Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Jangan Temui Aku Dulu


__ADS_3

“Kenapa menatpku seperti itu.” Melani benar-benar ingin kabur dari ruangan yang begitu banyak mata penuh tanda Tanya pada dirinya.


“Maaf Kak Mel, aku yang salah. Semua terjadi bukan kesalahan Kak Melani. Ini murni kesalahanku. Aku minta maaf.” Ayuna semakin bingung. Apa sih yang sedang Riyan bicarakan.


“Bicara apa kamu Yan, yang jelas. Kak Malik tidak mengerti. Apa hubunganmu dengan Helga dan Melani. Ada apa ini?” Malik membawa Helga agar kembali duduk di tempatnya. “Tenang Hel, kita selesaikan baik-baik.” Helga yang masih terisak menurut. Sudah tidak ada tenaga untuk melawan.


"Adek.....ikut Mas." Jofan membawa Riyan ke ruangan Rey.


Menunduk, tentu saja Riyan tidak punya muka bicara dengan Jofan. Laki-laki yang merawatnya sepenuh hati, pasti Mas nya akan sangat kecewa. Atau bisa saja juga tidak. Pikiran Riyan kacau. Perasaanya sulit sekali dikendalikan.


"Mau bicara sekarang atau Mas bawa Riyan pulang dulu?" Lembut sekali suara Mas nya, Riyan malah semakin takut.


Untuk pertama kalinya dirinya merasa mengecewakan Jofan. Riyan sangat menyesali kecerobohannya.


"Aku.....aku sebenarnya malu Mas. Aku malu mengakui perasaan ku dan malah menjerat Helga. Aku kira akan sembuh dan hilang. Tapi malah berakar semakin dalam. Aku menyakiti wanita lain karena perasaanku." Jofan sedikit bisa menebak. Tapi tidak mau berasumsi.


"Kak Melan yang sudah curi hati Adik Ku?" Riyan mengangguk. Jofan ingin tertawa tapi dia tahan. Ternyata benar, mulutnya tidak bisa di kontrol. Keluar juga karena rasa penasaran yang besar.


Bisa-bisa nya Riyan jatuh hati pada manusia seunik sahabatnya.


"Jangan bilang Mbak Ayu Mas, aku mohon." Riyan memelas dan memohon pengertian.


"Kenapa tidak coba tanyakan pada Melan? Kenapa sembunyikan Dek?" Jofan meraih pundak Riyan, mengukuhkan kekuatan Adik nya yang goyah.


"Riyan mana pantas Mas, aku ini bukan apa-apa. Kak Melan wanita hebat." Pujinya yang membuat dirinya sendiri tersipu malu.


"Kalau begitu selesaikan dulu dengan Helga, Mbak mu akan ngamuk kalau tahu Riyan main-main dengan perasaan perempuan."


"Baik Mas. Riyan akan selesaikan sampai tuntas. Maaf membuat keributan." Jofan merangkul Riyan dan membawanya kembali keluar.


Di luar ada keributan, Melan merasa dirinya di pojokan atas tindakan yang tidak dia lakukan sama sekali. Kesal dan merasa frustasi padahal tidak ada yang menyalahkannya. Tapi melihat tatapan semua orang pada dirinya Melan kesal. Merasa disalahkan dan merasa dirinya yang di tatap penuh kebencian.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu. Aku tidak pernah meminta Riyan suka denganku. Kenapa menatapku setajam itu." Memaki entah pada siapa.

__ADS_1


"Aunty tenang, tidak ada yang salahkan aunt. Tenang yah." Mahes dan Ranu masih merayu Melan agar tidak emosi.


"Aunt kesal, mereka tidak ada yang bicara dan hanya menatap kesal padaku." Nadanya sendu.


Melan memang paling tidak bisa di diami. Dia akan merasa kebakaran dan meminta semua orang menjelaskan apa mau mereka. Tidak dengan melihatnya tanpa bicara apapun.


"Jangan bicara asal-asalan ya Mel. Meracuni otak anak-anak ku saja kau ini." Malik memaki kesal. Dirinya hanya khawatir Ayuna kembali terluka.


Entah kenapa Malik sangat kesal pada Melani yang bersikap kekanakan. Malik yang masih mencoba menenangkan Helga malah tidak sadar menyakiti perasaan Melan yang memang seperti anak kecil saat merajuk.


Melan menunduk, hatinya tersakiti. Padahal sudah biasa Malik memaki dan bicara keras padanya, tapi kali ini rasanya berbeda. Seolah dirinya tidak ada artinya lagi di keluarganya ini. Melan sangat sedih.


"Kalian semua jangan temui aku. Aku tidak mau di ganggu ." Melan pergi begitu saja. Tangan Ranu yang menggenggamnya erat bahkan di tepis.


"Mel.....Mel....jangan pergi Mel." Sandra mengejar Melan yang di ikuti anak-anak dan Anna. Melan nya sedang merajuk, suasana hangat kini berantakan.


"Aku mohon, biarkan aku sendiri dulu. Aku tidak mau menemui kalian semua kalau hatiku masih seperti ini." Malik menatapnya di depan pintu masuk. Dirinya yang paling bersalah bicara cukup keras.


"Mel...." Melan takut saat mendengar suara berat Malik. "Ku mohon maafkan ucapanku. Kembali Mel, kami tidak menyalahkan mu."


"Me....Melan tidak marah, tapi aku minta waktu sebentar Saja. Biarkan aku menenangkan pikiranku." Tangannya gemetar.


"Mel...no. Kita harus selesaikan baik-baik, ini juga bukan salahmu." Sandra bersikeras tidak mengijinkan Melan pergi.


