
Duduk, makan bersama dengan beberapa karyawan di kantin yang di sediakan kantor. Riyan tergolong mudah membaur namun tidak banyak bicara, duduk saja menikmati canda tawa rekan kerjanya saat makan siang.
Dirinya tidak mudah bercanda, kalau kata temannya yang bernama Gegen, Riyan laki-laki yang kaku dan tidak pandai bergaul.
“Ngapain Gen? seru sendiri dari tadi. Biasanya bawel kamu ini.” Tanya teman sebelah Gegen yang penasaran.
“Cobain aplikasi rekomendasi temenku nih. Beneran aku ketemu cewek yang kayaknya cocok sama aku yang suka bercanda.” Riyan melirik penasaran.
“Hati-hati Gen, banyak tipu-tipu jaman sekarang.” Teman lain mencoba mengingatkan Gegen takut tertipu. Karena Gegen di juluki jomblo sejati, gagal saja kerjaannya kalau sudah berurusan dengan perempuan.
“Udah satu minggu ini chat an, kayaknya baik. Sore ini janjian ketemuan, dia kerja deket sini juga.” Gegen masih percaya diri tidak tertipu kali ini.
Senyumnya tentu saja penuh bahagia, wajahnya menggambarkan hamparan kebahagiaan yang sedang meliputinya.
“Bener Gen?” Teman lain penasaran. Dia juga penasaran, siapa tau saja beruntung. “Apa nama Aplikaisnya Gen. mau coba, daripada jomblo ngenes begini aja.” Gegen menyebutkan dengan lantang. Riyan diam-diam merekam nama aplikasi yang Gegen sebutkan.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Riyan tanpa ragu-ragu mencobanya. Ingin mencari teman dan menghilangkan rasa yang semakin besar di hatinya. Riyan terlalu takut mengakui perasannya. Melani lebih pantas jadi Kakak nya daripada pacarnya.
Mengamuk bisa-bisa semua orang jika tahu dirinya menyukai Melani dengan tidak tahu diri. Dia kan kakak nya, mana bisa berubah menjadi pasangan Riyan seenaknya.
Riyan memang sedang kacau.
Mengalihkan perhatian hatinya sepertinya sangat tepat agar tidak semakin dalam rasa cinta yang dimilikinya.
“Hay….salam kenal.” Sapa Riyan pada wanita yang fotonya tidak terlihat cantik, sederhana namun enak di pandang mata. Riyan tertarik. Wajahnya kesal, tak kunjung berbalas.
Setiap hari Riyan hampir mendengar Gegen dan teman-teman lainnya menceritakan pengalamanya berkencan dengan gadis dari aplikasi yang sama.
Dirinya……..nihil, jangankan berkencan, pesannya saja tidak terbaca sepertinya oleh gadis yang menarik hatinya. Riyan ingin mencoba menyapa gadis lain, tapi mengurungkan niat karena entah kenapa dirinya terpaku pada satu gadis manis pemikat hatinya.
Kurang lebih 3 hari baru ada balasan. Riyan sangat bersemangat dan antuasias. Membaca dengan seksama balasan chat yang dia kirimkan.
“Salam kenal juga, namaku Helga. Di profil nama mu Riyan. Salam kenal yah. Semoga kita berjodoh.” Berdegub jantung Riyan, seolah benar-benar sedang chating dengan pacarnya.
Seiring berjalannya waktu Riyan menjalani hubungannya dengan Helga layaknya sepasang kekasih. Helga sangat senang dan begitu tulus mencintai Riyan. Dengan segenap hati Riyan juga berusaha mencintai Helga.
“Dimana?” Tanya Helga yang baru saja sampai di cafe tempatnya janjian dengan Riyan. Pertemuan pertama setelah memutuskan menjalin hubungan.
__ADS_1
Mencoba mencari sekeliling namun tidak menemukan sosok yang sama dengan Foto Riyan di profil.
“Hay….” Laki-laki bertubuh tinggi kurang lebih 180 cm dengan tubuh tegap berdiri di depannya. Helga menelan saliva nya susah payah karena terkejut.
