Wanita Kesayangan

Wanita Kesayangan
Saling Memaafkan


__ADS_3

“Sudah tenang sayang?” Ayu mengangguk, lega sekali setelah menangis cukup lama di pelukkan Helga. “Makan yah, asam lambung mu bisa naik kalau tidak makan. Mawar bilang cintaku belum makan apapun.” Ayu masih menunduk.


“Kalian pasti kesal yah, seharusnya kita seru-seruan tapi aku malah cengeng seperti ini.” Oji mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi cantik Ayuna.


“Apa aku harus pergi saja? Supaya suamimu tidak cemburu an lagi seperti yang kamu ceritakan?” Ayu menggeleng.


“Mau kemana? Nanti rumah ku semakin sepi. Kakak Mahesa sudah keluar meski sesekali pasti akan pulang, Kakak mau pergi juga?” Oji tersenyum, mana mungkin dia pergi jauh dari rumah nyamannya.



“Aku tidak akan menemukan rumah sebaik dirimu sayang.” Ayu tersenyum, mereka sudah dekat seperti saudara. Malik saja yang berfikir buruk entah datangnya darimana. “Aku akan beri pelajaran pada suami mu yang tidak tahu diri.” Ayu tersenyum, Oji tidak mungkin menyakiti orang-orang yang dirinya sayangi.


“Jangan pakai kekerasan, aku tidak suka. Sepertinya aku saja yang berlebihan, suamiku wajar kan kalau cemburu? Tapi entah pagi tadi aku merasa sangat kesal. Aku ingin sekali berteriak kalau dia satu-satunya laki-laki yang aku cintai tidak ada yang lain.”


“Suami mu kekanakan sayang.” Pelan-pelan Oji menyuapi Ayu yang sejak pagi tidak makan, sebelumnya Helga sudah membuatkan teh hangat agar perut Mbak nya nyaman. Dia pasti sagat tersiksa sampai tidak bisa makan.


“Sudah Kak, aku kenyang. Perutku tidak enak.” Oji menatapnya dengan hangat. “Kalau di paksa aku bisa muntah Kak.” Oji yang tidak mau memaksa menaruh piringnya. “Maaf yah, tapi aku benar-benar mual Kak.” Oji mengangguk paham.


“Makan yang lain mau? Aku buatkan jus atau yang lain?” Tawar Oji yang khawatir sekali asam lambung Ayuna kambuh.


“Aku saja, aku potongkah buah untuk kalian juga yah.” Ayu beranjak dari duduknya menuju dapur. Sudah lebih segar senyum di wajahnya.


Awwwwww......


Ayu memegang panji yang ternyata masih sangat panas. Oji lari dengan cepat, Helga yang mendengar Baby memangis memilih melihat Baby karena Oji sudah menangani Mbak nya yang berteriak dari dapur. “Kenapa.....” Oji meraih tangan Ayu yang sudah merah.


“Singkirkan tangan mu.” Ucap Malik yang baru saja masuk. “Kau terluka?” Ayu masih kesal, dia menarik tangannya dari Malik. Mengguyur nya dengan air dingin karena terasa begitu panas. “Aku bantu sayang, tolong jangan marah lagi Mom.”


“Aku tidak papa.” Ayu masih tidak bisa menatap mata Malik. Hatinya masih sangat sakit.


“Sayang, aku obati yah. Tolong sayang, jangan marah.” Malik mengikuti kemanapun Ayu melangkah, Oji menatap Malik dengan tajam.


“Bicara dengan ku dulu bisa? Jangan memaksa, biarkan Ayu bersama Helga dulu.” Malik berhenti, dirinya diselimuti perasaan bersalah yang begitu mengganggu. Membuatnya tidak bisa berpikir dengan benar.


“Hel....tolong oleskan salep ini di tangan Mbak mu yah.” Helga meraih salep yang Malik berikan, setelahnya bersama Ayu masuk ke kamar untuk menghindari Malik yang di bawa Oji ke ruang kerjanya.


