
Mahesa terlihat sangat serius, wajahnya menggambar kan perasaanya saat ini yang sedang tidak baik. Tatapan matanya penuh beban.
"Apa ada yang Kakak dan Abang sembunyikan. Abang paling tahu jika tidak bisa sembunyikan apapun dari Daddy kan Nak?" Mahes menggenggam tangan Daddy nya.
"Apa Daddy yakin bisa atasi semua masalah yang mungkin akan menimpa Hanum?" Malik mengangguk dengan yakin.
"Sejak kapan Daddy gagal membereskan semua masalah yang ada di keluarga kita? Apa Abang mulai ragu dengan Daddy mu ini?" Mahes menyeringai kesal. Laki-laki yang ada di depannya sedang menyombongkan diri.
"Aku sudah tahu bagaimana Daddy menjaga kita, tapi bisakah jangan sombong? Abang kesal dengarnya Dad." Malik tertawa, Putra nya ikut tertawa melihat Daddy nya begitu santai.
"Belajar sombong Kak, ada kalanya kau harus sombong agar lawan mu tahu siapa dirimu." Mahes mendekatkan duduknya.
"No Daddy, Mommy pasti tidak suka jika membalas perbuatan orang dengan hal yang lebih buruk. Dan Kakak setuju, terkadang kita harus mengalah agar tercipta kedamaian." Malik membelai surai Putra nya.
Masih terlalu dini untuk Putranya tahu jika praktek kehidupan yang dirinya jalani tidak semudah itu. Banyak hal yang harus bertentangan dengan nurani demi menjaga keluarganya baik-baik saja, demi kekuatan yang harus dirinya ciptakan untuk membentengi kekuatannya.
"Kakak benar, tumbuh menjadi anak yang membuat Mommy bangga ya Nak. Cukup Daddy yang menjadi sedikit tidak bernurani demi kalian semua." Mahes menatap wajah Daddy nya penuh tanya.
"Apa seberat itu Dad? Kelak pundak ku juga bisa Daddy bagi supaya kita pikul bersama." Malik mengangguk bangga, Putra nya sangat bersahaja.
"Dad....belum selesai kah?" Ayu mendekat duduk di sisi suaminya. "Kakak harus sarapan, nanti telat." Malik mengecup perut buncit istrinya. Belum begitu terlihat, tapi bentuknya sudah membuncit, lucu sekali di mata Malik.
"Ayo Kak, sarapan sayang. Temani adik-adik nya." Mahes mengecup pipi Mommy nya sebelum beranjak. Daddy nya sudah meminta agar dirinya segera masuk ke dalam.
"Bicara apa sih Dad? Serius sekali Mommy perhatikan." Malik belum melepas pelukkan nya.
"Anaknya sedang remeh kan Daddy nya. Takut Daddy tidak bisa jaga adik-adiknya." Ayu mengerutkan keningnya tidak percaya.
"Mana Putra ku begitu Dad." Tidak terima dengan tuduhan Malik. "Maksud Kakak bukan itu pasti." Malik mengedikkan bahunya.
"Anak nya sudah mulai bisa menilai Daddy nya Mom. Mereka sudah besar." Ayu menuntun suami nya ke ruang makan. Anak-anak sudah menunggu mereka.
"Mereka sangat manis Dad, hanya bercanda Kakak pasti." Malik tahu istrinya akan selalu menjaga harmonis keluarganya.
__ADS_1
Tidak akan rela jika salah satu dari mereka menyakiti dan tidak saling menaruh percaya. Ayu akan jadi orang pertama yang menentang pikiran jelek di rumah nya. Semua harus saling percaya dan yakin dengan kasih yang tulus.
Malik hari ini membawa Ayu ke Kantor. Di dalam perjalanan Aldo sudah berisik mengatakan jika ada tamu aneh yang mengaku mengenal baik Bos nya.
Beruntung ada Sandra di Lobby yang juga baru sampai. Malik meminta Sandra menemani istrinya yang ingin mencicipi makanan kantin selagi dirinya menemui tamunya.
"Siapa yang menunggu ku Al? Kenapa wajahmu seperti bertemu setan?" Heran sekali Malik melihat wajah Aldo yang begitu tegang.
"Dia mengaku masa lalu mu Bos. Aku tidak bisa mengusirnya karena ada foto-foto bukti kedekatan Bos dulu dengannya." Malik sama sekali tidak bisa menebak.
"Istriku ada di bawah, masih mengobrol dengan Sandra. Awasi dia jangan sampai masuk sampai aku selesai." Pinta Malik sebelum masuk ke ruangannya.
Aldo berdiri di meja Sandra yang ada di depan ruangan Malik. Jantungnya berdetak tidak beraturan, wanita yang ada di ruangan Bos nya begitu menawan, tapi di mata Aldo seperti wanita penggoda.
"Hay......" Malik tidak ingat dengan wajah wanita yang ada di hadapannya. Kecewa sekali melihat ekspresi Malik. "Sungguh kau lupa dengan ku?" Berjalan mendekat ke arah Malik. Pintu ruangan sengaja Malik buka untuk mengindari hal-hal yang tidak di inginkan.
