Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Tidak Akan Aku Tukar Dengan Apapun


__ADS_3

Jofan memperhatikan gerak gerik Melan yang sepertinya tidak nyaman sekali saat dirinya duduk. Melan yang tahu sedang di perhatikan membuang muka, tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya yang tengah menumpuk membuat kepalanya pening seharian ini.


Masalah yang tengah di hadapi sahabat-sahabat nya begitu berat. Dirinya harus baik-baik saja agar keadaan tidak semakin mencekam, Melan mencoba menjaga dirinya agar tetap menjadi Melan yang waras. Beberapa pesan masuk di abaikan karena Melan tahu isinya hanya pemutusan hubungan kerja yang sudah dirinya sepakati.


Melan di paksa meninggalkan dunia yang sangat dirinya sayangi. Memang tidak semua nya meminta Melan berhenti dari tempat mereka, ada yang masih bertahan sampai Melan benar-benar bisa pulih dari rumor yang tengah menderanya.


Melan kecewa kenapa semua tidak bisa berjalan beriringan, kenapa dirinya dipaksa memilih sesuatu yang tidak bisa dirinya bedakan cintanya pada keduanya. Melan ingin membuka lembaran baru, tapi dirinya juga tidak ingin kehilangan dan melepas momen-momen besar yang sudah dengan begitu keras dirinya perjuangkan.


“Aku keluar sebentar.” Melan terhenti karena tangannya di cekal oleh Jofan. Melan mencoba terlihat biasa saja, meski matanya tidak bisa berbohong. “Aku ingin mencari kopi.” Jofan melepaskan tangan Melan.


“Jangan lama-lama, kalau lebih dari sepuluh menit aku akan menyusul ke bawah.” Melan hanya tersenyum mendengarnya. Melenggang meninggalkan Jofan yang masih memperhatikan dirinya. “Mau aku temani?” Melan hanya melambaikan tangannya menolak tawaran Jofan.


“Fan....” Sandra terbangun mendengar suara Jofan yang cukup keras. “Ada apa teriak-teiak?” Jofan segera menghampiri Sandra.


“Sorry sayang, suara ku terlalu keras yah?” Sandra merentangkan tangannya. Rindu sekali dengan laki-laki yang seharian ini sibuk menemani Adik nya yang baru saja mereka selamatkan dari orang jahat.


“Kamu pake parfum apa Fan? Enak sekali wanginya.” Jofan menciumi puncak kepala Sandra yang memeluk perutnya dengan erat.


“Parfum yang kau belikan sayang.” Sandra mendusel menghirup wangi suaminya yang membuat dirinya begitu nyaman.


“Bagaimana keadaan sahabat ku? Apa dia sudah baik-baik saja sekarang?” Jofan mendudukan dirinya di depan Sandra. Membelai dengan lembut pipi Sandra yang masih terlihat pucat. Jofan semakin mencintai wanita yang sudah berhasil bertahan meski beberapa kali mereka memutuskan berhenti sejenak.


“Kak Malik membawanya pulang, Adek belum tahu tentang kehamilan mu San. Dia belum baik-baik saja. Kita harus membantunya pulih dari ketakutannya seperti dulu.” Jofan mencoba berkata dengan jujur tentang keadaan Ayu.


Sandra meminta dirinya harus tahu apapun tentang keadaan keluarganya, tidak mau Jofan menutupi apapun dari dirinya. Sandra mengancam akan melakukan tindakan bodoh jika dirinya tidak dilibatkan dalam menyelesaikan masalah yang tengah mereka hadapi.


Membekas sekali apa yang telah dirinya alami, Sandra tidak tahu sahabatnya dalam kesulitan dan itu sangat menyiksa.


“Kenapa pulang? Kan belum sembuh.” Sandra berfikir keputusan mereka tidak tepat membawa Ayu pulang.


“Adek menangis tadi, kita masih belum tahu penyebab dia menangis seperti itu. Tapi Dokter menyimpulkan ada kaitannya dengan trauma nya di masa lalu.” Sandra terlihat sedih. “Jangan khawatir.” Ucap Jofan yang takut Sandra kepikiran dan stress.


