
Malik mengatur nafasnya, emosinya mudah sekali naik akhir-akhir ini. Kenyataan orang yang saat ini sangat Malik benci telah bebas membuat dirinya tidak tenang.
"Kau tidak tanya siapa?" Tanya Malik pada pegawai wanita yang diminta Aldo naik menyampaikan pada Malik perihal tamunya.
"Tidak tahu Pak, saya hanya diminta Pak Aldo menyampaikan pada Bapak." Menunduk dengan rasa hormat, terlihat sekali wajah Malik yang penuh kecemasan.
"Perempuan atau laki-laki tamunya Cloe?" Malik mengernyit, Ayu hafal semua nama-nama karyawannya.
"Perempuan Bu, masih muda. Sepertinya usianya tidak jauh dari saya Bu." Malik lega, ternyata bukan orang yang di takuti nya.
"Ya sudah nanti Pak Malik turun menemui. Terimakasih ya Cloe."
"Baik Bu, saya permisi ya Bu, Pak." Menunduk lalu segera pergi dari ruangan Malik.
"Siapa ya kira-kira. Aku penasaran." Ayu merasa banyak sekali wanita yang datang ingin menemui Malik. Cemburu sedikit, meski dirinya tahu Malik nya tidak mungkin berpaling darinya.
"Tak tau Sayang, aku coba turun temui dulu." Mengecup bibir Ayu sekilah.
Blusshhhh....
Pipinya merona, Malik suka sekali membuatnya terkejut tidak jelas dengan sikapnya.
"Sana ihhhh....aku malu." Menutup wajahnya yang seperti kepiting rebus dengan telapak tangannya. Meraih bantal.
"Wajahmu lucu sayang." Ledeknya yang masih belum beranjak.
"Jangan menggodaku." Teriaknya yang masih menyembunyikan wajahnya di balik bantal sekarang.
"Jangan kemana-mana sayang, aku segera kembali. " Malik meminta Mawar dan Biru masuk ke ruangannya. Menjaga Ayu selama dirinya tidak di sisinya.
Langkah nya berat sekali, jantungnya berdegub tidak beraturan. Nafasnya kasar seolah udara tidak sampai ke jantungnya.
Malik segera menuju lift, menuju lobby dimana tamunya berada seperti yang sudah di sampaikan padanya tadi. Malik menelisik mencoba meneliti sekitar, suasana lobby cukup tenang, dirinya pikir ada keributan besar seperti biasa saat ada pengunjung yang tidak bisa di beri tahu dengan lembut dan memaksa bertemu dirinya.
"Siapa Al." Malik melihat Aldo yang berdiri di depan meja resepsionis, wajahnya tentu saja nampak kesal. "Kau tidak bisa menghadapi kurcaci seperti ini!" Ucapnya remeh membuat Aldo ingin melayangkan unek-unek nya di khalayak ramai.
"Bos coba dulu bicara, baru nilai sendiri bagaimana keras kepalanya dia." Malik mendekati wanita yang berdiri menatapi jendela kaca yang berdiri kokoh di depannya. Membelakangi Malik.
"Hallo....siapa yah? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Malik sopan.
Menoleh menghadap sumber suara yang menyapanya. Suara nya sangat wanita itu kenal, dia tidak akan pernah lupa dengan Malik.
__ADS_1
Wajahnya seperti tidak asing, tapi Malik sungguh tidak mengenalinya. Yang di tatap tersenyum ramah, sangat berbeda dengan saat bicara pada Aldo tadi.
Aldo sendiri haran kenapa sikapnya sangat berbeda saat melawan dirinya tadi.
"Masih mengenalku?" Menjulurkan tangannya menjabat tangan Malik.
"Wajah mu tidak asing, tapi siapa?" Malik mencoba mencari tahu lewat ingatannya.
"Aku dulu sahabat Baik Mbak Ayu." Malik membelalak tidak percaya. Senyum terukir di sudut bibirnya. Hanya gadis kecil di masa lalu Ayu yang memanggil istrinya Mbak.
"Helga kah?" Helga mengangguk.
Helga adalah gadis kecil pedagang asongan yang dulu pernah tertangkap satpol PP saat razia. Apesnya saat itu Helga sedang bersama Ayu yang membantu nya berjualan.
Helga tertangkap karena sulit berlari bersama Ayu, biasanya dirinya akan selincah belut menghindari kejaran razia. Namun karena Ayu tidak pernah melarikan diri membuat Helga kewalahan dan akhirnya tertangkap.
Setelah kejadian itu Malik mengurus Helga lewat yayasan yang dia miliki. Dari mulai tempat tinggal, sekolah dan kebutuhan hidup lainnya karena Helga sebatang kara. Sudah lama sekali Malik tidak melihatnya, dia tumbuh jadi wanita yang cantik dan mempesona.
"Kau sudah sangat besar." Malik meraih tangan Helga membawanya bersama berjalan menuju lift.
Aldo hanya menatap kedua nya heran. Siapa sebenarnya Helga, kenapa terlihat sangat istimewa di mata Malik sampai dia menggandeng tangannya seperti anaknya. Aldo mencoba mencari daftar nama yang siapa tau saja muncul dalam ingatannya. Nihil.
"Mawar, tau tidak kalau sekarang aktor drama Korea kesukaanku akan main film baru." Mawar menggeleng.