“Aku bersalah, kau boleh menghajarku Ji, lakukan agar rasa bersalahku berkurang. Aku sangat menyesal.” Racau Malik yang terlihat begitu lesu.


“Tidak menyelesaikan masalah, Ayu menyadari kalau sikapnya pagi tadi juga berlebihan. Tapi ku mohon, jangan pernah punya pikira seperti itu Kak. Aku tidak akan menghancurkan rumah yang aku sendiri nyaman ada di dalamnya.” Malik mengangguk, bodoh sekali mencurigai yang tidak penting.


“Aku bodoh....bisa-bisa nya punya pikiran jelek yang tidak mungkin istriku lakukan.” Malik mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


“Apa kau kelelahan? Minta aku datang untuk jaga Baby kalau kalian butuh istirahat. Jangan menjaga Baby sendirian sementara kalian punya kita semua yang bisa kalian andalkan. Jangan membuat suasana rumah menjadi asing Kak. Aku tahu Ayu tidak akan suka.” Malik mengangguk.


“Aku beberapa hari ini banyak pekerjaan yang cukup rumit, sepertinya aku memang butuh istirahat agar isi kepalaku bukan pikiran-pikiran buruk seperti ini Ji.” Malik lega, Oji ternyata lebih dewasa dari kelihatannya. Dirinya yang seperti anak kecil, bisa-bisanya menuduh kan hal yang mustahil terjadi.


“Sekarang temui dia, bicara baik-baik atau lakukan yang bisa membuatnya tenang.” Oji keluar dari ruang kerja Malik. Menuju kamar Ayuna sambil tersenyum cukup lebar. Biasanya Malik yang selalu memberikannya nasehat, menjadi laki-laki dewasa yang selalu ada untuk adik-adiknya yang suka berbuat onar.


Oji merasa dirinya banyak belajar, bisa memposisikan saat Malik membutuhkan sarannya untuk menenangkan wanita kesayangan mereka yang tengah marah.


Tok...tokk...tokkkk....


“Sayang, aku dan Helga bawa Baby jalan-jalan sebentar yah.” Ayu menatap penuh sedih. “Suami mu sudah aku nasehati, bicaralah baik-baik dan selesaikan dengan cepat. Aku tahu kamu tidak bisa marah lama-lama padanya.” Ayu mengangguk.


“Aku bawa Baby ya Kak. Byeee.......” Helga segera keluar didampingi Oji.



Tangannya dengan penuh perhatian merangkul pundak Helga dengan lembut.


“Mom.....sayang.” Malik tersenyum manis, duduk di depan Ayu yang masih sibuk dengan ponselnya. “Maaf kan Daddy ya Mom, tidak seharusnya Daddy bicara hal yang begitu buruk pada mu Mom.” Ayu melihat wajah suaminya yang begitu sayu.


Ayu mengangguk. Masih belum bisa bersuara, bingung mau bicara apa. Sudah sangat lama Malik tidak pernah marah atau cemburu padanya, canggung sekali saat mereka tiba-tiba memperdebatkan hal yang tidak penting.


“Sedang apa sayang?” Malik tahu istrinya sedang kebingungan. Ayu mengankat ponselnya. Menampakkan foto keduan Putranya di layar ponselnya.



“Daddy mau peluk Mom, seharian ini Daddy lemas tidak dapat cinta mu sayang.” Ayu tersipu malu. Ayu merentangkan tangannya. Tidak tega melihat Malik begitu berantakan. Akhirnya suaminya tersenyum, Ayu juga tidak suka suaminya berantakan. Dia suka suaminya yang selalu hangat.


“Sudah makan?” Malik menggeleng. “Kalau begitu makan dulu, tadi Adek masak dan di bawa ke sini.” Malik dengan manja berjalan bergelayut seperti anak kecil.


Senyum di wajahnya begitu enak di lihat mata. Ayu menyesal sudah ikut marah saat suaminya cemburu, dia butuh ketenangan bukanya perlawanan. Ayu mengusap sudut bibir Malik yang berantakan makanan, yang di perhatikan senyum-senyum kegirangan.



