
Sandra terpaku di tempatnya, rasanya sakit sekali mendengar ucapan Jofan yang begitu menusuk sanubarinya. Tidak sampai hati seharusnya dia memperlakukan dirinya seperti ini, tapi entah kenapa Jofan bisa melalukan hal ceroboh yang menyakitkan.
“Tenang yah, sepertinya Mas hanya sedang kelelahan Kak.” Riyan mengusap punggung Sandra yang saat ini ada di dalam pelukkan Melan. “Nanti aku coba bicara dengannya, jangan di ambil hati ya Kak.” Melan mengangguk, matanya mengerjap berulang kali mencoba untuk tidak menangis.
Anna dan Sarah yang ada di sana juga sedikit tersentak melihat sikap Jofan yang begitu berlebihan pada Sandra. Dia masih tidak mau belajar dari kesalahannya, yang satu suka sekali bercanda berlebihan dan yang satunya suka sekali tersinggung dengan ulah istrinya.
“Sandra ok kan sayang?” Tanya Anna yang berdiri di sisi Sandra. Kasihan sekali mereka selalu saja berseteru padahal Sandra sedang hamil muda.
“Ok Kak, aku minta maaf yah. Kalian pasti merasa terganggu yah, aku bercandanya kelewatan yah?” Anna tidak tega sekali, kali ini Jofan benar-benar kelewatan. Apa salahnya bercanda dengan adiknya.
“Jangan merasa bersalah, marah saja pada Jofan. Dia yang harus Kak Sarah beri pelajaran. Tunggu di sini!” Sandra mencekal tangan Sarah yang sudah mau melangkah.
“Sepertinya aku yang berlebihan, Jofan memang tidak suka aku bercanda kelewatan seperti tadi. Jangan salah kan dia Kak, nanti aku coba bicara dengan Mas Jofan.” Melan menuntun Sandra duduk di ranjangnya yang sudah sangat rapih.
“Kenapa kau manis sekali sayang. Kalau begitu aku akan mengikuti maumu, sekarang istirahat yah, jangan memikirkan hal yang tidak perlu.” Sarah tersenyum hangat.
“Istirahat di sini saja yah, jangan temui Jofan dulu. Dia pasti seperti biasanya butuh waktu berpikir dengan benar. Kadang-kadang karena dia mencintai mu berlebihan sampai tidakbisa mengontrol ucapannya.” Sandra mengangguk setuju dengan permintaan dan saran Kak Anna.
“Aku tidur saja yah, mata ku juga sangat mengantuk. Ahhhh....kapan lagi aku tidur di kasur pengantin baru seperti ini.” Sandra berusaha bersikap setenang mungkin. Tidak mau merusak momen bahagia yang seharusnya memang memenuhi keluarganya saat ini, jangan hanya karena masalahnya dengan Jofan semua orang jadi merasa terpuruk.
Cukup dirinya, cukup dirinya yang merasakan sesak yang begitu mendalam. Sandra tidak mau melibatkan orang lain berperang dengan kesakitan karena sikap suaminya.
Sandra mencoba memejamkan mata, meski tidak mengantuk dirinya mencoba untuk tidur dengan nyaman. Biarkan saja Jofan dengan kekesalnnya, Sandra tidak mau ikut marah karena semua ini berawal dari ulanya yang berlebihan.
“Kenapa muka mu masam begitu?” Tanya Malik yang melihat Jofan masuk ke dalam ruangan dengan wajah kusut. “Berikan Baby, nanti anak ku ikutan sedih lihat Om nya sedih begitu.” Jofan menyerahkan Baby ke tangan Malik. Dia anteng sekali tidurnya.
“Dia marah pada Sandra, apa aku boleh ikut campur?” Ucap Sarah yang geram dengan ulah Jofan, dia laki-laki manis yang tidak mudah terpancing emosinya setahu Sarah. Entah apa yang merasukinya sampai menjadi pemarah dan suka berkata-kata kasar, Jofan laki-laki dingin yang malas bicara.
Malik hanya menatap penasaran pada Sarah dan Jofan. Adik nya saat ini hanya menunduk, dia seperti orang yang kebingungan. Matanya jelas sekali masih menyorotkan amarah, tapi ada kesedihan yang menyelimuti tatapan matanya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi? Katakan. Aku ini kakak mu Fan, jangan pendam sendiri. Ayo cari jalan keluarnya sama-sama Dek.” Jofan memijat pelipisnya, sungguh penyesalan tengah menyelimuti dirinya.
