya.
Ayu sedikit berdandan mengikuti keinginan Melan dan juga Sandra. Wajahnya terlahir Ayu dan tidak bosan di pandang mata, sedikit di poles saja terlihat sangat menawan, pantas saja Malik melarang keras dirinya bersolek. Malik tidak rela keindahan yang dia miliki di nikmati orang lain. Matanya saja yang boleh menikmati kecantikan wanita yang kini mengendalikan kebahagiannya.
"Yu, Kak Malik tumben sekali memberikan ijin?" Tanya Sandra penasaran. Masih sibuk mengoleskan sedikit blush on di pipi Ayu.
"Kak Malik memang sebaik itu kok. Kalian masa tidak tahu sih." Mencoba menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
Ayu tahu alasan sebenarnya Malik memberikan ijin. Tapi Ayu tidak mau ungkapkan prasangka nya, takut kalau-kalau salah. Hati manusia tidak ada yang tahu, dirinya sering salah menilai dan mengira.
Tidak lama mereka sudah sampai di gedung tempat konser di adakan. Deretan antrian memenuhi setiap sudut pintu penuh sesak. Sandra mencoba mencari kemana dirinya harus melangkah. Demi kebaikan dan keselamatan kedua sahabatnya yang mengandalkan dirinya.
Sandra menggenggam erat tangan Ayu, mencoba mengendalikan suasana hati Ayu yang masih belum sembuh sepenuhnya dari trauma masa lalu. Melihat keramaian pasti ada gundah yang Ayu rasakan. Sandra hanya ingin memastikan Ayu baik-baik saja.
Mawar berbisik di telinga Sandra. “Benarkah?” Tanya Sandra heran. “Kapan dia menyiapkan semua ini?” Mawar hanya membalas senyum. Dirinya diminta menjaga semua rencana Malik sampai konser selesai dan Ayu aman.
Meraka bertiga tidak ikut antrian, Mawar membawa mereka ke pintu lain dari sisi gedung yang berbeda. Tentu saja mereka senang sekali tidak perlu repot-repot mengantri.
"Padahal seru yah kalau kita ikut antri." Celetuk Ayu yang membuat kedua sahabatnya memanyunkan bibirnya.
"Enak sekali hidup kita, jangan banyak protes. Nikmati saja fasilitas yang mewah ini Yu." Melan justru sangat senang.
"Kau memang berbeda Mel, kau pasti selama ini selalu di perlakukan istimewa yah. Pelukis terkenal yu." Sedikit tertawa, mereka berjalan cukup jauh untuk sampai di ruangan tempat konser. Ayu yang salah memakai sepatu merasakan perih di tumit kaki nya.
"Masih kuat jalan Non?" Tanya Mawar yang melihat Ayu jalan sedikit menyeret kakinya. Dia sangat peka seperti sensor.
"Aku salah pakai sepatu nih, heheheh…..." Meringis merasa bersalah, merepotkan. "Tapi gak papa kok." Kaget saat melihat Mawar mencopot sepatunya dengan cepat.
"Nona pakai ini saja, pasti kebesaran, paling tidak kaki nona nyaman. Nanti saya minta biru bawakan sepatu Nona ke sini." Tanpa ragu-ragu membuat kakinya telanjang.
"Mawar mana bisa pakai sepatuku. Kaki ku sangat kecil." Tidak tega membiarkan Mawar memaksakan diri memakai sepatunya. Lebih tidak tega kalau Mawar harus berjalan tanpa alas kaki.
__ADS_1
"Tidak apa Nona, luka nya bisa melebar kalau tidak cepat di ganti." Benar juga, tapi mana bisa Ayu egois dan membiarkan Mawar menanggung resiko karena keteledorannya.
Pleekkkk……
Sandra mengeluarkan sendal jepit dari ransel besar nya. Senyum sumringah di wajah Ayu, Sandra tahu betul Ayu tidak akan mau membiarkan siapa pun kesulitan karena dirinya.
"Pakai ini Mawar, untung saja aku selalu bawa sendal jepit kemanapun." Menggandeng Ayu melanjutkan perjalanan mereka. “Ayo cepat, nanti kita tertinggal.”
Melani mengacungkan jempol pada Mawar, bisa gawat kalau Ayu pulang dengan kaki nya lecet. Malik akan mengamuk mereka semua.
Jangankan lecet Ayu tidak membalas pesannya saja bisa membuat Malik kalang kabut resah. Ayu selalu harus ada dalam pengawasan Malik, tidak boleh sakit.
