Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Kisah Adam dan Alana


__ADS_3

Berjalan bergandengan dua bocah kelas tiga SMP yang sudah sangat akrab sejak dulu. Kini mereka berdua karena prestasinya yang begitu memadai, mendapatkan beasiswa di sekolah yang cukup populer dan mahal di kota tempat tinggal mereka. Ini hari pertama mereka pindah sekolah


Sekolah milik keluarga Malik yang memang menyaring siswa-siswi hebat yang bisa mereka didik menjadi manusia berprestasi. Tentu saja kelak mereka akan berpengaruh bagi perusahaan-perusahaan yang tengah mereka kembangkan.


“Jangan takut Al, aku punya sahabat baik di sini. Namanya Malik.” Adam mendekatkan mulutnya di telinga Alana. “Dia anak satu-satunya pemilik sekolah ini.” Bisik Adam membuat Alana membola. Adam mengangguk membenarkan ucapannya.


“Wah....keren sekali kau bisa punya teman sehebat Malik.” Alana senang mendengarnya, setidaknya mereka tidak akan di pandang sebelah mata di sekolah yang isinya anak-anak orang kaya.


“Adam....” Keduanya menoleh, baru saja dibicarakan Malik sudah muncul. “Ini sahabat mu yang kau ceritakan?” Adam mengangguk. Malik mengulurkan tangannya, ramah sekali Malik kecil.


“Iya Al, namanya Alana.” Alana mengulurkan tangannya malu-malu.


“Aku akan menjaga kalian berdua, jadi tenang saja. Tidak akan ada yang berani menganggu kalian selama ada aku.” Malik membawa mereka masuk dan menunjukkan kelas mereka yang berada di kelas favorit.



Setelah pertemuan di hari pertama mereka sekolah, Malik semakin akrab dengan Adam dan Alana. Mereka bertiga selalu kemanapun bersama, tidak terpisahkan. Malik senang karena Adam tulus bersahabat dengan dirinya. Malik merasa menjadi diri sendiri jika sedang bersama Adam. Berbeda dengan Alana yang saat itu sering memanfaat kan Malik tapi Malik tidak perduli. Banyak kenangan indah masa sekolah.



Sedikit tidak suka dengan sikap Alana namun Malik menganggap nya wajar karena Alana tidak punya apapun. Adam dan Alana berasal dari keluarga yang biasa saja. Alana bahkan tinggal di panti asuhan dan tidak memiliki orang tua.


“Dam, aku lapar Dam.” Adam mengernyit, baru saja mereka selesai makan siang beberapa menit lalu. “Sugguh, aku benar-benar merasa lapar. Heheheh....” Adam merasa tidak enak hati pada Malik.


“Kita beli jajanan di depan saja bagaimana?” Tawar Malik mencoba memberikan solusi. “Tenang saja, aku tidak akan bangkrut hanya beli jajanan untuk kalian.” Adam menggaruk tengkuknya tidak enak hati.


“Tidak apa Al? Kau selalu mengeluarkan banyak uang untuk aku dan Alana.” Malik hanya tersenyum. Baginya Adam tidak bisa ditukar dengan apapun, dia sahabat paling berharga yang Malik miliki.


Selesai memilih makanan dan membayarnya, mereka berjalan pelan-pelan. Malik suka sekali bertukar cerita bersama Adam, mereka sangat cocok. Adam selalu mejadi pendengar yang begitu baik bagi Malik. Malik nyaman dan Adam juga menganggap Malik seperti adik nya, usia mereka hanya terpaut beberapa bulan dan Malik lebih muda.


“Hujan Dam....ayo kita berteduh dulu Dam.” Malik menarik tangan Adam ke sebuah bangunan kosong di pinggir jalan. “Kita tidak mungkin menerjang hujan Dam, tunggu sedikit reda.” Pinta Malik yang melihat wajah Adam khawatir.



“Alana takut hujan Al, dia pasti ketakutan di rumah sendirian.” Adam merasa bersalah meninggalkan Alana seorang diri. “Kau tunggu saja di sini. Aku akan kembali lagi bawa payung ya Al.” Malik menggeleng. Takut kalau disana sendirian.

__ADS_1


Tin...tin...tin....


