Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Tanpa Anak-anak


__ADS_3

Rey sedang berkemas memasukan berbagai macam bahan makanan ke kontainer penyimpanan makanan. Mau Di bawa liburan ke Villa, semangat sekali. Ditengah kesibukannya menjalankan bisnisnya, Rey jarang punya waktu dengan anak-anak nya.


"Makanan sudah aku masukkan Pah. Apalagi yang perlu di siapkan." Tanya Mahes yang sangat antusias dengan liburan kali ini.


"Masukkan ini ke dalam mobil Kak." Mahes menurut, Rey berjalan di belakangnya membawa kontainer dengan ukuran lebih besar. Rey mensyusunnya dengan rapih.



Ranu terlihat berjalan beriringan dengan Anna menuju mobil. Wajah keduanya sangat Bahagia.


"Sudah siap semua Kak?" Tanya Anna pada Mahesa. Yang di tanya bukannya menjawab malah memeluk Anna dan mengecup pipinya.


"Cantik sekali Love. Jangan dandan berlebihan, Kakak tidak suka kalau banyak mata genit yang curi-curi pandang." Anna melengos malas sekali kalau Anaknya sudah melontarkan rayuan maut.


"Mulai Kakak ini, baru saja selesai dengan adik mu Mamah mu ini."


"Contoh nya anak-anak Papah yang sudah sekali menempel pada istriku. Cepat masuk." Mahes dan Ranu hanya tersenyum menanggapi ke cemburuan Papah nya.


"Kita ke rumah sakit kan Pah? Jemput Hanum?" Tanya Mahes memastikan.


"Iya Nak, bucin sekali Kakak ini." Ledek Rey pada Putra nya.


"Apa tidak canggung nanti di sana? Aku bisa Kak?" Anna masih belum percaya diri bisa menerima Hanum. Takut nanti sikapnya menyakiti Hanum.


"Jangan memaksakan diri untuk menerima. Pelan-pelan saja, dan ingat! Tujuan dari jalan-jalan kita adalah bersenang-senang." Rey mencium punggung tangan Istrinya yang ada di genggamannya.


"Benar Mah, jalan saja dulu. Pelan-pelan saja, Abang yakin Mamah akan punya pandangan baik tentang Kak Hanum." Ranu yang duduk di belakang Anna memijat pundaknya lembut.


"Demi Kakak, Mamah akan berusaha melupakan kecewaku." Mahes hanya menanggapinya dengan senyum. Dirinya juga sama bingungnya, merasa tidak mampu menjaga Hanum tapi cintanya menggunung.


Tidak lama mereka sudah sampai di rumah sakit, Hanum sudah menunggu kedatangan mereka di ruangan Sarah. Hubungan keduanya sudah sangat baik, Sarah ingin menjaga Hanum seperti semua orang percaya jika Hanum kelak akan jadi bahagia untuk Putra nya.


Tok....tok....tok....


"Hay cintaku." Jantung Hanum berdebar mendengarnya.


Setelahnya sedikit salah tingkah karena ternyata Mahesa menyapa Mamihnya. Hanum tersenyum hambar. Mahesa menyadari kecanggungan Hanum dan tersenyum tanpa sepengetahuan Hanum.


"Mana yang lain?" Tanya Sarah sambil menyerahkan tas milik Hanum.


"Di mobil, tidak perlu semuanya turun Mih." Mahes mengalungkan kedua tangannya di leher Sarah. "Tidak bisakah ikut? Libur sebentar saja Mih." Pintanya memelas.


__ADS_1


"Jadwal kalian terlalu mendadak. Mamih ada operasi penting yang pasiennya bahkan sudah menunggu sejak 3 bulan yang lalu. Sorry Mamih tidak bisa absen." Jawabnya sedih, bibirnya manyun merayu Mahesa agar segera melepaskan tangannya.


"Ya Tuhan, kenapa aku punya banyak wanita baik hati yang harus aku jaga sepenuh jiwa ragaku." Ucapnya genit berharap Hanum juga merasa menjadi wanita yang Mahes bicarakan. Mahes jarang sekali bersikap seperti ini. Sarah menyadari sikapnya pasti ada hubungannya dengan Hanum.


"Hay Nak. Sudah mau berangkat?" Mahes melepaskan pelukannya.


