Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Aku Ingin Pulang


__ADS_3

“Daddy kenamana Bang? Kok lama sekali tidak masuk kamar Mommy.” Tanya Ayuna penasaran, sudah seharian ini Malik tidak terlihat. Bisanya keluar sebentar saja suaminya akan segera muncul, tidak pernah meninggalkannya selama ini.


“Daddy bilang ada urusan mendesak. Apa ada yang sakit? Hmmmmm......” Tanya Ranu khawatir. “Mommy rindu yah?” Tebakan Ranu yang berhasil membuat Ayu tersipu malu.


“Abang apa sih.....” Malu-malu menanggapi pertanyaan Putra nya. Malu sekali ketahuan dirinya tidak bisa jauh dari suaminya.


“Bilang saja kalau rindu Mom. Kak Mahes coba hubungi Daddy sebentar. Tunggu ya cantik.” Ayu mengangguk. Anak-anaknya sangat manis.


“Iya sayang? Ada apa Kak?” Tanya Malik di sebrang telpon.


Daddy cepat sekali menjawab panggilan telponnya. Biasanya kalau sibuk panggilannya akan membutuhkan waktu lama sampai Daddy nya bisa menjawabnya.


Mahes tidak perduli selama Daddy menjawabnya.


“Daddy dimana? Di cari Mommy Dad. Apa belum selesai urusan tidak penting Daddy, sampai tinggalkan Mommy ku selama ini.” Omel Mahesa membuat Ayu senyum-senyum mendengarnya.


“Ya Tuhan......panjang sekali pertanyaannya Kak. Daddy belum selesai, mungkin satu jam lagi Daddy sampai. Apa Mommy ok?” Tanya Malik memastikan keadaan Ayu.


“Mom ok, Cuma cintaku sepertinya rindu suaminya.” Malik tersipu, tidak biasanya Putra nya semanis ini. Mahesa biasanya paling malas banyak bicara.


“Berikan ponselnya pada Mommy Nak, Daddy juga rindu sekali dengan belahan jiwa Daddy.” Pinta Malik yang segera Mahes kerjakan.


“Senyum-senyum Dad Bidadari ku.” Ledek Mahes sebelum menyerahkan ponsel pada Mommy. Ayu menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, anak-anak nya sungguh sedang menjadikan dirinya seperti Bidadari sungguhan.


“Sayang ku, bagaimana sekarang yang di rasakan? Apa sudah lebih nyaman? Sudah makan siang belum Mom?”


“Ihhh...bingung, tanya nya jangan banyak-banyak Dad. Satu-satu.” Ayu salah tingkah di tatap begitu intens oleh kedua Putranya. “Semua yang Daddy tanya sudah Mom lakukan, Mommy sekarang sudah enakan, Mommy ingin pulang Dad.” Pinta Ayu yang memang sudah merasa tidak nyaman. “Usahakan aku pulang segera ya Dad.”


“Ok Mom, aku konsultasi dulu dengan Dokter kandungan yang merawat mu sayang. Daddy harus pastikan semuanya aman. Sabar ya sayang, demi sehat mu dan Baby.” Ayu memanyunkan bibirnya. Tentu saja jawaban suaminya tidak akan seperti yang dirinya inginkan.


Ayu malas menanggapi, ponselnya di serahkan pada Mahesa yang setia berdiri di sisinya. Mahes mengecup kening Ayu setelah meraih ponselnya.

__ADS_1


“Dad....Mommy ku sudah tidak betah Dad. Abang Ranu juga sudah tidak nyaman tidur di rumah sakit. Punggungnya nyeri kata Abang Dad.” Kalimat terakhir di ucapkan sangat pelan agar Mommy nya tidak dengar.


“Abang tapi ok kan Kak? Daddy sorry harus urus pekerjaan mendesak yang tidak bisa di gantikan orang lain Kak. Tolong jaga adik dan Mommy mu ya Kak.”


“Mmmmm......” Mahes menutup pangilannya. Nampaknya Daddy memang sedang mengurus masalah penting, bicaranya tidak mendapat kan solusi apapun. Dia sedang fokus pada hal lain.


Mahesa memeriksa kening Ranu yang baru saja memejamkan matanya, merasa terganggu Ranu merubah posisinya agar lebih nyaman. “Tidur Dek, Kakak akan jaga kalian.” Ucapnya pelan mengusap punggung adik kesayangannya.


***


Malik meraih makanan yang di bawa Aldo, memakannya dengan santai di sofa rumah sakit ruangan yang di tempati Hanum. Adam dan Aldo juga mengikuti Malik memakan makanan mereka.


“Makan Han, enak sekali. Anak-anak Paman paling suka makanan seperti ini.” Jelas malik yang di angguki Hanum.


Perlahan Hanum meraih bungkus makanan yang ada di depannya. Membukanya sambil sesekali matanya melirik para orang tua yang duduk dengan nyaman di ruangannya. Hanum yang kepalaran tidak bisa menolak, dirinya akhirnya memakan makanan yang di suguhkan padanya.


Uhukkkk....uhukkkk...uhukkkkk


Baru saja makan beberapa suapan, perut Hanum terasa nyeri dan bergejolak. Hanum beringsut ingin turun dari brangkar namun kesulitan, tangannya di infus dan menyulitkannya bergerak. Suara gaduh berhasil membuat Malik, Adam dan Aldo buru-buru menghampiri Hanum.


