
Malik dan yang lainnya sudah tiba di lounge megah, mewah dan besar yang Jofan dan Sandra sewa untuk tempat mereka melangsungkan pernikahan. Malik tentu saja menggunakan pesawat pribadinya demi kenyamanan Istrinya yang sedang hamil muda.
Malik sangat bersyukur karena akhir-akhir ini Ayuna begitu sehat. Nafsu makannya begitu besar dan tidak lagi mual dan memuntahkan makanannya. Malik sudah ketakutan setengah mati jika Ayu akan mengalami banyak kesulitan di kehamilannya ini.
Dekorasi yang begitu indah bisa mereka lihat dari jendela kaca kamar yang mereka tempati saat ini. Akhirnya hari yang mereka tunggu-tunggu ada di depan mata.
Sandra sedang menatap pemandangan indah di balik kaca tempat nya berdiri. Tersenyum dengan manatap setiap sudut dekorasi yang begitu indah di bawah sana.
Mimpi gak sih ini, bener yah tempat indah di bawah sana punya ku? Aku dan Jofan yang akan menikah?
Hatinya masih sulit menerima kenyataan, bagaimana mereka akhirnya memutuskan bersama setelah begitu panjang perjalanan yang harus mereka lalui. Sandra mengusap tetesan air mata bahagianya. Senyumnya terukir begitu indah setelah penantian panjangnya yang penuh drama.
Tangan kekar melingkar di pinggulnya, hembusan nafasnya terasa hangat menerpa lehernya yang jenjang. Sandra sangat mengenal wangi yang menerpa pinciumannya.
"Kenapa melamun? Apa ada yang masih mengganjal?" Tanya Jofan penuh kelembutan.
"Cantik ya Fan, aku tidak percaya kita akan menikah di sana." Menatap penuh bahagia. Jofan juga tersenyum melihat keindahan tempat yang akan membawanya menjadi seorang suami esok hari.
"Kamu lebih cantik San." Jofan mengecup tengkuk Sandra. "Maaf karena memutuskan ini begitu lama." Jofan membawa Sandra duduk di sofa, matanya menangkap ujung mata Sandra yang basah. “Simpan air mata mu sayang.” Mengecup ujung mata Sandra menghilangkan jejak air mata.
"Terimakasih Fan, terimakasih sudah mau berjuang demi gadis keras kepala sepertiku." Jofan mendekatkan duduknya, mengusap air matanya lagi yang lolos begitu saja dari mata cantik Sandra.
"I love you Sandra, calon istriku." Sandra tersipu malu, jarang sekali Jofan bicara begitu manis. Menutup wajahanya yang pasti saat ini sedang bersemu merah, Sandra paling suka saat Jofan mengutarakan cintanya dengan nyata seperti ini. Manis sekali, Sandra tidak mau melepaskannya.
"Jangan gitu Fan, aku malu." Jofan memeluk Sandra merasa gemas. Sudah lama sekali tidak menggoda Sandra sampai tersipu malu sepertiga ini. Dirinya memang tipe laki-laki yang tidak bisa banyak bicara.
Tok....tokk...tok.....
"Mas....ihhhh....ngapain berduaan di sini. Gak boleh yah, tunggu sampai besok akad." Ayu mendekat. Ayu menarik Sandra menjauh dari Mas nya. Wajah Ayu tersenyum menggoda. Mereka pasti sedang sangat bahagia menunggu hari besar yang begitu indah dalam perjalanan hidup mereka.
"Dek....tidak mau peluk Mas nya dulu?" Ayu memeluk Jofan dan mendaratkan ciuman di pipi Mas nya. “Good girl.” Tangan Jofan membelai perut rata Ayuna. “Baik sama Mommy ya Nak, besok Om menikah dengan aunty cantik mu sayang.” Bicara dengan perut Ayuna yang masih rata.
"Sabar yah, tunggu sampai besok." Meninggalkan Jofan yang masih senyum-senyum manis sendirian. “Bentar lagi turun ya Mas. Makanan sudah datang untuk kita makan malam.” Jofan mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Jantungku Yu, rasanya terlalu cepat berdetaknya." Sandra memegangi dadanya. Ayu hanya tersenyum melihat kebahagiaan orang-orang kesayangannya.
