
Ternyata persalinan kali ini tidak mudah, Ayu merasakan kontraksi palsu berkali-kali namun pembukaan belum juga lengkap. Dirinya masih harus menunggu untuk melakukan persalinan normal. Kondisi fisik Ayu juga sangat baik, Sarah sudah memeriksa dan memastikan kelahiran normal aman untuk Ibu dan Bayinya.
Melihat kondisi ini, Malik meminta semua orang datang dan berkumpul untuk memberikan Ayuna dukungan dan kekuatan. Padahal beberapa saat lalu Malik melarang mereka semua datang. Tidak mau membuat Ayu merasa tegang.
Anak-anak sudah di bawa oleh Jofan dan Riyan ke rumah sakit, di susul Anna dan Rey yang sudah pulang dari liburannya. Ruangan perawatan penuh dengan wajah-wajah cemas yang tengah menantikan kelahiran bayi dari wanita cantik yang mereka panggil Mommy kesayangan mereka.
Ajeng dan Rama juga tengah menanti cucu yang selama ini mereka tunggu. Selama kehamilan Ajeng tidak banyak berinteraksi dengan menantu kesayangannya. Dirinya tengah melakukan perjalanan liburan bersama suaminya dengan komunitas orang-orang tua yang menikmati masa tua.
Tidak banyak yang mereka tahu bagaimana perjalanan Ayuan selama ini, Malik menutup akses untuk kedua orang tuanya yang sudah cukup tua untuk tahu masalah pelik yang keluarganya hadapi.
Sudah cukup banyak pengorbanan yang mereka lakukan selama membesarkan dirinya. Malik ingin mereka bahagia menikmati setiap momen perjalannaya tanpa gangguan. Tanpa memikirkan bagaimana Malik melindungi orang-orang kesayangan yang saat ini menjadi keluarganya.
Ranu memeluk Omah nya dengan penuh sayang, rindu sekali belaian tangan hangat nya yang sejak kecil menemaninya. Ajeng membelai lembut cucu laki-laki yang sering memberikan dirinya perhatian dengan foto-foto yang sering Ranu kirim meski dirinya berada jauh dari rumah.
Mahes memilih mendengarkan music yang bisa mengusir rasa khawatirnya. Dirinya tidak mudah terlihat lemah di depan orang lain. Meski butuh sekali pelukkan, Mahes dengan sikap dinginya hanya bersikap seperti orang dewasa lainnya. Menyimpan khawatir nya sendirian dalam diam.
“Sepi sekali ruangan ini, padahal kalian ada lebih dari selusin orang di sini.” Sarah tertawa geli melihat wajah-wajah tegang di ruangan tunggu milik Ayuna.
“Kenapa kau di sini? Istriku dengan siapa?” Ayu tengah ganti baju karena akan masuk segera ke ruang persalinan.
“Aku sudah selesai mengganti bajunya. Dia segera keluar dengan suster.” Ketegangan tiba-tiba menjadi senyum-senyum hangat seketika saat kursi roda yang Ayu tumpangi keluar dari ruang ganti. Wajah-wajah pura-pura.
“Ya Tuhan, kalian semua datang kesini? Aku akan baik-baik saja, aku janji.” Ayu mencoba menghibur keluarganya yang terlihat jelas wajah senyum pura-puranya.
“Jangan khawatir. Abang dan Kakak mau peluk Mommy? Sini Nak....do’a kan Mommy dulu.” Mahes dan Ranu berjalan berlahan.
Wajah pucat Mommy nya membuat keduanya sedikit bergetar. Sakit saja dirinya masih bisa tersenyum demi semua orang tidak khawatir. Hatinya terbuat dari apa wanita yang hebat sekali ini. Dia tidak pernah mau membuat orang lain khawatir dan kesulitan karena dirinya.
“I love you Mommy. Abang di sini, tunggu Mommy dan Baby.” Ucap Ranu yang tengah menahan sesak di dadanya. Ayu mencubit kecil ujung hidung Putranya yang terlihat sedikit merah, dia tentu saja menangis. Hatinya lembut seperti dirinya. “Abang akan peluk Mommy lagi kalau sudah selesai ya Mom.” Ayu mengangguk.
Kini matanya tertuju pada laki-laki tampan yang wajahnya menunduk tidak mau melihat dirinya. Sedih sekali, dia tidak pandai berkata-kata manis seperti adiknya. “Hug me please.” Ayu merentangkan tangannya. Mahesa memeluk Mommy nya dengan erat.
Mengusap tetesan air mata yang tidak lagi bisa dirinya bendung. “Kakak cinta sekali dengan Mommy. Baik-baik ya Mom, Kakak dan semua orang tunggu Mommy dan Baby di sini.” Lagi-lagi Ayu hanya bisa menahan diri agar tidak terbawa suasana.
