
Malik, Adam, Rey dan Jofan duduk bersama di ruang VVIP yang ada di restaurant Rey. Saling menatap tidak paham dengan rapat yang di adakan secara tiba-tiba oleh Malik. Meski merasa ada yang tidak benar, mereka tetap datang memenuhi undangan yang Malik tujukan hanya pada para laki-laki yang Malik sebut sayap pelindung di keluarga mereka.
Riyan tidak hadir karena sedang dinas luar kota menyelesaikan audit di butik milik Jofan yang ada di Bali.
“Pembicaraan kita kali ini mungkin akan sangat menguras banyak energi. Kalian tapi harus dengarkan aku dengan baik dan jangan berpikir buruk, aku ingin mencari solusi dengan kalian semua.” Malik memberi peringatan sebelum memulai diskusi.
“Kau membuat kesalahan?!” Tanya Rey mengintimidasi. “Jangan macam-macam dengan adik ku Malik Saputra.” Malik sudah menduga akan ada reaksi seperti yang saat ini dirinya lihat. Mereka sangat sensitif jika menyangkut Ayuna.
“Lebih tepatnya seperti takdir.” Rey menajamkan matanya. Bingung dengan arah pembicarana yang Malik maksud. “Kalian ingat kan gadis yang Mahesa sering ceritakan?” Tanya Malik mencoba mengingatkan gadis yang beberapa hari ini menyita banyak waktu Malik.
“Maksudmu yang membuat Abang dan Kak Mahesa celaka?” Jofan tidak habis pikir hal penting yang Malik maksud hanya untuk membahas gadis yang seharusnya sudah Malik bereskan dan tidak lagi bisa muncul di hadapan keponakannya. “Kenapa! Kau tidak bisa membereskannya!” Ketus Jofan kesal, karena keberadaan Hanum seharusnya sudah tidak lagi menjadi pembahasan mereka.
“Apa aku boleh sedikit bercerita tentang Hanum?” ******* suara Rey yang berat membuat Malik menelan salivan nya. Belum mulai saja wajah mereka sudah sangat asam.
“Cepat katakan.” Rey sudah mulai tidak punya minat mengikuti diskusi.
“Hanum adalah Putri Nikita.” Malik merutuki mulutnya yang membuka pembicaraan dengan profokasi. Tentu saja mata Rey dan Jofan melotot tajam ke arahnya.
“Mantan mu yang tidak tahu diri?!!!” Tambah Jofan yang memang sangat tidak suka kehadiran Nikita dulu. Bicaranya saja sudah tidak sopan.
“Dasar bodoh.” Adam akhir nya kesal juga, Malik benar-benar payah.
“Jadi begini, Nikita dan masa laluku sudah tidak penting. Tidak ada lagi hubungan ku dengan wanita manapun selain Ayuna. Kalian tau bagaimana aku mencintai Ayuna.” Malik malah curhat perasannya.
“Jangan berputar-putar Al. Santai saja bicara dengan kita.” Rey senang melihat Malik gelagapan, mana bisa Malik berkhianat. Dia sangat tulus menyayangi Ayuna selama ini.
“Ok....kalian memang suka sekali mengerjaiku.” Malik menghela nafasnya. “Aku dan Adam memutuskan untuk merawat Hanum, kami sudah menyelidiki dan Hanum anak yang cukup baik.”
“Apa tidak ada cara lain? Misalnya mengembalikan Hanum pada Ibunya?” Cetus Jofan memberi Ide. Bagaimana mungkin merawat Hanum yang jelas-jelas anak dari mantan pacar Malik.
“Nikita sakit Kanker, sudah stadium akhir. Keputusan dia memberikan Hanum pada Baskoro karena Hanum sebatang kara.” Malik menyodorkan hasil pemeriksaan yang dirinya berhasil retas dari rumah sakit yang merawat Nikita.
“Benar yang Malik katakan, Hanum sendirian. Mungkin karena ini Nikita bersikeras menyerahkan Hanum pada laki-laki yang seumur hidupnya dia hindari. Hanya Baskoro keluarga Hanum.” Adam mencoba menambahkan.
“Kenapa harus kita yang merawatnya. Kenapa tidak kita serahkan saja pada yayasan yang Kak Malik miliki atau panti asuhan!” Jofan tidak mau keputusan Malik menyakiti adik kesayangannya.
“Awalnya juga aku berpikir demikian, tapi bagaimana dengan perasaan Kakak. Dia sangat mengagumi Hanum. Dua hari lalu aku bahkan memergoki Mahes dan Ranu mencari tahu tentang sosok Baskoro. Aku tidak mau mereka terluka. Dengan Hanum di tangan kita, kita bisa pastikan anak-anak kita aman.” Malik mencoba meraih hati semua orang, takut sekali ide nya di tolak.
