
Prakkkk.....
Gelas kopi yang di pegang tangan Malik tiba-tiba saja terlepas.
Aldo berjalan cepat sekali menghampiri Malik yang masih terpaku di tempatnya. “Awas Bos, menyingkir dari sana.” Aldo segera menarik Malik menjauhi komputer dan segera mematikannya.
Aldo segera menghubungi petugas kebersihan untuk membersihkan tumpahan kopi yang berantakan di atas meja Malik.
“Apa Bos terluka?” Tanya Aldo yang melihat Malik tidak bergeming. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
“Perasaan ku tidak enak Al. Apa Ayuna baik-baik saja?” Aldo mengangguk. Belum lama dirinya menghubungi Anna yang baru saja sampai di sekolah bersama Ayuna.
“Aku sudah menghubungi Mawar untuk menyusul Kak Anna dan Nonna di sekolah Abang. Dia sebentar lagi sampai.” Malik mengulas senyum meski firasat buruk menghantuinya. Malik menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
“Aku sepertinya butuh melihatnya sendiri Al.” Aldo menahan langkah Malik, klien nya sudah cukup sabar menunggu waktu yang terus di undur oleh Malik. Alasan yang sama, Bos nya khawatir meninggalkan Ayu sendirian.
Aldo meraih ponsel Malik agar Bos nya tidak lagi melakukan semuanya sesuka hati, perusahaan sedang butuh dirinya dan Aldo hari ini harus egois menahan Malik. “Setor muka saja Bos. Setelah itu aku yang handle semuanya.” Malik duduk dengan lemas di kursi kerjanya. Pikirannya sungguh tidak tenang.
Malik dengan lemas memasuki ruang meeting yang sudah dipenuhi klien bisnisnya yang cukup penting. Sandra sudah duduk manis di tempatnya, wajahnya sedikit pucat.
Ulasan senyum manisnya tidak bisa menyembunyikan pucat di wajahnya. Matanya meng kode Malik agar tidak menghampirinya, tapi langkah kakinya cepat sekali. Kini Malik bertengger di sisinya membuat seisi ruangan menatap dirinya. Sandra tersenyum malu-malu pada semua orang.
“Kau tidak apa? Wajah mu sedikit pucat San.” Malik khawatir, apa mungkin ini yang firasatnya rasakan. Apa kondisi Sandra yang membuat firasatanya tidak enak sekali hari ini. Malik menatapnya dengan penuh perhatian. "Istirahat San, jangan lanjutkan kalau kau merasa tidak sehat." Sandra menggeleng dengan cepat, malu sekali Malik bersikap begitu hangat padanya di ruang meeting.
“Aku baik-baik saja, aku tidak make up Kak. Makanya sedikit pucat, cepat duduk. Aku malu terus diperhatian banyak pasang mata.” Sandra mendorong tubuh Malik yang masih mematung di depannya.
Malik menuruti kemauan Sandra, duduk dengan lemas di kursinya. Mencoba menyimak meski isi otaknya hanya Ayuna nya. Salah sekali dirinya membiarkan Ayu dengan perut besarnya berada di luar hanya bersama Anna.
Meeting berjalan cukup lama, banyak sekali hal besar yang harus perusahaan Malik benahi untuk mengantisipasi perkembangan perusahaan lain yang bisa menjatuhkan perusahannya.
Ditengah meeting Sandra terlihat keluar dari ruangan tergesa-gesa. Mata Malik menangkap kondisi Sandra yang memang tidak baik-baik saja seperti apa yang ada di matanya.
Selesai meeting Malik tergesa-gesa masuk ke ruangan Sandra. Berjalan perlahan memasuki ruangan adik nya yang sepertinya sedang kurang sehat.
“San....apa perutmu sakit? San....kau belum sarapan yah?” Malik merasa aneh, Sandra tidak bereaksi. Firasat buruknya mendominasi. “San.” Tubuhnya lunglai di tangan Malik.
__ADS_1
Brakkkkkkkk.......
Suara bantingan pintu yang cukup keras.
Malik membawa Sandra dalam gendongannya. Aldo begitu terkejut dengan apa yang dilihat matnya. Situasi macam apa ini, telpon nya dari Mawar baru saja di tutup dan Bos nya terlihat kewalahan menggendong Sandra yang tidak sadarkan diri.