“Aku Riyan.” Meraih tangan Helga membawanya ke kursi yang sudah dia duduki tadi.
“Foto…..” Riyan tersenyum. “Kau mengerjai yah.” Helga tertawa merasa di bodohi, untung saja yang datang laki-laki tampan. Riyan memutuskan panggilan telponnya. Helga sepertinya lupa, dia sibuk terpesona dengan sosok Riyan.
“Maaf Hel, aku masukan foto ku saat aku masih belum tahu fashion. Kau pasti terkejut yah.” Riyan mengakui keisenganya.
Akan di anggap serius gadis yang membalas chatnya. Padahal Riyan hanya berkontak dengan Helga, tidak dengan gadis lain.
“Hampir saja aku jantungan. Kau lebih tampan aslinya Kak. Aku sih harusnya bersyukur. Coba kalau yang datang laki-laki tua, perutnya buncit dan kumisnya memenuhi wajahnya.” Helga bergidik. Riyan menangkap raut bahagia, beruntungnya dirinya.
“Kau ada-ada saja. Aku sudah pesankan makanan kesukaan mu.” Helga berbinar, lagi-lagi Riyan membuatnya terkejut. “Atau mau makan yang lain?”
Riyan merasa tidak enak hati karena Helga termenung. Dia tak tahu saja Helga sedang jatuh cinta berulang kali.
“Ahhh….tidak Kak, aku makan yang Kak Riyan pesankan. Aku suka.” Menarik tangannya yang tanpa ijin bertengger di tangan Riyan.
“Suka aku yah Hel.” Helga tersipu malu. Mengangguk mengakui perasannya.
Helga mencoba menerima. Toh Riyan mau dirinya membantu agar perasaannya hilang, agar sirna sepenuhnya dan hanya ada dirinya.
Akhirnya mereka resmi pacaran, sudah berjalan 6 bulan hubungan mereka dan semua berjalan cukup mulus. Keduanya saling mengisi kekosongan. Meski Helga belum lama pulang dari luar negeri dan mengabdikan diri di desa yang bisa di bilang terpencil.
Helga dengan mudahnya bisa menyesuaikan diri, Riyan beberapa kali berkunjung saat harus meninjau proyeknya yang saat ini ada di dekat klinik tempat Helga mengabdikan diri. Semangat tentu saja. Rasanya pekerjaan menjadi sangat ringan dan menyenangkan.
Entah ini restu Tuhan atau hanya kebetulan, perusahaan Jofan membuka cabang dan sedang melakukan pembangunan di kota dimana Helga tinggal.
Riyan dengan senang hati jika diminta meninjau lokasi pembangunan.
Semangat karena sepulang dari proyek bisa mampir ke rumah pujaan hatinya. Sekedar bersenda gurau atau melepas rindu.
“Mas Jofan, biar Riyan saja yang berangkat.” Jofan mengernyitkan dahi.
Tumben sekali anak ini suka meninjau lapaangan langsung, biasanya dia paling suka berlama-lama di kantor. Jofan tidak ada rasa curiga, mungkin dia hanya sedang bosan dan ingin suasana berbeda.
__ADS_1
“Hati-hati ya Dek, kalau kau sampai luka sedikit saja. Mbak mu akan mencekik leherku.” Guraunya yang memang begitu dekat dirinya dengan Riyan.
Adiknya, Jofan tidak pernah menganggap Riyan orang lain. Bahkan toko miliknya ada beberapa cabang yang atas nama Riyan. Meski Riyan tidak tahu menau tentang kepemilikannya.
Awalnya berjalan lancar. Pelan-pelan Helga ingin mencoba menerima segala perjuangan Riyan yang masih memiliki rasa untuk wanita lain. Meskipun jujur tidak mudah bagi Helga menerima permintaan Riyan agar membantunya menemukan cinta yang sesungguhnya.
Sakit sekali perjuangannya, tapi melihat tekad dirinya dan perhatian dari Riyan membuat hatinya luluh. Mudah sekali Helga memaafkan berulang kali kesalahan dan ketidak nyamanan yang timbul karena ada nama lain di hati Riyan.