Malam begitu hangat, merka menghabiskan waktu malam mereka sebelum acara pernikahan dengan berkumpul dan saling bercerita. Menunggu makanan yang sedang di siapkan oleh para pelayan lounge dengan sabar.
Hanya Malik dan Aldo yang terlihat sibuk di ruangan kecil yang berpintu kaca. Yang lainnya sedang bercanda gurau menghilangkan sunyi. Ranu dan Mahesa bermain game di ponsel mereka, istilah sekerang mabar. Ayu memperhatikan suaminya dari kejauhan. Hati dan pikirannya terbagi-bagi. Kasihan suaminya tetap harus mengurus pekerjaan di saat semua orang menikmati waktu senggang mereka.
"Mommy...."Suara bisikan Mahes berhasil menyadarkan lamunannya. "Mommy ok Mom?" Ayu mengangguk dan menggenggam tangan Putra nya. Mahes mematikan ponselnya karena takut Mommy nya merasa diabaikan. Ranu mengikuti apa yang Kakak nya lakukan. Mendekat dan duduk di kanan kiri Mommy nya.
"Mommy sedang terharu, akhirnya Aunty cantik dan Mas Jofan menikah besok." Mahes mengulas senyum manisnya. Memeluk Semakin erat. Ranu sedang menikmati jus mangga yang ada di atas meja.
"Kau yakin dia sudah di jebloskan ke penjara?!" Tanya Malik penuh penekanan.
"Yakin Bos. Ternyata tidak hanya Nonna Melani yang mendapat pelecehan Bos. Ada beberapa wanita jumlahnya lebih dari lima orang, dan ada tiga orang yang berhasil aku bawa ke pengadilan." Malik merasa sangat lega.
"Sulit ya Al?" Malik memang menyerahkan semua prosesnya pada Aldo. Dia pasti kesulitan karena Malik meminta proses hukum tetap di lakukan tanpa kehadiran Melan sebagai korban dan pelapor. Malik tidak mau Melan bertemu dengan laki-laki yang sudah menggoreksan luka begitu dalam di ingatannya. Tidak sulit bagi seorang Malik melakukan semuanya.
"Sedikit Bos." Ada senyum bangga karena dirinya bisa menyelesaikan setiap pekerjaan yang Malik berikan padanya. “Tapi aku bisa Bos andalkan seperti biasanya.” Malik menepuk pundak Aldo merasa bangga.
Laki-laki cengeng yang dulu bekerja dengannya sudah berubah menjadi laki-laki penuh tanggung jawab dan begitu lugas dalam menyelesaikan setiap pekerjaan yang begitu berat baginya.
"Kapan kau akan menerima tawaranku Al." Malik merasa Aldo sudah bisa mengendalikan perusahaan dan berhenti menjadi asistennya. Banyak anak peusahaan Malik yang sudah siap Aldo handle tanpa dirinya.
"Curang kau Al. Kau tidak mau merasakan apa yang aku rasakan selama ini Al." Aldo hanya tersenyum.
Malik yang sudah selesai kembali ke ruang santai tempat keluarganya berkumpul. Baru juga ingin duduk, ponselnya berdering. Senyum indah yang Ayuna tangkap membuatnya ikut tersenyum. Mereka sedang menunggu kesayangan mereka.
"Mih.....sudah sampai mana Mih?" Mendengarnya mata Ayu berbinar. Sudah cukup lama kedua mertuanya pergi berkelana. Akhirnya mereka pulang setelah sekian lama.
"Omah sudah sampai Dad?" Malik mengangguk. Ranu sangat merindukan Omah dan Opahnya, Mahesa juga sangat senang. Mahes cucu tertua dikeluarga mereka.
“Akhirnya Omah ku datang. Aku rindu sekali.” Mahes memeluk Ayu penuh bahagia.
"Mamih ada di bawah. Daddy ke depan yah." Ayu mengulurkan tangannya. "Mau ikut ke depan?" Tentu saja mengangguk penuh semangat.
Yang lain juga ikut berdiri ingin menemui kesayangan mereka yang menghabiskan masa tuanya dengan berkeliling dunia. Mereka berdua yang sudah berjuang begitu besar membuat keluarga nya bersatu dan dipenuhi bahagia seperti saat ini.
"Kalian semua mau ikut?" Melihat Malik yang keheranan semua jadi tertawa.