“Cepat nyalakan mobil Al. Sandra pingsan Al.” Teriak Malik yang melihat Aldo mematung tidak bergerak.
Semua mata para pegawai memperhatikan turut khawatir melihat Sandra tidak sadarkan diri. Sandra wanita yang begitu kuat dan jarang sekali sakit setahu mereka. Melihatnya tidak sadar semua orang merasa ikut sedih.
Aldo bingung sekali harus bicara apa dan bagaimana caranya bicara. Aldo mencoba fokus menyetir sambil menunggu Mawar memastikan keadaan seperti permintanya tadi.
Ponsel Aldo berdering terus menerus. Malik yang masih fokus pada Sandra menatap mata Aldo yang terlihat sangat gusar lewat spion depan. Aldo terus mengelap keringat yang terus mengucur membasahi keningnya.
“Aldo....jangan membuat ku takut Al. Ada apa? Jangan sembunyikan apapun dari ku.” Aldo menelan salivanya. Matanya mencoba kembali fokus pada jalanan yang cukup padat. Tidak mungkin Aldo bersikap seperti ini hanya melihat Sandra pingsan, pasti ada yang lain.
“Nanti akan aku katakan setelah kita antar Sandra ke rumah sakit. Tenang Bos.” Malik semakin curiga. Merogoh kantung baju dan celana namun ponselnya tidak ada di sana.
“Ponsel ku ada pada mu kan Al, tadi kau ambil sebelum meeting.” Aldo mengangguk. “Cepat serahkan.” Aldo tidak menangapi. Takut sekali Bos nya semakin tidak bisa mengendalikan dirinya jika tahu wanita kesayangannya di culik. Aldo sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.
“Aku serahkan setelah kita sampai di kantor Bos, maksudku di rumah sakit. Tanganku sulit mengambilnya.” Malik curiga sekali dengan sikap Aldo.
***
“Target sudah di amankan Bos.” Terlihat mengangguk menanggapi telponnya. “Tapi wajahnya sangat pucat Bos.” Ucapnya lagi yang membuat Ayu sedikit membuka matanya yang terpejam.
Perjalanan cukup panjang yang Ayu rasakan, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya yang gemetar hebat. Ayu memejamkan matanya menolak semua ingatan menyakitkan yang berkelebat tidak berhenti di benaknya.
Ayu memegangi perutnya yang kram parah, menghadapi situasi yang begitu menakutkan sampai isi kepalanya dipenuhi dengan kejadian masa lampau yang sangat menyakitkan membuat sekujur tubuhnya menegang. Ayu merasa sekujur tubuhnya mati rasa dan nafasnya mulai terasa sesak.
“Boleh buka kaca nya Pak, saya tidak bisa bernafas. Aku mohon.” Laki-laki yang duduk dengan penutup wajah yang hanya menampakkan mata dan lubang hidungnya menatapnya tajam. “Aku mohon, aku takut anak ku sakit di dalam sini.” Ayu membelai perutnya sendiri dengan tangan gemetarnya.
Matanya terlihat menelisik keadaan, hutan belantara yang dilewatinya terlihat aman jika hanya membuka sedikit jendela, daripada wanita berharga puluhan miliar yang ada di depan matanya celaka.
“Buka sedikit saja Pak.” Perintahnya pada sang supir. Ayu mendekat kan wajahnya ke ujung jendela yang terbuka, menghirup udara segar dengan perlahan mencoba menenagkan dirinya sendiri.
Tidak berhasil, dirinya masih merasakan sesak karena pikirannya terus di bayangi kejadian beberapa tahun silam. Ayu kewalahan dengan tubuhnya, tangannya mencengkeram kuat kursi mobil yang di dudukinya. Matanya perlahan terpejam, Ayu akhirnya tidak sadarkan diri.
“Pak cepat, dia pingsan Pak.” Meminta sang supir menambah kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Mereka sampai di bangunan yang cukup usang yang berada di tengah hutan. Dengan cekatan mereka memindahkan tubuh Ayu yang lunglai ke dalam ruangan yang sudah mereka siapkan.