"Aku tidak ingat, dan sepertinya anda tidak begitu penting sampai aku lupa." Ejek Malik pada wanita yang saat ini berdiri cukup dekat.
"Alana teman SMP ku dulu?" Alana mengangguk. Wajahnya berbinar senang karena Malik mengingat dirinya. " Sorry ....tapi aku sungguh tidak ingat. Hanya ingat kau teman SMP ku dulu." Alana menautkan tangan nya di pinggang Malik begitu cepat, Malik sampai tidak punya persiapan untuk menghindar. Dia sangat berani.
"Jangan pura-pura Al, aku wanita pertama yang kau cium dulu." Malik memundurkan tubuhnya, berusaha keras melepaskan tangan Alana yang melingkar di pinggangnya tanpa ijin.
"Itu hanya masa lalu, ada apa datang kemari?" Malik kini duduk di kursi nya.
"Aku janji an dengan Kak Anna." Malik masih belum yakin Anna yang Alana maksud adalah Anna kesayangannya anak-anak. "Jangan heran, aku sahabat baik Kak Anna. Aku juga terkejut saat tahu kalian adalah keluarga." Alana tersenyum seolah semua terjadi begitu alami.
"Maaf yah, jangan bahas apapun tentang masa lalu kita yang tidak penting. Aku sudah punya wanita yang sangat aku cintai Alana. Jadi aku mohon kau bijaksana." Alana tertawa mendengarnya.
"Kau kira aku wanita murahan! Jahat sekali punya pikiran seperti itu." Gerutu Alana kesal.
"Syukurlah kalau kau cukup tahu diri." Malik masih menaruh curiga.
Tok....tok....tok...
__ADS_1
Anna berdiri di ambang pintu. Tangannya melambai pada wanita yang memang mengaku sahabat Anna.
"Hay Lana, kau apa kabar? Sudah lama sekali tidak ada kabar berita." Mereka saling berpelukan. "Cantik sekali Lana, kau tidak pernah berubah." Anna mengagumi kecantikan Alana dengan tulus.
"Kak Anna jauh lebih cantik." Malik melihat keduanya sangat akrab.
"Dia sungguh sahabat mu An?" Anna mengangguk. "Aku kira kalian mengarang cerita." Malik melangkah ingin keluar ruangan.
"Sorry ya Kak aku minta bertemu di sini. Aku ingin menemui Ayu sebelum ke restoran." Anna merasa tidak enak hati.
"It's ok Love, nikmati waktu kalian. Aku jemput semesta ku dulu, lama sekali dia bergosip dengan anak-anak kantor." Malik sudah rindu padahal baru sebentar.
"Bagaimana Lan? Sudah menyapa Malik?" Alana mengangguk. "Hutangku lunas yah, kalian pasti dulu sangat lucu yah saat SMP. hehehehe ....." Anna tertawa, Alana hanya mengaku sahabat Malik, tidak lebih.
"Makasih An, aku jadi bisa menyapa nya meski hanya di balas cuek, dia masih sama dingin nya dengan Malik yang aku kenal." Anna meraih tangan Alana.
"Memang seperti itu Al. Dia tidak akan nyaman bicara dengan wanita yang bukan keluarganya. Harus dengan istrinya jika ingin banyak mengobrol Lan. Malik akan nyaman jika ada istrinya di sisi nya."
"Sangat spesial ya An? Dari ceritamu sepertinya dia wanita yang sangat luar biasa." Anna mengangguk, Ayu memang wanita luar biasa yang Anna kenal.
"Pagi...Kak Anna...." Ayu berjalan dengan cepat menghampiri Anna. Memeluknya dengar erat. Melepaskan rindunya yang begitu berat.
"Kak Anna sehat kan Kak? Aku sampai mimpi Kak Anna tersesat loh Kak." Mimpi nya memang aneh, Ayu sampai tidak bisa lupa.
"Aku sudah kembali sayang." Mengecup pipi Ayu yang semakin bulat. "Anak Mamah sehat kan Nak?" Anna membelai perut Ayu, memutar tangannya dengan lembut.
"Dia rindu masakan Mamah Anna." Ayu tertawa geli sendiri.
"Nanti Mamah masak enak ya sayang. Oh iya...kenalkan sayang, ini sahabat ku." Ayu tersenyum menyapa dengan ramah.
"Salam kenal, semoga kita bisa bersahabat ya Ayuna." Anna mengernyit heran, darimana Lana tahu nama Ayuna.
"Kau sudah tahu namanya?" Tanya Anna penasaran.
"Upppsss sorry....aku kepo tentang istri Malik. Salam kenal ya." Ayu dan Anna tidak menaruh curiga, memang setulus itu kelihatannya.
__ADS_1
Alana gadis yang cukup baik, dia terlihat sangat tulus dan baik. Senyum di wajahnya tidak sedikitpun mencurigakan. Dia sangat manis, cantik dan begitu menawan.