Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Cemburu Berlebihan


__ADS_3

Meeting panjang akhirnya selesai, tinggal Malik seorang diri di ruang meeting yang masih menjaga Ayu dengan setia. Tidak membangunkannya karena Malik paling suka melihat wajah damai sang Istri saat terlelap.


Bagaimana bisa kau terus berada dalam bayang-bayang masa lalu yang mengerikan sayang. Aku tidak akan sanggup jika dia kembali melukaimu. Aku tidak akan bisa percaya diri kalau gagal lagi menjaga mu seperti dulu sayang. Monolog nya yang mengingat masa lalu dengan getir.


Sungguh jika ada alat yang bisa menghapus ingatan masa lalu, Malik akan membelinya berapapun harganya. Ingin mengisi kepala Ayu hanya dengan kenangan indah penuh kebahagiaan bersama dirinya dan keluarganya.


"Hmmm...." Merasa terganggu dengan sentuhan tangan Malik. "Kak...." Duduk dengan tegak mengumpulkan kesadarannya. "Sudah selesai yah, aku ketiduran yah." Tertawa kecil. Bukan satu dua kali dirinya tidur di ruang meeting. Bosan memang.


"Sudah bisa kita pulang?" Ayu berdiri menggandeng tangan Malik keluar dari ruangan. Meski matanya masih mengantuk, dirinya sangat bersemangat karena rindu kedua Putranya. Pasti mereka sudah menunggu di rumah dengan wajah cemas.


Para karyawan yang berpapasan menyapa degan sopan pada Ayu dan Malik.


"Bu....." Seorang karyawan berlari ke arah Malik dan Ayu. Malik langsung memposisikan diri berdiri di hadapan Ayu melindungi nya.


"Ada apa Farah." Malik yang menjawab. Matanya menatap penuh curiga.


"Ah...ini Pak, ada titipan makanan dari Ibu saya yang datang dari kampung." Menyodorkan plastik merah berisi aneka makanan khas Jawa Timur.


"Wah..kelihatannya enak-enak makananya." Ayu berusaha maju namun tubuh nya di tahan dengan kuat oleh tangan Malik. Melongok penasaran.


"Istri saya tidak makan sembarangan." Menolak dengan cukup kasar.


Farah sampai tersentak kaget, tidak biasanya Malik sejutek itu. Meski terkenal dingin, Malik tidak pernah bicara kasar jika tidak ada yang menyulutnya.


"Kak....apa salahnya aku makan itu, aku suka kok." Merebut plastik dari tangan Farah. "Ucapkan terimakasih ku ya Far, padahal tidak usah repot-repot loh." Farah mati kutu, niat baik nya dilihat hina oleh Malik.


Eh.....jadi gimana ini, di terima atau di tolak. Farah bingung sendiri. Matanya menatap Malik meminta ijin.


"Ya sudah, lepaskan kalau istriku mau menerimanya." Sarah lega.


"Ucapkan terimakasih pada Ibu ya Far." Malik sudah membawanya, tidak memberinya waktu.


"Jalan yang benar sayang." Ayu merasa bersalah dengan sikap Malik.


“Jangan begitu Kak, seharusnya terima saja. Kalau memang tidak mau makan ya sudah. Tapi jangan menolak mentah-mentah seperti tadi loh Kak, kasihan farah nya.” Berbisik. Malik hanya mengangguk paham. Ayu juga bicara sangat lembut.


"Farah...." Farah yang masih mematung ditempat mendongak mencari sumber suara. "Jangan di ambil hati yah, Pak Malik hari ini suasana hatinya sedang kacau. Kau lihat kan dia membawa Bu Ayu ke ruang meeting tadi. Aku harap sebagai orang yang bekerja lama dengannya kau paham." Farah mengangguk.


"Iya Bu, saya mengerti Bu." Farah menjawab dengan sopan.


"Ya sudah, kamu balik ke ruangan yah. Kita mulai meeting kita." Sandra berjalan lebih dulu dari Farah. Mereka lembur karena project besar yang perusahaan dapatkan.

__ADS_1


***


Dua jagoan nya yang penuh rasa penasaran sudah menunggu kepulangan kesayangannya. Banyak pertanyaan yang membuat mereka bolos basket, ingin memastikan Mommy nya baik-baik saja dengan mata kepala mereka sendiri.


"Abang....Kaka." memeluk keduanya bergantian. "Tumben sekali sudah di rumah, tidak basket hari ini?" Ayu duduk di antara keduanya.


"Tidak...." Mahesa menyentuh kening Ayu. "Mommy ok kan?" Malik menggeleng tidak percaya dengan kelakuan anak-anaknya. Mereka benar-benar batu, mirip dirinya. Berlebihan sekali decihnya kesal.


Ayu malah mengikuti Mahes memegang keningnya. "Memangnya Mommy kenapa?" Tanyanya penuh rasa penasaran.


"Lega.... ku kira Mommy sakit. Kalau sakit Bilang Aku atau Abang, jangan sakit sendiri an ya Mom." Ayu kegirangan. Anak-anaknya sedang khawatir.


"Abang langsung batalkan jadwal basket. Abang kira Mommy tidak enak badan." Yang di khawatirin semakin kegirangan. Bergelayut di pundak Ayu dua jagoannya.


"Kalian kira Daddy tidak bisa jaga Mommy! Yang benar saja kalian ini." Malik cemburu dengan pernyataan kedua putra nya. Tidak rela anak-anaknya memeluk Ayu lama-lama.


