Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Hukuman


__ADS_3

Keluar dari sebuah rumah laki-laki yang bisa di bilang sudah cukup umur dengan paras yang lumayan tampan. Ada wanita cantik yang juga turut keluar karena merasa terusik istirahat malam mereka dengan tamu yang datang tidak tahu diri di tengah malam.


Uluran tangan sang Tuan rumah tidak disambut oleh Malik. Dadanya sesak menahan amarahnya yang memuncak. Otot-Otot tubuhnya terasa kaku melihat Laki-laki tidak tau malu tersenyum tanpa rasa bersalah padanya.


"Ada perlu apa Tuan?" Sapanya sopan meski Malik menunjukkan kebenciannya, tahu siapa yang ada di hadapannya. "Pasti hal yang mendesak karena malam-malam begini Tuan Malik bertandang ke rumah saya." Malik menatap dengan penuh kebencian.


Tangannya mengepal mencoba menahan emosinya yang sedang memuncak di atas kepalanya. Rasanya mendidih ubun-ubunya.


"Aku akan menuntut anda atas dugaan pelecehan seksual pada adik saya." Laki-laki di hadapannya terkejut setengah mati. Apa yang Malik maksud. Tanpa basa basi Malik membuat pemilik rumah menatap nya penuh gemetar.


"Tuan....maaf sebelumnya. Saya masih tidak mengerti apa maksud Tuan." Malik melemparkan foto yang terdapat foto laki-laki di hadapannya sedang memberikan uang pada pegawai restoran untuk memasukkan obat pada minuman. Sang pemilik foto mengambil foto yang berserakan mencoba mengingat dimana dan apa yang dirinya lakukan.


"Aku tidak mengerti Tuan, kita bisa bicara baik-baik Tuan Malik." Bukan hanya Melan yang menjadi korban, dia sampai tidak ingat wanita mana yang Malik maksud.


"Ingat!" Malik menyodorkan foto Melan yang ada di ponselnya.


"Aku.....dia bahkan tidak ada hubungan apapun dengan anda Tuan Malik. Jangan bercanda." Wanita yang duduk di sisi laki-laki yang saat ini sangat Malik benci menangis. Kecewa sekali suami yang sangat dirinya percaya berkhianat.


"Saya tidak main-main. Kalau saja aku tidak punya belas kasihan. Sudah aku habisi kau laki-laki tidak tahu malu!." Malik berdiri dari duduknya. Meninggalkan tempat yang bisa saja membuat dirinya hilang kendali.


"Tuan....aku mohon. Anak-anak ku masih sangat kecil, beri kami belas kasihan Tuan." Malik semakin geram karena yang memohon malah istrinya. Dia sampai bersujud di kaki Malik.


Malik membawa tubuh wanita yang bersimpuh di kakinya berdiri. Bukan kesalahnya, dia hanya tidak beruntung menikah dengan laki-laki hidung belang.


"Kau tidak malu! Istrimu bahkan membela laki-laki brengsek seperti dirimu." Malik pergi dan tidak menghiraukan permintaan mereka.


Suara jeritan begitu mengganggu Malik. Diam beberapa saat merasa tidak tega melihat sang istri menangis begitu pilu. Dia hanya seorang Ibu yang begitu mencintai anak-anaknya.


"Bos....sudah bisa kita pergi?" Tanya Aldo yang ikut menemani Malik mendatangi rumah pelaku yang membuat Melani mengalami pelecehan.


"Al, pastikan anak-anak nya bisa hidup dengan layak. Aku hanya ingin menghukum laki-laki yang sudah berbuat jahat pada Melan." Aldo mengangguk paham.


Malik sangat tidak mau seorang anak menjadi korban atas keteledoran dan kesalahan yang orang tuanya perbuat. Mereka tidak layak hidup menderita karena kesalahan orang tua mereka.


"Kita kemana Bos? Ke pangkalan helikopter atau ada tempat lain yang mau Bos datangi?" Malik masih merenung. Menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangannya.


"Sebenarnya ada yang ingin aku selesaikan. Kita ke villa saja Al. Aku takut Istri ku bangun dan mencariku." Aldo mengangguk dan langsung menancap gas.


Setelah perjalanan yang Malik dan Aldo tempuh. Mereka akhirnya sampai di villa, lampu tidak banyak yang menyala karena penghuni rumah sedang istirahat.


Benar saja, saat Malik sampai, Ayuna sedang berkutat di dapur membuat minuman hangat. Semenjak hamil Ayuna kesulitan tidur jika tidak ada siapapun di sisi nya.


"Mom...." Mendekat, mengecup pipi kesayangannya. Malik meraih gelas yang sedang Ayuna pegang. Menggandeng Ayuna ke ruang santai. "Tidak bisa tidur yah?" Ayu mengangguk. Malik menyelipkan rambut yang mengganggu di belakang telinga Ayuna.


"Kak Malik darimana?" Malik malah sibuk menatapi kesayangannya.

__ADS_1


"Kenapa tidak ke tempat Kakak atau Abang? Minta mereka temani Mom." Masih merasa bersalah.


"Kasihan, mereka pasti juga sedang bobo Kak." Ayuna menyeruput minumannya. Hangat di tenggorokanya.


"Ya sudah, habiskan ya Mom. Setelah itu istirahat, jangan sampai kelelahan dan sakit Mom." Ayu mengangguk.


"Bos ...eh...Nonna belum tidur?" Aldo yang tiba-tiba muncul membuat Ayu bertanya-tanya.


