Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
The End


__ADS_3

Akhirnya setelah beberapa bulan berada di negeri orang, di tambah Melan sedang berbadan dua. Malik memutuskan membawa kedua adiknya kembali. Sudah cukup bersih, dirinya sudah percaya diri mereka akan baik-baik saja setelah kembali. Istrinya juga sudah uring-uringan ingin memeluk adik-adiknya.


Malik meminta orang kepercayaan nya menjemput mereka di bandara, kebetulan Baby baru selesai imunisasi dan badannya sedikit hangat. Malik tidak mau mengambil resiko untuk Putri kecil kesayangannya.


Ayu yang begitu bahagia mendekor rumah Mas Jofan dengan begitu cantik dibantu Anna dan Hanum,Sandra hanya mengawasinya dari dekat. Hiasan bunga-bunga bertebaran menghiasi setiap sudut rumah Mas nya yang cukup besar.



Akhirnya selesai, mereka sangat bersemangat. Tawa bahagia sudah terdengar seharian ini begitu tau Malik akhirnya membawa mereka kembali.


Malik juga rindu sekali dengan mereka berdua, rumah pasti akan segera ramai kembali dengan kedatangan mereka. Apalagi Melan dan Riyan begitu cepat mendapat karunia yang begitu besar, Melan tengah mengandung. Usianya baru sekitar 15 Minggu. Malik melakukan konsultasi dengan dokter yang menangani Melani selama di sana. Sudah aman, sudah boleh mereka melakukan perjalanan dengan pesawat terbang.


Malik yang sedang sibuk menggendong Baby mendekat pada Ayu yang tengah duduk di ruang keluarga menemani Sandra menonton acar Tv setelah selesai mendekor rungan. Anna dan Hanum sedang ikut Rey ke toko perabotan rumah tangga. Keduanya bersandar di sofa. Sedang kelelahan karena mereka begitu bersemangat sehingga mengeluarakan begitu banyak energi.


Malik mengecup bibir Ayuna sekilas, manis sekali istrinya hari ini. Dia sangat cantik tersenyum dengan begitu bahagia di hari ini. "I love you Mom." Ayu balik mengecup pipi Malik, dia yang sudah mengurus keluarganya dengan baik. Dia yang pantas dapat perlakuan manis darinya.


"Aku senang sekali mereka akan segera pulang. Terimakasih Daddy Sayang, Mommy sangat mencintaimu. " Malik mengangguk, tentu saja. Dia pasti sangat rindu adik manisnya.


"Dek....Mas belikan manisan. Adek mau icip dulu tidak?" Jofan sedang berada di dapur. Ayu yang ditawari mengangguk. "Mas siapkan dulu ya sayang."


"Aku mau juga ya Suami." Jofan mengacungkan dua jempolnya. Setelahnya membentuk Love ala korea.



"Mas mu ini tanpa diminta sudah tahu sayang." Sandra kembali menyandar kan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Perutnya sudah cukup besar membuat tubuhnya sulit bergerak. Sandra sudah lebih jinak, dia bisa mengontrol sedikit hawa nafsunya yang sering membuat Jofan naik pitam tapi di tahan.


"Ini Istri ku sayang, makan . Habiskan sayang." Jofan mengecup dengan sayang kening Sandra.


"Terimaksih suami sayang." Matanya berbinar indah. Dia semakin cantik di mata Jofan semenjak hamil.


"Cantik sekali istriku Love, lihat senyumnya." Ledek nya yang membuat Sandra tersipu malu. Ayu suka sekali melihat Mas nya yang sekarang lebih hangat. Dia lebih sering memuji Sandra sekarang.


"Manis sekali kalian ini." Celetuk Anna yang baru saja masuk. Tangannya repot sekali dengan banyak belanjaan. Jofan segera meraihnya.


"Duduk Love, aku ambilkan Jus. Aku baru saja membuatnya." Anna mengangguk setuju, kakinya sangat sakit berkeliling begitu lama menemani Ray mencari barang-barang untuk renovasi restoran.


"Terimakasih cintaku." Jofan tersenyum begitu manis. "Adek tinggal di sini kan? Jangan ijinkan dia tinggal di apartemen please." Pinta Anna, dia kehilangan sekali. Rumahnya jadi berbeda saat adik kecilnya tidak pulang beberapa bulan.


