
Ayuna bangun dari istirahat panjangnya, dirinya tersenyum saat mendapati suaminya tidur di sampingnya dengan tenang. Ayu membelai lembut surai Malik yang berantakan menutupi wajahnya. Bahagia bisa berdampingan menjalani hari-harinya dengan laki-laki yang begitu mencintainya denga istimewa.
Ayu bangga tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari Malik, semua permintannya dituruti selama baik untuk dirinya dan tidak berbahaya. Malik selalu ada di sisinya suka dan duka, tidak pernah sekalipun membuat dirinya merasa sendirian. Suaminya hebat dalam memperlakukan dirinya, Ayu merasa sangat berharga untuk keluarganya.
Tangannya yang tengah mengukir setiap garis di wajah malik di tarik lembut oleh Malik, dia rupanya juga sudah bangun. Wajahnya yang masih terpejam sedikit mengukir senyum indah di bibir tebalnya.
“Sudah bangun sayang?” Malik mencium wangi aroma kesukaannya dari rambut milik Ayu. “Biarkan Daddy peluk Mommy sebentar saja sayang.” Ayu juga nyaman sekali di peluk erat suaminya.
"Ayo kerumah Mas Jofan Kak, aku sudah enakan." Malik menariknya lebih dalam ke pelukannya. "Baby pasti cari-cari Mommy nya Dad." Malik mengecup puncak kepala Ayu. “Tidak dengar suara Baby aku sangat kesepian Dad.”
"Masih pusing kepalanya?" Ayu menggeleng, hanya sedikit pening tapi menurutnya sudah baik-baik saja. Malik bangun dari tidurnya, mendudukkan tubuhnya yang sing ini diberi istirahat cukup nyaman karena anak-anak di rumah Om nya.
"Kak Malik bawakan jus dulu sebentar. Tunggu di sini Mom." Ayu mengangguk, dirinya masih duduk di atas kasur menuggu sampai suaminya memberikan ijin untuk dirinya bergerak.
Ayu meminum habis jus buah-buahan yang Malik buat. Selalu enak apapun yang Malik buat untuk istrinya. Tangan Malik mengusap sudut bibir Ayu yang sedikit basah, mengecupnya pelan. Pipi Ayu merona mendapat perlakuan semanis itu.
"Ayo Mom." Malik mengulurkan tangannya, membawa istrinya turun dari kasur. Menyambar jaket tebal yang tergantung rapih di tempatnya. "Pakai jaket mu Mom." Ayu malas sekali, cuaca sedang panas dan dirinya diminta memakai jaket.
"Boleh tidak di bawa saja? Aku kepanasan Kak." Memang sedikit berkeringat kening Ayu saat ini. “Gerah Kak.” Ucapnya pelan.
"Ya sudah, bilang Daddy kalau Mommy kedinginan." Ayu mengangguk, mereka berjalan bergandengan tangan.
Sudah sangat lama tidak setenang ini, Ayu merasa desiran aneh dengan suasananya saat ini. Hidupnya selalu ramai dengan suara berisik anak-anak, mendapati suasana seperti ini membuat dirinya sedikit takut. Ayu menatap wajah Malik yang terlihat begitu tenang.
“Kenapa sayang?” Tanya Malik setelah masuk ke dalam mobil. Dia sadar kalau tatapan mata Ayuna tidak begitu tenang, ada yang tengah menganggu pikirannya. “Sini sayang.” Ayu mendekat, pelukkan suaminya selalu bisa memberikan ketenangan.
“Sepi Dad, Mommy tidak bisa bayangkan kalau anak-anak sudah dewasa dan punya kesibukan sendiri-sendiri.” Matanya berkaca-kaca, belum siap ditinggalkan anak-anak ke tempat yang jauh.
“Ada Daddy sayang, kalau anak-anak sudah mapan dan bisa Daddy mintai bantuan mengurus peruasahaan, Daddy akan lebih banyak waktu untuk Mommy. Daddy akan selalu di sisi mu sayang.” Pada akhirnya mereka akan kembali berduaan seperti dulu.
“Maaf ya Kak, aku memikirkan hal tidak penting yang membuat aku benar-benar sedih Dad. Aku takut ditinggalkan anak-anak nanti Dad.” Malik mengangkat wajah Ayu yang menunduk penuh kesedihan.
