Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Keberangkatan


__ADS_3

Malik melangkah dengan begitu tergesa-gesa, kepalan tangannya sudah cukup keras sampai melukai tangannya sendiri tanpa terasa. Mata nya menatap tajam lurus pada pria yang saat ini duduk terikat tali yang cukup besar.



Buggggg....bugggggg...bugggg....


Pukulan bertubi-tubi dibarengi teriakan keras dari laki-laki yang tertangkap setelah mencoba mencelakai Putra nya. Malik benar-benar di kuasai amarah, tidak ada yang menghentikannya menghajar pria jahat yang mencoba merenggut nyawa Putranya yang berharga.


“Kau tau sedang berurusan dengan siapa saat ini! Kau mau mati! Berani-berani nya tangan kotormu ini menyentuh Putra ku!” Pukulan kembali mendarat, tangan Malik sudah gemetar hebat.


“Maaf Pak, Bapak harus dengar ini.” Malik mencoba mendengarkan rekaman hasil penyelidikan anak buahnya.


“Mereka mengincar Adik ku?” Biru mengangguk.


Rupanya dia hanya seorang suruhan dari laki-laki hidung belang yang menaruh hati pada Melani. Dia nekad ingin mencelakai Riyan agar Melani bisa bebas dia gapai. Mereka salah sasaran menyangka Ranu adalah Riyan.


“Tetap saja kalian harus memberikannya hukuman setimpal. Dia hampir saja membunuh Abang.” Malik mengusap sudut matanya yang terus berair. “Cari laki-laki yang dia maksud Ru, jangan sampai lepas.” Biru mengangguk paham.


“Sekarang mari saya antar kembali ke villa Pak.” Malik segera berdiri, dia tidak mau terlalu lama meninggalkan keluarganya.


Tidak lama dia sampai, di sambut Adam dan Rey. Malik menghela nafasnya, Adam tidak mengindahkan permintaannya agar tetap berada di luar.


“Bagaimana Al, siapa mereka?” Tanya Adam yang begitu penasaran. Malik menggeleng, dia lemas setelah mengeluarkan begitu banyak energi kemarahannya.


“Kenapa kau sudah kembali? Aku kan sudah melarang mu ke sini Dam, aku belum tahu sekarang aman atau tidak.” Adam sedikit tersenyum, nampaknya Malik belum tau kalau Ayu terluka. “Kenapa wajah mu seperti itu?”



“Tadi Jofan memintaku kembali, dia tidak bisa menghubungi orang lain. Dia tidak percaya lebih tepat nya.” Serius sekali wajah Adam menjelaskan. “Kakinya hanya mendapat dua jahitan Al. Tidak berbahaya, aku sudah memastikanya.” Malik berdiri, bingung dengan siapa yang dirinya maksud.


“Abang terluka? Aku tadi sudah pastikan dia tidak terluka sedikitpun Dam.”


Adam berdiri, menarik Malik yang sudah berdiri dengan wajah dipenuhi rasa khawatir. “Duduk dulu, jangan lagi membuat keributan. Anak-anak sudah cukup panik dan heboh saat aku bilang akan menjahit luka di kaki Mommy nya.” Malik menatap tajam wajah Adam, dadanya bergemuruh hebat.


“Kaki nya terluka Dam? Bagaimana bisa?” Malik lemas mendengarnya.

__ADS_1


“Menginjak pecahan gelas Al. Aku sudah pastikan itu berasal dari dapur.” Timpal Rey membuat Malik terduduk cukup lemas.



“Kenapa tidak berdarah, aku bahkan melihat kaki telanjangnya saat dia memeluk Abang Dam.” Malik ingat betul bagaimana kaki gemetar Ayu.


“Pecahanya menacap cukup dalam, itu yang membuat darah nya tidak lantas keluar. Jofan panik, karena setelah dia mencabutnya darah tidak mau berhenti. Dia buru-buru memintaku datang.” Lagi-lagi perasaan bersalah menyeruak, Malik merasa gagal menjaga Ayu selalu aman saat bersamanya.