Konser berjalan dengan sukses, sepanjang konser mereka bertiga banyak berteriak memanggil nama Idol kesayangan mereka. Tidak kalah dari anak-anak muda yang masih sangat segar. Meski kehabisan suara, mereka tetap semangat sampai akhir.
"Yahhh.....cepet sekali, 3 jam tidak terasa." Keluh Ayu yang masih ingin melihat penampilan mereka. Candu dan sangat menyegarkan matanya. “Mereka aslinya lebih tampan, akau makin suka.” Bertingkah gemas.
"Kau ini.....ayo cepat siap-siap kita keluar." Pinta Sandra yang tidak mau keluar saat berdesakan. “Jangan memuji mereka di depan Kak Malik. Bisa tidak di kasih ijin lagi untuk kita nonton mereka.” Ayu mengangguk paham.
"Tunggu San, mereka masih ada di atas panggung." Bicara saling berteriak karena sangat bising. Melani masih betah.
"Yah....Sandra, kau sama saja seperti Kak Malik. Tidak bisa bersantai. Tidak asik." Ayu juga masih betah.
Baru juga mereka akan berdiri, kondisi sudah berdesakan berebut keluar. Sandra menahan Ayu agar tetap ada di sisi nya.
Brakkkk....
"Sial*n....!!!!! Kau tidak punya mata!"
"Kau yang harusnya berjalan lebih cepat."
"Yeaccchhhhh......"
Terjadi keributan, terdengar dua orang wanita saling mencaci karena merasa sama-sama benar. Keributan yang terjadi berakibat antrian macet panjang. Semua yang berada di dekatnya saling menjauh dari jangkauan keributan agar tidak terkena dampak.
Ayu malah fokus pada perempuan-perempuan yang mengelilinginya melindungi.
__ADS_1
"Siapa mereka?" Tanya Ayu berbisik pada Mawar yang ada di sisi kirinya berdiri.
"Aku juga kurang tau Nona." Tidak mau membongkar rahasia yang Malik rencanakan demi keselamatan Ayu. "Sebaiknya Nona tetap berada di sisi Nona Sandra."
"Kenapa kalian berbisik?" Melani juga agak ngeri karena keributan yang terjadi.
Kedua pelaku keributan dengan cepat di evakuasi, sangat sigap dan cepat. Keadaan sudah kembali kondusif, kini antrian berjalan lebih teratur.
Setelahnya mereka di bawa ke jalan lain menghindari kerumunan. Hanya mereka bertiga dan para wanita yang tadi duduk di sisi Ayu seperti penonton pada umumnya. Tapi ternyata mereka sedang menjaga nya.
"Kenapa kita tidak keluar? Kemana kalian akan membawa kami!." Tanya Sandra ketus, dirinya sedikit takut karena sedang membawa Ayu.
"Tenang Non. Ini permintaan Bos." Sandra dan yang lainya terheran. Tapi kalau memang Malik yang melakukannya berarti mereka aman.
"Kenapa masuk ke sini? Kak Malik yang minta? Mawar yakin ini permintaan Kak Malik?" Tanyanya berulang kali. Ayu ketakutan, tidak mau ke sembarang tempat yang dirinya tidak tahu.
"Kita ikut saja, kalau sampai kalian macam-macam, mati kalian di tanganku." Sandra menatap dengan tajam. Raut wajahnya mengerikan.
Kreeekkkk....
Berjejer tujuh laki-laki tampan dengan senyum mempesona menyambut mereka.
Ketiganya tertegun, bagaimana bisa mereka masuk keruangan Idolanya. Ketakutan sirna, kini mata mereka bertiga berbinar. Senyum malu-malu menghiasi sudut bibir mereka.
"Annyeong haseo." Melambai-lambai kan tangan pada ke tiganya yang masih terpaku di tempat.
"Masuk San. Bawa Ayuna ku ke sini." Suara Malik menyadarkan keterkejutan mereka. “Jaga mata kalian.” Teriaknya lagi membuat mereka bertiga buru-buru masuk menemui Malik yang sudah menunggunya.
Ayu menghambur ke pelukkan Malik. Bahagia karena Malik sangat memanjakan dirinya. Dia mengabulkan daftar keinginanya yang sudah lama ingin Ayu wujudkan.
“Terimakasih Kak.” Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Malik.
“Terimakasih.” Malik menciumi puncak kepala Ayu gemas, pasti matanya bercaka-kaca karena bahagia.
“Aku tidak mau melihat air mata.” Ayu mendusel mengusapkan wajahnya agar air matanya kering terkena baju Malik. “Good girl. Kau menikmati konsernya?” Ayu mengangguk. “Kalau begitu kerja sama dengan mereka akan aku tanda tangani.”
__ADS_1