Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Aku Percaya Kalian Akan Datang


__ADS_3

"Mel.....Melan....Melani....!!!!" Suara Riyan yang menggema di setiap sudut ruangan. Meneriakkan nama wanita yang akhir-akhir ini mengisi kisahnya.


Malik, Rey, Oji dan Hans yang memang berpencar mencari Melani segera lari ke arah sumber suara. Melan tidak sadarkan diri di pelukkan Riyan, tubuhnya penuh luka.


Malik yang awalnya tidak menyimpan kemarahan begitu kalut, kemarahan memenuhi dirinya melihat kondisi Melani yang mengenaskan. Bagaimana bisa menyakiti wanita sebaik adiknya yang selalu jadi hangat bagi keluarganya.


Malik berjalan sedikit gontai menghampiri para penjahat yang di sekap. Tangannya terkepal mencengkeram begitu kuat sampai melukai tangannya sendiri.


Menyeret laki-laki yang mereka sebut Bos dengan kasar. Mata Malik sangat menakutkan, sudah hilang akal sehatnya melihat kondisi Melani saat ini.


"Kau memukul dengan tangan ini. Hah!!!!" Malik menginjak penuh amarah.


Ahhhhh..... ampun......Awwhhhhhh.....


"Kau sudah menyakitinya dengan keji dan sekarang kau meminta ampun! Kau tidak malu memukul perempuan!!!!! Brengsekkkkk...... berani sekali menyakitinya!" Malik melayangkan pukulannya dengan keras.


Brukkkk......


"Kak...." Oji menahan tubuh Malik yang bergetar hebat, jelas sekali dia dikuasai amarah. Tubuhnya sudah lemas tidak bertenaga, sakit melihat kondisi Melan yang menyedihkan.


"Lepas.....Lepaskan...!!!!!!" Teriak Malik begitu keras. Oji menahan tubuh Malik sekuat tenaga, Oji tidak mau Malik menyakiti dirinya sendiri. Tidak boleh Malik terluka agar wanita yang di sayanginya baik-baik saja.


"Please, stop it!" Malik jatuh terduduk. Tubuhnya cukup lemas melihat kondisi Melani. Sungguh isi kepalanya saat ini bercampuran dengan kenangan pahit masa lalu Ayuna dan Sarah yang juga mengalami hal serupa.


“Lepaskan.....mereka harus mati di tanganku! Berani sekali menyakiti adik ku!” Teriaknya masih membabi buta.


“Serahkan padaku. Jangan kotori tangan mu Kak. Please, aku sudah berjanji menjagamu tetap aman. Aku tidak mau Ayuna lemah, aku ingin melihat senyumnya terus terpancar penuh bahagia. Aku mohon.” Panjang lebar Oji mencoba mengembalikan kesadaran Malik, ada wanita yang harus Malik jaga.


"Aku....Melani.....cepat bawa Melan ke rumah sakit." Malik mencoba berdiri, tubuhnya saat ini benar-benar tidak berdaya. Oji menuntun Malik yang sedikit goyah, kakinya gemetar saat berjalan. Lega, Malik mau mendengarkan nya.


"Mereka di mobil, aku akan bereskan mereka semua. Aku temui kalian di rumah sakit." Oji kembali masuk setelah memastikan mereka semua sudah pergi meninggalkan gudang.


"Melan...Mel..bertahan Mel, maaf karena membiarkan mereka membawamu." Ucap Riyan lirih, Melan kini dalam pelukannya.


Riyan merasa tidak berdaya melihat Melani mendapatkan begitu banyak luka di sekujur tubuhnya. Riyan merutuki ketidak berdayaannya menjaga Melani.


"Cukup Dek, bukan salahmu semua ini terjadi." Tidak ada tanggapan, Riyan masih merutuki dirinya sendiri. Pikirannya sedang tidak waras.


Cukup jauh mereka sampai di klinik terdekat, rumah sakit besar masih cukup jauh dari tempat mereka berada.


Melan segera ditangani beberapa Dokter yang ada di klinik, mereka di paksa menerima Melani padahal peralatan medis tidak begitu memadai.


Beruntung tidak ada luka serius, Melani hanya pingsan karena dehidrasi dan tekanan. Dia ketakutan sampai kesadarannya hilang.


"Dokter yakin? Tidak ada luka yang berbahaya pada adik saya?" Sudah empat kali dokter bolak balik menjelaskan pada Malik. Tarikan nafas dokter sudah mulai berat, frustasi.


"Maaf Dok, adik saya khawatir. Dia hanya ingin pastikan kondisi adik kami baik-baik saja." Imbuh Rey yang masih sedikit waras. Malik terlihat berantakan.