__ADS_1
“Anak-anak mu tidak akan meninggalkan kita jauh, mereka yang paling butuh ada di dekat mu Mom. Tidak bisa mereka tanpa kamu sayang.” Malik kenal anak-anaknya, bagaimanapun keadannya anak-anak tidak akan pernah berubah.
“Aku takut nanti menangis kalau lihat Kakak Dad, kasihan nanti Kakak jadi sedih dan kepikiran Dad. Aku belum kuat lihat anaknya Dad.” Malik masih belum mau pergi sebelum Ayu benar-benar yakin mau menemui anak-anaknya tanpa ragu.
“Mau jalan beli makan siang saja? Mommy baru minum jus saja tadi Mom.” Ayu bangga sekali, suaminya tidak pernah memaksakan kehendaknya. Dia selalu tahu harus bersikap bagaimana agar dirinya tetap merasa tenang.
“Ke rumah Mas saja ya Kak, aku rindu anak-anak. Nanti pegang tanganku begini ya Kak.” Ucap Ayu sambil menggenggam erat tangan kiri Malik. “Yang erat ya Kak, jangan di lepasin, Mommy takut tidak kuat.” Malik mengecup tangan Ayu berulang kali, lembut sekali agar Ayu merasa aman di sisinya.
Malik menancap gas mobilnya, melaju perlahan menuju rumah Jofan yang berada tidak jauh dari apartemen miliknya. Anak-anak benar-benar memberikan mereka waktu istirahat yang cukup panjang. Malik jadi punya ide untuk sering meluangkan waktu berdua saja tanpa anak-anak.
***
"Tidak mau kah bicara pada anak mu ini Mah?" Anna kikuk sekali, percakapan dirinya dengan Riyan di dengar Mahesa yang memang sedang aneh dengan sikap Mommy nya yang tiba-tiba sedih, sampai tidak mau menemui dia dan Ranu.
"Kakak jangan pikirkan, sepertinya Mommy hanya kelelahan sayang." Anna ngeri melihat tatapan mata Putra nya yang benar-benar meminta penjelasan. Mahesa sudah cukup besar untuk mereka bohongi, dia sudah bisa menerka akan keadaan orang tuanya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Sini Kak, duduk dengan Om Riyan." Anna menggeleng, tidak mau menyakiti perasaan Mahesa. Dia pasti sedih jika peyebab Mommy nya sedih adalah dirinya. Mahesa begitu lembut, dia mudah menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak apa Mah, Kakak cukup dewasa di ajak cerita dan diskusi. Sebentar lagi aku Mahasiswa loh Mah." Anna saja sedih, bagaimana Ayu yang menghabiskan separuh hidupnya dengan anaknya ini.
Keduanya duduk saling bertatapan. Riyan menghela nafasnya yang terasa sedikit berat. Ternyata tidak mudah menjadi orang tua, mereka harus merelakan anak-anaknya yang tumbuh dewasa pergi jika saatnya tiba. Ayu tengah meratapi kesedihannya yang harus dengan rela melepaskan anak-anak yang begitu dia kasihi.
"Apa ada hubungnya dengan aku atau Abang kenapa Mommy sad?" Riyan mengulas senyum. Riyan menepuk punggung tangan Mahesa.
"Bukan sedih Kak, Mommy kalian hanya syok saja kalian tiba-tiba sudah sebesar ini." Berputar-putar, Mahes masih tidak paham. "Kalian sudah besar, Mommy kalian merasa sepi saja Kak."
"Mommy tahu Kakak di terima yah?" Riyan menatap tajam kemudian mengangguk. Yang ditutupi akhirnya Mahesa mengerti sendiri. "Kakak sudah duga, Mommy pasti akan sangat syok. Apa Kakak batal saja ya Om? Tidak kuat sekali lihat matanya." Mahes menunduk penuh kesedihan.
"Mommy bukan tidak ijinkan Kak, dia pasti ijinkan. Butuh waktu saja membiasakan diri tanpa kalian." Mahesa sedang menahan diri agar tidak menangis, Mommy nya adalah kekuatan. Kalau dia sedih karena Mahesa, bagaimana dirinya bertahan.
“Tapi Mommy ku Sad Om, aku tidak akan bisa melangkah kalau Mommy tidak ijinkan aku pergi.” Riyan memeluk Mahes yang butuh di tenangkan.
