Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Keputusan Berat


__ADS_3

Seorang pelayan datang ke meja dimana Malik duduk bersama Hanum. Menyajikan pesanan makanan yang siap untuk di santap keduanya. Malik mendekatkan piring makanan milik Hanum.



“Makan Nak, jangan kosong perutnya sayang.” Hanum mengangguk, matanya sedikit sembab. Hanum banyak menangis hari ini.


“Hmmm....enak Han. Kita tidak salah pilih restoran Nak. Ayo coba.” Hanum memotong sedikit daging, dan memotong lagi. Jiwanya sedang tidak ada di sana, tatapan mata Hanum terlihat kosong.


Hanum tidak menyentuh sedikitpun makanan yang ada di atas mejanya. Sendok dan garpu yang dirinya pegang hanya di gunakan untuk mengacak-acak makanan yang tidak menarik sedikitpun untuk Hanum saat ini.


“Han....ingin makan yang lain?” Hanum menggeleng, meletakkan sendok garpunya dan menatap Malik dengan penuh kesedihan. “Butuh bicara?” Hanum mengangguk. “Ok, Daddy minta makan sedikit saja, tiga suap saja Nak. Setelah itu kita bicara yah.” Hanum menuruti permintaan Daddy nya.


Selesai makan, Malik membawa Hanum ke cafe dekat restoran yang suasana nya lebih tenang dari restoran tadi. Malik memesan es coklat kesukaan Hanum.



“Minum dulu sayang, kesukaan kamu sayang.” Malik tersenyum dengan hangat.


“Daddy....” Tercekat di tenggorokannya. Hanum sulit sekali bicara. “Thank’s Dad.” Malik tersenyum, dirinya tahu banyak yang ingin Hanum sampaikan pada dirinya.


“Hanum bisa bicara Nak, apapun. Tolong sampaikan pada Daddy kegundahan yang membuat Hanum memutuskan meninggalkan kita semua Nak.” Mata Malik berkaca-kaca. “Hanum bisa bicara sayang, jangan ragu dengan Daddy mu ini Nak.” Hanum menunduk.


“This is so difficult for me Dad.” Hanum merasakan sesak di dada nya. “Aku kesakitan, aku tidak mau kalian semua kesulitan karena ku.” Air matanya tidak lagi bisa di bendung. Malik mendekat, memeluk Putri kecilnya yang sedang begitu kesakitan.


“Slowly my little girl, jangan memaksakan jika terlalu sulit. Daddy sudah janji, kita berjalan perlahan sayang.” Hanum meraung di dekapan Malik.


Keputusannya pergi sangat menyakitkan, Hanum dipaksa merelakan kebahagiaan yang dirinya tidak akan rela menukarnya dengan apapun yang ada di dunia ini. Tapi hadirnya membuat mereka terancam, Hanum takut kehilangan mereka jika egois tetap bertahan.


Setelah tenang, Hanum membuka ponselnya. Memutuskan membagi masalahnya dengan orang tua yang pasti akan membantunya mencari jalan keluar.


Malik membaca satu persatu pesan yang menyayat hatinya. Keningnya berkerut, genggaman tangannya pada Hanum semakin erat. Malik tidak tahu selama ini Putri nya terancam, Malik mengira Baskoro sudah jera dan sudah pergi dari hidup Putri nya untuk selamanya. Tapi pengampunannya tidak di indahkan, Baskoro malah semakin menyakiti Hanum.


“Sorry Nak, Daddy tidak perhatikan dengan baik. Daddy mengampuninya karena Daddy pikir dia laki-laki yang akan bisa berubah lebih baik.” Hanum memeluk Malik erat. Lega sekali dirinya memiliki sosok orang tua yang sangat bijaksana.


“Bukan salah Daddy, aku hanya tidak beruntung punya sosok Ayah seperti dia.” Hanum kelu ingin menyebut namanya.


“Iya Nak, ada Daddy. Ada kita semua Nak.” Malik ingin Hanum tahu jika keluarganya tulus menerima Hanum.