Mereka sudah cukup stress pasti, salah sendiri mencari tahu proses persalinan yang begitu menyakitkan bagi perempuan. Mahesa mengecup pipi Mommy nya cukup lama. tidak rela sekali Mommy nya kesakitan seperti ini.
__ADS_1
“Anak Mommy satu lagi dimana? Kenapa tidak nampak?” Tanya Ayu yang tidak mendapat Hanum di dekatnya, melirik pada siapa yang dirinya maksud. Hanum tersenyum, Hanum duduk jauh sekali, dirinya bersandar pada Anna yang memeluknya erat. “Tidak mau peluk Mommy nya?” Hanum mendekat.
“Hanum sayang Mommy, Hanum tidak sabar tunggu Baby lahir. Hanum akan punya teman jalan-jalan nanti.” Ucap Hanum tidak mau bersedih. Melihat Ranu dan Mahes sudah cukup menguras emosi. Dirinya harus jadi kuat.
“Seharusnya kalian semua istirahat, aku akan baik-baik saja.” Ayu merasa bahagia meski dirinya juga merasa tidak enak hati mendapati semua orang ada di sana untuk menemani dirinya.
“Kalau merasa sakit tidak tertahankan, jambak saja rambut Malik Yu. Dia akan senang hati menerimanya.” Ledek Adam yang membuat Malik menatapnya kesal.
Ayu tidak pernah menyakiti Malik dalam sadar maupun tidak. Dia selalu menjadi wanita lemah lembut yang bisa menjaga tangannya untuk tidak melakukan hal buruk dan menyakiti orang lain. Apalagi dengan laki-laki yang sangat dirinya sayangi selama ini.
Setelah melakukan do’a bersama, Ayuna di bawa ke ruang persalinan ditemani Malik yang setia menggenggam tangannya tidak mau melepaskanya. Tidak kalah seperti pasangan muda yang sering Sarah dan Adam temui saat persalinan. Mereka pasangan paling manis sepanjang mereka menjadi Dokter.
Malik tidak pernah mengalihkan sedikitpun pandangannya.
Mata besarnya terus menatap Ayu dengan penuh rasa khawatir. Berkali-kali ikut menarik panjang nafasnya saat Ayuna tengah mengejan untuk mengeluarkan Bayi yang masih ada di dalam perutnya.
Gemetar tangan Ayu membuat Malik juga ikut lemas, kaki nya dengan sekuat tenaga terus berdiri kokoh meski sungguh dirinya saat ini merasa lemah. Malik terus berada di sisi Ayu sampai suara bayi perempuan menangis memecah ketegangan.
Oeekkkkkk....oeekkkkk..oekkkkk.....
Malik tersenyum, tangannya mengusap peluh yang membanjiri kening wanita cantik yang menjadi semestanya. Menciuminya berulang kali merasa bersyukur dengan apa yang saat ini dirinya terima. Berterimakasih dengan semua pengorbanan yang sudah dilakukan tubuh kecil istrinya yang menanggung sakit begitu besar.
“Assalamualaikum anak cantik.” Air mata bahagia membanjiri wajahnya, gadis kecilnya ini sudah berjuang untk bertahan hidup bersama dirinya.
Ada rasa bersalah karena Ayu membawa bayi mungilnya ini merasakan kesedihan selama berada di dalam tubuhnya. Berterimakasih karena sudah bertahan dan lahir dengan sempurna menggenapi cinta mereka semakin berlimpah.
Setelah Malik melantunkan adzan dan iqomah di telinga Putri kecilnya, Sarah membawa bayi untuk segera di bersihkan. Malik juga diminta keluar karena Ibunya juga akan di bantu membersihkan diri sebelum keluar ruangan persalinan.
Malik mengikuti Sarah yang membawa bayi mungilnya. Binar bahagia di mata Malik membuat Sarah turut bahagia. “Mau punya lagi aku Al.” Malik tertegun.
“Ahhhh.....kenapa berkata seperti itu. Dia juga akan memanggilmu Mamih.” Sarah menatap Malik sendu. “Aku Putri mu Mamih Sarah yang cantik.” Menirukan suara anak kecil.
“Hehehe....lagian sepertinya sudah tidak bisa.” Sarah kembali melenggang. Malik merasa kan ada kesedihan, tapi dia percaya sarah wanita yang sangat kuat.
Tidak lama Ayuna kembali ke kamar perawatan, wajah-wajah tegang yang tadi mengiringi persalinan sudah berubah menjadi bahagia. Merka semua tengah bermain bercengkerama bersama menunggu anggota keluarga baru mereka di antarkan ke pada mereka.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Tidak lama kamar diketok oleh suster. Wajah-wajah antusias dan penasaran dengan wajah Bayi yang tertutup kain mendekat pada suter yang membawa Bayi dalam gendongannya. Suter merasa tengah dikerumuni pria-pria tampan dan membuatnya tersenyum.