__ADS_1
Tidak ada sahutan, mereka sama bingungnya bagaimana menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
“Hanum bahkan sampai saat ini belum bisa percaya pada orang baru yang dirinya jumpai. Sejauh ini hanya Malik yang bisa membujuknya untuk makan. Dia sangat terguncang.” Adam menyesali hal buruk yang menimpa Hanum.
“Bagaimana dengan Ayuna, Sarah dan yang lainnya mungkin akan lebih bisa kita bujuk, tapi bagaimana dengan Ayuna. Dia hamil, pikirannya tidak boleh terlalu berat, bahaya Al.” Rey benar, pekerjaan besar yang harus mereka selesaikan.
“Aku juga buntu, Ayuna sangat lemah. Dia bahkan memuntahkan semua makanan yang dia makan pagi tadi.” Malik lesu mengingat Ayuna nya sangat menderita dengan kehamilannya yang kedua ini.
“Obat yang aku berikan sudah Ayu minum?” Malik mengangguk. “Trimester pertama memang seperti itu Al. Semua akan baik-baik saja, Ayuna kita adalah yang paling kuat.” Bujuk Adam agar Malik percaya diri semua akan baik-baik saja.
“Tapi Hanum juga tidak bisa jauh dariku, Adam sendiri yang tahu bagaimana kondisi Hanum. Dia tidak percaya pada orang lain.” Malik merasa iba saat melihat kondisi Hanum, sekujur tubuhny penuh luka lebam dan pikirannya kacau. Depresi.
“Tapi jangan korbankan adik ku, aku tidak rela.” Tolak Jofan yang tahu bagaimana kondisi Ayu jika sampai terguncang kembali. “Kalian tahu sendiri bagaimana kita mencoba berbagai terapi agar Ayuna bisa sembuh, kita yang tahu bagaimana perjuangan sembuhnya adik ku!” Keras sekali, Jofan tidak mau kehilangan lagi.
“Kita tahu Fan, oleh sebab itu aku kumpulkan kalian semua, aku butuh nasehat, aku butuh petunjuk karena aku benar-benar buntu.” Malik mengusak rambutnya merasa frustasi.
"Apa sebaiknya kita beritahu Anna dan Sarah, mereka perempuan, pasti akan lebih mengerti harus bersikap bagaimana dengan masalah Hanum ini." Malik menatap Rey penuh harapan. "Kita tahu kau akan berbuat yang terbaik untuk adik ku, kita berkumpul untuk mencari solusi bersama, aku paham."
"Bagaiman jika Hanum hanya berkedok, bagaimana jika dia tidak benar-benar baik seperti apa yang kalian bicarakan." Jofan takut kejadian yang sudah-sudah terulang. Tidak mau Ayuna yang akan menjadi korban atas kejahatan orang lain.
"Datanglah Fan, pastikan sendiri bagaimana perasaan mu setelah bertemu dengan Hanum. Aku juga sempat berpikir seperti dirimu." Adam menepuk punggung tangan Jofan yang mengepal.
"Kenapa kalian sangat yakin kalau Hanum anak yang baik, apa sudah ada bukti?" Jofan masih tidak mau menyerah. Baginya orang yang datang dalam kehidupan mereka kurang lebih sama, memanfaat kebaikan keluarganya dan akan membuat kekacauan.
"Banyak sekali Fan, aku mengorek satu persatu, berharap ada satu saja yang bisa aku jadikan alasan menyingkirkan Hanum dari kehidupan Mahesa, nihil. Aku malah jatuh hati dengan sikap dan sifatnya yang bisa di bilang sangat baik mendekati wanita sempurna." Malik bahagia Mahesa bisa mengagumi gadis sebaik Hanum.
"Hmmmm.....akan aku putuskan setelah melihat Hanum sendiri nanti." Malik dan Adam saling bertukar senyum. Akhirnya Jofan mau menyerah dengan argumennya yang tidak ada habisnya. Mereka harus segera mendapatkan solusi.
Hanum mudah sekali di cintai, dia gadis lugu baik hati yang selalu bisa memenangkan hati siapa saja yang dekat dengannya. Pantas saja Mahesa begitu dalam punya perasaan pada Hanum. Parasnya yang cantik dan sifatnya yang lemah lembut membuat Hanum sangat sempurna sebagai seorang wanita.
Malik saja sangat suka jika benar Hanum kelak akan menjadi wanita spesial di hati Putranya, begitu juga dengan Adam. Mereka tidak keberatan, Hanum layak mendapatkan cinta yang banyak dan tulus dari Putra nya.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit, putuskan sendiri setelah kalian melihat Hanum. Harusnya kita merawat nya atau menyerahkannya lagi pada Baskoro." Malik berdiri mendahului mereka menuju mobilnya.
