Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Pengakuan Part 1


__ADS_3

Malam ini Ayu tidak mau tidur di kamarnya, dia memilih tidur di ruang tamu karena dirinya sangat sulit tidur malam ini. Ayu akan menghabiskan waktu merenung di ruang tamu saat pikirannya sedang tidak karuan.


Ingin sekali rasanya menghubungi Melan, tapi Melan meminta semua orang menjauhinya sementara waktu. Ayu berulang kali membuang kasar nafasnya.


Malik jadi ikut resah mendengar ******* nafas istrinya.


"Mom...." Ranu menghampiri kedua orang tuanya yang masih terjaga di tengah malam. "Loh...kok Mommy belum tidur? Sudah tengah malam loh ini Mom."


Ranu mengecek suhu tubuh Mommy nya. Tangannya akan refleks jika mendapati Mommy nya sedang gelisah seperti ini.


"Daddy gak di tanya? Daddy loh masih melek juga." Ranu melongok sekilas tapi malas menanggapi.


Daddy nya sudah biasa bergadang, Mommy nya berbeda. Dia diperlakukan disiplin selama ini agar tubuhnya tetap sehat dan sakitnya tidak kambuh.


"Mommy ok kan?" Ayu memeluk erat Putra nya. Suka sekali aroma tubuh Putranya yang wangi, segar sekali di hidungnya.


"Tolong Mommy boleh tidak?" Ranu yang sudah memastikan suhu tubuh Mommya normal menatap lekat bola mata Mommy nya. Suka aneh-aneh permintannya. Suka sekali meminta yang tidak masuk akal.


"Minta apa Mom? Abang pasti kabulkan." Tidak mau menyakiti perasaan Mommy nya yang sangat lembut.


"Bisa tidak telpon Tante Melan, Mommy khawatir Bang." Kembali memeluk Ranu, sedikit lebih erat. Senang sekali anaknya, tapi permintannya sulit di kabulkan.


"Mommy, sepertinya sekarang bukan waktu yang pas. Jangan sekarang, besok saja Abang kabulkan. Aunt pasti Bobo Mom, ini tengah malam Mom." Melepas pelukkannya.


Wajah Mommy nya jelas sekali sedang merajuk. Pantas saja Daddy nya tidak mau bertanya-tanya. Ternyata permintannya sulit di turuti.


"Kalian sama saja. Mommy ingin hubungi tapi segan." Manyun merasa kecewa.


Keduanya saling menatap tidak bisa menuruti kemauan wanita kesayangannya kali ini. Bukan tidak bisa, mereka berdua sedang memberikan waktu pada Melan. Dia meminta waktu berpikir sendiri. Dan sudah beberapa kali mereka menghadapi permintaan Melan yang sama. Ayu di ajak bersabar sedikit saja agar Melan menikmati waktunya.


"Abang besok hubungi, sekarang Mommy bobo yah. Nanti sakit Mom, Abang akan ujian dan pasti tidak konsen kalau Mommy nya sakit." Memainkan rambut Mommy nya yang wangi menyegarkan.


"Nanti ah....mommy tidak bisa tidur. Kalian bobo duluan saja. Mommy belum ngantuk." Ayu malah melenggang ke dapur.


"Tidak suami mu ijinkan malam-malam masak. Bahaya, kalau ngantuk jari mu bisa terkena pisau." Berteriak keras.

__ADS_1


"Aku cuma mau ambil minum Kak." Ayu tidak ada niatan masak saat pikirannya kacau. Bisa-bisa masakannya hanya akan terbuang sia-sia karena rasanya aneh dan pasti tidak sesuai dengan seleranya.


Malik dan Ranu tidak mau membiarkan Ayu sendirian saat dirinya tidak bisa tidur. Mereka menjaga nya dengan sepenuh hati. Ayu benar-benar harus di awasi, ceroboh sekali tangan dan kakinya. Tangannya bisa dengan tidak sengaja menyenggol apa saja dan membuatnya berantakan. Tidak bisa Malik membiarkan Ayuna nya seorang diri dalam keadaan seperti ini.


Di dalam rumah saja dia bisa celaka karena kecerobohannya, mana bisa Malik dan Putranya meninggalkannya sendiri. Bisa-bisa mereka tidur dihantui rasa khawatir. Mereka hafal betul bagaimana Ayu saat pikirannya tidak tenang. Mereka tidak boleh lengah sedikit saja. Harus tetap waspada dan fokus mengawasi.


“Kalian kan besok ada kegiatan, kenapa belum juga tidur. Mommy besok tidak kemana-mana jadi bisa istirahat.” Mencoba mengusir dengan halus. Kasihan sekali mereka ikut bergadang demi menemani dirinya.


“Aku masih ada kerjaan sayang. Tidak apa, lanjutkan saja apa yang sedang Ayu kerjakan.” Bicara tanpa menoleh pada Ayu, matanya fokus pada laptop. Malik memilih membalas email yang memenuhi pesan masuknya. Pekerjaanya menumpuk.


Mengerjakan apa aku ini, hanya bolak-balik tidak ada tujuan dari tadi. Mereka saja yang sibuk. Aku tidak sama sekali punya kesibukan.


“Abang…..kan besok sekolah. Ujian kan, sana bobo Nak, kan ada Daddy yang jaga Mommy.” Duduk di sisi Ranu yang asik dengan TV.


“Abang ok kok, sudah belajar dan istirahat tadi. Mata Abang tidak mengantuk.” Bohongnya yang sedang menonton TV santai sambil rebahan. Ngantuknya di tahan demi menemani Mommy nya. Ayu merasa tidak enak hati membuat keduanya bergadang.