"Kalau kau tidak keberatan dengan dua wanita berisik tidak masalah sayang." Ucap Jofan sedikit melirik istrinya. Sandra menatap wajah Jofan kesal.


"Aku loh gak berisik, aku istri yang manis loh Mas." Jofan memeluk istrinya dengan lembut. "Memang nya aku berisik?" Penasaran sekali dengan maksud perkataan Jofan barusan.


"Aku suka karena kamu berisik sayang, hidupku jadi lebih berwarna." Sandra senyum-senyum sambil menikmati manisan mangga kesukaannya. Dia hanya bercanda.


Tidak lama mobil mereka sampai. "Mereka sudah sampai. Ayo kita ke depan." Ayu karena terlalu antusias sekali, kakinya sampai hampir menabrak meja dan membuat Malik menahnnya dengan kakinya.


"Hati-hati sayang, sakit tidak?" Ayu menggeleng, dia fokus pada kaki suaminya yang dia injak cukup keras. "Kaki ku baik-baik saja." Malik menggerakkannya dengan kuat. Berakting sebaik dan semanis mungkin agar Ayu tidak merasa bersalah.

__ADS_1



"Maaf Kak." Malik memeluk istrinya dengan lembut.


"Tidak papa sayang, ayo jemput adek kita ke depan." Yang lain ikut berjalan di belakang mereka.


"Hayyyy.....kangen....." Riyan masih menggandeng Melan, menahan nya agar tidak berlari. Dia suka lupa kalau perutnya ada Baby nya. Istrinya sangat lincah jika sedang bersemangat.


"Pelan-pelan Dek." Tegur Malik yang ngilu melihat Melan berjalan.


Ayu merentangkan tangannya lebar, menyambut dengan penuh suka cita kepulangan dua manusia kesayangannya.


"Lama sekali rasanya, kalian baik-baik saja kan sayang?" Melan mengangguk. Riyan ikut memeluk Ayu yang sedang memeluk Melani dengan erat. Mengecup pipinya yang terlihat sedikit berisi.


"Sehat Mbak, kerjaan kita cuma jalan-jalan menghabiskan uang Mas Jofan. Hehehehe...." Jofan tersenyum melihatnya.


"Gak papa, habiskan. Nanti Mas cari lagi." Riyan bergantian memeluk Kakak laki-laki yang selalu mendukungnya. Memeluk Malik yang selalu mengawasinya agar tetap aman, tidak lupa dengan Kak Rey yang terus mengiriminya obat-obatan dan makanan sehat lewat restoran miliknya yang ada di Inggris.


Perhatian mereka tetap sama meski jarak mereka terpisah cukup jauh. Bagi mereka, Riyan adalah anak paling kecil yang harus terus mereka awasi.


"Mom...." Ayu masih menahan diri untuk tidak melihat siapa yang memanggilnya, suaranya membuat degub jantungnya terpacu begitu keras. "Mommy...." Malik meraih tangan Ayu yang saat ini menunduk, merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.



"Sayang, anaknya panggil loh sayang." Matanya berkaca-kaca, pelan-pelan mencari sosok yang sangat dia rindukan.


"Sini Mom, peluk Kakak. Rindu sekali anak mu ini mom." Ayu mengusap air matanya yang keluar tidak tepat. Dia seharusnya tertawa bahagia. "Nyaman sekali sayang. Kakak hampir gila menahan rindu Mom." Ayu memeluk Putra nya cukup erat.


"Jangan menangis terlalu banyak sayang, nanti kamu sakit Mom." Ayu mengangguk.


"Tapi tidak mau berhen....ti Dad. Ahhhh....kalian semua pulang." Ayu masih menangis membuat yang lain tersenyum senang, dia menangis bahagia dengan kehadiran semua kesayangannya.


Anna yang juga terkejut ikut menitikan air mata, Mahes sedikit kurus. Mahes memeluk Anna, mengecup pipinya lembut.


"Aku kangen masakan mu Love, tidak ada yang bisa mengalahkan nya." Jemari Mahes mengusap air mata yang membasahi pipi Anna. Mamah nya hanya bisa menatap haru, bibirnya kelu.


