Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Manusia Normal


__ADS_3

Ayuna sudah berdiri di depan gedung menjulang tinggi yang memiliki dua puluh lantai. Milik Mas nya yang saat ini menjadi salah satu designer besar di Asia. Namanya populer di kalangan para seniman yang menggeluti dunia yang sama dengan Mas nya.


Debar irama jantungnya sedikit keras saat ini. Ini hari yang sedikit gila, ada ide gila yang seharusnya tidak dirinya lakukan.


Huhhhhhhh.....


Menghela nafanya kasar.


Ayuna berjalan perlahan menuju lobby, datang layaknya tamu pada umumnya yang tidak cocok dengan dirinya. Ada Mawar yang selalu mengikuti kemanapun Ayuna melangkah. Meski jaraknya tidak begitu dekat sesuai permintaan.



"Siang ..." Resepsionis yang sedang menerima telpon tertegun. Kenapa tidak langsung masuk malah mampir ke meja nya. Tumben sekali.


"Ibu Ayu silahkan masuk saja Bu seperti biasa." Ucapnya ramah, dia wanita yang fotonya ada di setiap sudut ruangan Jofan dan Riyan. Bagaimana mereka tidak mengenalnya dengan baik.


Mereka mengenal Ayu sebagai pengendali keharmonisan suasa kantor tempat mereka bekerja. Jika Ayuna baik, dunia pekerjaan mereka juga baik.


"Aku ingin....hmmmmm....." Ragu tapi dirinya ingin sekali mencoba. Tersenyum mencurigakan.


"Katakan Bu, kami akan membantu Ibu Ayu." Ramah sekali membuat Ayu tidak nyaman. Ayu memiliki ujung hijabnya merasa sangat ragu. "Katakan saja Bu Ayu, jangan malu-malu Bu."


"Aku mau isi buku tamu....boleh kan Kak?" Tanya Ayu memberanikan diri. Resepsionis yang berdiri di depan Ayuna menyunggingkan senyum. Ingin terbahak tapi rasanya tidak pantas.


Ayu tidak kaget karena dirinya sudah di nasehati sebelum melakukan aksi konyolnya ini.


"Lakukan senyamannya Bu, silahkan." Ayu dengan senang hati menuliskan namanya. Senyumnya tidak pudar seolah melakukan hal besar. Bagi orang lain mungkin remeh, tapi bagi dirinya ini hal langka yang belum pernah dirinya lakukan.


Ayu melihat beberapa nama yang ada di daftar sebelum dirinya. "Aku harus menunggu dua orang ya Kak?" Lagi-lagi wanita yang berdiri di depannya tersenyum. Aneh sekali tapi menggemaskan.


"Bisa saya lewati keduanya kalau Ibu mau." Tawarnya tidak mau wanita kesayangan pemilik perusahaan kesulitan.


"Jangan Kak, aku menunggu saja." Ayu duduk dengan ramah di kursi tunggu. Wajahnya berseri berhasil melakukan hal baru. Resepsionis yang berjaga mengasihi Ayu agar tetap aman.


Perdebatan sebelum melakukan aksi konyolnya.


"Kak, jangan antar ya.....aku pergi dengan pak Dodo dan Mawar saja, Sama Biru juga. Tapi gak mau sama Kak Malik." Ucapnya lembut.


Malik menatap penuh selidik, apa lagi kali ini.


"Mana bisa begitu Love. Jangan macam-macam." Malik tidak mau ambil pusing karena masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Kali ini saja, aku ingin melakukan percobaan." Malik menurunkan kaca matanya. Ada yang janggal dengan ucapannya barusan.


"Hal baru apa? Jangan berbuat yang aneh-aneh." Mencoba memperingatkan. Malik sangat penasaran.


"Gak bahaya Kak, cuma mau jadi tamu seperti orang lain saat datang ke perusahaan besar." Malik masih tidak paham.


"Bicara yang benar Mom, apa maksudnya." Ayu merapatkan duduknya. Meraih tangan suaminya dan mengecupnya.


"Aku ingin seperti manusia normal. Jadi tamu normal, dan diperlakukan dengan normal." Malik menepuk pahanya. Ayu dengan cepat berpindah ke pangkuan suaminya.


"Kau sangat normal di antara kami semua Mom. Apa yang membuatmu berpikir tidak menjadi manusia normal selama ini." Ayu bingung sendiri menjelaskannya bagaimana.

