
“Kak sebentar saja, aku mohon. Iin tidak mungkin menyakitiku. Dia sahabatku.” Pintanya yang sedari tadi di tolak Malik.
“Ok, kalau dia macam-macam. Jangan salahkan aku kalau bertindak keras.”
Cup….
Mengecup pipi suaminya yang menggemaskan. Ayu segera berlari menghampiri sahabatnya Iin Permatasari. Lama sekali mereke tidak bertemu setelah lulus SMP.
“In….” Menggapai tangan Iin yang terlihat terkejut dengan kedatangan Ayu. “In….ku mohon, jangan seperti ini In. Kita kan sahabat.” Memelas pada sahabatnya yang dulu saling menyayangi. "Katakan apa salahku in!"
“Lebih baik kita tidak saling bertemu Yu, biarkan aku tenang dengan keluargaku. Kamu tidak tahu bagaimana aku berjuang selama ini.” Ucapnya penuh kesedihan.
Malik merasa geram, Ayu terlihat memohon sedangkan sahabatnya yang Malik anggap tidak tahu diri menolak wanita sebaik Ayuna nya. Malik tidak habis pikir dengan permintaan Ayu yang ingin menyapa sahabatnya yang entah masih menganggapnya sahabat atau tidak.
“Apa salahku In, aku mohon jelaskan padaku. Aku tidak tahu kesalahanku apa, kenapa kau sangat dingin padaku.” Iin tidak sengaja mendorong tubuh Ayu yang terus mendesaknya meminta penjelasan.
“Ma…maaf. Aku tidak bisa Yu, aku mohon jauhi keluargaku. Aku mohon Yu, selama ini kami sudah hidup cukup tenang. Aku mau semua berjalan sama sebelum kami bertemu dengan mu.” Membuang mukanya.
Malik mengepalkan tangan tidak tahan, Ayu benar-benar diperlakukan sangat buruk oleh orang yang dianggap sahabatnya.
“Cukup…..!!!!” Malik menarik Ayu masuk ke dalam mobil.
“Kak…..lepaskan, sakit Kak.” Malik mengendurkan genggaman tangannya. “Kenapa kalian begini padaku. Aku salah apa?” Tanyanya yang merasa bingung dengan perubahan sikap sahabatnya.
Malik memeluk semestanya tidak tega. Dirinya terbakar emosi yang malah semakin menyakiti perasaan Ayu. Pergelangan tangannya bahkan memerah. Terlalu kuat.
"Tolong biarkan saja, jangan biarkan dia menyakitimu sayang." Mengecupi puncak kepala Ayu yang ada dalam dekapannya.
"Sikap nya aneh, aku tidak merasa melakukan kesalahan. Aku salah apa." Masih berpikir keras atas kesalahannya. Ayu akan terus di selimut rasa bersalah jika ada yang bersikap dingin padanya. Sungguh dirinya ingin meminta maaf dengan benar.
"Aku tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu, jangan biarkan mereka menguras energi mu memikirkan hal yang tidak penting."
"Maaf Kak, aku minta maaf membuat Kak Malik kesal."
"Jangan minta maaf, aku hanya tidak rela siapa pun menyakitimu sayang." Ayu mencoba terlihat tegar, tidak mau Malik merasa tersakiti karena dirinya terluka.
"Hay Mom." Sapa Ranu yang baru saja masuk mobil duduk di depan di sebelah Aldo. "Kenapa Dad?" Ranu menangkap wajah Daddy nya yang sedih.
Ranu menatap keduanya dan sadar ada sisa air mata di sudut mata Mommy nya yang mendunduk.
"Abang tidak ada kelas lagi kan?" Mengalihkan pembicaraan. Ranu menggeleng.
"Abang sudah selesai." Matanya masih memperhatikan Mommy nya yang diam saja dari spion.
__ADS_1
"Ayo kita makan siang, Mommy mu lapar." Ucap Malik agar Ranu tidak lagi curiga. Mengusap perutnya yang keroncongan.
Aldo dengan sigap segera menancap gas menuju restoran Rey.
Ranu : Daddy please tell me
Malik : Mommy ok Bang, Daddy yang tidak ok.
Ranu : no problem, selama bukan Mommy ku yang Sad.
Malik : ya Tuhan, Daddy tidak ada harganya kah di mata kamu Bang.
Ranu : Daddy pelindung, Mommy semesta ku yang harus Abang jaga.
Malik : suka-suka mu Bang, Daddy no comen
Ranu : good Dad.
"Kalian membicarakan Mommy yah." Ayu sering baca percakapan Malik dan Ranu diam-diam. Dirinya tersanjung dengan perlakukan mereka di belakangnya. Sangat manis.
Ranu ragu sekali ingin bicara dengan Mommy nya. Namun dirinya benar-benar penasaran.
"Tidak Mom." Ranu mengurugkan niat bicaranya yang penasaran, hanya tersenyum tidak ingin membuat Mommy nya semakin berpikir keras.
"Kenapa sayang, Abang mau makan apa?" Tanya Anna yang kini sedang menyiapkan makanan. Senyumnya menyimpulkan kegalauan hatinya, pasti ada yang sedang Putranya pikirkan.
