Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Kau Paling Cantik


__ADS_3

Akhkhhhhhhh......


Suara teriakan Sandra yang membahana membuat seisi rumah lari berhambur ke depan kamar Ranu yang tertutup rapat.


Entah apa yang membuatnya berteriak begitu kuat sampai semua orang merasa khawatir.


Tok...tok...tokkkkk


“Mas....Sandra ok Mas?” Tanya Ayu dengan nada yang sangat lembut. Tahu sekali jika saat ini Mas nya sedang bekerja keras bicara dengan Sandra yang cukup keras kepala.


“Ok, kalian sarapan duluan saja.” Jawab Jofan terdengar sangat tenang.


“Aunt? Kita tunggu di ruang makan yah.” Imbuh Ranu yang merasa bersalah sudah meninggalkannya seperti permintaan Om nya.


Ranu pagi-pagi sekali sudah masuk ke kamar miliknya yang saat ini di tempati Sandra dan Jofan. Ingin ada di sisi aunty nya yang semalam datang dengan penuh kesedihan, entah apa yang sudah terjadi.


Namun Jofan memintanya memberikan ruang untuk mereka berdua bicara. Ranu yang mengerti segera keluar seperti permintaan Om nya. Ranu hanya memberikan peringatan agar Jofan bersikap baik dan tidak lagi membuat Aunty nya sedih.


“Abang....tolong Aunty.” Ayu menggeleng, Putra nya tidak tahu saja saat ini Sandra sedang drama. “Masuk Bang.” Teriaknya lagi.


“Sayang, selesaikan dulu dengan suami mu yah. Kita semua tunggu di ruang makan. Malik menarik tangan Putra nya yang mematung merasa kasihan pada Sandra. Langkahnya saja berat sekali seolah ingin memenuhi permintaan Aunty kesayangannya yang berteriak meminta tolong.



“Apa tidak apa-apa membiarkan Aunty ku berdua saja dengan suaminya? Semalam saja datang sudah menangis.” Ucap Ranu kesal dengan orang dewasa yang sulit sekali ditebak.


“Urusan rumah tangga sayang, kita tidak boleh ikut campur. Mas tidak mungkin menyakiti wanita yang sudah dirinya pilih sebagai pemilik cintanya. Tenang saja.” Mahes dan Ranu tersenyum lega mendengarnya.


Mereka kini mencoba percaya pada Om Jofan, dia tidak mungkin menyakiti wanita yang setengah mati diperjuangkan nya. Mereka pasti akan baik-baik saja.


“Ayo sarapan, setelah ini Daddy akan ajak kalian belanja baju Baby.”


Uhukk....uhukkkk...uhukkk....


“Pelan-pelan sayang. Minum dulu.” Ayu menyodorkan segelas air putih pada Ranu yang tersedak makanannya. Terkejut sekali mendengar ucapan Daddy nya.


Ayu mengecup puncak kepala Ranu, dia sudah berjuang keras membuang ego nya menerima kehadiran anggota baru dalam keluarganya. Menempati tempat yang sama dengan dirinya di hati Mommy dan Daddy nya.


“Belanja perlengkapan Baby?” Malik mengangguk. “Sudah bisa di pastikan Baby Boy or Girl Dad?” Tanya Mahes yang penasaran.


“Kita akan tahu setelah melihatnya nanti.” Keduanya Putra nya tersenyum bahagia.


Permintaan mereka berdua yang meminta Malik membawa mereka saat kontrol kehamilan. Mereka ingin jadi orang pertama yang tahu jenis kelamin calon adik mereka. Penasaran sekali sampai hampir setiap hari mereka menanyakan kapan Mommy nya melakukan pemeriksaan.


Ranu juga sudah sangat hangat menyambut kehadiran Baby, sudah tidak ada lagi rasa cemburunya. Dirinya sudah berjanji melakukan yang terbaik. Menjaga Mommy dan Baby sebaik mungkin itu janjinya.

__ADS_1


Sementara itu di kamar Ranu



Jofan dengan sangat sabar menunggu Sandra yang sejak tadi mengurung diri di dalam kamar mandi. Dirinya masih sangat kesal dan tidak mau melihat wajah suaminya yang mengingatkan akan kekesalannya malam tadi.