Bertahan, meski jalan nya begitu menyebalkan, Helga mencoba meyakinkan dirinya untuk bertahan. Percaya jika Riyan akan memantaskan diri dan berusaha keras menyelaraskan perasannya.
Tapi tidak semudah itu, dari awal sudah tidak sempurna. Meski mencoba dengan keras membuatnya sempurna, tetap saja hasilnya tidak akan sesuai dengan yang di buat dengan sempurna sejak awal.
"Maaf." Riyan menunduk, malu sekali memperlihatkan wajahnya yang tidak tahu diri.
Hanya suara isakan. Tidak sanggup lagi berkata-kata. Cintanya berhenti di Riyan. Laki-laki yang mencoba membuka hati namun tidak berhasil. Laki-laki yang menjeratnya sedalam ini.
"Ku mohon jangan menangis Hel, aku sayang kamu. Aku berani bersumpah. Tapi rasa itu tidak bisa aku hapus. Aku jahat." Suaranya bergetar.
"Apa yang membuat hati mu berhenti di dia? Apa tidak ada di aku? Aku harus bagaimana?" Meraih tangan Riyan yang terkepal di atas meja.
"Kau juga tidak kalah dari dia. Tapi rasa ini berhenti Hel, aku sudah mencoba dan tidak berhasil." Tangannya di tepis. Helga tidak lagi mau di sentuh. Membiarkan air matanya mengalir menyaksikan.
"Kau sejak awal berjanji untuk perlahan melupakannya Yan, kenapa berhenti. Kita baru 6 bulan. Kita masih punya banyak waktu." Pintanya yang semakin membuat Riyan sakit.
"Aku takut tidak berhasil, aku tidak percaya pada diri Ku. Aku takut sakitnya akan semakin susah di lupakan Hel. Aku mohon. Ku mohon kita hentikan." Mencoba meraih tangan Helga yang lagi-lagi di tepis.
"Brengsek!!!!!!!! Bodohnya aku nyaman dan berharap kau benar-benar serius dengan ucapanmu. Aku tertipu, aku bodoh sekali!" Merutuki dirinya sendiri.
Riyan menahan tangan Helga yang memukul mukul kepala nya sendiri.
"Aku mohon, aku mohon Hel......jangan seperti ini. Aku yang sakit. Aku benar-benar sudah menghancurkan mu. Aku rela lakukan apapun untuk menebusnya." Membelai lembut surai Helga yang tergerai indah.
"Kenapa bersikap sebaik ini kalau akhirnya tidak dengan ku Yan." Terisak begitu pilu. "Aku senyaman ini denganmu. Aku tidak apa jika kau tidak mencintaiku. Aku saja. Aku saja yang mencintaimu. Asal kau tidak berubah Yan. Aku mohon." Melepas pelukkannya. Menatap mata Helga yang masih basah air mata. Menyeka nya dengan lembut.
"Hey.....kau berhak punya lelaki yang mencintaimu. Yang tulus dan bener hatinya hanya milikmu. Pasti akan ada Hel, ku mohon. Aku tidak mau menyakitimu lebih dalam." Bertahan hanya akan menghancurkan Helga semakin sakit, Riyan takut akan sulit bagi dirinya dan Helga saling melepaskan jika sudah terlalu jauh.
Mereka berakhir, meski Helga memaksa dan meyakinkan jika dirinya tidak keberatan ada nama lain yang terukir di hati Riyan. Tapi Riyan tidak mau jadi laki-laki jahat tidak tahu diri. Mana bisa dirinya menyakiti wanita sebaik dan secantik Helga.
__ADS_1
Dia harus menyembuhkan dulu lukanya, dia tidak mau orang lain terkena lukanya. Riyan tidak mau menjalani hubungan yang hatinya menolak. Sungguh bukan karena tidak cinta, tapi Riyan tidak mau melukai siapapun dengan rasanya yang belum sepenuhnya menetapkan diri. Masih samar.