Riyan hanya berdiam di pojokan tidak bergeming, pandangan matanya kosong.



"Biarkan dulu Al, dia buru waktu." Malik mengangguk paham.


"Kenapa dia masih belum sadar Dok?" Tanya Malik lagi yang membuat Dokter menghela nafasnya panjang.

__ADS_1


"Tuan-tuan bisa pastikan dengan pemeriksaan lengkap saat sampai di kota. Sejauh ini saya hanya menemukan luka lebam, goresan dan luka bekas pukulan. Tidak ada yang lain Tuan." Merasa kesal di pojokkan sejak tadi.


"Tapi kenapa dia masih belum sadar?!" Peryanyaan yang sama di ulang-ulang.


Dokter menjelaskan berulang kali karena dehidrasi. Tubuhnya butuh waktu merespon obat yang masuk. Mana bisa langsung sembuh hanya dengan obat, tentu saja obat nya butuh proses untuk bekerja.


Dokter hanya geleng-geleng kepala, rasanya ingin mengusir mereka agar klinik kembali damai.


"Sudah Al...kita kembali ke kamar Melan saja. Ayo." Malik masih menatap tajam dokter yang kesal padanya.


"Adek...." Panggil Malik yang melihat Riyan hanya berdiam diri. "Sini, Melan pasti butuh kita saat bangun." Rey menggeleng, meminta Malik tidak mengganggu Riyan sementara waktu.


Malik dan yang lainnya masuk, Riyan yang melihat mereka masuk ke dalam ruangan dan lengah mengambil langkah untuk meninggalkan klinik. Dadanya sesak dan rasa bersalahnya menuntut dirinya untuk pergi.


Riyan mengendarai mobil cukup cepat. Isi kepalanya berputar tentang kenangan manisnya bersama Melani selama ini. Air matanya bercucuran sepanjang perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap.


Brakkkkk.....


Pintu terbuka begitu kasar, ada Mbak Ayu dan Ranu di sana. Riyan tahu Ayu pasti menunggunya.


"Dek....syukurlah sudah kembali. Mana yang lain?" Ayu mencari keberadaan yang lainya, tidak muncul. Memeluk Riyan yang Ayu rasa sedang tidak mau di dekati dirinya.


Ayu berusaha bersikap biasa saja, seolah tidak ada yang aneh dengan sikap Riyan. Mencoba tetap terseyum ditengah perdebatan batinya yang membangunkan.


Grrrreeekkkkk.....


Riyan menyeret kopernya, mengeluarkan baju-baju dalam lemari, melemparkannya sembarangan masuk ke dalam kopernya.


"Adek....apa Melan dan yang lainnya baik-baik saja?" Dengan suara terdengar sedikit gemetar.


"Adek boleh loh bicara Sama Mbak Dek, yah..." Riyan menepis tangan Ayu yang mendarat di lengannya.


"Sorry...Mbak." Riyan tidak bermaksud menyakitinya. Dirinya sedang benar-benar kalut. "Riyan mohon, jangan dulu ganggu Riyan." Ranu mengepalkan tangannya kesal.



Baru kali ini melihat Om Riyan yang lemah lembut berubah menjadi sangat kasar. Ranu mencoba tidak ikut campur, selama Mommy nya aman. Dan Om Riyan tidak menyakitinya.


"Ihhh.....Adek bicaranya begitu. Mbak cuma khawatir Dek." Bicara dengan lembut. Tetap berusaha tersenyum.


"Stop Mbak, please! Aku bukan lagi anak kecil." Ayu mengusap ujung matanya yang memanas. Banyak pertanyaan yang membuat isi kepalanya sedikit berdenyut, Adik nya sedang sangat kacau.


"Ok....Mbak tunggu ya Dek. Jangan lupa pulang kalau adek sudah tenang." Ayu meremas ujung bajunya. Mencoba terlihat baik-baik saja, ada Ranu yang tidak boleh melihat dirinya menangis.


Tidak mengucapkan apapun, Riyan pergi begitu saja. Ada tas kecil yang tertinggal. Ayu yang ingin melangkah di cekal tangan Putra nya.


"Abang saja yang antar Mom." Ayu mengangguk, dirinya juga tidak kuat melihat adik nya begitu hancur. Kaki nya lemas.


"Cepat Bang, takut Om Riyan keburu naik lift." Ranu segera lari membawa tas kecil milik Om nya.


Brakkkk......