“Aku yang seharusnya bicara begitu Fan. Semua akan baik-baik saja sayang, Ayu wanita yang sangat kuat sayang, jangan khawatir ya Fan.” Sandra memeluk lagi tubuh Jofan yang saat ini butuh kehangatan dirinya.


Jofan menyodorkan mawar membuat Sandra tercengang kaget, dari mana datangnya bunga mawar yang kini ada di depan matanya. “Terimakasih San, terimakasih sudah mau menjadi Ibu dari anak ku. Terimakasih sudah mau sabar mencintaiku dan menemaniku.” Sandra meraih bunga Mawar yang begitu indah, kembali memeluk tubuh Jofan yang sangat dirinya cintai.



Mas, aku dalam perjalanan mengikuti Pacarku. Dia pergi dengan taksi keluar dari rumah sakit sendirian.


Pesan Riyan yang dikirimkan pada Jofan. Dirinya baru saja kembali dari rumah Kak Rey setelah mengantar Kak Anna dan Hanum untuk istirahat di rumah.

__ADS_1


Riyan terkejut mendapati Melan yang berjalan ke samping gedung rumah sakit menuju pangkalan taksi. Hari sudah cukup malam dan taksi hanya tersedia di pangkalan resmi yang di sediakan rumah sakit yang berada di samping gedung rumah sakit. Riyan akhirnya memutar balik mobilnya dan mencoba mengejar Melan yang sudah cukup jauh.


Taksi yang di ditumpangi Melan melaju dengan cepat. Ponsel Melan yang coba Riyan hubungi tidak ada koneksi. Sepertinya Melan sengaja mematikan ponselnya.


Riyan berhasil mengikuti kemana Melan pergi. Bangunan yang berdiri kokoh dengan nuansa putih yang tidak asing di matanya. Riyan lega Melani sampai dengan selamat.


Melani berjalan menyusuri setiap sudut galeri yang dipenuhi lukisannya. Riyan mengikutinya diam-diam.



Jelas sekali jika saat ini Melani tengah bersedih, dia pasti sangat terpukul atas apa yang menimpa dirinya karena dengan berani mempublikasikan hubunganya dengan Riyan. Melani mencoba menghadapi semuaya dengan berani, berharap semua penggemarnya menerima dengan lapang dada keputusan hidup yang dirinya ambil. Berharap semua akan baik-baik saja seperti sedia kala.


Riyan buru-buru memencet tombol volume di ponselnya yang berbunyi berkali-kali. Melan menoleh namun tidak mendapati siapapun di belakangnya.


Jofan : Dimana Dek?


Jofan : Melan tidak apa-apa kan Dek?


Jofan : Maaf membiarkannya turun sendiri tadi.


Riyan : Aku mengikuti Melan ke Galeri.


Jofan : Kalian baik-baik saja?


Jofan : Jangan lengah Dek, terus awasi Melan. Jangan sampai dia terluka.


Riyan kembali menelusuri lorong panjang mencari keberadaan Melani. Baru saja ditinggal sebentar, Melan sudah tidak terlihat di depan matanya. Jantung Riyan berdegub kencang saat langkahnya tidak juga dipertemukan dengan Melan.



“Yacchhhh....” Riyan tidak menghiraukan wajah Melan yang tengah marah, langkahnya buru-buru memeluk Melan yang berdiri baik-baik saja di depannya.


“Kenapa mengikuti ku? Aku kira kau penjahat Yan.” Ucap Melan yang tidak di hiraukan.



“Aku kira kau hilang.” Riyan menatap wajah Melan penuh sayang. Cantik sekali senyumnya. “Kenapa ke sini sendirian? Apa cinta ku sedang merasa tidak baik?” Melan megangguk. “Butuh pelukkanku?” Melan mengangguk.


“Maaf Yan.” Tubuhnya bergetar, Melan terisak di pelukkan Riyan. Riyan memeluk erat tubuh Melan yang begitu kesakitan. Suara tangisnya menyayat hati Riyan.