Keduaya menegok, ternyata Ayah Malik yang datang. Adam sudah mengenal baik Rama Saputra, laki-laki baik hati yang menyayanginya seperti dia menyayangi Malik.


Mereka berdua berjalan bergandengan di bawa Payung yang di pegang Pak Dodo yang tentu saja masih sangat muda waktu itu. Malik duduk di pangkuan Rama, memeluknya erat. Rama mengulurkan tangannya agar Adam juga memeluknya.


“Kenapa kalian ada di sini?” Malik mengangkat kresek hitam yang ada di tangannya. “Kebiasaan kalian ini, suka sekali jajan sembarangan. Kalau Mamih tahu kalian jajan sembarangan, habis kalian.”


“Kalau begitu rahasia ya Yah. Ini kita hanya belikan untuk Alana.” Rama mengernyit, dirinya sering mendapat laporan jika Alana suka sekali memeras anaknya yang sangat polos dan baik hati.


Tidak masalah selama Alana baik dan tidak berbahaya. Rama menganggapnya wajar karena Alana pasti tidak bisa menikmati banyak makanan enak karena keadaannya memang memprihatinkan.


Rama meminta Pak Dodo segera menuju rumah Adam, mereka sudah sampai di depan gang sempit yang ada di belakang perumahan mewah yang dihuni Malik. Gang sempit membuat mobil Rama tidak mungkin bisa masuk.


“Kalian di sini saja, aku hanya mengambil buku dan menjemput Alana. Kita kerjakan PR di rumah kau saja ya Al.” Malik mengangguk setuju. Rumah Adam banyak yang bocor jika hujan deras seperti sekarang.


Adam lari cukup cepat. Di dalam rumahnya terdengar kegaduhan yang membuat Dada Adam bergemuruh, Ayah tirinya ada di rumah, dan Ibu nya juga sudah pulang.


Dimana Alana?


Adam mecari dengan teliti apa yang Ayah Tirinya tunjuk, Alana ada di pojok kasur milik kedua orang tuanya. Tubuhnya terbungkus selimut, Adam sedang kebingunga. Dirinya takut mendekat karena Ayah Tirinya sangat ringan tangan.


“Anak kecil seperti dia mana bisa menggoda laki-laki buaya seperti dirimu. Kau mata keranjang, sekarang keluar dari rumah ku! Pergi!.” Teriak Lidia kesal mendapati suaminya mencoba menggauli Alana yang masih anak di bawah umur.


“Enak saja kalu bicara! Aku tidak bersalah, dia yang menarik bajuku dan memintaku menidurinya. Jangan percaya wajah polosnya.” Alana terlihat menutup kupingnya. Gadis kecil yang saat ini sangat ketakutan.


“Pergi! Cepat Pergi!” Teriak Lidia tidak mau lagi mendengarkan alasan dari laki-laki yang hanya menorehkan luka sepanjang hidupnya.


Tangan besarnya menarik Lidia sampai terpojok di tembok. Adam yang melihatnya lari menghampiri keduanya, mencoba memukul sekuat tenaga agar cekikan di leher Ibunya terlepas.


Hanya Ibunya yanga Adam miliki. Dia tidak mau kehilangan lagi, meski Ibunya bukan wanita baik. Dia menghabiskan banyak waktu dengan pekerjaanya yang membuat waktunya begitu sedikit untuk Adam.


“Lepaskan! Lepaskan.....tolong.....!!!!!” Adam di dorong sampai tersungkur. Melihatnya Lidia mencoba melepaskan tangan kekar suaminya yang membuat cekikan di lehernya semakin kuat.


“Mati kau! Jangan kau kira bisa dengan mudah lepas dari ku! Mati kau!” Cekikan di leher Lidia semakin kencang.

__ADS_1


Pyarrrrr.....


Adam memukul kepala Ayah Tiri nya dengan botol kosong yang ada di samping lemari. Pecahan botol yang bercampur dengan darah berserakan di lantai. Mata Ayah Tiri Adam melotot lebih tajam. Tangannya masih mencekik Lidia yang saat ini sudah tidak sadarkan diri.


“Berani sekali kau bocah ingusan!” Menghempas tubuh Lidia ke lantai. Tangannya yang sudah terayun di puluk keras oleh Rama yang baru saja masuk. “Siapa Kau!”


