Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Cerita Hanum


__ADS_3

"Mom....." Hanum ikut sedih melihat wajah Mommy nya yang pucat dan berurai air mata. "Ada apa Mom!" Hanum meraih tangan Mommy nya yang sedari tadi hanya menangis.


"Ingat sayang, Mommy lakukan ini semua agar kamu tidak sendirian. Mommy sudah tidak bisa lagi jaga kamu sayang." Hanum menggeleng, menolak setiap kata yang baru saja dirinya dengar.


"Hanum akan di sisi Mommy sampai akhir, selamanya." Ucapnya penekanan.


Bisa kemana dirinya, selama ini dirinya hanya punya Mommy seorang. Tidak ada orang lain dalam hidup Hanum.


"Tidak bisa sayang, Mommy yang tidak mau anak Mommy sendiri. Hanum dengar kan yang dokter bilang, tidak lama lagi Nak." Hanum sesenggukan.


Hanya Mommy yang dirinya kenal.


"Hanum ti....tidak mau pergi. Tidak mau tinggal dengan orang yang Hanum tidak kenal." Nikita memeluk erat Putri semata wayangnya.


"Maaf Nak, Mommy maaf tidak bisa temani Hanum sampai akhir, sampai Hanum sukses seperti janji Mommy. Mommy menyesal." Hanya suara tangisan yang menggema memenuhi ruang perawatan dimana Nikita di rawat. Sudah tidak kuasa Hanum berkata-kata.


Bagaiman mungkin Mommy menyerahkan dirinya pada orang yang bahkan tidak pernah sekalipun mencari dirinya.


Jika benar yang dokter bilang, Nikita hanya punya waktu beberapa bulan lagi di dunia. Dia tidak mau Putri nya hidup sebatang kara. Dirinya terpaksa menghubungi ayah biologis Hanum yang dirinya sangat benci.


"Mommy sorry sayang. Maaf Mommy tidak punya pilihan lain."


"Tolong Mom, ijinkan Hanum hidup dengan Mommy sampai akhir, Hanum akan urus diri Hanum sendiri Mom. Hanum bisa." Rengeknya yang membuat Nikita semakin yakin tidak bisa membiarkan Putri nya hidup seorang diri.


"Nak....dengar. Mommy yakin Papah mu tidak akan jadi brengsek seperti dulu saat meninggalkan Mommy. Kamu darah daginya, dia pasti akan sangat sayang kamu Nak." Hanum masih menolak.


Entah kenapa perasaanya dipenuhi ketakutan, jauh di lubuk hatinya Hanum menolak pergi meninggalkan tempatnya saat ini. Seolah dirinya tahu akan ada kemalangan di luar sana.


"Tolong sayang, Mommy ingin lihat Putri Mommy baik-baik saja setelah Mommy tidak ada."


"Mommy pasti sembuh, kenapa bicara seolah Mommy tahu, jangan jadi Tuhan Mom. Asal Mommy yakin, pasti akan sembuh Mom."


"Iya Nak, setelah Mommy sembuh, Mommy jemput pulang. Mommy janji." Nikita menyodorkan jari kelingkingnya. Meminta Putri nya menautkan jarinya sebagai bentuk perjanjian.


"Jangan pergi Mom, jemput aku kembali janji ya Mom." Nikita dengan berlinang air mata mendekap tubuh Putri cantiknya.


Menangis meraung penuh kepedihan, dirinya sebatang kara. Putri nya lahir bahkan tidak memiliki siapa pun selain dirinya. Nikita menyesali semua perbuatannya. Hukuman nya seberat ini yang harus Putri nya tanggung.

__ADS_1


Malam menjelang, suara langkah kaki memasuki ruangan membuat Hanum mengerjab membuka matanya perlahan agar segera sadar dari tidurnya.


Menatap laki-laki paruh baya yang berdiri di depan brangkar tempat Mommy nya tidur.


"Kenapa baru sekarang bilang aku punya Putri. Kau menyerah membesarkannya sendirian?" Ucapnya yang masih bisa Hanum dengar.


"Sanggup, tapi seperti yang aku ceritakan. Aku tidak mau dia sendirian, aku tidak mau Putri ku hidup seorang diri."


Baskoro menyeringai. "Apa yang aku dapat dari permintaan mu ini? Tidak ada yang gratis."


"Bas....dia Putri mu. Aku meminta mu menjaga Putri mu, darah daging mu Bas." Geram nya mendengar ucapan Baskoro yang tidak berperikemanusiaan.


"Kau pikir membesarkann nya tidak butuh uang. Jangan gila Nik!"


"Aku cuma minta kau menjaga nya Bas. Sekolah dan semuanya sudah aku urus, aku masih punya sisa tabungan untuk sekolahnya." Nikita kesal setengah mati. Sungguh dirinya melakukan semua ini terpaksa.


" Serahkan saja semua biaya sekolah dan biaya hidupnya padaku. Aku yang urus."


"Baskoro!" Nikita meredam emosinya. Takut membangunkan Hanum yang tertidur di sofa.