__ADS_1


"Jadi begini. Aku datang. Aku mau isi buku tamu, menunggu, dan jadi orang biasa." Malik terbahak. Ayu kesal melihatnya.



"Jangan macam-macam sayang, tidak pantas. Bagaimana istri seorang Malik duduk di kursi tunggu. No Mom, No." Malik masih tertawa.


"Mau coba Kak, serius aku penasaran. Aku ingin seperti orang normal." Malik menutup laptopnya. Aneh-aneh saja tingkah laku istrinya akhir-akhir ini.


"Tidak di ijinkan, masuk saja. Langsung saja temui Adiknnya, kenapa jadi mau bertingkah begitu sih Mom." Malik masih menertawakan Ayuna.


"Ihhhh.....Daddy gak paham di ajak bicara dari tadi." Sudah mulai kesal.


"Jangan bilang ini ngidam. Daddy tidak percaya." Baru saja mulutnya mau bicara begitu, suaminya sudah bisa menebak. Jurus terakhir.


"Kali ini Mommy yang mau, bukan Baby mau. Please......ku mohon. Bukan hal berbahaya, Daddy bilang selama aman aku boleh lakukan apapun." Racaunya membuat Malik tidak tega.


"Mommy sudah di peringatkan dokter untuk tidak banyak bergerak, tidak banyak mengendarai mobil dan lebih banyak di rumah. Istirahat Mom." Wajah antusiasnya hilang. "Jangan begitu, Mommy tahu Daddy tidak tahan." Malik menyisir rambut Ayuna dengan jari-jarinya.


"Sekali saja, aku ingin coba.....please Oppa....ku mohon." Mengedipkan matanya genit.


"Pandai sekali merayu." Malik memeluk Ayuna. Bagaimana permintaanya hanya hal-hal remeh padahal dirinya bisa minta apapun darinya.


Ayu berbinar, sedikit lagi lampunya hijau. Suaminya pasti mengijinkan.


"Janji tapi Mom." Ayu menengadahkan wajahnya. "Jangan ceroboh, dan jangan sedih saat mereka tertawa." Mengernyitkan dahinya. "Mereka akan berpikir Mommy aneh, mereka kenal baik siapa dirimu. Jadi mereka pasti akan tertawa."


"Like you Dad?" Malik mengangguk. Pantas saja, suaminya tertawa begitu puas.


Kembali pada Ayu yang sedang asik menunggu dengan beberapa orang lainnya. Ayu tersenyum ramah pada setiap yang datang, jarang sekali dirinya berinteraksi dengan orang asing.



Matanya kini menatap kesal pada pegawainya yang tidak tahu apa-apa. Mereka hanya menuruti kemauan Ayuna.


"Maaf Pak, Ibu yang mau duduk di sana." Ucap pegawainya mencoba membela diri.


Kaki Ayu tiba-tiba kesemutan saat akan berdiri. Kini dengan cepat berjalan pincang menghampiri adik nya yang terlihat sangat marah.


"Lihat! Kenapa kalian malah menyuruhnya duduk di sana! Sudah bosan kerja kalian!" Ayuna terbelalak, tidak pernah melihat Riyan marah seperti ini. Para pegawai juga bingung karena Riyan tipe orang yang selalu mencari tahu dulu sebelum marah.


"Adek......ihhhh.....serem sekali marahnya. Aku yang mau. Aku ingin coba jadi tamu seperti mereka. Tamu normal seperti manusia pada umumnya." Riyan yang sedang marah ingin tertawa, lucu sekali Mbak nya ini.


Tersenyum dengan manis pada Ayuna. Semarah apapun, Riyan akan begitu manis pada wanita kesayanganya . Riyan meraih tangannya dan membawa nya naik. Sedikit malu karena marah tanpa sebab tapi gengsi mengakuinya.


Berhenti melangkah dan kembali menatap para pegawainya yang masih menunduk.


"Kalian, kalau melihat tingkah konyolnya lagi, jangan diam saja. Laporkan padaku." Ayu jadi merasa bersalah orang lain di salahkan karena ulahnya.


"Sorry...." Itu yang para pegawai tangkap dari gerak bibir Ayuna.


Mereka tersenyum karena senang bisa membantu Ayu menghilangkan rasa penasarannya. Memang agak aneh, tapi mereka paham dengan yang Ayu ingin lakukan.


Ayu kini sudah duduk di ruangan yang sudah cukup lama tidak dirinya kunjungi. Semenjak hamil dan semenjak anak-anak masuk SMA. Sudah cukup lama, padahal biasanya hampir setiap hari dirinya datang.

