Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Gara-Gara Sup Ayam


__ADS_3

Adam sedang berdebat sengit dengan salah seorang wali pasien yang merasa diagnosa yang Adam berikan tidak sesuai dengan penyakit yang Putri nya derita. Tidak sesuai dengan apa yang Putri nya keluhkan dan tidak sesuai dengan apa yang selama ini Putri nya sudah konsultasikan.


“Bapak kenapa merasa begitu angkuh! Bapak yang dokter atau saya Pak?” Adam bertolak pinggang kesal.


“Dokter kenapa sikapnya arogan sekali! Saya sudah lama menjadi pasien dokter dan baru kali ini saya kecewa dengan dokter.” Dia tidak kalah kesal dengan ucapan Adam.


“Kalau merasa tidak puas, silahkan pindahkan pasien ke rumah sakit yang bapak rasa bisa menangani sakit Putri bapak dengan baik! Bukan dengan saya yang bapak anggap tidak kompeten ini.” Sarah tergopoh menghampiri suaminya yang emosinya sedang tidak stabil untuk menghadapi keluarga pasien.


“Kau!”


“Siang Pak....Maaf Bapak, saya dengan Dokter Sarah. Mari saya jelaskan kondisi pasien pada Bapak.” Sarah menarik wali pasien ke kamar rawat inap Putrinya.


“Kenapa suami mu itu Sar?” Sarah menunduk malu pada wali pasien yang memang sudah cukup dekat dengan Adam sebenarnya. Putri nya menderita diabetes di usianya yang masih belia dan mengakibatkan sebagian hari nya di habiskan di rumah sakit.


“Dia sudah dua hari ini seperti itu. Saya harap Bapak bisa maklumi ya Pak, saya minta maaf atas ketidak nyamanan sikap suami saya Pak.” Sarah merasa suaminya hilang kendali, seperti bukan Adam yang dirinya kenal.


“Iya....cepat temui suami mu dan minta dia perbaiki diagnosa Putri ku. Dia tidak boleh melepas tanggung jawab nya terhadap Putri ku yang sudah lama menjadi pasiennya.” Sarah tersenyum, pasien nya sungguh bersikap sangat baik dan setia. “Suami mu juga manusia biasa dokter Sarah, mungkin dia sedang terluka.” Sarah mengangguk paham dengan apa yang di maksud.


Sarah mampir ke kantin membeli makanan manis sebelum menemui Adam, suaminya suka makanan manis saat suasana hatinya sedang tidak baik.


Sarah masuk ruangan suaminya, terlihat Adam sedang menyandarkan kepalanya di atas meja kerjanya.



Sarah menelusupkan tangannya menggenggam tangan suaminya. Adam menoleh padanya, senyumnya masih sama tapi matanya tidak bisa membohonginya.


“Apa yang kau bawa?” Sarah menyodorkan makanan manis yang biasanya dirinya makan saat ingin meningkatkan mood boosternya.



“Butuh kopi sayanag?” Adam mengangguk. “Sebentar aku buatkan, makan dulu cake nya nanti dia meleleh sayang.” Adam menurut. Menyendok sedikit demi sedikit kue manis kesukaannya.


Adam mencoba menetralkan perasaannya yang ambur radul berantakan di kepalanya. Tidak mau membuat pekerjaannya berantakan seperti isi kepalanya yang saat ini sulit sekali dirinya kontrol agar tidak kusut dan kembali ke tempatnya seperti semula.


Sarah menatap wajah suaminya yang menatap dirinya dengan tatapan kosong. Jiwa nya sedang ada di tempat lain. “Hey.....butuh pelukkan ku sayang?” Adam menarik Sarah ke dalam dekapannya. “Apa semenyakitkan itu masalahnya?” Adam mengangguk. Sesak nya membuat Adam tidak bisa berpikir dengan jernih. “Istirahat dulu bisa kan sayang? Aku buatkan surat cuti.” Adam mengangguk.


Dirinya memilih untuk istirahat sebentar, pekerjaan apapun yang tangannya lakukan tidak sesuai dengan seharusnya. Adam tidak mau membahayakan pasien-pasiennya dan memilih menepi sebentar.