“Apa aku bodoh! Kenapa aku tidak melihat kakinya terluka Dam. Aku sibuk menghajar pelaku dan membiarkan Ayu menenangkan Abang sendirian.”


“Kau panik Al, kami saja tidak bisa setenang dirimu. Kau hebat, Ayuna berada di sisi laki-laki yang tepat. Semua ini memang tidak bisa kita hindari, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri Al.” Rey mencoba menenangkan.


“Lukanya juga tidak berbahaya, dia sudah baik-baik saja Al. Anak-anak sedang menemani bersama yang lain.” Malik menarik panjang nafasnya. “Cobalah terlihat baik-baik saja Al, kita harus membuat Ayu nyaman. Kau tau kan apa yang aku takutkan?” Malik mengangguk. Mencoba tersenyum meski sangat sulit dilakukan.


“Aku masuk yah, kalian juga siap-siap. Sebentar lagi kita pulang.” Mereka bahkan sudah siap. Segera mempersiakan diri karena jadwal mereka untuk kembali dipercepat, Malik tidak mau berada di sana terlalu lama.


Melan dan Riyan bahkan sudah Malik kirim lebih awal untuk pulang. Mereka harus tetap aman karena Riyan yang mereka incar. Malik tidak mau lengah dan membahayakan adiknya.


“Dad....” Ayuna tersenyum begitu manis, sudah tidak ada lagi amarah dalam dirinya. Suaminya terlihat begitu kelelahan. Malik memeluk erat wanita kesayanganya, mencium setiap jengkal wajah cantik yang selalu membuatnya nyaman. “Daddy ok kan?” Tanya Ayu merasa khawatir.


Mahesa, Ranu dan Hanum hanya menatap bingung. Mereka tahu saat orang tuanya tidak baik-baik saja, sampai pada mereka perasaan yang tengah Malik rasakan. “Kalian jaga in Mommy?” Ketiganya tersenyum pada Malik. “Bagaimana kakinya? Apa masih sakit?” Ayu mengangguk.


Malam mereka di tutup dengan haru biru, penuh perasaan menyesal tapi juga bangga karena mereka semua baik-baik saja dengan penuh bahagia. Malik tidak mungkin menyangkal perasaan bahagianya, dia bangga keluarganya selalu saling menjaga satu sama lain.


Percaya pada dirinya yang terus mereka andalkan untuk menjaga mereka tetap aman. Tidak pernah menyalahkan meski dirinya bisa saja mereka salahkan atas apa yang terjadi.


***


Mahesa berjalan dengan percaya diri, menenteng tas besarnya yang berisi berbagai barang bawaan untuk kuliahnya di negeri yang cukup jauh dari tempat keluarganya tinggal saat ini. Berat, tapi kakinya tidak boleh berhenti.



“Kakak makan yang banyak ya sayang. Jangan suka diet-diet yang terlalu memikirkan bentuk tubuh mu. Mommy suka kalau pipi Kakak berisi.” Cerewet sekali membuat Mahesa senyum-senyum.


Sesekali mencium pipi Mommy nya yang terus bicara. Mahesa akan merindukan wanita yang menjadi cinta pertamanya, tempatnya mengalahkan Sarah kalau untuk urusan perhatian dan cinta Mahesa. Sarah bahkan sering cemburu, tapi tidak bisa menepis sayang Putra nya pada Ayuna. Cinta nya sebegitu besar karena Ayu juga mencintainya begitu dalam. Bahkan Sarah tidak mencurahkan cinta sebesar Ayu pada Putranya.

__ADS_1


“Kakak.....dengar kan Mommy bicara?” Mahes mengangguk, menarik Ayu dalam pelukannya. “Jangan merasa sendirian ya sayang. Mommy akan selalu ada di hati Kakak sayang.” Mahes mengangguk, bersandar di pundak ternyaman.


“I love you Mom.” Mahes mencoba menahan diri agar tidak menangis. Dia ingin melepas semua orang dengan senyum bahagia.