“Aku....aku kenapa marah pada Sandra, aku tidak sadar melakukannya. Aku hanya takut Kak...” Suaranya sedikit bergetar. Suami mana yang tidak menyesal jika menyakiti hati wanita yang seharusnya selalu ditaburi kasih sayang darinya sebagai suami.
“Kenapa marah? Apa Sandra melakukan hal berbahaya?” Jofan menggeleng. “Lalu apa yang membuat mu marah Fan? Sandra membuat mu kecewa?” Lagi-lagi Jofan menggeleng.
“Sandra hanya bercanda kesakitan Al, kita juga kaget. Tapi Jofan langsung marah-marah pada Sandra.” Sarah mencoba menjelaskan.
“Sandra kira suaminya akan baik-baik saja kalau tahu dia kenapa-napa padahal suaminya ada di sisinya. Sekarang coba untuk tenang, kadang mereka memang membuat kita ketakutan, apalagi saat mereka hamil.” Malik paham perasaan Jofan.
“Tapi tidak seharusnya bicara kasar Al. Aku saja tidak suka mendengarnya.” Malik menggelengkan kepalanya, meminta Sarah untuk tidak banyak bicara dulu agar Jofan tenang. Sarah mengangguk paham.
Malik pernah merasakanya, tidak mudah menjadi calon Ayah baru. Dia dipenuhi ketakutan dan rasa khawatir yang berlebihan. Kadang kala ketakutannya membuat seorang calon Ayah menjadi begitu menakutkan, mudah marah, emosi yang sering menggebu-gebu tanpa sebab yang jelas dan selalu merasa ketakutan akan kegagalan.
“Kau kira aku dulu baik-baik saja saat aku tahu Ayuna hamil?” Malik menertawakan kebodohanya dulu. “Dunia ku terasa berat sekali, banyak hal mudah yang menjadi sangat sulit aku lakukan. Aku tidak bisa berpikir dengan baik dan suka sekali membuat Ayuna menangis karea banyak aturan dan larangan.” Jofan menatap Malik.
“Tapi aku tidak seharunya membentak Sandra dan bicara kasar seperti tadi Kak. Aku tidak punya muka menemuinya.” Jofan mengusak kasar wajahnya.
“Bagus kalau kau sadar! Lain kali jangan mengulanginya, wanita hamil juga stress kalau suaminya suka takut berlebihan. Dia akan merasa gagal kalau membuat kalian kecewa, jangan bersikap seenaknya Fan. Kakak tahu kamu bukan laki-laki seperti itu.” Sarah beranjak dari duduknya, mengecup pipi Jofan dan meninggalkan mereka berdua. “Setelah ini rayu dia supaya tidak sedih lagi yah.” Jofan mencoba tersenyum meski sulit.
“Aku mau berendam, jangan ganggu aku ya Al.” Malik tersenyum. Senang melihat Sarah menikmati waktunya. Malik sampai harus menyita ponsel Sarah agar liburan mereka tidak terganggu telpon-telpon dadurat dari rumah sakit.
Malik menatap wajah Jofan yang benar-benar penuh penyesalan, sulit digambarkan saat perasaan bersalah memenuhi diri seorang laki-laki yang mengecewakan pasangannya. Apalagi sampai menyakiti perasaan mereka yang begitu lembut.
“Aku harus bagaimana? Aku tidak mau membuatnya sedih, tapi aku suka tidak bisa mengontrol emosiku Kak.” Malik menghela nafasnya panjang.
“Peluk dia Fan, emosinya akan luruh dengan sendirinya.” Jofan tidak sanggup berdiri di depan Sandra.
“Aku tidak kuat menemuinya. Sandra pasti masih sangat kecewa pada ku Kak.” Malik mengangguk, pasti kecewa. Tapi tidak boleh dibiarkan terlalu berlarut.
“Jangan bicara panjang lebar, kau hanya perlu memeluknya dengan erat. Jangan bicara sampai Sandra yang bicara pada mu. Emosinya akan hilang saat dia merasakan ketulusan mu Fan.” Masih merasa ragu dengan dirinya sendiri. "Percayalah padaku, itu sangat ampuh.” Jofan berdiri, dirinya tidak mau lama-lama membiarkan Sandra berpikiran yang tidak-tidak tentang emosinya.
__ADS_1
“Akan aku coba. Aku benar-benar ingin emosiku lenyap. Aku kesal suka kelepasan pada Sandra Kak.” Malik tertawa, lucu sekali melihat Jofan memaki dirinya sendiri.
Dia ingat bagaimana dirinya menghadapi emosinya sendiri saat masih pengantin baru. Hal yang sangat sulit, bahkan sampai sekarang Malik masih suka membuat Ayuna nya sedih.