“Adam lari! Cepat Adam.” Adam masuk ke dalam kamarnya. Menguncinya dengan rapat, Adam ketakutan. Dirinya takut jika harus kehilangan Ibunya, satu-satunya keluarga yang Adam miliki saat ini.


Perkelahian tak terelakan terjadi, Rama berusaha dengan kuat melawan laki-laki bertubuh besar yang berada di bawah pengaruh alkohol. Rama mencoba untuk membela diri tapi tidak sampai membunuh lawannya. Cukup lama, sampai ada beberapa warga yang datang melerai karena hujan deras berhenti dan suara kegaduhan terdengar ke rumah warga.


Segera warga yang berkumpul memisahkan Rama dan berusaha menyelamatkan Lidia yang sudah terkapar tidak bernyawa karena cekikan di lehernya berakibat fatal.


Warga semakin terkejut karena mendegar suara isak tangis dari balik selimut. Salah seorang waga menyingkap selimut dan terkejut melihat gadis tanpa busana di bawah selimut. Kini mereka sedikit tahu bagaimana pertengkaran ini bisa terjadi.


Rama meminta warga yang berkumpul menyelesaikan perkara yang terjadi dan membantu proses pelaporan pada pihak berwajib. Dirinya meminta Pak Dodo membawa Malik pulang tanpa penjelasan. Meski marah, Malik tetap mengikuti Pak Dodo pulang dengan perasaan kesal.


Rama mengetuk perlahan pintu kamar Adam, tidak di buka. Alana sudah di bawa pihak berwajib untuk di jadikan saksi dan Rama akan menyusul setelah membujuk Adam yang tidak juga keluar dari sana. “Ayah akan kembali Dam, Ayah tunggu sampai Adam mau bicara pada Ayah ya Nak.” Tidak ada sahutan.


Rama tahu sekali Adam tengah berduka, dia pasti mendengar suara warga yang mengatakan jika Ibunya sudah tidak ada lagi. Rama menyesal semua ini terjadi menimpa anak sebaik Adam. Rama bertelad akan membawa Adam menjadi anak yang membanggakan dan berhasil. Rama akan mengurusnya seperti Putra nya sendiri.


Rama duduk di kursi saksi bersama Alana di dalam ruang interogasi, gadis kecil yang seharusnya tengah belajar bersama Adam dan juga Putra nya.


Rama geram mendengar penuturan Ayah Tiri Adam yang mnegatakan Alana lah yang memicu semua ini terjadi. Bagaiman mungkin, dia baik. Meski suka sekali memanfaat kan keadaan dan kebaikan Putra nya.


“Jangan lihat wajahnya! Dia hanya pura-pura polos dan pura-pura lugu!” Mencerca Alana yang hanya duduk gemetar di kursinya.


“Jangan hiraukan Al! Semua akan baik-baik saja.” Bisik Rama mencoba menenangkan Alana, dia hanya mendunduk ketakutan.


“Jadi benar kau yang membuat Ibuku mati! Kau yang membuat Ibuku meninggalkan ku?!” Rama dan yang lainnya terkejut mendapati Adam ada di sana, di pintu masuk ruang interogasi. “Kau jahat Alana! Kau jahat!”


Alana hanya mematung, dirinya disalahkan oleh sahabatnya. Sahabat yang seharusnya memberikannya pertolongan. Sahabat satu-satunya yang seharusnya bisa Alana andalkan seperti biasanya. Alana terisak pilu, sudah tidak ada lagi yang percaya pada dirinya.



Setelah kejadian itu Alana menghilang, Rama kesulitan mencari informasi tentang Alana yang tidak mau ditemukan. Rama ingin membuktikan jika Alana tidak bersalah pada Adam yang sudah terlanjur membencinya, meski luka-luka yang Alana alami sudah bisa membuktikan jika Alana tidak bersalah.

__ADS_1


Kisah mereka terkubur begitu saja, Rama hanya fokus pada Adam yang ingin dirinya pulihkan. Malik tidak tahu apa yang kedua sahabatnya Alami, Rama menutpnya rapat-rapat tidak mau Malik memikirkan hal buruk yang terjadi pada Adam. Rama tahu Malik akan ikut tersiksa jika tahu sahabatnya mengalami kejadian memilukan sampai harus kehilangan Ibunya untuk selama-lamanya.


__ADS_2