Hanum terpaksa pura-pura memejamkan mata. Ingin tahu sosok seperti apa laki-laki yang akan menjaga nya.


"Bas ....ok....aku punya sedikit simpanan. Akan aku serahkan padamu untuk biaya hidup Hanum selama tinggal bersama mu. Aku mohon, beri dia perlindungan Bas." Pinta Nikita dengan tulus.


"Ok....deal...aku tunggu di bawah. Kopernya biar anak buah ku yang bawa." Melangkah pergi.


"Ya Tuhan, melihat wajah Putri nya aja tidak." Gumam Nikita lirih. Bagaimana nasib Putrinya ya Tuhan.


Apa keputusan ku benar, bagaimana jika Baskoro menelantarkan Hanum. Bagaimana jika Hanum berada di tangan yang salah. Tapi siapa lagi, hanya Baskoro yang punya hubungan darah dengan Hanum.


"Sayang....Han....bangun Nak. Papah mu sudah menunggu." Nikita membelai surai panjang hitam pekat milik Putri cantik nya.


"Mommy yakin tanpa Hanum Mom? Hanum berat sekali." Memeluk Mommy nya, entah kenapa dirinya begitu enggan meninggalkan Mommy nya.


"Demi kebaikan kita ya Nak, Mommy akan jemput Hanum begitu Mommy sembuh. Ingat kan janji kita sayang." Hanum menyerah, langkah berat nya hanya akan menimbulkan ketidak nyamana untuk wanita kesayangannya.


Semestanya yang sangat dirinya cintai, harta berharga satu-satunya yang dirinya miliki.

__ADS_1


Tok.... tok....tok...


"Maaf, saya mau jemput Hanum." Seorang pria kurus masuk ke ruangan Nikita.


Akhirnya Hanum dengan berat hati pergi, meninggalkan sesak karena dirinya tahu. Ayahnya bukan laki-laki yang menerimanya dengan tangan terbuka.


Mommy nya bahkan harus menyerahkan sejumlah uang untuk biaya hidupnya.


Baskoro duduk di kursi depan di sebelah supir yang tadi membawanya turun. Tidak ada sapaan atau sambutan, Hanum juga memutuskan diam saja.


Canggung, sosok seperti apa sebenernya Ayah nya ini. Hanum memejamkan mata, menolak semua pikiran buruk yang menerpa hatinya. Mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tidak menimbulkan masalah.


Rumah susun usang yang dirinya lihat saat turun dari mobil, beberapa gerombolan orang berkumpul di berbagai sisi pekarangan rumah susun, ada yang hanya tidur-tidur an sambil main ponsel, ada yang main kartu dan ada yang menatap nya dengan senyum menjijikan.


"Malam Bos, dapat mangsa Bos." Tanya pria dekil yang Hanum lihat.


"Jangan ada yang berani menyentuhnya, jaga dia. Dia Aset berharga." Ucapnya Baskoro menyeringai.


"Siap Bos." Jawab mereka serempak.


Ada rona bahagia di wajah Hanum, meski terlihat ganas, ternyata dirinya dilindungi. Hanum segera berjalan sedikit mendekat ada Baskoro. Baskoro yang mendapati Hanum berjalan di dekatnya risih, menatap tajam sambil menurunkan kacamata nya yang berhasil membuat Hanum mundur beberapa langkah.


"Bagus, jangan dekat-dekat, nanti kau bau busuk. Antar dia ke kamar nya." Suruh Baskoro pada anak buahnya yang menenteng koper besar Hanum.


Hanum mengikuti laki-laki yang akan membawa nya ke kamar tempat nya istirahat. Lantai 2 mereka berhenti. Hanum segera lari membantu menjaga pintu lift agar tidak tertutup.


"Makasih Hanum, kamar mu sebelah sana." Ucap laki-laki yang cukup baik dan ramah menurut Hanum.


"Silahkan istirahat, kalau butuh sesuatu telpon nomor ini saja." Ada beberapa nomor yang tertempel di dinding.


Hanum mengangguk, senyumnya ramah merasa ada yang bisa Hanum harapkan di kesepian nya.


Hanum lega, tampilan kamar nya tidak semengerikan halaman depan rumah susun yang dia lihat tadi. Sepetinya memang sudah di bersihkan karena dirinya akan datang. Semoga segala hal mengerikan yang dirinya takutkan tidak terjadi. Pinta Hanum dalam do’a nya.


Tok...tok...tok...


Hanum mengerjap, matanya yang tadi sempat terpejam membulat sempurna. Jantungnya berdebar-debar ketakutan.

__ADS_1


Suara ketukan pintu semakin keras. Memekik gendang telinga Hanum, kaki nya masih mematung enggan menanggapi dan memilih berlindung di bawah selimut tebal yang dirinya bawa.


Hanum memeluk erat lutut kakinya yang menopang kepalanya, berharap suara ketukan yang mengerikan segera hilang. Hanum sangat ketakutan, sekujur tubuhnya gemetaran.


__ADS_2