“Mas....kok teriak-teriak?” Ayu mendekat, wajahnya tengah meminta penjelasan pada Jofan yang menatapnya lekat.
Ayu mendekat. “Peluk aku Dek, aku butuh tenaga menghadapi Sandra.” Jofan meraih tubuh Ayuna dalam dekapanya. “Marahi aku love, aku sudah membuat Sandra dan Bayi ku sedih. Aku harus di hukum.” Ayu menepuk pungung Jofan dengan lembut.
“Bertengkar lagi?” Jofan menganggukan kepalanya yang masih bersandar di pundak Ayuna. “Jangan marahi Ibu hamil Mas, kasihan nanti Baby ikut sedih Mas.” Jofan hanya bisa mendengarkan ucapan adiknya. “Dimana Sandra nya? Mas tinggal sendirian?” Jofan mengangkat kepalanya. Mencium pipi Ayu sebelum beranjak dari tempatnya. Energinya sudah penuh, dirinya siap menghadapi kemarahan apapun yang akan dirinya terima.
“Sekarang Mas mau jemput. Love you Dek.” Ayu mengangguk. Pengantin baru memang masih penyesuaian, menyatukan dua pribadi yang berbeda memang tidak mudah. Banyak pertengkaran dan perselisihan yang pasti terjadi.
Malik menatap punggung Ayuna yang terlihat masih menatap Mas nya yang mulai menjauh. Senyumnya begitu cantik saat berbalik menghadap Malik, suaminya tidak kalah manis tersenyum padanya. “Baby tidur Dad?” Malik mengangguk. “Aku kangen....” Ayu mencium pipi Putri kecilnya yang terlihat begitu nyaman. Setelahnya mencium pipi suaminya, membuat pipi Malik merona.
“Diamana anaknya? Kok bisa kesini Mom?” Tanya Malik penasaran, Mahesa tidak mungkin membiarkan Mommy nya bergeser sedikit saja dari sisinya.
“Kakak nya bobo Dad, aku kangen Baby. Dia juga pasti ingin minum susu ya Nak? Kasihan dari pagi sama yang lain terus.” Malik mendongakkan kepalanya, menatap wajah cantik istrinya yang kalau bicara bibirnya sampai mengerucut membuatnya gemas.
Ayu melingkarkan kedua tangannya di leher Malik, dirinya juga rindu seharian ini tidak memeluk suaminya yang tampan dan rupawan. “Kenapa? Kenapa senyumnya begitu?” Malik suka curiga kalau Ayu senyum-senyum nakal padanya.
“Ternyata aku tidak bisa hidup tanpa mu Dad. Aku sebentar saja sudah sangat rindu.” Bisik Ayu yang membuat telinga Malik memerah. “I love you Daddy.” Keduanya bermesraan sebelum anak-anaknya datang mengganggu.
Sementara itu di kamar pengantin, Jofan sedang menatap punggung Sandra yang tertidur pulas di kasur milik pengantin. Perasaan bersalah nya semakin besar karena Sandra terlihat begitu tenang setelah sikapnya yang begitu menyakitkan. Perlahan Jofan naik ke kasur, melingkarkan tangannya di perut Sandra memeluknya dari belakang.
Sandra sedikit menggerakkan tubuhnya, Jofan mengecup kepala Sandra dengan lembut. Sandra yang tahu kalau itu Jofan membalikkan tubuhnya, menenggelamkan tubuhnya di pelukkan Jofan yang begitu nyaman.
“Masih marah?” Tanya Jofan yang di jawab gelengan kepala. “Kenapa tidak berteriak padaku, kau seharusnya marah dan membentakku balik San.” Sandra menggeleng. “Maaf kan aku ya sayang.” Sandra menganggukan kepalanya.
“Aku ngatuk Mas.” Ucapnya yang membuat Jofan tidak mau lagi bicara panjang lebar. Tangannya membelai lembut punggung kesayangannya. Menyalurkan semua rasa sayangnya yang begitu besar.
__ADS_1
Bagaimana dirinya melampiaskan amarahnya yang begitu menyakitkan pada Sandra, dia sebaik ini mau melupakkan amarah suaminya yang pasti sudah menyakiti perasannya. Dia memilih tidur dan melupakan segala kesalnya. Tidak mau ikut marah apalagi bicara hal menyakitkan yang bisa melukai dirinya. Jofan menciumi Sandra penuh rasa syukur, meyesal kesekian kalinya karena tidak bisa menjaga emosinya sendiri.