"Abang sebenernya ingin ikut camping, tapi Mommy sepertinya tidak suka. Abang ingin tanya keputusan Mommy setelah ikut rapat sekolah." Bisiknya.
"Mommy bisa di tanya baik-baik kok Bang, bicara pelan-pelan. Mommy sangat lembut hatinya." Mengingatkan Ranu agar berhati-hati saat bicara.
"Makanya Abang ragu, takut sekali Abang menyakiti hati Mommy." Masih menimang bagaimana menanyakan pada Mommy nya.
Anna menggenggam tangan putra nya. Memeluknya erat karena Ranu butuh dukungan. "Mommy mu itu wanita hebat, asal bicara dengan baik Mommy pasti beri ijin sayang." Membalas pelukkan hangat Anna.
"Mamah paling tahu perasaanku. Thanks Mah."
"Serius sekali ngobrolnya." Ayu nimbrung duduk dengan manis.
"Ayo kita makan, Mommy tadi bilang lapar."
"Tunggu Daddy sebentar. Masih ada tamu Papah Rey yang Daddy mu juga kenal di bawah." Jelasnya.
Malik kaget melihat siapa yang Biru bawa masuk ke ruangan setelah tamunya pergi. Matanya melotot tidak percaya.
__ADS_1
"Siapa Bi....."
"Bos, ini teman Abang Ranu yang Bos minta aku bawa ke sini." Malik ingat betul wajah Putri dari sahabat istrinya yang siang tadi dia temui.
"Apalagi ini...." Menatap tajam gadis berambut ikal yang duduk dengan santai di depannya. "Kau yang bernama Salina?" Mengangguk.
"Kenapa membawa ku ke sini Paman." Tanya nya penasaran. "Apa aku melakukan kesalahan?" Salina mengenal siapa yang duduk di depannya sekarang.
Brukkkk....
Seorang wanita masuk dengan wajah penuh kemarahan, menarik tangan anak gadisnya agar berdiri di belakangnya. Malik sudah paham situasi macam apa ini.
"Tolong jangan ganggu keluarga kami Tuan, aku mohon menjauh dari kami." Malik heran. Apa maksud dari ucapan nya.
"Mah....." Salina terkejut dengan kedatangan Ibunya.
"Aku tidak bermaksud menyakitinya. Hanya ingin memberikan peringatan pada Putri mu yang bicara tidak baik tentang Mommy nya Ranu." Mencoba menjelaskan agar kesalah pahaman tidak berlarut.
"Aku tahu, aku dengar. Tapi dia hanya anak kecil, dia bicara tanpa berpikir panjang." Mencoba membela Putri nya.
Salina beringsut, teryata Ibunya tahu dirinya punya kelakuan buruk selama ini. Padahal Salina selalu di perhatikan dengan baik oleh kedua orang tuanya.
"Ada apa Kak....." Ayu mendapati sahabat nya yang tengah menangis bersama Putrinya. "In...kamu gak papa kan?" Ayu langsung turun saat mendengar suara kencang dobrakan pintu. Was-was bahaya mengancam Suami dan Kakanya.
"Aku atas nama Putri ku meminta maaf padamu Yu. Aku mohon maafkan Putriku. Aku mohon jauhi keluarga ku Yu." Suaranya bergetar, sahabatnya sungguh-sungguh meminta dirinya menjauh.
“Bicara apa kau ini, jangan bicara yang tidak-tidak.” Rey menarik Ayu ke sisinya.
“Tenang sayang.” Tidak mau hal buruk menimpa adik kesayangannya.
"Baiklah, aku tidak akan lagi meminta penjelasan. Aku akan berusaha tidak lagi meminta mu memaafkan ku." Ayu mencoba memahami keadaan meski dirinya benar-benar tidak tahu apa kesalahannya.
"Terimakasih, saya pamit. Permisi." Menarik Putrinya dengan keras. Iin terlihat sangat marah, wajahnya tidak mencerminkan perasaan sayangnya pada Ayu seperti dulu, Ayu tidak mengenalnya.
Malik tercengang. Bisa-bisa nya kejadian seperti ini terjadi.
“Sayang, kamu Ok?” Malik memeluk Ayu dengan erat. Keramah tamahan Ayu di tolak mentah-mentah oleh orang yang Malik bawa hadir ke hidupnya.
Malik memang mencari tahu latar belakang kedua sahabat Ayu yang dulu sangat dekat dengannya. Membawa Karang bekerja sama dengan perusahaannya agar bantuannya tidak terlihat menghina, tapi apa yang Malik dapatkan kini sangat mencengangkan. Sahabat baiknya berubah menjadi tidak terkendali.
Ayu sendiri bahkan bingung dengan perubahan sikap sahabatnya, dirinya merasa tidak melakukan kesalahan namun dibenci begitu dalam. Ayu mencoba tidak memikirkan dan membiarkan saja semua terjadi, dirinya tidak mau larut menyesali dan merasa bersalah.
Pekerjaan besar yang harus Malik selesaikan agar Ayuna nya bisa kembali hidup dengan tenang.
__ADS_1