Riyan tidak mengatakan apapun, hanya mencoba ada di sisi Melan saat dirinya sedang tidak baik-baik saja. Semua yang terjadi karena keegoisan Riyan ingin memiliki Melani seutuhnya. Dirinya yang patut di salahkan.

__ADS_1


Riyan membawa Melan ke rooftop, memeluknya erat sampai Melan benar-benar berhenti menangis sekarang.



“Ingin minum Mel? Atau makan?” Melan menggeleng. “Maaf kan aku Mel.” Melan mendongak menatap wajah Riyan yang tersenyum manis padanya.


“Kenapa minta maaf?” Melan mendekatkan wajahnya, menelisik kalau-kalau ada penyesalan di senyum tulus Riyan.


“Maaf karena aku sangat mencintaimu. Dan aku tidak bersedia menukar semua ini dengan apapun. Aku tidak bisa.” Melan tersenyum.


“Maka jangan tukar cintamu dengan apapun. Perjuangkan aku Yan.” Melani mencium kening Riyan. Dia tipe laki-laki yang tidak akan menyentuh Melan sedikitpun, dia hanya berani memeluk Melan. “Jangan lepaskan aku. Aku sudah cukup melepaskan yang aku miliki, sekarang aku tidak mau melepaskan apapun lagi.” Riyan bahagia sekali mendengarnya. Tidak boleh menyalahkan dirinya sendiri, Riyan harus percaya diri memperjuangkan cintanya untuk Melani.


***


Anak-anak dan Papah Rey sedang berada di ruang kelurga saat Malik yang menggendong Mommy mereka masuk di temani Oji yang menenteng beberapa tas milik Malik dan Ayuna. Mereka terpaku tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.



“Tidak mau kah membantu Om mu ini, berat Nak.” Ranu dan Mahes bukan lari ke arah Oji yang meminta bantuan malah lari ke arah Daddynya. Wajah mereka penuh bahagia, lega sekali Mommy kesayangannya sudah kembali.


“Jangan ribut, biarkan Mommy istirahat dengan tenang malam ini.” Kedua Putra nya tidak menanggapi. Sibuk memperhatikan Mommy nya yang begitu cantik di mata mereka.


“Mommy very beautiful Mom. I love you Mom.” Ayuna merona mendengar gombalan Mahesa.


“Abang cintanya tidak tertandingi.” Membuat bentuk hati dengan kedua tangannya. “I love you my heart.”


Malik menurunkan Ayuna di ruang tengah, tangannya sudah menarik narik lengan bajunya minta di turunkan. “Tidak mau di kamar saja Mom?” Ayuna menatap suaminya dengan senyum mematikannya. “Ok, di sini dulu saja dengan anak-anak.”


“Malam ini ingin tidur dengan mereka ya Dad. Mommy kangen sekali anak-anak Mommy.” Mata Malik membola.


“Mommy tidak rindu Daddy? Sudah hilangkah cinta Mommy pada ku?” Drama yang membuat Ayu terkikik.


“Cinta, cinta Mommy paling banyak untuk Daddy. Tapi malam ini mau dengan mereka.” Anak-anaknya tertawa penuh kemenangan.


“Mengalahlah, kau seperti anak kecil saja.” Timpal Oji yang baru saja keluar dari kamar Malik setelah menaruh barang-barang bawaan mereka.


“Kakak juga jangan pulang yah, menginap saja. Sudah malam sekali, bahaya Kak.” Malik mengangguk menjawab pertanyaan yang meluncur lewat sorot mata Oji. Saat ini apapun kemauan Ayuna sebisa mungkin Malik turuti.


“Padahal aku harus meeting pagi-pagi sayang.” Melihat wajah sedih Ayu, Oji luluh. “Ok lah...aku akan minta jadwal meeting mundur sebentar saja.”


“Tidur di kamar Abang saja Om.” Pinta Ranu dengan senang.

__ADS_1


Oji mendudukan tubuhnya yang kelelahan di sisi anak-anak yang sedang memeluk Mommy nya. Dirinya bahagia meski butuh keberanian yang begitu besar melihat Wanita yang dicintainya bahagia dengan orang lain. Dirinya merelakan menjaganya dari kejauhan.


__ADS_2