__ADS_1


“Aku sudah minta Adek Riyan jemput ke sini. Kebetulan mereka sedang menuju rumah Ayu sayang.” Adam mengangguk. Kepalanya pening.



Riyan memotret tanpa sepengetahuan Melan yang berjalan di depannya. Melan menatap ke belakang dan Riyan menyimpan ponselnya segera ke dalam saku. Mereka berjalan bergandengan tangan, manis sekali setelah sama-sama mencoba membuka hati untuk saling menerima dan menjalani kisah cinta mereka bersama.


“Kenapa senyum-senyum gitu sih!” Riyan tidak menjawab malah menarik Melan berjalan setengah berlari dengan dirinya.


Adam sudah menunggu mereka di lobby rumah sakit dengan wajah lesu nya. Riyan dan Melan menggandeng Adam di kedua sisi. Seperti laki-laki jompo yang berjala bersama anaknya.


“Aku seperti lelaki jompo Dek.” Riyan menyunggingkan senyumnya.


“Sudah memang, lihat wajah dokter mirip dengan kakek-kakek berumur 70 tahun yang sedang patah hati.” Ledek nya membuat Adam menatap wajahnya di kaca spion mobil. “Aku hanya bercanda Dokter, tetap tampan seperti pemuda berumur 20 tahun.” Adam sedikit bisa tertawa. Melan memang paling bisa menghidupkan suasana.


“Ayo ke mobil Riyan, Riyan antar sampai ke rumah dokter dengan selamat.” Adam berjalan dengan langkah kaki nya yang sangat lemas.


“Dokter mau makan cake coklat? Biar aku belikan di kantin.” Tawar Melan yang melihat wajah Adam lesu tidak ada semangat.


“Perut ku sudah penuh cake coklat sayang, sekarang antar aku pulang saja. Aku butuh tidur sekarang.” Adam terlihat meminum obatnya saat sudah duduk di mobil.


“Apa obat yang barusan Dokter minum? Itu sesuai resep dokter?” Adam mengangguk. “Good, semua yang masuk dalam tubuh harus sesuai dengan aturan.” Ucap Melan lagi memastikan Adam minum obat sesuai anjuran dokter.


Adam langsung menuju kamarnya yang ada di lantai dua, membiarkan Melan dan Riyan mengobrak abrik dapur nya yang jarang sekali Sarah dan dirinya sentuh, keduanya cukup sibuk dan hampir setiap hari Ayu mengirimkan makanan untuk keduanya.


“Masak apa Kak Mel? Maksud ku sayang ku.” Riyan menggaruk tengkuknya, panggilannya masih terasa kikuk untuk di ucapkan. Lidahnya belum terbiasa.


“Pelan-pelan, salah tidak akan di hukum kok. Hehehehe.....” keduanya tertawa bersama. “Aku masak sup ayam, kebetulan tadi kita belanja jadi bisa buat sup ayam untuk Dokter Adam.” Riyan mengambil alih Ayam dan memotongnya menjadi kecil-kecil.


Mereka bekerja sama dengan baik. Riyan dengan telaten membersihkan serpihan bahan-bahan makanan yang terbang ke segala penjuru dapur. Tangan cantik Melan tidak bisa bekerja dengan tenang, ada saja yang lompat dari tempatnya.


“Sudah jadi Yah, coba in yah. Enak kok.” Riyan tersenyum, wajah Melan tidak yakin dengan hasil masakannya. “Enak kok, serius Yan.”


Riyan masih memandangi sup buatan Melan yang nampak lezat.



Slurrppp......

__ADS_1


Melan menelan salivanya, berdo’a dalam hati semoga rasa yang ada di lidahnya sama dengan apa yang Riyan rasakan. Semoga enak yang lidahnya rasakan sama dengan lidah Riyan. Tatapan mata Melan menunggu penuh harap.


Riyan mengacungkan dua ibu jarinya. Melan yang kegirangan tidak sadar jika saat ini dirinya sedang memeluk Riyan penuh bahagia. Riyan tentu saja membalas pelukkan Melan dengan hangat.