Alasan saja mereka ini. Padahal pasti karena dirinya. “Mommy ngantuk Bang. Huaammmm….” Pura-pura menguap.


“Ok….” Keduanya kompak berdiri.


Akhirnya karena kasihan dengan dua kesayangannya, Ayu memutuskan memaksa matanya terpejam. Dengan susah payah akhirnya dirinya terlelap di pelukkan Malik. Suaminya tidak mau melepaskan pelukannya, takut Ayu pergi keluar kamar sendiri dan dirinya tidak tahu. Tidak mau kecolongan seperti yang sudah-sudah.


Tidur di sofa memang nyaman, tapi untuk Ayu yang tubuhnya kecil. Untuk Ranu dan Malik, sofa tidak senyaman kasur. Dirinya mengalah dan memejamkan matanya di pelukkan hangat Malik setelah pindah ke kamarnya. Ranu bahkan segera masuk kamarnya, lega Mommy nya mau istirahat.


"Kak, besok ke rumah yah. Mom sepertinya sedih sekali karena ulah Om Riyan. Aku ingin pukul tapi pasti Mom akan marah padaku." Mengadu pada Mahesa tentang perasannya yang di rundung kesal.


"Jangan pakai kekerasan, mungkin Om Riyan sedang sedikit uji nyali Dek." Emoticon love banyak.


Mahes juga tidak bisa tidur, Ranu mengirim pesan karena melihat Mahes masih online di media social.


"Kak Mahes tidak marah lihat Mommy menangis seperti tadi? Aku hampir saja kehabisan kesabaran, untung Mamah Anna memegang tanganku dengan erat."


Mahes tertawa, dirinya juga semarah itu tadi. Tapi tidak bisa melampiaskan marahnya entah kenapa. Ternyata Mahes dan Ranu sama. Tidak bis melihat Mommy nya di sakiti apalagi sampai menangis seperti tadi. Apapun alasannya.


"Kak Mahes besok ke rumah. Jangan biarkan Om Riyan menemui Mommy. Kakak masih belum bisa kasih ijin. Hukumannya masih berlaku sampai hatiku sembuh sempurna." Mahes memang sebelumnya sudah mengirim pesan di group obrolan mereka.

__ADS_1


Pesan Mahes.


Untuk Om Riyan, maaf kalau Mahes terdengar tidak sopan atau kasar. Tapi Mahes minta pada Om Riyan untuk tidak menemui Mommy ku sampai aku benar-benar bisa melihat senyumnya kembali. Sampai Mommy ku nyaman dan tidak lagi merasa sedih saat melihat kalian. Tidak ada tawar menawar, Mahes harap Om mengerti.


Riyan membalas


Om sekali lagi minta maaf, tidak akan Om biarkan Mommy kalian sedih. Om akan bereskan secepatnya. Om sayang sekali dengan Kakak terbaikku. Om minta maaf.


Yang lain menimpali degan beragam, ada yang hanya meng iyakan dan ada yang menasehati Riyan. Malik tidak ikut campur, Malik masih emosi sekali dengan kelakuan Riyan. Dirinya sedikit kecewa.


Dalam kamusnya tidak pernah sekalipun mempermainkan wanita, dirinya sangat menjaga agar tidak ada kejadian seperti ini yang bisa membuat Ayuna sedih. Tapi kejadian yang menimpa Riyan di luar kendalinya. Malik tidak punya kuasa.


"Ok, Ranu juga besok selesai ujian langsung pulang. Kesal sekali aku ini."


Obrolan dua anak remaja yang kecewa dengan sikap orang dewasa yang sekenanya saat bertindak, tidak memikirkan dampak dari perbuatannya yang merugikan wanita kesayangannya. Sedih sekali melihat air matanya.


Pagi ini Riyan sudah menunggu Melani di depan apartemen. Riyan semalaman menunggu karena Melani tidak kunjung membalas pesannya. Telpon nya juga di abaikan dari semalam, khawatir sekali takut Melan sedih sendiri.


Kring.....kringggg....


Melan degan malas mengangkat telpon apartemen nya yang berbunyi 3 kali. Takut penting jadi Melan terpaksa mengangkatnya.


Ternyata hanya informasikan mengenai tamu nya yang datang sejak subuh tadi. Beberapa penjaga menghubungi Melan karena mengenal Riyan, beberapa kali Riyan datang sebagai tamu Melan.


Dari semalam mobilnya masuk parkiran, namun baru mereka dapati subuh tadi Riyan berdiri di depan apartemen Melan.


Dengan terpaksa Melan membuka pintu unit apartemen nya. Kusut sekali wajah adik kesayangan sahabat nya ini.


"Kenapa kau tersenyum, masuk lah. Satpam di sini sampai menghubungiku agar membukakan pintu." Terdengar ada paksaan. Wajahnya juga tidak seramah biasanya.


"Kak, disini saj kalau Kak Melan merasa terganggu. Aku...."


"Tidak, masuk." Riyan melangkah masuk. "Wajahmu pucat sekali Yan, sejak kapan kau di sini." Riyan mengikuti Melan yang masuk ke dalam ruang tengah.


"Subuh tadi, aku tidak bisa memejamkan mataku." Mengaku dengan malu-malu. Padahal sudah semalaman menunggu

__ADS_1


"Memikirkan ku?" Riyan mengangguk. Wajahnya masih malu-malu namun ada senyum. Bahagia Melan tidak memakinya.


__ADS_2