***


“Sayang kenapa?” Jofan lari cukup cepat saat mendengar gaduh dari dalam kamar mandi. “San.....buka sayang.” Jofan begitu khawatir.


Handle pintu bergerak, Sandra keluar dengan wajah biasa saja. “Mati dia, lihat Mas. Berani-beraninya dia lewat di depan ku tadi.” Tunjuknya pada kecoa kecil yang jadi korban keganasannya. Jofan tersenyum, Istrinya sering sekali membuat jantungnya berdebar kencang.


__ADS_1


“Kasihan dia, sekarang makan kita yah. Jangan lagi membuat ku jantungan.” Sandra di gandengan dengan lembut menuju ruang makan. Hanya ada mereka berdua, yang lain sedang di luar bersama Hanum dan Ranu.


Sandra menatap satu persatu makanan yang tidak menggugah selera, duduk dengan lemas menatap Jofan yang juga menunggu respon Sandra yang akhir-akhir ini sangat pemilih makanan. “Kenapa sayang? Tidak mau makan ini?” Tanya Jofan yang sudah tahu Sandra tidak selera.


“Tapi kasihan manakan nya suka terbuang sia-sia.” Sandra benar-benar merasa bersalah.


“Nanti di kasih ke Bibi dan yang lain supaya di habiskan, mau makan apa sayang?” Tanya Jofan sambil mengusap usap pipi Sandra dengan lembut.


“Makan nasi goreng pinggir jalan boleh tidak Kak?” Jofan menatap Sandra cukup lekat. Makan sembarangan saja maunya. “Kalau tidak boleh tidak apa kok. Makan ini saja.” Sandra pesimis, suaminya sangat perhatian dengan kebersihan.


“Aku tanya Dokter dulu.” Sandar ingin tertawa tapi tidak lucu.


Perkara makan nasi goreng saja dia menghubungi dokter. Memangnya nasi goreng di pinggir jalan pakai jamur beracun, atau sianida? Suaminya keterlaluan.


Sandra mengumpat dalam hati, tapi sungguh suaminya memang sangat berhati-hati. Dia tidak mau Sandra dan kandungannya mengalami kesulitan.


Sarah : Kenapa sayang? Sandra ok kan?


Jofan : Ok Dok, aku mau tanya sesuatu. Tapi jangan tertawa, Sandra sudah menertawakan ku.


Sarah : Apa sayang? Cepat, aku masih ada pasien.


Jofan : Boleh makan nasi goreng pinggir jalan wanita hamil?


Sarah terdengar menarik nafasnya cukup panjang, Sandra mendengarnya karena Sarah sepertinya sengaja.


Sarah : Tidak boleh kalau makannya sambil lompat-lompat. Kalau sambil duduk diam, senyum manis, boleh.


Jofan : Serius Dok, apa tidak berbahaya kandungan di dalam nasi goreng nya?


Sarah : Berbahaya kalau abang penjualnya memasukkan racun di dalamnya. Selama tidak ada racun tidak berbahaya.


Jofan : Dokter marah yah? Jawabannya kenapa sambil penuh penekanan begitu Dok?


Sarah : Mana mungkin marah sih Kakak mu ini. Sekarang bawa Sandra makan di pinggir jalan, jangan sampai dia menangis hanya karena nasi goreng ya Fan.


Sarah menutup panggilan telponnya, bisa-bisanya menghubunginya hanya kerena nasi goreng abang-abang. Pasiennya sampai harus menunggu beberapa saat karena Sarah mengira panggilannya sangat penting. Ternyata bukan hanya Malik, Jofan juga sama gilanya.



Jofan mengirim foto pada ayuna dengan tulisan : Bumilku ngidam nasi goreng abang-abang.

__ADS_1


Ayu yang menerima pesan senyum-senyum, Mas nya sudah mulai bisa menuruti kemauan istrinya yang kadang berat untuk di penuhi. Dirinya saja suka sekali di omeli gara-gara makan dan jajan yang tidak sehat.


__ADS_2