"Barang-barang Hanum sudah semua Nak?" Hanum mengangguk. Dia masih tertutup, hanya banyak bicara dengan Malik yang menurutnya penyelamat dirinya.


"Kita jalan ya Pih, jaga cintaku Pih. Jangan sampai lecet." Adam hanya mengangguk.


Mahes kembali berbalik. Memeluk erat Mamih kesayangan. "Jangan lupa istirahat. Makan dengan lahap dan jangan terlalu banyak berpikir, jadilah nyaman Mih." Sarah memeluk Putra nya erat.


"Cepat pergi, atau aku akan berubah pikiran dan menahanmu disini!" Ancam Sarah.


"Dengan senang hati." Jawab Mahesa yang membuat Sarah tidak lagi bisa membalas.


"Sekarang cepat pergi dan jaga Hanum. Pastikan dia minum obatnya dan makan tepat waktu." Adam mendorong Putra nya agar segera keluar dari ruangan istrinya.


"Bye Love." Melayangkam ciumannya di udara. Sarah membalasnya penuh cinta.


"Gak kerasa ya Dam, anak kita sudah sebesar itu. Pantas saja Ayuna menangisinya karena tiba-tiba mereka menjadi besar." Adam mendudukkan tubuhnya yang letih di sofa.


"Kita kan menjaganya dengan penuh cinta, tentu saja anaknya tumbuh cepat dan keren sayang." Merasa bangga.


"Tidak ada Kak. Hanum cuma kebanyakan tidur, jadi kelihatan lesu." Menunduk enggan menatap Mahes yang tidak kunjung melepaskan tatapan matanya yang menakutkan.


“Kalau begitu pegang tanganku, takut Hanum lemas dan jatuh.” Hanum menatap Mahesa bingung. “Begini Han.” Mahesa menarik tangan Hanum dan menggenggamnya erat. Tersenyum begitu manis. Hanum salah tingkah.


Mahes merasa lucu saat Hanum mencoba melepaskan tangannya. Gemas sekali melihat wajahnya yang malu-malu di lirik banyak orang. Mahesa terkenal anak Dokter cantik nan baik hati dan Dokter penuh semangat perjuangan, Adam.


“Hati-hati anak ganteng.” Sapa seorang suster yang sudah bekerja dan mengenalnya cukup lama. Mahes hanya membalasnya dengan senyuman ramah.


Ranu mengalah duduk paling belakang. Memberikan ruang agar Hanum bisa lebih dekat dengan Mahesa. Kecanggungan nya masih terasa dan membuat Ranu juga merasa tidak nyaman.


"Hanum sudah siap Nak?" Rey mewakili istrinya menyapa Hanum. Akhirnya ada yang membuka pembicaraan.


"Sudah Pah, Hanum sudah di siapkan baju sama Mamih. Dibawa dari rumah lama Hanum." Mencoba menjelaskan dengan santun.


"Mamih Sarah ke rumah lama kamu Han? Sendiri?!" Tanya Anna penasaran. Bagaimana bisa mereka sudah sedekat ini dan dirinya masih belum membuka hati sepenuhnya.


"Iya Mah....Mamih bilang ingin ambil barang-barang Hanum yang berharga."


Hanum nyaman bersama keluarga barunya. Mereka semua penuh kasih sayang dan tulus. Meski ada beberapa yang masih membuatnya canggung.

__ADS_1


“Makan Han. Mamah buatkan tadi untuk sarapan kita di jalan.” Anna menyodorkan sandwich buatannya.


Hanum sangat senang menerimanya. Senyum terukir indah membuat Mahesa berdebar melihat interaksi keduanya yang sangat manis.


“Makan Han, aku di ancam agar selalu jaga makanan mu supaya tidak sampai sakit lagi.” Mahesa juga sudah kembali bersikap hangat pada Hanum, sudah tidak ada lagi kecanggungan.


Rasa tidak nyamanya dengan sikap Anna akhirnya hilang. Hanum hanya merasa belum nyaman dengan Jofan, Sandra dan Melani. Mereka baru beberapa kali bertemu dan merasa masih saling canggung.


Sungguh keadaan membaik begitu cepat, Hanum lega bisa begitu nyaman dengan hadirnya mereka semua dalam hidupnya. Obat apapun tidak akan mempan untuk memulihkan keadannya jika tidak ada dukungan yang begitu banyak dari orang-orang yang tulus menyayanginya.