Anna yang sedang menjaga kasir tersenyum pada Malik yang wajahnya sedikit masam. Malik tidak mau melampiaskan kegundahan hatinya pada Anna.
Tersenyum dengan tulus meski hatinya tidak bisa di bohongi sedang sangat gundah dan berantakan. Menghampirinya dan memberikan kecupan lembut di pipi Anna.
__ADS_1
"Kau sangat cantik Kak, aku pulang yah. Jangan lupa makan, jangan sakit." Teriaknya yang hanya di angguki oleh Anna. “Kak.....kau tidak menjawab ku.” Masih mematung di depan pintu.
"Ok....ok...." Anna menanggapi dengan senyum manisnya, Malik memang terkadang jadi bawel jika suasana hatinya sedang kacau. Dan Anna sangat mengerti.
"Aku pergi ya sayang, jangan kemana-mana dan 30 menit lagi istirahat." Pesan Rey setelah menciumi kesayangannya sebelum pergi.
Berbeda lagi dengan Jofan yang bergelayut manja di pelukannya. "Sendiri tidak papa?" Anna mengangguk. "Yakin tidak mau pulang saja?" Tawarnya takut Anna bosan. Jofan mengecup sayang puncak kepala Anna, wanita yang sudah merawatnya dengan tulus.
"Di rumah tidak ada siapapun, Kaka di sini saja." Memeluk lagi sangat erat. "Kaka tidak bisa nafas Fan." Jofan mencubit hidung mancung Anna, gemas.
“Jika sudah selesai aku akan segera ke sini. Tunggu aku ya Love.” Anna mendorong Jofan agar segera pergi dan berhenti menggodanya.
Mereka berempat sudah berdiri di depan Hanum yang menunduk. Ketakutan, bagaimana tidak, Hanum di tatap mata-mata tajam laki-laki asing. Hanum hanya menunduk. Sesekali mencuri pandang.
"Apa Hanum berbuat salah, tolong maafkan Hanum." Suaranya sangat lembut. Tanganya teratup meminta pengampunan pada siapa saja yang ingin menyakitinya.
“Kita datang berkunjung Nak, tidak ada yang ingin menyakiti Hanum, tenang sayang.” Adam menuntun Hanum agar duduk dengan relaks. Kasihan, dia selalu was-was pada semua orang yang datang padanya.
Adam menyadari tangan Hanum bergetar hebat, tubuhnya bereaksi penuh ketakutan seperti yang sudah-sudah. Hanum bisa saja kesulitan untuk sembuh, rasa sakitnya begitu dalam, lukanya tidak terlihat.
"Hanum sudah makan Nak?" Tanya Malik mengusir takut dalam diri Hanum. Di jawab dengan anggukan. “Good girl, Paman akan senang kalau Hanum makan dengan teratur.” Malik sudah menyayangi Hanum seperti Putri nya.
Matanya berkaca-kaca, Hanum menyekanya agar air matanya tidak merebak membasahi pipinya. Hanum harus terlihat baik-baik saja agar tidak mudah disakiti oleh orang lain, Hanum tidak mau lagi kesakitan. Hanum tidak mau menyerahkan masa mudanya dengan penderitaan, tidak mau.
"Hanum takut yah?" Tanya Rey merasa kasihan. Hanum mengangguk masih menunduk, sesekali mencuri pandang pada Rey dan Jofan yang terlihat menakutkan.
"Paman tidak akan jual Hanum kan? Hanum tidak akan merepotkan, Hanum janji Paman." Pinta Hanum pada Malik. Hanum hanya tahu dirinya sudah di beli oleh Malik. Hanum merasa aman karena Malik memperlakukanya dengan baik.
"Paman tidak pernah membeli Hanum, Hanum manusia dan tidak bisa diperjual belikan sayang." Mengangguk menepis kegundahanya. Mencoba menepis ketakutan dalam dirinya dan percaya semua yang Malik katakan.
Hanum mundur sampai ujung kasurnya saat Jofan mencoba mendekat.
"Fan, kau menakutinya Fan." Tegur Malik, Jofan tertawa. “Dasar jahil.” Malik memberikan isyarat agar Hanum tidak khawatir dengan matanya.
"Namaku Jofan." Jofan mengulurkan tangannya. Hanum menatap Malik meminta persetujuan.
"Dia adikku Han." Terlihat sekali Hanum tidak percaya. "Dia Kakak dari Istriku, karena usianya lebih kecil, dia adik ku. Lebih tampan Paman kan Han." Sudut bibir Hanum terangkat, dia tersenyum.
__ADS_1
"Harusnya Kak Malik panggil aku Mas." Melihatnya Hanum yakin mereka orang-orang baik yang tidak akan menyakitinya.
Hanum punya sedikit harapan untuk hidup lebih baik setelah kesembuhannya. Hanum bertekad ingin bahagia demi Mommy nya.