__ADS_1
“Kakak....” Mahes mengusap sudut matanya sebelum mengangkat kepalaya. Suara yang sangat di rindukan Mahesa. “Kakak, Mommy ditinggal sendirian di rumah.” Ayu sedikit berlari menghambur kepelukkan Putranya yang tersenyum begitu manis padanya.
“I love you Mom. Cinta sejati Kakak.” Mahes manis sekali siang ini, Ayu menatap Malik yang berdiri di depannya. Ayu tahu jika anak nya sedang sedih melihat dirinya tidak baik.
“Mommy juga love you to Kakak sayang. Sudah makan Nak? Mommy mau makan Kak, lapar Mommy belum makan.” Mahes beranjak dari duduknya, mengulurkan tangannya pada Ayu dengan wajah yang begitu manis.
“Ayo Kakak temani makan. Papah sudah masak banyak untuk Mommy, ada Sup Iga kesukaan Mommy loh.” Ayu antusias, dirinya harus bahagia agar anak-anaknya tenang.
Mahesa benar-benar memanjakan Mommy nya siang ini. Dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Mommy nya sebelum dirinya benar-benr berada jauh dari rumah. Tidak akan bisa memeluk Mommy nya selama dirinya menimba ilmu di negeri lain yang berada begitu jauh dari rumah.
“Sayang, Mas kok tidak tahu kalau Adek sudah sampai.” Jofan mengecup pipi Ayu. Mata Ayu penasaran sekali dengan pakaian lucu yang tidak biasa Mas nya kenakan. Dia paling suka baju tanpa motif. “Bumil aku agak lain sayang, dia ingin aku, Adek dan Kak Rey foto dengan baju aneh pilihannya.” Ayu tersenyum, ternyata ada yang lebih aneh dari dirinya ketika tengah hamil.
“Mana Sandra nya Mas?” Jofan memeluk erat adik kesayangannya. Dirinya sedang kewalahan menghadapi wanita hamil kesayangannya yang setiap hari ada saja tingkahnya.
“Dia sedang ambil aksesoris katanya. Entahlah untuk apa, Mas mu hanya bisa pasrah kalau sudah maunya. Dia cengeng, mirip kamu dulu sayang. Mudah sekali menangis kalau maunya tidak di turuti.” Ayu lagi-lagi merasa lucu. Mas nya pasti tersiksa, serba salah menghadapi wanita hamil yang suka aneh-aneh permintanya.
“Ayo....” Tariak Sandra penuh semangat menuruni tangga.
“Pealan-pelan sayang.” Jofan mendekat pada tangga, menunggui Sandra yang tengah berjalan hati-hati.
“Loh udah sampa Yu, sudah enakan sayang ku?” Ayu mengangguk, jaring di tangannya membuat Ayu sangat penasaran. Sandra tahu sekali arti tatapan mata Ayu padanya. “Aku mau foto mereka seolah sedang bermain di taman Yu, cocok kan baju yang aku pilihkan?”
Jofan hanya menggeleng tidak percaya dengan ide-ide aneh yang terus saja muncul di kepala istrinya. “Jangan terlalu capek sayang, ingat kata Dokter Adam kau tidak boleh terlalu banyak bergerak.” Sandra mengerucutkan bibirnya, Jofan gemas sekali melihatnya.
“Ini gak berat Fan, Cuma foto-foto kalian saja loh. Gak capek Fan.” Jofan membelai puncak kepala Sandra dengan sayang.
“Iya sayang ku, cintaku, hidup ku. Lakukan apa yang kamu mau sayang.” Sandra memeluk Jofan dengan sayang. Sungguh emosinya dipermainkan menghadapi keanehan yang suka sekali Sandra lakukan. Banyak hal yang tiba-tiba saja muncul.
Apalagi yang bisa Jofan lakukan selain menuruti apa yang Sandra mau. Apapun asal Sandra merasa di perhatikan dan di sayangi akan Jofan lakukan. Dirinya tidak bisa menggantikan pengorbanan Sandra menjadikan tubuhnya penuh kesakitan selama mengandung, setidaknya Jofan memberikan perhatian dengan menuruti apapun yang Sandra mau lakukan, selama tidak berbahay untuknya dan Baby.
Tidak lama hasil foto terpampang di group keluarga
__ADS_1