Jofan khawatir Sandra sakit jika terlalu lama berdiam diri di kamar mandi yang dingin. Langkah kaki nya yang lemas berhenti di depan kamar mandi.


“Sayang, sudah dua puluh menit. Jangan lama-lama di kamar mandi San, dingin. Nanti sakit sayang.” Rayu nya agar Sandra segera keluar.


“Kamu pulang saja, aku mau di sini.” Mendengarnya Jofan mulai terpancing emosi. Sandra bertingkah aneh sekali dan membuatnya naik darah.


“Keluar San. Ku mohon, aku sudah tidak bisa lagi bersabar.” Ucap Jofan memelas pada wanita kesayangannya. Menahan emosinya yang sudah mulai naik.


“Pergi Fan, aku tidak mau melihat mu.” Sandra masih tidak mau mengalah.


Masalah di mulai dari Sandra yang seminggu ini uring-uringan dengan banyak permintaan tidak jelas, kabur dari rumah entah apa kesalahan yang sudah dirinya buat. Tidak mau sedikit pun di sentuh oleh tangannya. Dan sekarang mengurung diri di dalam kamar mandi membuat nya semakin khawatir.


“Aku hitung sampai tiga San, kalau tidak keluar juga aku akan dobrak! Jangan salahkan aku kalau berbuat kasar!” Ucapnya memperingatkan.


“Pergi! Jangan ganggu aku.” Sandra semakin kesal mendengarnya. Suaranya bergetar, Sandra ketakutan tapi dirinya benar-benar kesal jika melihat wajah Jofan.


“Setidaknya jelaskan! Kalau seperti ini aku tahu dari mana kesalahan apa yang sudah aku perbuat. SANDRA! Keluar!”


Prakkkkkk.....


Suara knop pintu yang terbuka membuat Sandra mengalihkan pandangannya ke pintu. Suaminya dengan wajah khawatir berjalan mendekatinya.


Bukan tidak bisa masuk, Jofan hanya menunggu sampai Sandra mau keluar sendiri tanpa dirinya paksa. Jofan sudah memegang kunci cadangan sejak tadi.


“Jangan bergerak, diam di situ San.” Jofan kembali keluar, membawa handuk kecil untuk membersihkan pecahan beling yang berserakan.


Jofan membawa Sandra dalam gendongannya. Tidak membiarkan kaki nya melangkah takut ada beling yang masih berserakan dan bisa melukai kakinya.



Jofan menatapnya dalam diam, Sandra hanya bisa menunduk dengan deraian air mata yang tidak mau berhenti mengalir membasahi wajah sayunya. Jofan mencoba memberikan waktu untuk Sandra menangis, mungkin dengan begini Sandra merasa lega.


Cukup lama Sandra menangis, mencoba berhenti tapi Sandra tidak bisa menghentikan tangisnya. Jofan yang tidak tega meraih tangan Sandra, tidak di tepis. Sandra membiarkan tangannya di tepuk lembut oleh tangan suaminya yang begitu sabar menghadapi tingkah kekanakannya.



“Boleh kah suaminya peluk?” Sandra mengangguk. Jofan menghargai sekali setiap keinginan Sandra seperti komitmennya.


Termasuk tindakannya untuk tidak menyentuh Sandra jika memang Sandra sedang tidak nyaman dengan dirinya seperti saat ini. Jofan membelai surai hitam panjang milik Sandra yang tergerai, sedikit kusut.

__ADS_1


“Sorry Fan.” Akhirnya, Jofan lega sekali mendengarnya. Hampir saja dirinya berkonsultasi dengan Dokter psikologis takut-takut dirinya yang tidak begitu paham dengan wanita.


“Iya sayang. Tidak apa, suami mu yang salah. Jangan minta maaf.” Sandra yang menangis begitu banyak merasa lelah. Wajahnya sedikit pucat dan suhu tubuhnya juga sedikit panas. “Sekarang kita pulang yah, kita sarapan dulu dengan yang lain. Tubuhmu butuh makan sayang.” Sandra membola kan matanya, tangan Jofan mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi wajah cantiknya.


Jofan menatap nya lembut, tidak mau membuat Sandra ketakutan lagi seperti kebodohan yang baru saja dirinya lakukan hanya karena tersulut emosi menghadapi tingkah menyebalkannya se pagi ini.