“Mommy love nya tidak bisa di ucapkan lagi dengan kata-kata Kak, besar sekali. Tidak ada alat yang bisa menghitungnya. Saking besarnya.” Mahes berjongkok, memeriksa kaki Mommy nya yang masih menggunakan perban.


“Masih sakit Love?” Ayu menggeleng. “Jangan lagi lari-lari tanpa alas kaki ya Mom. Bahaya sayang.” Ayu mengangguk.


“Sebentar lagi juga sembuh Kak, sudah Kak, sini Mommy mau peluk.” Mahes lantas berdiri. Memeluk sepuasanya sebelum jarak yang jauh membuat dirinya tidak bisa memeluk Mommy nya sepuasnya.



“Abang....” Teriak Ayu yang melihat Ranu berjalan. Wajahnya sedikit lesu, bagaimana tidak. Dia akan segera berpisah dengan sosok Kakak laki-laki yang selalu setia menjadi sahabatnya. Ranu berjalan mendekat, wajahnya masih terlihat begitu sedih.


“Kakak sudah yakin?” Mahes tertawa, pertanyaan macam apa yang di lontarkan adiknya. “Jangan menyesal kalau sudah sampai di sana, jangan coba-coba mundur dengan keputusan yang sudah Kakak ambil ya Kak, aku bisa meniru mu.” Ancam Ranu mencoba menggagalkan keyakinan Kakak nya.


“Abang......kok bicara nya galak begitu sayang.” Anak laki-laki selalu gengsi mengutarakan rasa sedihnya, ucapanya bahkan sudah menggambarkan perasannya saat ini. “Abang sedih yah? Nanti kita berkunjung kalau Abang libur ya Nak.”


“Tidak Mom, Abang hanya mencoba memberitahu Kakak saja loh Mom.” Ayu dan Mahes saling bertukar pandangan. Sedih tapi tidak mau mengaku.


“Kakak, sudah siap semuanya.” Malik mendekat, memeluk Mahesa dengan erat. Bergantian dengan yang lainnya.


Suara tangis Sandra membahana, dia tidak bisa menahan kesedihannya. Dia terus menangis sampai Jofan akhirnya membawa Sandra pulang lebih cepat, Jofan tidak mau Sandra stress dan berpengaruh buruk pada kandungannya.


“Hanum.....Daddy akan menjaga mu sampai aku sendiri yang akan mejemput mu nanti.” Bisik Mahes membuat Hanum menundukan pandangannya, pipinya merona. “I love you Han.” Hanum mendorong Mahes cukup keras. Ungkapan perasannya terlalu mendadak, Hanum belum siap membalasnya.


“Sayang.....kenapa?” Tanya Malik yang melihat Hanum terlihat malu. “Jangan ganggu Putri ku ya Kak.” Mahesa menyembunyikan wajah malunya di pelukkan Anna.


“Kakak akan rindu masakan mu Mah. Kakak sayang sekali dengan mu Love, terus kabari Kakak ya Love, jangan pernah menolak panggilan telpon dariku.” Anna tersenyum. Anna sering mengabaikan panggilan dari Mahesa karena kesibukannya membantu Rey mengolah restoranya yang cukup berkembang pesat.


“Siapa yang goda in aku kalau sedang sibuk Kak. Kamu yang suka membuat ku kesal, tapi sungguh Mamah sangat sayang padamu Nak.” Mahes mengangguk, tahu sekali bagaimana cinta yang dirinya rasakan begitu nyata.


Akhirnya mereka berpisah, meski baru beberapa langkah rasa sedih menyeruak begitu dalam membuat Dada Ayuna begitu sesak. Sarah dan Adam berbalik, melambaikan tangan mereka pada keluarga yang saat ini masih setia berdiri di tempatnya. Mahes ikut berbalik, menyapu dulu air mata yang jatuh dengan deras tidak lagi bisa di tahan.


Pria yang tadi pura-pura tegar saat ini sedang menagis di pelukkan ku. Aku ingin sedih tapi lucu sekali melihat tingkahnya. Dia menangis seperti bayi.

__ADS_1



Foto dan pesan yang Sarah kirimkan pada Malik.


__ADS_2