“Hanum bersyukur kalian menerima Hanum. Tapi Dad....” Malik menatap Putri nya dengan bangga. Sudah membuka hati nya pada dirinya. “Bisakah aku tidak tinggal dengan kalian, Hanum tidak mau lagi kehilangan Mommy.”


“Daddy akan perketat penjagaan, jangan khawatir sayang.” Malik meraih ponselnya, tangan Hanum mencekal tangan Malik.


“No Dad, itu bukan jalan keluar terbaik. Selama aku ada di sana, dia akan terus mengancam keamanan kalian. Hanum mohon.” Malik memijat pelipisnya.


“Daddy coba diskusi sebentar. Hanum minum coklatnya sayang.” Hanum meraih es coklat yang sangat di gemarinya.


Group Chat


__ADS_1


Malik : With my little girl.


Ayu : Di suruh makan ya Dad anak gadisku.


Mahes : Sudah ok Hanum nya Dad?


Ranu : Ingin menyusul Dad.


Adam : Anak ku baik kan Al? Sorry yah, aku masih kurang sehat.


Anna : Cafe mana Kak? Aku ke sana yah? Share lokasi Kak.


Rey : Kirim lokasi kalian.


Jofan : Aku dan Riyan di apart temani cintaku dan anak-anak.


Riyan : Yes.


Sandra : Hay (Anggota keluarga baru)


Ponsel Malik tidak berhenti berbunyi, ramai sekali membuat Malik tersenyum.


Malik : Aku ingin minta saran kalian. Hanum sudah aku bujuk agar tetap dengan kita, dia setuju, tapi maunya tidak tinggal dengan Mommy nya. Apa yang harus aku lakukan?


Ayu : Aku menyakitinya kah? Sorry Nak.


Mahes : Jagan simpulkan yang tidak baik Mom. Dengarkan penjelasan Daddy dulu.


Rey : Kau paling berarti untuk kami sayang.


Ayu : Tapi anak ku kabur. Aku pasti melakukan kesalahan yang fatal.


Malik : Tidak seperti itu sayang, Hanum hanya ingin mandiri. Tapi aku mana bisa kasih ijin, paling tidak dia harus tinggal dengan salah satu dari kita.


Jofan : Rumah kita saja, ada Kak Anna dan Sandra yang bisa menjaga Hanum seperti Ayuna ku menjaganya.


Anna : Apa ini kesempatan yang Tuhan berikan untuk ku? Aku akan merawatnya dengan senang hati Kak.


Rey : I love you sayang.


Ranu : Papah, cium pipi Mamah ku kanan dan kiri yah. Abang love juga.


Mahes : Aku love sebesar semesta.


Malik : Jadi aku antar Hanum ke rumah sekarang yah. Anak nya tidak mau terlihat ada di apart sementara waktu, nanti aku jelaskan detailnya.


Rey : Ok, aku dan Anna pulang sekarang.


Ayu : Aku ke sana boleh tidak Dad?

__ADS_1


Malik : Jangan sayang, perutmu kram tadi siang. Istirahat saja ya sayang, nanti kalau sudah enakan kita jenguk anak nya.


Group chat masih ramai, tapi Ayu sudah tidak lagi merespon obrolan mereka. Malik meletakkan ponelnya dan menatap Hanum yang masih menikmati es coklatnya.


“Han....” Hanum mendongak, tersenyum dengan manis pada Daddy nya. “Daddy sudah ambil keputusan. Hanum tinggal dengan Papah Rey dan Mamah Anna ya sayang. Mereka akan jaga Hanum.”


“Jadi aku di perbolehkan untuk meninggalkan kalian?” Malik mengangguk. “Hanum melakukan semua ini demi nyaman kita semua Dad. Terimakasih banyak.” Malik menepuk punggung tangan Hanum dengan lembut.


“Daddy akan tetap mengawasi mu, jadi jangan nakal sayang.” Hanum terkekeh, tentu saja. Mana mungkin Daddy melepaskannya begitu saja, hanya tidak tinggal bersama bukan berarti dirinya di tinggalkan.