Tangannya menahan lift yang sedikit lagi akan tertutup. Riyan yang semula membeku menegakkan tubuhnya. Mulutnya sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Menatap Ranu yang menyodorkan tas kecil miliknya.


"Punya Om ketinggalan." Riyan menerimanya tanpa bicara apapun. "Abang kira tadi terlalu kasar Om. Jangan ulangi lagi, Abang mohon." Ranu meninggalkan Riyan yang sontak saja seperti di tusuk benda tajam dada nya.

__ADS_1


Dirinya tidak sadar bicara kasar pada kesayanganya. Riyan hanya bisa menangis. Sudah tidak bisa berpikir jernih harus bagaimana menghadapi masalahnya saat ini.


Ayu mengetik pesan, menghapusnya, mengetik lagi dan menghapusnya lagi. Bingung sekali ingin bicara apa pada adik nya yang saat ini sedang begitu hancur. Ayu tidak sadar mata Putra nya tidak berhenti dari tatapan penuh selidiknya.


Kening nya berkeringat, jelas sekali Mommy nya sedang berpikir keras dan khawatir. Putra nya kenal betul bagaimana Mommy nya saat sedang meresahkan sesuatu.


Ranu : Daddy


Malik : Iya Nak, Mommy sedang apa?


Ranu : Jangan khawatir, Mommy ok. Abang jaga dengan baik.


Ranu mengurungkan niatnya menceritakan apa yang terjadi. Tidak mau menambah beban dan pikiran pada Daddy nya.


"Hey.... kenapa wajah kalian sama? Hmmm .... Katakan ada apa?" Tanya Mahesa yang masuk bersama Hanum.


"Tidak ada, Abang baik, Mommy juga. Kak Hanum duduk sini Kak." Mahes tahu adiknya berbohong.


Mahesa tidak mengorek, nanti adik nya akan mencari dirinya saat benar-benar sudah buntu dan tidak tahu harus apa.


"Riyan ...Riyan ..." Malik berteriak kesana kemari mencari keberadaan Adik nya.



"Tenang Al, aku sudah meminta Hans mengikuti Riyan, dia kembali." Jelas Rey yang baru selesai menerima telepon.


"Ke hotel?" Rey membawa Malik duduk.


"Kondisinya sepertinya tidak baik, dia ke Hotel dan setelahnya kembali ke Jakarta." Malik menatap nanar wajah Rey.


"Apa dia bertemu Ayuna?" Rey mengangguk. "Semoga tidak terjadi hal buruk pad adik ku. Dia begitu berarti untuk ku juga, bukan hanya untuk Ayuna." Rey menepuk pundak Malik lembut.


"Kau hebat, masalah ini juga pasti akan bisa kita lewati. Kita punya banyak cara Al." Rey mencoba memberikan kekuatan.


"Melan sudah bangun, kita harus segera memindahkan ya jika Melan tidak memilik keluhan. Aku sudah hubungi Adam." Mereka segera menuju kamar Melan.


Malik mencoba menyelesaikan yang harus dirinya prioritaskan. Meski Riyan begitu penting, Melani saat ini harus dirinya tangani terlebih dahulu.


Melan tersenyum, tidak ada gurat sedikit pun kesedihan. Dia selalu bersikap ceria seperti apa adanya dirinya. "Maaf...." Matanya berkaca-kaca.


"Don't say that Mel. Kami yang minta maaf karena kau harus mengalami semua ini." Malik menggenggam erat tangan Melani.


"Aku tidak takut, aku punya kalian semua yang pasti akan menyelamatkan ku." Berusaha menahan linangan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Ya.....dan kami datang, maaf karena terlambat datang Mel. Kak Malik sungguh minta maaf." Malik yang terisak, menyesal karena teledor dan longgar dengan penjagaannya.


"Kalian tidak salah." Melan mengenyam erat tangan Malik. "Riyan.....Dimana Riyan Kak?" Melan ingat terkahir kali bersama Riyan. "Mereka memukul kepala Riyan." Malik sampai lupa memeriksa kondisi Riyan.


"Kak Rey akan minta Dokter Adam periksa keadaan Riyan." Melan menyipitkan matanya.


"Dia kembali? Dia tidak ada di sini?" Malik merasakan tangan Melani sedikit bergetar.


"Kita akan segera pulang juga. Kak Malik memintanya untuk menenangkan diri." Melan kembali tersenyum, dia salah mengira Riyan meninggalkannya.


"Aku takut sekali, aku takut kehilangan Riyan. Dia baik-baik saja kan Kak?" Malik mengangguk. Dirinya tidak memeriksa kondisi Riyan dengan benar.

__ADS_1


__ADS_2