“Bos....sepertinya dia harus di periksa, kelihatannya tidak baik-baik saja keadaannya.” Laki-laki yang duduk dengan santai di kursi kayu menatap nya penuh pertimbangan. “Akan bahaya kalau dia sampai kenapa-napa Bos.”
“Kau bukannya pernah belajar ilmu kedokteran? Coba periksa kondisinya.” Perintahnya dengan enteng.
Laki-laki yang di ajak bicara kini menatap nya dengan tajam, kejam sekali membiarkan wanita hamil kesakitan demi keserakahannya ingin mengambil keuntungan.
“Tidak sama, yang aku pelajari umum. Dia saat ini hamil besar, pingsan dan tubuhnya terus berkeringat. Dia bisa mati jika di biarkan terlalu lama.” ucapnya penuh penekanan.
“Kita di tengah hutan, mana ada dokter di sini.” Baskoro naik pitam, anak buahnya yang satu ini sering merepotkan karena punya empati yang cukup tinggi. “Mereka bisa melacak kita jika terlalu banyak pergerakan.” Baskoro duduk lagi setelah menyampaikan argumen kerasnya.
Anak buahnya kembali ke ruangan dimana Ayuna di tahan. Mencoba memeriksa denyut nadi dari pergelangan tangan Ayu, menurutnya sedikit lemah. Ada rasa khawatir tapi dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkannya.
Di luar nalarnya Bos yang di ikutinya sudah cukup lama menculik wanita hamil besar yang cukup lemah. Jika tahu targetnya adalan wanita hamil besar seperti ini, tidak mungkin dirinya mau melakukan pekerjaan kotornya ini.
Perlahan mata Ayu terbuka, beringsut kaget karena terkejut melihat laki-laki asing yang duduk di depannya. Wajahnya tidak terlihat menyeramkan, tapi Ayu tetap merasa tidak nyaman dengan orang asing. Ayu mendunduk menghindari kontak mata dengan laki-laki yang ada di depannya.
“Bagaimana?” Ayu mendongak, tidak mengerti maksud pertanyaan yang di lontrakan padanya. “Maksudku, apa perutmu terasa sakit? Atau ada yang terasa tidak nyaman?” Ayu menggeleng takut-takut, kembali menunduk tidak mau menatap mata tajam menakutkan.
“Hmmmm.....” Menajamkan telingaya saat mendengar gumaman dari mulut wanita yang terus menunduk di depannya. “Apa aku bisa minta air, aku kehausan.” Ayu spontan beringsut ke pojokkan saat laki-laki di depannya berdiri.
“Tunggu sebentar.” Ayu merasakan degub jantungnya yang begitu cepat, tidak beraturan sekali. Kepalanya juga berdenyut hebat begitu pening.
Berjalan perlahan agar tidak mengejutkan wanita yang sudah gemetar ketakutan sejak tadi. “Minum lah, makan juga rotinya. Kau bisa kehilangan anak mu jika tidak makan.” Ucapnya kasar agar Ayu tidak menolak makanan yang di tawarkannya. Ayu tidak menerimanya, dia hanya menatap penuh kesedihan.
“Terimakasih.” Suaranya bergetar.
“Habiskan.” Laki-laki yang membawakannya makanan kembali keluar, pintu kembali tertutup rapat.
Ayu bernafas lega, teringat wajah Kala. Laki-laki yang mencintai Dokter Sarah namun menyakitinya dengan cukup kejam. Ayu memukul dadanya yang terus berdegub tidak beraturan. Sesak sekali rasanya, isakan tangisnya tidak lagi bisa di tahan. Ketakutannya sangat besar, terlebih dirinya tengah hamil besar dan begitu lemah.
Ayu terus merapalkan ucapan maaf nya pada Baby yang ada di dalam perutnya. Kasihan sekali dia harus mengalami kejadian seperti ini sebelum lahir ke dunia, seperti Kakak Mahesa dahulu.
Mengingat Mahes dan Ranu, Ayu semakin tidak bisa menahan air matanya. Takut sekali jika dirinya tidak akan kembali dan tidak bisa menemui anak-anak kesayangannya.
__ADS_1