“Aku tahu kalian begitu mencintaiku, aku juga mencintai kalian. Aku tidak mau kalian terluka.” Hanum berkaca-kaca.


“Husshhhh....sudah cukup sayang. Jangan lagi menangis, sekarang kita pulang yah.” Malik mengulurkan tangannya.


Kini ada pekerjaan besar, Malik harus membereskan Baskoro. Ternyata jumlah uang yang Malik berikan tidak serta merta membuat Baskoro berhenti mengganggu Putri nya. Baskoro semakin gila dengan Hanum. Bukan ingin mencintainya, tapi dia gunakan Hanum untuk memeras dirinya.


Malik akan membuat Baskoro jera, berani-beraninya mengusik ketenangan keluarganya dan membuat Putri kecil nya kabur karena merasa bersalah atas kesalahan yang tidak dirinya lakukan.



Rey sedang duduk dengan santai mempehatikan istrinya yang mondar mandir dengan senyum bahagia di wajahnya. Setelah sekian lama, akhirnya senyum cantik nya kembali. Rey begitu bahagia melihatnya.


Membuka lemari paling atas dengan lebar, menampakkan deretan seprai dengan berbagai warna. Tersusun dengan rapi di dalam lemari.


“Seprai nya bagus yang ini atau yang ini ya Ay?” Tanya Anna kebingungan memilih seprai yang cocok untuk kasur Hanum. Tangannya memilah dan memilih penuh pertimbangan.


“Yang mana saja sayang, yang membuat mu nyaman.” Anna masih memilah dan akhirnya pilihannya jatuh pada seprai berwarna pink.


Dengan cekatan tangannya memasang seprai dengan apik. Cantik sekali, suasana hatinya sedang secerah seprai yang dirinya pasang. Rey sangat bersyukur, Hanum begitu menarik energi positif. Rey sampai sangat bersyukur bisa melihat lagi wajah cantik Anna saat sedang bahagia.



“Sudah selesai.” Anna menyapu tangannya sendiri merasa bangga. “Sekarang aku mau bereskan lemari handuknya.” Semangat sekali. Tubuhnya tidak terlihat lelah sama sekali, padahal kakinya tidak berhenti bergerak sejak tadi.


“Sayang sini sebentar, aku ingin peluk sayang.” Anna mendekat. Memeluk dengan hangat suaminya. “Harum sekali.” Rey menyisir rambut Anna dengan jari-jarinya. “I love you sayang, terimakasih sudah tersenyum secantik ini hari ini.” Rey mengecup sudut bibir Anna. Tersipu malu di pelukkan Rey.


“Aku akan berusaha jadi Ibu yang baik, agar Hanum betah tinggal dengan ku ya Ay. Semoga kesempatan ku merawatnya bisa lama ya Ay.” Rey mengangguk, semoga Tuhan kali ini benar-benar mengirim Hanum untuk kebahagiaan istrinya.


“Kau wanita yang sangat baik sayang. Jangan mencoba menjadi orang lain, jadi diri sendiri, supaya Hanum mencitaimu apa adanya.” Anna mengangguk setuju, tidak harus jadi orang lain untuk di cintai.


“Iya Ay, aku akan tulus. Hanum pasti bisa meraskannya jika aku benar-benar tulus merawatnya.” Rey menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Anna yang jenjang.


Terimaksih Tuhan, terimakasih sudah kirimkan kebahagiaan yang begitu besar untuk ku dan Anna. Kami berjanji akan menjaga nya dengan baik.


“Sekarang aku harus menyelesaikan pekerjaan ku.” Anna mengecup kening Rey sebelum beranjak dari pangkuan Rey.


Rey masih termenung di tempatnya, sungguh tidak ada lagi yang dirinya inginkan di dunia ini selain melihat senyum bahagia di wajah wanita yang sangat dirinya sayangi. Rey menatap punggung yang kini sedang sibuk menata lemari dengan apik.


__ADS_1


__ADS_2