"Daddy kan kalau sudah kerja lupa waktu. Kaka sering sad lihat Mommy tunggu Daddy lama." Mahesa banyak bicara sore ini. Biasanya dia si paling irit bicara. Malah cenderung hanya diam saja tidak banyak komentar.


"Kalau Daddy tidak kerja bagaimana hidup kalian. Enak saja bicara." Melempar dasinya.


"Tapi Daddy kan bisa atur jadwal, bukannya Daddy punya banyak asisten?" Malik memutar bola matanya semakin kesal. Menatap Ranu yang bicara padanya.


"Kalian kok ribut, jangan ribut. Mommy suka kalian kumpul. Mommy siapkan makan malam yah." Ayu beranjak ke dapur.


Dirinya tidak perduli dengan keributan yang terjadi, mereka bertiga selalu saja rebut jika bertemu. Apalagi kalau soal dirinya, selalu saja mereka rebutan seperti anak kecil.


"Tidak perlu Mom. Eyang datang bawa banyak makanan." Ranu menjelaskan.


"Ingin bertemu Mommy tapi tidak ada di rumah. Jadi Eyang pulang dengan kecewa." Mahes membumbui drama yang terjadi.


"Yang benar Nak, Mommy kan ikut temani Daddy meeting tadi." Matanya nampak sedih, Ayu paling tidak suka mengecewakan orang.


"Jangan dengarkan, anak-anak mu suka sekali menggoda." Malik menangkap senyum nakal di wajah Mahes.


"Benar Kak.....sedang goda Mommy nih!" Ayu menghambur menggelitik Mahes yang menggodanya.


Terjadilah adegan saling menggelitiki yang di ikuti Ranu yang tidak mau kalah menggoda Mommy nya.


"Kak.....!!!!!" Ayu teriak cukup keras karena Malik tiba-tiba menggendongnya tanpa aba-aba. "Aku hampir jantungan." Mengelus dada nya yang berdetak kencang. "Aku mengira gempa." Senyumnya yang menggemaskan.


"Aku cemburu, tidak boleh bercanda dengan laki-laki lain."

__ADS_1


"Dia loh anak-anak mu Kak, masa cemburu juga." Mahes dan Ranu sudah biasa.


"Ayo cepat kita makan, aku lapar." Ayu tidak mau mendebat suaminya yang sedang cemburu. Ayu mengedipkan mata agar kedau Putranya ikut makan.


Anak-anak nya yang terlihat malas makan semeja dengan Daddy nya yang moodnya sedang tidak baik. Tapi tidak mungkin mengabaikan Mommy kesayangannya.


Berjalan dengan langkah berat namun tidak mau mengecewakan Mommy nya. Memaksakan senyum meski sedang kesal Daddy nya mulai banyak aturan yang akan mempersulit mereka bertemu dengan Mommy saat jam istirahat sekolah. Satu-satunya waktu yang mereka punya bisa leluasa bermanja dengan Mommy.


Selesai makan Malam Malik membawa Mahesa dan Ranu yang meminta penjelasan ke ruangan kerja nya. Lebih baik Malik mencoba membujuk anak-anak nya dari pada dirinya kesulitan melarang Ayu datang karena anak-anak merengek.


"Kenapa Dad? Apa masalahnya serius? Please tell me." Pinta Ranu yang menolak makan katering. Lidahnya tidak selera makan selain masakan Mommy nya.


"Iya, Kaka juga tidak selera makan kalau bukan buatan Mommy." Timpalnya.


"Kalian ini sudah besar masih saja merepotkan Mommy nya." Lidahnya kelu dan masih menimang bahasa yang tepat.


Menatap keduanya dengan tatapan tajam.


"Please say dad.....don't make me curious." Kesal Ranu yang tidak juga mendapat jawaban dari rasa penasarannya, Daddy nya sibuk menatap keduanya tanpa penjelasan.


"Daddy ingin program anak kedua."


WHAT......


Teriak keduanya bersamaan.


"No kidding Dad." Mahes meremas tangannya sendiri kesal. "Kita sudah sebesar ini lalu tiba-tiba punya adik Baby. Not funny for me Dad." Mahes terdengar kesal.


"Jangan bilang apapun pada Mommy, Daddy belum bicara juga dengan Mommy. Tunggu persetujuan kalian. Malik malah bicara ngawur, otak dan mulutnya tidak bekerja sama dengan benar. Dia malah mengucapkan hal konyol.


"Aku No." Jawab Ranu dengan mantap.


"Aku juga No Dad, sorry. Kali ini aku tidak mau Mommy punya Baby lagi. Kaka takut Mommy lupa aku."


"Mana mungkin, Mommy loh paling sayang Kak Mahes dan Abang Ranu." Ingin memukul kepalanya sendiri. Tapi mulutnya sudah terlanjur bicara.


“Tidak ada, Abang tidak akan ijinkan. Abang malam ini tidur dengan Daddy dan Mommy.” Berjalan keluar dari ruang kerja Malik.


“Si*l Ranu!!!!!” Teriaknya yang tidak di dengarkan.


Mahes malah menertawakan kekonyolan Malik yang masih mematung di tempatnya. Bisa-bisanya membahas anak kedua setelah Mommy nya lupa, sudah terlambat. Kedua anaknya tidak akan memberi ijin.

__ADS_1


__ADS_2