Kini mereka berkumpul di ruang keluarga, bahagia sekali bisa berkumpul setelah cukup lama mereka terpisah. Bertambah bahagia karena Mahesa juga turut pulang, dia tidak memberi info karena sudah merencanakan kejutan ini bersama para orang tua laki-laki nya.


"Kak...lihat foto Abang, keren ya Kak?" Ayu memamerkan foto Ranu yang begitu terlihat maskulin.



"Kakak sudah tahu sayang, sudah lama Abang ingin bergabung dengan mereka." Ayu membulat, anak-anak memang tidak punya rahasia satu sama lain. "Ku kira akan sulit, ternyata kalian orang tua yang hebat. Abang pasti senang bisa bergabung."


"Mommy akan selalu ada mendukung kalian." Mahes mengecup pipi Mommy nya. Rindunya begitu dalam, dirinya mencoba kuat setengah mati menahan rindu.


"Dimana Abang Mbak? Aku tidak lihat." Ayu meraih ponselnya. Riyan rindu keponakannya. Dia pasti sudah sangat hebat sekarang, dirinya sering berkunjung ke tempat Mahesa selama di Inggris.

__ADS_1


Kebetulan Malik memang mengirim dirinya dan Melan ke sana. Ke tempat yang cukup indah untuk mereka bulan madu.


"Aku tanya dulu sama Dokter Adam, tadi katanya Dokter yang mau jemput Abang." Ayu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Ayu : Dokter, sudah di mana?


Adam mengirimkan foto dirinya dan Ranu yang masih berada di dalam mobil.



Adam : Sebentar lagi sampai sayang, sudah di depan gerbang masuk perumahan.


Ayu : ok, lelah sekali wajah kalian berdua.


Tidak lama mobil mereka sampai, diikuti mobil Sarah yang juga masuk ke halaman Mas nya.


Ranu segera menghambur ke pelukkan Mommy nya, Ayu berdiri menyambutnya di depan teras. "Ahhh.....sampai juga akhirnya. Kakak sudah sampai Mom?" Ayu mengangguk. Ranu menggandeng tangan Mommy nya memasuki rumah.


mereka saling melepaskan rindu, sedari kecil selalu bersama dan baru kali ini mereka berpisah cukup lama.


"Mom....ikut Kakak sebentar yah." Mahes menarik Ayu ke depan teras. Meski bingung, Ayu tetap mengikuti Putra nya. "Berdiri di sana Mom." Mwhes menyerahkan bunga yang dia ambil dari vas.


"Mau foro?" Mahes mengangguk. "Buat apa?"


"Supaya kalau rindu, Kakak bisa lihat wajah cantik Mommy." Ayu malu-malu berdiri di tempat yang Mehes mau.



"Jangan mengerjai Mom. aku butuh wajah Mommy bukan bunganya sayang." Ayu tertawa merasa terhibur mengerjai Putra nya.


selesai dengan Mommy nya, Mahes memotret semua orang-orang kesayangannya. Mondar mandir mencari Papah Rey yang tidak ada di manapun.


"Cari siapa sayang?" Tanya Adam yang sedang sibuk dengan mainanya.



"Papih lihat Papah Rey?" Tanya Mahes menunduk melihat mainan yang sedang Papih nya coba rakit.


"Di ruang kerjanya sayang. Dia sedang pilih-pilih hiasan untuk restoran barunya yang akan segera Papah Buka." Jelas Adam yang tatapannya masih fokus pada mainanya.


"Kakak ke sana ya Pih, nanti balik lagi main ini dengan Papih." Adam mengangguk.


Akhirnya Mahes dapat foto Papah Rey. Senyumnya manis sekali saat Putra nya meminta dirinya untuk bergaya.



Kehidupan mereka di warnai kebahagiaan. Meski sesekali ada ujian, namun mereka tetap saling menguatkan bersama-sama.

__ADS_1


Bahagia tidak harus dekat, bahagia tidak harus bersusah payah. Sederhana saja asal saling mengutarakan cintanya dengan tulus pasti akan begitu indah.


__ADS_2