"San.....sepertinya Melan benar-benar butuh waktu sendiri. Tapi Melan janji yah, jangan sakiti diri sendiri. Dan cepat kembali pada kami." Melan yang sudah tidak tahan menahan emosinya memeluk Anna.


Menangis di pelukkan Anna yang selama ini seperti guru dan sahabat baginya. Anna sangat mengenal dirinya melebihi siapa pun.


“Don’t cry please. Abang Sad sekali lihat kalian semua sedih.” Ranu memeluk Melan yang berada dalam pelukkan Anna. Melan kesayangannya Ranu memang.


“Maaf Abang, Kaka Mahesa. Aunty pulang cepat yah, kapan-kapan kita main lagi yah. Aunty janji tidak akan lama.” Mahes dan Ranu mengangguk.


Melan benar-benar pulang, Riyan bahkan tidak punya muka muncul di depan Melan. Kini dirinya menunduk di depan Ayuna yang masih termenung. Ayu benar-benar tidak habis pikir masalah seperti ini bisa terjadi. Sahabatnya dan adik kandungnya punya hubungan yang tidak bisa mereka ungkapkan. Masih tidak jelas, samar.

__ADS_1


“Mbak bingung deh Dek, apa sih yang sebenarnya terjadi? Mbak kok mendadak bodoh yah. Mbak benar-benar gak ngerti Dek.” Riyan menggenggam tangan Ayu. Jelas sekali Mbak nya kebingungan.


“Maaf Mbak, aku yang salah. Helga dan Kak Melan tidak bersalah. Aku yang benar-benar bodoh dan tidak perpikir panjang.” Semua orang sudah masuk ke ruangan menyimak dengan seksama. Riyan sedang mengakui kesalahannya.


"Ngomongin apa sih Dek, Mbak mu gak ngerti. Udah ih, kalian bercanda nya gak lucu. Aku gak suka." Ayu menolak kalau kejadian yang terjadi benar-benar menimpa adik-adik nya.


Mana mungkin, lagi pula Helga sekolah di luar. Bagaimana mereka bisa bertemu.


"Dek......" Rey meraih tangan Ayu. Kasihan sekali Ayu kebingungan. "Wajar sekali mereka ini punya masalah cinta, kan mereka memang anak-anak remaja yang sedang mencari jati diri mereka." Ayu menatap Riyan dan Helga bergantian.


"Jadi ini bukan prank? Ini beneran?" Adik nya menunduk. "Ihhh....adek kenapa begitu." Ayu tidak bisa marah, hanya air mata nya yang turun.


Ayu menutup wajahnya. Malu sekali tapi juga bingung harus bersikap seperti apa. Kacau sekali isi kepalanya, tapi dirinya harus apa? Mereka lucu sekali terjebak dengan keadaan seperti ini.


"Mbak tidak perlu sedih, Riyan sudah mengakui kesalahannya. Aku saja yang terbawa emosi dan mengacaukan acara kalian." Helga merasa kesal pada dirinya sendiri. “Seharusnya aku bisa megontrol emosiku dan menyelesaikan masalah pribadiku tanpa melibatkan kalian.”


"Tidak, kamu tidak salah Hel. Aku yang tidak tau diri." Riyan tidak mau Helga menyalah dirinya. Riyan cukup kurang ajar memberikan harapan pada wanita sebaik Helga.


"Aku sudah menerima, melihat bagaimana Melan diterima dan kalian cintai aku paham. Sebaik itu dia untuk kalian, Riyan tidak salah. Cinta memang tidak bisa sampai di hati yang salah. Aku yang terlalu banyak berharap." Helga memeluk Ayu yang semakin terisak. Kasihan sekali Mbak nya yang baik hati harus tersakiti lagi-lagi.


Malik mengawasi dari kejauhan, tangannya mengepal penuh kekesalan. Hari yang dia rancang agar semua orang bahagia malah berakhir seperti ini. Malik membuang kasar nafasnya.


"Aku sepertinya butuh udara segar. Jaga istriku Fan, aku ke atas sebentar." Malik takut tidak bisa mengontrol emosinya dan memilih menepi sejenak.


"Ranu yang jaga Mom. Daddy tenang saja." Malik mengangguk. Malik percaya selama Ayu bersama keluarganya.


"Tapi Riyan sangat tidak bisa di maafkan. Aku mau marah....." Ayu masih terisak namun memaksakan bicara.


"Boleh ....marah Mbak, Riyan pantas sekali kena marah Mbak. Tapi jangan diami Riyan, aku mohon." Riyan memeluk Mbak nya meminta ampunan.


"Kalian kenapa mirip, Mbak mana bisa marah. Gimana caranya." Ayu membuat semua orang tertawa. Dia malah melawak menanyakan cara marah.


"Sudah Mom, jangan lagi menangis. Kaka tidak rela Mommy menangis seperti ini." Mahes mengusap air mata Ayu sampai tidak tersisa sedikit pun. "Jangan sedih-sedih. Mereka orang dewasa yang bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Om Riyan Kaka mohon, jangan buat Mom ku sedih, cepat selesaikan masalah Om." Semua mata tertuju pada Mehes yang pandai sekali bicara.

__ADS_1


Sarah dan Adam bahkan merasa Putranya kali ini banyak sekali bicara. Dia biasanya membuka mulut nya sedikit sekali saat mereka tanya. Itupun hanya beberapa kata yang keluar dari mulut Putranya, Mahes seperti orang lain hari ini. Dewasa sekali, gadis-gadis pasti terpesona jika Mahes bersikap sedewasa ini.


Sarah tidak rela anaknya cepat besar.


__ADS_2