“Serahkan padaku Sus.” Ajeng merentangkan tanganya. Sudah sangat lama tidak menggendong bayi kecil. “Manisnya cucu Omah.”
“Mirip dengan ku Omah, lihat matanya.” Ucap Ranu senang wajah adiknya mirip dengannya.
“Hidungnya mirip aku, besar Bang.” Ranu menaikan sedikit alisnya. “Lihat saja kalau tidak percaya.” Ingin sekali mirip adiknya.
“Mirip kalian berdua sayang, hidungnya mancung, matanya besar, kulitnya putih bersih. Mirip kalian.” Omah nya mencoba melerai keduanya yang sama-sama tidak mau kalah. Mahes dan Ranu mencium pipi Omahnya malu, perdebatan mereka seperti anak kecil.
Karena diperingatkan untuk tidak melakukan kontak dengan Bayi berlebihan, tidak ada yang mengganggu bayi mungil yang tidur dengan tenang di box nya. Kulitnya masih sangat sensitif dan tidak boleh di pegang-pegang terlalu banyak, bisa iritasi.
“Kak Anna harus menginap di rumah ku ya Kak. Bantu aku merawat Baby.” Pinta Ayu yang tahu sekali Kakak nya ini suka sekali dengan anak-anak.
“Aku dengan senang hati melakukannya sayang. Apalagi bayi nya selucu ini, pipinya ingin sekali aku cubit....gemas.” Anna sudah tidak mau lagi berharap yang memang sudah tidak mungkin dirinya dapatkan.
Mencoba menerima dan ikhlas saja dengan jalan yang sudah dirinya harus lalui. Masih banyak kebahagiaan yang patut dirinya syukuri dengan penuh bahagia. Tidak mau lagi ada kesedihan.
“Ingat ya Mah! Anaknya masih ada tiga, gak Cuma Baby ya Mah yang mau diperhatikan.” Ucap Ranu cemburu semua orang memperhatikan Baby.
“Ihhhh....Abang, nanti Abang loh yang akan Baby repotkan setiap saat. Dia akan menempel pada Kakak-kakak nya. Kalian akan suka nanti Bang.” Ucap Anna mencoba membela Baby.
“Tetap saja. Abang juga mau diperhatikan seperti biasa. Kalian tidak boleh berubah pada Abang, jangan kalian tidak punya waktu untuk Abang yah, jangan mentang-mentang punya mainan baru jadi lupa Abang.” Mahes hanya tersenyum melihat tingkah lucu Ranu yang tidak mau di saingi.
Dia biasanya paling di manja-manja karena anak paling kecil, sekarang dia punya saingan yang jauh lebih lucu dan menggemaskan dari dirinya. Ranu sedang merajuk minta semua orang tetap memperhatikannya. Memberikan peringatan keras sebelum semua orang lupa dengan dirinya yang masih mau diperhatikan seperti anak bayi mereka.
“Sini Nak, sini dekat Mommy sayang.” Ayu menepuk sisi Kanan nya yang masih kosong, di kirinya ada Mahesa yang duduk terus memandangi dirinya dengan sesekali tangannya membelai lembut wajah kuyunya yang menahan sakit.
“Tidak Mom, nanti saja Abang peluk Mommy nya, Abang mau beli es coklat dulu sebentar.” Ranu keluar dengan wajah yang masih terlihat kesal.
“Biar aku susul, dia di belikan jajanan banyak juga akan baik-baik saja. Jangan khawatir.” Ayu mengangguk setuju dengan apa yang Riyan katakan.
Ayu senang sekali melihat kebahagiaan yang tengah dirinya rasakan. Ranu si paling dirinya takut tidak bisa menerima hadirnya, dia dengan besar hati menerima kehadiran adik kecil yang tidak pernah dirinya sangka akan hadir. Dia punya hati yang begitu luas dan baik, meski awalnya menolak dengan keras.
Lega sekali hari berat yang begitu menganggu pikirannya beberapa bulan ini sudah berhasil di lalui, bayi perempuan cantik nya kini sudah berkumpul bersama keluarganya. Perjuanganya membawanya lahir dengan sehat dan selamat sudah dipenuhi, kini dirinya punya tanggung ajwab baru untuk mendidiknya menjadi wanita yang kelak akan bisa dicintai semua keluarganya.
__ADS_1
Lelahnya mengandung dan sakit nya melahirkan tidak bisa dirinya bandingkan dengan anugerah indah yang dirinya terima. Tidak mau jika harus menukarnya, tidak mau. Semua ini sudah sangat membuat dirinya merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.