“Kamu sudah siap kalau jadi suami aku Yan? Aku berantakan yah?” Tanya Melan setelah berhenti melompat kegirangan namun masih memeluk Riyan. Tangan Melan menahan Riyan yang ingin menatap dirinya. “Bicara seperti ini saja, aku apa sudah pantas menyandang gelar sebagai istri Yan?” Jantung Riyan sedang terpental pental mendengar Melan mengutarakan kesanggupannya menjadi seorang istri. Riyan sedang mencerna setiap bait kata yang begitu manis di dengar oleh telinganya saat ini.


“Apa harus kita coba? Rasanya kita sudah bisa jalankan peran kita jika menjadi pasangan suami dan istri.” Melan tersipu di pelukkan Riyan, jantungnya juga berdegub dengan sangat cepat.


“Apa kau tidak akan menyesal menikahi perempuan yang urakan, berantakan dan tidak terarah seperti ku?” Riyan mengendurkan pelukkanya.


“Tidak ada yang bisa memaksa dirimu harus menjadi apa. Aku akan menerima Melani seperti apa adanya saat ini. Aku tidak akan menuntut mu menjadi seperti yang aku mau. Kita jalan beriringan ya Mel, kita bisa saling melengkapi.” Tangan Melan gemetar, baru kali ini dirinya merasa dicintai begitu besar oleh laki-laki.


“Kau tidak takut di kata-katai orang jika menikah dengan wanita yang lebih tua dari usia mu?” Lagi-lagi masih mengganjal usia mereka yang terpaut beberapa tahun.


“Kita sudah cukup membahas itu dan tidak akan mempengaruhi cintaku. Aman sayang.” Senyumnya indah sekali.


“Aku hanya takut saja suatu saat kau bisa berubah, kata-kata orang bisa membuat cinta mu goyah dan berpaling dari ku.” Melan sedang mendramatisir keadaan.


“Aku dan Melani sama-sama memutuskan untuk berjalan bersama, melewati semua lika liku jalan kehidupan yang akan menuntun kita menjadi lebih dewasa. Dan aku berjanji tidak akan berubah. Cinta ku sudah selesai di kamu Mel.” Melani tesipu malu.


“Aku cek Dokter Adam dulu sebentar.” Menghindari tatapan mata Riyan yang membuat jantungnya tidak sehat. Melan takut terkena serangan jantung.


“Hati-hati sayang, jangan lari-lari.” Melan semakin mempercepat langkahnya.


“Ya Tuhan......! Riyan.....! Toling naik, Dokter Adam Yan.” Riyan lari kencang menaiki tangga. Mendengar suara teriakan Melan membuat dirinya berpikir buruk.


“Ku Kira Dokter Adam kenapa-napa loh sayang.” Riyan lega Adam terlihat baik-baik saja. Dia sedang tertidur dengan pulas di ranjangnya.



“Bisa kenapa-napa kalau tidak di pindahkan ke tenga-tengah Yan. Tolong tarik ke tengah ya Yan. Kasihan nanti jatuh.” Riyan mendekat ke ranjang Adam, dengan perlahan menarik tubuh Adam agar berada di tengah kasur.


“Good, suami idaman.” Riyan masih mematung di tempatnya mendengar pujian yang keluar dari mulut Melan yang kini sudah melesat turun.


Obrolan mereka terjun bebas gara-gara sup Ayam yang mereka buat. Melan tiba-tiba menjadi wanita manis dan penuh cinta pada kekasihnya. Riyan jadi salah tingkah melihat Melani yang juga ternyata jatuh cinta pada dirinya yang paling tidak bisa mengungkapkan perasaan.


Entah kekuatan dari mana, Riyan bisa mengutarakan isi hatinya dengan gamblang tanpa rasa malu. Enteng sekali mulutnya terbuka dan bicara pada kekasihnya. Debaran di dada nya perlahan menurunkan ritme nya, Riyan sudah bisa menguasai emosi yang menggebu.

__ADS_1


Wanita yang sangat dirinya sayangi kini sudah benar-benar membuka hati, mereka sudah memutuskan berjalan ke tempat semestinya mereka berada saat ini.


__ADS_2