__ADS_1
Mereka menyambut sanak famili yang berdatangan malam ini, ada jug yang datang besok hari saat pesta pernikahan di mulai.
Undangan tidak disebar banyak, hanya keluarga dan teman-teman terdekat serta kolega bisnis mereka saja yang Sandra dan Jofan undang.
"Hay....." Ayu menyambut Oji dan Hans yang baru saja masuk. Suaminya sedang sibuk dengan tamu lain dan hanya dirinya yang saat ini ada di depan pintu masuk. “Jangan di luar sendirian Yu. Masuk.” Pinta Oji dengan suaranya yang khas, serak dan berat.
Tatapan matanya masih sama seperti dulu, penuh cinta kasih dan menyejukkan hati Oji yang melihatnya. Tidak pernah berubah meski jalannya tidak seperti yang Oji maui.
"Hay Kak Oji, Kak Hans. Kak Oji dan Kak Hans apa kabar? Sudah lama sekali tidak pernah main ke apartemen, anak-anak suka tanya Kak Oji kapan bisa datang." Ayu menggandeng tangan keduanya menemui yang lain.
Oji melepaskan tangannya cukup kuat. Takut tidak bisa mengontrol emosinya dan kembali berulah. Dirinya sudah memutuskan untuk berdamai, selagi Ayuna nya bahagia dan aman.
Ayu tetap saja tersenyum begitu manis. Tidak mempermasalahkan sikap Oji yang tidak pernah berubah sama sekali, suka kasar tanpa dirinya sadari. "Kak Oji dengan Kak Hans sudah makan? Ayo kita makan sama-sama." Ayu membawa mereka ke ruang santai yang cukup besar. Keluarga besarnya ada di sana.
"Om....." Ranu dan Mahes memeluk Oji dan Hans bergantian. Mereka hanya tau Om Oji adalah guru bela diri mereka yang sangat hebat. "Abang kira Om tidak akan datang." Oji tersenyum manis pada keduanya. Oji hanya melunak pada kedua anak yang membawa bahagia begitu besar pada wanita yang sangat dirinya cintai.
"Hay Bro......masuk. Ayo makan, kalian pasti kelaparan kan setelah perjalanan cukup jauh." Malik sudah melupakan semuanya. Demi bahagia semua orang terutama semestanya. Tidak mau terpaku pada masa lalu yang bisa dirinya rangkul dengan hebat dan berdiri bersandingan penuh kedamaian.
Setelah makan malam selesai, semua orang memutuskan untuk istirahat. Mengatur energi agar tubuh mereka segar saat pesta pernikahan berlangsung.
"Mom....ayo istirahat." Ayu menatap kedua Putra nya yang sebelumnya ingin tidur dengan dirinya. Tapi mereka saat ini asik berbincang dengan Om nya baru saja mereka temui setelah sekian lama.
Saat kejadian pemukulan, Oji hanya sibuk menyelamatkan mereka dan memastikan mereka aman. Setelahnya kembali menghilang sampai Ranu dan Mahesa bertanya-tanya dimana keberadaan Om Oji yang selalu membantu mereka di saat yang begitu genting.
"Kakak dan Abang tidur dengan Om Oji dan Om Hans ya Mom. Rindu, sudah lama tidak bertemu." Ayu mengangguk, mereka memang sangat dekat.
"Jangan terlalu malam ya Ji, Hans. Takut anak-anak kelelahan besok." Pinta Malik dengan lembut. Mereka sudah seperti keluarga.
***
“Ihhhh....kok yang di tengah Adek, harusnya Mas Jofan. Kak Rey...cepat pakai Jas nya. Fotonya harus rapih.” Kesal Ayu yang dikerjai para laki-laki kesayangannya. Mereka malah sibuk tertawa dalam diam melihat tingkah menggemaskan wanita kesayangannya.
“Kok malah duduk Mas, foto dulu.” Malik yang tidak tega mendekat, tapi kedua anaknya sudah lebih dulu menempel di sisi Mommy nya. “Susah sekali dimintai foto sama-sama.” Kesal sekali wajah Mommy nya.
__ADS_1
“Look Mom.....aunty.” Ayu yang melihat Sandra baru saja keluar dari kamar begitu terkejut. Cantik sekali sahabatnya yang sebentar lagi jadi Kakak Iparnya. Ranu mengecup Pipi Mommy yang yang masih mematung dengan senyum indahnya.