__ADS_1


Riyan masih berkutat dengan komputernya. Ayu mencoba melihat-lihat sosial media tapi tidak membantu, dirinya rindu bicara dengan Riyan. Dengan Adiknya.


"Adek sibuk banget sih. Mbak mau makan sama-sama Dek." Pinta Ayu yang sudah lelah duduk dan menunggu.


"Sebentar lagi, ada dokumen yang harus aku email." Ayu menyandarkan kepalanya di sofa. Lagi-lagi pekerjaan mereka menghalangi, tidak memberikan mereka banyak waktu untuk bicara.


"Sibuknya melebihi Kak Malik, ketemu di rumah gak pernah. Di kantor sibuk begitu, Mbak nya di cuekin." Ayu merajuk. Pasalnya setelah kejadian yang menimpa Melani, Riyan tidak sekalipun datang menemuinya.


Riyan menghela panjang nafasnya. Tersenyum dengan manis dan berjalan duduk di sisi Mbak nya. Menghindar bukan berarti bersikap kurang ajar, apalagi pada wanita yang selalu mencintainya melebihi dirinya sendiri.


"Ayo kita makan." Riyan membuka kotak makan yang ada di atas meja.



Tok....tok....tok ....


"Siang Pak! Maaf saya tidak tahu bapak sedang makan siang. Hanya mau mengingatkan sepuluh menit lagi meeting di mulai ya Pak." Riyan mengangguk.


Ayu melotot ke arahnya.


"Sorry Mbak, tapi aku benar-benar sedang sangat sibuk. Mas Jofan tidak ada jadi aku handle semua pekerjaan." Ayu tidak menjawab, Riyan tahu sekali Mbak nya sedang kesal.


Ayuna akan diam saja saat dirinya kesal, tidak mau kata-kata yang keluar karena amarah akan menyakiti hati orang yang di sayanginya. Dia akan memilih diam memendam rasa kesalnya. Nanti juga hilang kalau sudah tidak ingat.


"Mbak pulang, terima kasih sudah mau makan masakan Mbak." Riyan tercengang mendengar suara nya bergetar. Ayu berjalan terburu-buru.


"Mbak...Mbak....akhhhh...." Riyan mengusak rambutnya kesal.


Riyan mengejar Ayuna yang sudah ada di depan lift. Sudut matanya terlihat basah. Riyan memeluk nya erat.


Tring....


Pintu lift terbuka, Riyan menuntun Mbak nya dengan lembut memasuki lift.


"Riyan antar ke bawah. Jangan sedih, beri sedikit lagi adik mu ini ruang. Sebentar lagi aku janji." Ayu mengangguk. Sulit sekali mencairkan adiknya.


Dia sangat keras pada pendiriannya. Tapi sikapnya tetap lembut meski hatinya sedang tidak baik.


Berjalan menggandeng tangan Ayuna tanpa rasa risih dan malu. Riyan dan Jofan selalu begitu pada dirinya.


"Mbak pulang yah, mampir ya Dek. Jangan lama-lama seperti ini. Mbak mu sesak rasanya." Riyan mengecup pipi Ayu lembut.


"Iya, sekarang pulang dan istirahat." Ayu melambaikan tangannya, melihat Riyan dalam keadaan baik dirinya lega. Meski kurusan karena terlalu banyak bekerja.


Riyan pasti melakukan semua itu demi mendapatkan damai dalam dirinya. Dia pasti kesulitan mengatur emosinya jika sedang seorang diri. Ayu mengenal dengan baik bagaimana Riyan tidak mau melibatkan banyak orang untuk urusannya.


"Mommy tidak mau duduk di depan?" Ayu yang sedang melamun terkejut. Bukan pak Dodo, tapi suaminya yang ada di kursi depan.


"Kak Malik kok di sini? Bukanya ada meeting katanya?" Tanya Ayu penasaran.


"Aku rindu Mom." Malik turun membuka pintu mobil dan menuntun Istrinya duduk di sisi nya. "Rindu sekali padahal baru pergi sebentar." Malik mengecup bibir Ayuna sekilas.


"Kak Malik membuatku jantungan." Masih tidak percaya yang ada di depannya suaminya.

__ADS_1


"Kita jemput anak-anak ya Mom. Daddy mau ajak mereka makan siang di tempat Anna." Ayu mengacungkan ibu jarinya setuju.


__ADS_2