“Aku mau diet, aku tidak mau jadi gendut. Aku juga tidak lapar.” Bicaranya lirih sekali hampir tidak terdengar di telinga Jofan.


Jofan memeluk Sandra dengan erat. Mengingat kejadian malam tadi yang ternyata membuat Sandra kabur dari dirinya.


Flash back


“Sayang....Kak Anna dan Hanum ada di bawah tunggu kita untuk makan malam.” Sandra bangkit dari duduknya. Menggandeng tangan Jofan dan turun bersama menuju ruang makan.


Makan malam begitu hangat, penuh canda tawa dan cerita bahagia mengenai hari yang sudah mereka lalui. Sandra juga terlihat sangat menikmati makanannya membuat Jofan sangat senang melihatnya.


Beberapa kali piringnya terisi kembali setelah kosong. Nafsu makannya sangat besar, Jofan sampai heran dengan perut kecilnya yang menghabiskan begitu banyak makanan malam ini. Tidak ada pertanyaan dari yang lain, melihat Sandra makan dengan lahap membuat semua orang merasa senang. Sandra sudah mulai nyaman dengan keluarga barunya. Mereka sangat bahagia sampai tidak punya pikiran lain selain bahagia.


Anna yang melihat Sandra begitu lahap makan cukup antusias menyiapkan berbagai makanan enak. Melihat keluarganya makan dengan lahap, Anna merasa sangat berguna dan sangat bangga dengan hasil jerih payahnya.


Tok...tok...tok....


“Kak Anna...Apa itu Kak?” Anna membuka penutup makanan dan meletakan nampan berisi kue-kue kering di atas meja.



“Aku siapkan cemilan untuk kalian, makan ya San. Ini enak sekali, laku sekali di restoran Kak Rey San.” Sandra mengangguk senang.


“Terimakasih banyak Kak, aku jadi ingin mencobanya.” Sandra dengan antusias turun dari ranjangnya.


“Kau bisa membuat pipi nya semakin bulat Kak.” Anna memukul pelan lengan Jofan yang sedang bercanda, menggoda Sandra. “Sebentar lagi akan ada giant di rumah kita kak, heheheheh......”


“Adek, mana boleh bicara begitu. Jangan dengarkan San, makan kue buatan Kak Anna. Enak sekali rasanya sayang.” Sandra masih terlihat biasa saja.


Jofan mengantar Anna yang menuju pintu keluar. “Jaga bicara mu Fan, jangan sampai mulut mengesal kan mu itu membuat Sandra marah.”


“Aku hanya bercanda, Sandra juga tahu aku hanya menggodanya.” Anna sudah keluar dari kamar mereka, Jofan kembali masuk dan mendapati Sandra yang sedang menikmati kue kering buatan Anna.


“Mau coba Fan? Enak banget nih.” Jofan mencobanya. Matanya berbinar karena rasanya benar-benar enak.


“Kak Anna memang the best.” Sandra juga mengangguk setuju. “Aku ke toilet ya sayang, jangan di habiskan. Nanti kau benar-benar berubah jadi giant sayang.” Meski terdengar kekehan dari mulut Sandra, ternyata dia sangat tidak suka dengan cara Jofan bercanda. Menyakiti perasannya sekali sebagai perempuan.


Jofan kini sudah sadar dengan kesalahannya, otak warasnya sudah berhasil menemukan jawaban atas kebodohan yang membuat Sandra murka dan di tengah malam berjalan sendirian meninggalkan rumah mereka karena merasa sangat kecewa.


“Dengar sayang, kau adalah wanita paling cantik dan paling banyak mengisi cintaku saat ini. Jangan ragu dengan diriku sayang, dan maaf kan semua ucapan ku yang menyakiti perasaan mu San. I love you Sandra, besar sekali cintaku sampai tidak bisa aku gambarkan sayang.” Sandra tersipu malu, dirinya merasa sangat menyesal membesar-besarkan masalah yang tidak perlu.

__ADS_1


Tapi Sandra tidak bisa mengontrol emsoinya yang tiba-tiba saja meledak tanpa ijin. Dirinya merasakan sesak hanya karena ucapan Jofan yang menggoda dirinya.


"Lain kali jangan pergi sendirian, rasanya Jantungku berhenti berdetak saat tidak menemukan mu di manapun sayang." Sandra mengangguk, menyadari kesalahannya yang sangat fatal.


__ADS_2