"Kak Aldo kok bisa ada di sini?" Matanya penuh selidik menatap Aldo.


"Ada berkas penting yang harus di tanda tangani Mom, jadi Aldo datang kesini malam-malam" Wajah Aldo terlihat kikuk.


"Saya istirahat ya Non, capek sekali saya Non." Ayu mengiyakan meski masih banyak pertanyaan di kepalanya.


"Ayo Mom, sekarang istirahat." Ayuna meraih tangan Malik yang terulur padanya.


Malik memeluk Ayuna yang kesulitan tidur. Memberikan belaian lembut agar Ayu merasa nyaman.


"Kak...." Malik hanya sibuk membelai rambut Ayuna. "Aku ingin ke pasar malam. Kata Dokter Adam, di dekat sini ada pasar malam Kak. Banyak jajanan enak." Ingin Malik mencubit bibir Adam rasanya.


"Besok Kak Malik pikirkan, sekarang istirahat." Ayu terlihat tidak mengantuk.


"Kenapa besok Dad, sekarang saja berfikirnya. Aku ingin membuat daftar jajanan yang ingin aku coba." Antusias sekali istrinya.


"Apa Baby akan marah kalau keinginannya di tolak?" Malik sudah menebak jurus Ayuna, ngidam jadi andalan.


"Ok, tapi makan jangan yang tidak aman. Daddy tidak akan ijinkan." Ayuna spontan duduk kegirangan. Memeluk Malik erat sebagai ungkapan terimakasih.


"Aku akan tanya Cloe, kalau Cloe tidak memperbolehkan, aku tidak akan makan." Dokter gizi kepercayaan keluarga besar Malik.


"Good girl, sekarang istirahat. Kumpulkan stamina untuk besok pagi." Ayuna menyipitkan matanya tidak mengerti. Ada apa pagi hari nanti.


Karena tidak mau pusing dengan apa yang Malik maksud, Ayuna memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Merasakan hangat dan harumnya aroma tubuh suami tersayangnya.


"Bagaimana Al?" Tanya Malik yang sudah tidak sabar ingin melihat semua orang takjub dengan idenya yang di luar nalar.


Aldo terlihat kehabisan nafas, meneguk air dingin yang baru saja dirinya ambil dari kulkas. Malik masih setia menunggu Aldo menjawab rasa penasarannya.


"Bos....bisa tidak kalau punya ide jangan meminta ku mengerjakannya secepat kilat. Aku lari kesana kemari mencari mamang-mamang di seluruh penjuru pelosok." Ocehan nya yang merasa kesal.


Tring ...


Notifikasi transfer an masuk dari sang Bos. Aldo tersenyum, melihat jumlahnya membuat Aldo melupakan rasa kesalnya.


"Kurang?" Aldo menggeleng, jumlahnya cukup besar.

__ADS_1


"Semua pedagang berkumpul di jalanan depan menuju Villa, tidak di ijinkan masuk takut merusak taman yang ada di villa.


Malik mengacungkan jempolnya. Senang sekali mendengar Aldo berhasil.


"Sekarang minta semua nya turun Al. Aku akan jemput istriku. Dia tidur subuh tadi jadi belum bangun." Aldo melenggang dengan kaki yang sangat ringan. Bahagia hatinya.


Aldo berhasil membawa semua orang turun, di bawah sudah menunggu Malik dan Ayuna yang juga sangat penasaran.


"Ada apa Al? Kenapa meminta kita semua turun?" Tanya Rey penasaran.


"Lihat saja, kalian akan suka." Ayu mencari dokter Adam dan Dokter Sarah.


"Mereka sudah berangkat pagi tadi Mom. Tidak mau menunggu lebih lama." Ayu mengangguk paham. "Ayo keluar, kalian pasti akan suka."


Semua mengikuti saja permintaan Malik, berjalan menuju gerbang utama.


Betapa pemandangan yang sangat menakjubkan di depan mata mereka, jajaran pedagang kaki lima dengan berbagai makanan mengguhah selera.



"Kak....wah....keinginan ku semalam?" Malik mengangguk. Memeluk Malik penuh rasa terimakasih. "Kak Malik keren." Senyumnya cantik sekali.


"Dad.....gak salah Dad, Abang boleh makan semua ini?" Mahes menunggu jawaban dari pertanyaan adik nya, matanya berbinar.


"Hari ini Daddy ijinkan makan semua jajanan yang ada di sini."


"Yeayy......." Teriak Mahes, Ranu, Sandra dan Melan girang.


"Thanks Dad." Ranu dan Mahesa lari melihat-lihat jajanan yang berjejer dengan rapi. Sandra dan Melan juga mengikuti mereka.


Malik menggandeng tangan Ayuna yang suasana hatinya sedang sangat bahagia. Keinginannya tidak di kabulkan untuk pergi ke pasar malam. Tapi Malik memboyong semua pedagang ke tempat mereka.


Tidak apa, hatinya sudah bahagia melihat usaha suaminya membuat dirinya tidak kecewa. Pasar pagi yang Malik hadirkan.


Setelah puas menunjuk beberapa makanan, Malik membawa Ayu kembali ke dalam Villa. Menunggu makanan di dekat kolam renang yang sudah di siapkan meja untuk mereka makan bersama.


Malik meminta agar makanan di antarkan ke dalam karena tidak mau Ayu kelelahan berdiri terlalu lama.





__ADS_1



__ADS_2