"Namanya Lee Min Ho." Meminta Mawar duduk di sisi nya. "Lihat fotonya, tampan kan?" Mawar mengangguk setuju, memang tampan.
"Lumayan Non." Membuat Ayu mengerucutkan bibir nya.
"Kok lumayan sih, ini loh lihat baik-baik. Dia paling tampan tahu. Ih….. beda selera." Mawar hanya tersenyum, meladeni Ayu membuatnya menjadi bodoh jika sudah berurusan dengan per Korea an.
"Biru, kau suka tidak akt……?"
Hmmmmm......hmmmmm
Ayu segera menjauhkan dirinya dari biru, baru saja ingin meminta pendapat Biru, sang penjaga sudah kembali. Tentu saja dirinya harus berada jauh dari Biru.
"Jangan dekat-dekat, kan aku bilang jaraknya 10 meter." Ayu kembali duduk ke sofa. Menatap sinis Malik yang baru saja masuk.
Malik tidak pernah mengetuk pintu saat masuk, tapi jika orang lain yang melakukanya! Jangan harap bisa bebas dari omelan.
"Maaf Bos." Malik mengedipkan matanya meminta Mawar dan Biru kembali ke tempat nya. Biru hanya bisa minta maaf padahal dirinya tidak bersalah. Bos nya saja yang kelewatan cemburuannya.
__ADS_1
"Tebak sayang, siapa yang datang bersama ku." Ayu mencoba berpikir keras.
Malik nampak sangat bahagia di mata Ayu.
"Tak tahu, siapa memangnya?" Sedikit cemas, suaminya bertingkah aneh. Apa jangan-jangan……ahhhh…tidak mungkin.
Wanita cantik masuk dengan wajah penuh bahagia. Ayu kembali berperang dengan pikirannya….. apakah ini wanita simpanan Kak Malik yang akan dia kenalkan. Pantas saja sikapnya aneh. Ahhhh….kenapa dia sangat cantik, senyumnya manis. Kak Malik pasti suka sekali dengan dia…..Menangis dalam hati.
"Si...siapa Kak?" Malik menangkap wajah sedih di matanya.
Kebanyakan nonto drakor jadi sedikit oleng otak Ayu.
"Kau berpikir apa sayang, siapa dia yang kau pikirkan?" Ayu menggeleng, matanya berkaca-kaca. Jelas sekali, pasti Malik tidak salah menebak isi pikiran Ayu.
"Siapa?" Memeluk Malik karena tidak tahan dengan pikirannya sendiri.
"Dasar anak kecil.” Malik menikmati kesedihan Ayu, itu berarti Ayu takut kehilangan dirinya. Membalas pelukkan Ayu dengan erat. “Dia Helga. Kau ingat?" Ayu mendongak. Malik mengangguk.
"Helga...." Ayu segera menghambur meraih tangan Helga, memeluk Helga bangga. Dia sampai tidak mengenali Helga yang sangat cantik dan anggun.
"Aku kira kau selingkuhan suamiku." Masih menangis padahal sudah tau siapa yang datang.
Helga sampai terkejut dengan apa yang baru saja dirinya dengar, bisa-bisanya Ayu berpikiran seburuk itu pada tamu Kak Malik yang tidak dia kenal.
Lucu sekali mereka ini, Helga gemas sekali melihat mereka saling mencintai tidak berubah. Seperti dulu, masih sama dan bahkan semakin dalam cinta mereka.
“Mana mungkin Kak Malik tega. Dia kan sangat mencintai Mbak.” Helga ingin tertawa tapi tidak tega. "Mba Ayu sehat?" Ayu mengangguk, membelai surai Helga yang terurai panjang. Wajahnya sedikit berubah, semakin cantik. Dia pandai berdandan.
"Kau secantik ini, kenapa tidak pernah mengirim kabar?" Tanya Ayu masih memeluk Helga, enggan melepaskan. Masih rindu.
"Kan aku sudah katakan, aku akan kembali saat sudah bisa membuat kalian bangga." Kini dirinya sudah bisa unjuk gigi. Tidak akan malu saat Ayu atau Malik mengenalkan dirinya pada keluarga mereka.
"Gadis nakal, tidak perlu seperti itu sayang. Aku dan Kak Malik sudah punya lebih dari cukup." Menggenggam erat tangan Helga yang putih bersih.
Helga menceritakan perjalanan panjang hidupnya setelah menerima segala fasilitas dari Malik. Dirinya mencoba menyusun rencana agar gelarnya sebagai Dokter ahli penyakit dalam segara di raihnya dalam waktu dekat.
Dan dia berhasil, prestasi gemilangnya di akui dunia. Dia ingin hidup bermanfaat dan bermartabat seperti yang Malik ajarkan meskipun tidak secara langsung.
Dia kini bekerja sebagai Dokter ahli penyakit dalam di salah satu rumah sakit ternama di Singapura. Prestasi gemilangnya membuat dirinya sangat sibuk, banyak pasien yang ingin di tangani dirinya karena merasa cocok dan pengobatan yang diberikan manjur.
Meski dirinya beberapa kali mengalami masa kritis dalam perjalanan karirnya. Betapa bangga Malik dan Ayu mendengar nya. Helga dengan bangga menceritakan kehidupannya saat ini.
__ADS_1
"Kau punya pacar?" Helga enggan menjawab, dia yang gugup meneguk air yang ada di atas meja tanpa menoleh Ayu yang menanyainya pertanyaan tidak masuk akal.