Tangan satunya menutup mulutnya yang ingin memuntahkan makanan yang berhasil masuk ke perutnya. Hanum sedang berusaha keras menahannya.


Adam mengantar Hanum segera, menutup pintu toilet agar Hanum nyaman setelah memastikan Hanum aman di dalam toilet.


Jelas sekali suara Hanum yang sedang muntah di dalam toilet, Adam mendekat dan mengetuk pintu toliet perlahan.


“Han....mau Paman bantu Nak. Buka pintu nya Nak.” Pinta Adam, tidak ada jawaban. Hanum sepertinya masih muntah-muntah karena suaranya masih terdengar dengan jelas.


Brukkkkkk.....


Hanum terkulai lemas, perutnya merasakan nyeri yang sangat hebat entah karena apa. Hanum tidak sadarkan diri dalam keadaan kamar mandi terkunci dari dalam. Tubuhnya sudah tidak kuasa menahan sakit.

__ADS_1


“Cepat dobrak, ayo Al.” Sekuat tenaga Aldo mencoba membobol pintu namun tidak berhasil.


Karena pintu tidak kunjung terbuka, Adam meminta petugas maintenance gedung untuk membawakan kunci cadangan dan peralatan yang di butuhkan untuk membuka pintu toliet secepatnya.


“Ada apa?” Tanya Sarah yang mendengar kegaduhan saat dirinya sedang berada di meja resepsionis mengecek jadwalnya.


“Pasien Dokter Adam pingsan di kamar mandi Dok.” Sarah mengernyitkan dahi nya. Salah dengar atau bagaimana?


Adam bukanya meminta ijin pada dirinya untuk pergi keluar rumah sakit? Adam siapa yang petugas barusan maksud. Karena rasa pensaran, akhirnya Sarah mengikuti kemana petugas itu pergi.


Matanya tidak salah lihat kan? Ada Malik dan Aldo juga di sana. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Apa yang mereka sembunyikan dari semua orang.


Mata sarah membulat, dirinya lebih terkejut saat melihat gadis kecil yang berhasil mereka keluarkan dari dalam kamar mandi. Hanum.....itu benar gadis yang Putra nya sayangi. Bagaimana mereka bisa kompak menutupi ini semua dari dirinya, apa yang sedang terjadi sebenarnya.


“Sayang.....” Adam menghampiri Sarah dan memintanya untuk duduk. “Aku harus segera menolongnya, tunggu sebentar di sini.” Mengecup puncak kepala Sarah yang masih mematung.


Adam segera menangni Hanum. Setelah pemeriksaan dan pertolongan pertama di lakukan, Adam segera membawa Hanum ke ruang pemeriksaan rontgen dan pemeriksaan penunjang lain untuk memastikan apa yang Hanum alami.


Kini hanya ada Malik dirinya dan Aldo. Sarah menatap keduanya penuh tanda tanya. “Tidak ada yang ingin kalian jelaskan padaku!” Sarah segera berdiri dari duduknya berniat pergi karena merasa sangat kecewa.


“Hey.....” Malik mencekal langkah Sarah. “Cantik sekali, sudah lama aku tidak melihat mu marah Dokter cantik ku.” Mata Sarah berkaca-kaca. Malik memeluk Sarah dengan lembut, Malik tahu dalam keadaan seperti ini wanita butuh pelukkan tulus.


“Aku ingin pulang.” Malik tersenyum, hari ini sudah dua kali mendengar orang-orang yang dirinya sayangi meminta pulang. “Aku kesal Al.” Tangisnya pecah, sesak nya ingin segera Sarah lepaskan.


“Ok sayang, setelah semua ini selesai aku akan pastikan kalian istirahat dengan aman dan nyaman. Maaf semua harus kita tutupi dari kalian. Akan aku ceritakan jika keadaan sudah membaik. Aku minta padamu jangan memintaku menjelaskannya sekarang.” Sarah mengangguk paham, semua pasti demi kebaikan semua orang.


“Aku lelah sekali Al, aku ingin istirahat.” Malik menggandeng tangan Sarah membawanya ke tempat istirahatnya yang ada di rumah sakit. Tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


Malik membelai lembut surai wanita cantik yang terbaring di depannya. Sarah kembali membuka matanya, menatap Malik penuh tanda tanya. “Kenapa? Apa tidak nyaman? Mau istirahat di rumah?” Tawar Malik yang di jawab dengan gelengan kepala.


“Aku sebenarnya takut jika Mahesa berhubungan dengan anak itu.” Menggigit bibir dalamnya, ragu sekali ingin bicara.

__ADS_1


“Hanum?” Sarah mengangguk. “Apa ada yang Sarah tahu tentang Hanum?” Sarah mengangguk.


“Apa dia benar anak gadis yang baik?” Malik mengangguk tanpa ragu. Sarah menyodorkan nomor ponsel yang tercatat di selembar kertas usang. Kertasnya penuh noda tanah berwarna kecoklatan. “Dia sempat memberikan ini padaku, aku tidak berani menghubungi nomor ini Al. Aku takut sekali, aku tidak ingin Putra ku dalam masalah.”


__ADS_2