***


Malik meminta Jofan menjaga Ayuna untuk beberapa jam kedepan. Malik menolak permintaan Ayu yang ingin menyusul anak-anaknya berlibur ke Villa yang cukup jauh. Malik khawatir jika harus melakukan perjalanan jauh saat ini, mengingat kondisi Ayuna yang sedang tidak stabil.


Malik semakin kalut saat tiba-tiba dirinya harus menghadiri rapat dewan direksi karena saham perusahaannya yang bergerak di bidang otomotif mengalami penurunan yang cukup drastis. Malik harus tahu akar permasalahan yang perusahannya hadapi.


Ayuna sedang duduk membelakangi Jofan yang terus menolak permintaanya sama seperti yang Malik lakukan. Entah kenapa Ayuna akhir-akhir ini sangat keras kepala dan selalu mau keinginanya di turuti. Dirinya sedang banyak maunya.



Jofan tidak banyak bicara, dia hanya senyum-senyum melihat wajah adiknya yang menggemaskan karena merajuk keinginanya tidak di penuhi. Mencoba meraih tangan adiknya yang terus di tolak mentah-mentah oleh kesayangannya.


Ayu merasa tidak waras, kenapa dirinya bisa bersikap begitu kasar pada Mas yang selalu menyayanginya dengan tulus. Berbalik, menatap Jofan dengan senyum mematikan. Jofan memejamkan matanya, tahu sekali jika saat ini adiknya akan mengeluarkan jurus mautnya untuk merayu dirinya.


“Mas....” Ayu duduk bersila di depan Jofan. Ringan sekali seolah tidak ada bayi di dalam perutnya.


“Duduknya hati-hati sayang.” Mata Jofan melotot tapi tidak ada efek. “Bangun Dek.....duduk di sini.” Menepuk sofa di sisinya. “Mas marah yah!” Ancamnya yang membuat Ayu akhirnya berdiri. Jofan menopang tubuh Ayu memudahkannya berdiri.


“Tolong Mas.....bicara dengan Kak Malik dan bawa aku menemui anak-anak. Please......” Menangkupkan kedua tangannya. “Yah Mas.....ayolah Mas.” Merengek seperti anak bayi.


“Anak-anak kan baru pergi pagi tadi, masa sudah kangen sih Dek. Mereka ingin jalan-jalan selagi libur Dek.” Kesal sekali mendengar jawabanya. Tidak ada yang membelanya kali ini, keinginanya tidak ada yang mau mengerti.


"Iya Mas, ngerti kok. Tapi aku juga mau jalan sama anak-anak ku Mas. Aku hampa sekali tanpa mereka." Memilin ujung kaos yang digunakannya.


"Sebentar lagi yang lain akan datang. Rumah akan rame Dek." Mencoba memberikan pengertian kalau dirinya benar-benar tidak di ijinkan bepergian jauh.


"Mas tidak mau bantu adiknya? Jahat sekali kalian. Aku padahal pagi tadi ijinkan mereka jalan, tapi aku tiba-tiba rindu Mas." Kasihan sekali dia sampai merengek.


"Love dengar." Jofan membelai perut rata adiknya. "Demi dia Dek, tubuh Mommy nya harus terus sehat supaya Baby tumbuh dengan baik Dek." Meski sedih, Jofan kali ini tidak bisa mengikuti maunya. "Sabar sayang. Nanti kalau sudah bisa jalan, aku ajak keliling kemanapun Adek mau." Suara Jofan yang lembut membuat Ayuna malu jika terus memaksa.


Dirinya memutuskan meraih remot TV yang ada di atas meja, menonton film kesukaannya saja. Tidak mau berdebat dan akhirnya menyakiti perasaan Mas nya yang sudah banyak berkorban. Tapi rasa kesalnya masih menumpuk.


"Mas buatkan jus ya Love." Mengecup kening Ayu sebelum beranjak ke dapur.

__ADS_1


Sesekali mata Jofan memperhatikan gerak gerik adiknya yang terlihat kebosanan. Wajahnya sedih sekali sampai Jofan ikut merasakan kesedihan di hatinya. Ayu separuh nafasnya, melihatnya sesak, dada Jofan juga ikut sesak dibuatnya.


__ADS_2